"Mama... Ayu ninggalin Mahesa, Ma!" tangis Mahesa pecah tak terbendung lagi saat tubuhnya ambruk berlutut, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata di pangkuan ibunya."Sabar, Nak... Sabar, Mahesa," bisik Ibu seraya memeluk kepala putranya erat-erat, air matanya ikut menetes deras membasahi kemeja akad Mahesa.Suasana aula masjid mendadak berubah menjadi lautan duka yang mengiris hati, menghentikan seluruh desas-desus tamu undangan menjadi isak tangis yang riuh. Ibu Ayu terduduk lemas di kursi kayu berukir, menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak dan berat untuk bernapas."Papa... Ayu ke mana, Pa? Kenapa anak itu tega banget sama kita?" ratap Ibu Ayu dengan suara parau, menatap suaminya yang berdiri terpaku dengan mata berkaca-kaca."Aku sudah mencoba telepon Ayu berulang kali, Bu, tapi nomornya tetap tidak nyambung," jawab Ayah Ayu seraya mengepalkan tangan, berusaha menahan guncangan emosi yang meremukkan dadanya. "Anak itu kenapa berani sekali mengambil keputusan nekat
最終更新日 : 2026-10-18 続きを読む