Julian terdiam sebentar sebelum akhirnya menghela napas keras. “Baik. Kalau itu yang kamu mau, aku akan lakukan. Tapi ingat. Jangan berharap lebih. Tepat di hari ke-seratus, urusan kita selesai. Aku tidak akan mentolerir apa pun upayamu untuk mencegah pernikahan kami.” Alana tersenyum tipis. “Tentu,” jawabnya pelan. Sejenak, Julian melirik dengan pandangan asing ke arah Alana, seolah sikap wanita itu saat ini tidak seperti Alana yang dia kenal. Namun kemudian, pria itu berbalik, keluar dari kamar dengan langkah menghentak. Di tempatnya, Alana terdiam, menatap kembali map berisi surat perjanjian cerai yang berada di tangannya. Napasnya dihembuskan pelan. Siapa sangka, pada akhirnya, datang hari di mana Alana yang sejak dulu diam-diam mencintai Julian sebagai teman masa kecilnya, kini mampu merelakan pria itu dengan tenang. Wanita itu memalingkan wajah, menatap foto pernikahannya di dinding. Pandangannya jatuh pada wajah Julian yang tidak menampilkan sedikit pun kebahagiaan.
Dernière mise à jour : 2026-10-21 Read More