Home / Romansa / Chasing the Cold Heart : Meluluhkan Dokter Bedahku / 18. Terapi Fisik Pertama yang Mendebarkan

Share

18. Terapi Fisik Pertama yang Mendebarkan

Author: kopilatte
last update publish date: 2026-10-16 10:34:36

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di ruang rehabilitasi medik lantai empat, membiaskan cahaya hangat di atas palang sejajar (parallel bars) dan peralatan fisioterapi. Bau pembersih antiseptik bercampur dengan aroma hangat kayu tercium samar di udara.

Hari ini adalah momen krusial bagi Aveline Rosier: sesi terapi fisik pertama untuk menguji kekuatan penopangan beban (weight-bearing) pada kaki kanannya pasca-operasi rekonstruksi.

Ava duduk di atas kursi roda dengan pakaian olahr
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Chasing the Cold Heart : Meluluhkan Dokter Bedahku   38. Pesan Singkat Malam Hari

    Lampu kamar VIP 701 di lantai tujuh New York Presbyterian Hospital sudah diredupkan, membiarkan pendar kekuningan yang lembut menghiasi ruangan. Namun, suasana di atas ranjang pasien justru jauh dari kata tenang. Aveline Rosier memeluk ponselnya erat-erat ke depan dada, melompat-lompat kecil di atas kasur dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan luar biasa. Pesan singkat dari dokter Adrian Vance yang baru saja mendarat di layar ponselnya bukan sekadar ucapan terima kasih biasa; itu adalah sinyal pembuka dari dinding pertahanan sang Pangeran Es Manhattan. Ting! Sebuah pesan baru kembali masuk, membuat jantung Ava berdegup kencang. Adrian: "Sudah waktunya istirahat, Ava. Jangan begadang membaca naskah agensi, atau pemulihan otot kakimu terhambat besok." Ava terkekeh geli, jemari lentiknya segera menari di atas layar ponsel untuk membalas pesan tersebut. Ava: "Siap, Dokter Galak! Tapi ingat, kau juga harus tidur. Jangan sampai ada operasi darurat tengah malam yang membu

  • Chasing the Cold Heart : Meluluhkan Dokter Bedahku   37. Kado Berukir Inisial

    Lampu meja berona kuning temaram memancarkan pendar hangat di atas permukaan meja kerja kayu mahoni yang luas. Di dalam ruang Kepala Spesialis Bedah Ortopedi New York Presbyterian Hospital yang sunyi, dr. Adrian Vance duduk bersandar di kursi kulit hitamnya. Jarum jam dinding menunjuk pukul sebelas malam. Kesibukan bangsal rumah sakit berangsur-angsur reda, menyisakan keheningan pekat yang biasanya dinikmati Adrian untuk menelaah jurnal medis. Namun malam ini, perhatian pria itu sama sekali tidak tertuju pada tumpukan literatur ilmiah di sisi kiri mejanya. Pandangan mata abu-abu gelapnya terkunci lurus pada sebuah bingkisan kotak persegi berbalut kertas kado berwarna biru gelap dengan pita perak elegan yang terletak tepat di tengah meja. Kotak itu adalah pemberian pribadi dari Aveline Rosier usai perayaan ulang tahun sederhana di ruang istirahat sore tadi. Adrian menarik napas perlahan. Jemari panjangnya yang terbiasa memegang instrumen bedah dengan presisi tinggi kini terulur m

  • Chasing the Cold Heart : Meluluhkan Dokter Bedahku   36. Kejutan Ulang Tahun Sang Pangeran Es

    Matahari sore baru saja tenggelam di balik cakrawala Manhattan, menyisakan bias cahaya jingga yang menyelinap lewat jendela-jendela koridor New York Presbyterian Hospital. Di ruang istirahat dokter lantai lima, suasana yang biasanya sunyi dan steril mendadak dihiasi oleh bisikan-bisikan tertahan dan gemerincing benda kecil. "Awas, Suster Maria, pita perak itu jangan terlalu miring ke kiri!" bisik Aveline Rosier setengah tertahan. Meski langkahnya masih membutuhkan sepasang kruk siku, wanita itu bergerak lincah mengarahkan para perawat mendekorasi sudut ruangan. Berkat "investigasi rahasia" yang dilakukannya bersama dokter Julian dan Suster Maria dua hari lalu, Ava akhirnya mengetahui sebuah rahasia yang tidak pernah tercantum di papan rekam medis mana pun: hari ini adalah ulang tahun ke-30 dokter Adrian Vance. Pria yang selama ini mengabdikan seluruh hidupnya untuk menyelamatkan nyawa orang lain itu tidak pernah sekalipun merayakan hari kelahirannya sendiri. "Nona Rosier, kue re

  • Chasing the Cold Heart : Meluluhkan Dokter Bedahku   35. Janji di Taman Presbyterian

    Sore itu, koridor lantai tujuh New York Presbyterian Hospital terasa berbeda. Tidak ada papan rekam medis di tangan dokter Adrian Vance, melainkan sebuah jaket tebal berbulu domba yang ia sampirkan di bahu Aveline Rosier. Setelah berminggu-minggu terkurung di balik dinding steril kamar VIP, izin khusus akhirnya keluar dari sang kepala spesialis bedah, jalan-jalan sore di taman rumah sakit. "Aku bersumpah, bau pohon dan angin asli Manhattan ini rasanya seperti surga setelah berabad-abad menghirup udara antiseptik," seru Ava riang. Ia berdiri tegak di atas jalan setapak berbatu, mencengkeram sepasang kruk sikunya dengan mantap. Langkah demi langkah iaayunkan ke depan di atas permukaan rumput hijau yang luas, didampingi langsung oleh Adrian yang berjalan di sisi kanannya. Taman rumah sakit yang terletak di bagian belakang gedung itu cukup tenang, dinaungi pepohonan mapel tua yang daun-daunnya mulai menguning menyambut musim gugur. Sinar matahari keemasan menyapu lembut paras cantik A

  • Chasing the Cold Heart : Meluluhkan Dokter Bedahku   34. Cangkir Teh di Jam Istirahat

    Sinar keemasan sore hari merayap lembut melintasi jendela kaca besar kamar VIP 701, membias di atas meja tempat cangkir-cangkir porselen dan vas bunga lili segar berada. Jam dinding menunjukkan pukul setengah lima sore—waktu di mana agenda visit resmi rumah sakit sejatinya telah usai, dan koridor lantai tujuh mulai mengendur dalam keheningan yang menenangkan. Pintu kamar terdorong pelan tanpa ketukan formal. Ava, yang sedang bersandar santai di atas brankar membaca majalah fashion, mendongak kaget. Matanya seketika membelalak gembira saat menangkap sosok dokter Adrian Vance melangkah masuk. Pria itu tidak mengenakan jas laboratorium putih kaku yang biasa menjadi "zirah" medisnya. Ia hanya membalut tubuh tegapnya dengan kemeja rajut warna abu-abu gelap dengan lengan yang tergulung santai hingga pertengahan lengan bawah. Di kedua tangannya, Adrian membawa dua cangkir porselen tebal yang menguar uap aroma herba nan menenangkan. "Dokter Es...?" panggil Ava pelan, suaranya dipenuhi

  • Chasing the Cold Heart : Meluluhkan Dokter Bedahku   33. Senyuman Termahal di Manhattan

    Suara gesekan ujung karet kruk pada lantai porselen pusat fisioterapi berderit pelan, memecah kesunyian ruangan seluas lapangan tenis di lantai empat New York Presbyterian Hospital. Cahaya matahari sore yang keemasan membias melintasi dinding kaca besar, menyinari sosok Aveline Rosier yang berdiri dengan napas memburu dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Hari itu adalah babak baru yang jauh lebih menantang, transisi dari batang paralel statis menuju sepasang kruk siku (forearm crutches). Beban tubuh Ava kini tidak lagi ditopang oleh palang besi tetap, melainkan bertumpu sepenuhnya pada kekuatan otot lengan dan keseimbangan kaki kanannya yang baru saja pulih dari fraktur femur parah. "Tumpukan beban ke depan, Ava. Jangan biarkan bahumu membungkuk," instruksi dokter Adrian Vance dengan nada bariton yang tegas namun terselip kelembutan. Pria itu berdiri hanya berjarak dua langkah di depan Ava. Jas putih dokternya tersampir rapi di kursi, memperlihatkan kemeja abu-abu dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status