LOGINJulian bertanya spontan. Wajahnya sempat terlihat cemas. Namun kemudian, dia mendengus. “Atau kamu sengaja mengubah suhu pendingin untuk menipuku agar memperhatikanmu?” Alana segera menarik tangannya kembali ke dalam selimut. Sejujurnya, kaki dan tangannya belakangan ini mudah sekali kedinginan dan kebas. “Tolong nyalakan saja filmnya. Aku tidak masalah dengan film apa pun,” ucap Alana. Sengaja menghindari pertanyaan Julian. Julian menatap istrinya tajam. Jawaban itu tidak memuaskan kecurigaannya. Namun, dia menuruti permintaan Alana untuk menyalakan TV berlayar besar di ruangan itu. Setelah tiga puluh menit film ditayangkan, Alana hanya fokus menonton dengan tenang. Sikap itu membuat Julian menoleh ke arahnya dengan alis berkerut. Pria itu mengira Alana akan memanfaatkan momen ini untuk pura-pura bersandar, atau memegang tangannya. Tetapi tidak. Jangankan melakukan kontak fisik, mengajak bicara pun tidak. Rahang pria itu terkatup semakin rapat. Alana yang biasanya, selalu
“N-nyonya!” Martha, kepala pelayan yang paling dipercaya Alana melangkah cepat menghampirinya. Wanita itu menahan bahu Alana yang terkulai lemas. Namun, Alana menahan tangan Martha agar tak perlu membantunya. “Aku tidak apa-apa, Martha.” Alana menyahut lemah. “Astaga! Kulit Nyonya dingin sekali! Nyonya, seharusnya Nyonya pergi ke rumah sakit!” seru Martha. Wanita berusia empat puluh lima tahun itu menatap Alana cemas. "Saya-saya panggil Tuan." Alana hanya tersenyum tenang. “Tidak usah. Aku hanya kelelahan." Mendengar suara rapuh itu, Martha menatap majikannya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya mengusap pundak majikannya lembut, berusaha menghibur sang majikan yang beberapa waktu terakhir ini terlihat begitu menyedihkan. “Nyonya, Nyonya sudah beberapa kali muntah-muntah seperti ini! Tuan juga berhak tahu jika Nyonya sedang sakit. Saya … saya bisa memanggil Tuan untuk segera kembali! Saya mohon jangan menyiksa diri seperti ini, Nyonya!” isak Martha yang meneteskan air mata.
Julian tiba-tiba memotong. Matanya menyorot Alana dengan tatapan penuh peringatan. Pria itu menegakkan punggung, menggeser tubuhnya seolah menjadi tameng di antara Elsa dan Alana. “Elsa sedang sakit. Aku tidak akan mengabaikan adikku demi menuruti keegoisanmu, Alana.” Alana yang baru saja duduk kemudian menatap Julian tenang. “Kalau begitu, sesuai kesepakatan. Aku tidak akan menandatangani surat cerainya.” “Kamu …,” Julian menggeram. Pria itu mengetik cepat di ponsel sebelum membawa benda itu menempel di telinga. “Antar Elsa ke rumah sakit, dampingi dia menemui dokter kepercayaanku. Pastikan dia mendapatkan pelayanan terbaik.” Julian lalu menurunkan ponselnya. Matanya masih menyorot tajam penuh kebencian. “Puas kamu sekarang?” “K-kak Julian …,” dari balik punggung Julian, Elsa berbisik ragu. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Julian dengan gemetar. “kakak tidak ikut pergi bersamaku? Aku tidak ingin sendirian, Kak! Kumohon ....” Julian membalikkan bahu, mengusap
Julian terdiam sebentar sebelum akhirnya menghela napas keras. “Baik. Kalau itu yang kamu mau, aku akan lakukan. Tapi ingat. Jangan berharap lebih. Tepat di hari ke-seratus, urusan kita selesai. Aku tidak akan mentolerir apa pun upayamu untuk mencegah pernikahan kami.” Alana tersenyum tipis. “Tentu,” jawabnya pelan. Sejenak, Julian melirik dengan pandangan asing ke arah Alana, seolah sikap wanita itu saat ini tidak seperti Alana yang dia kenal. Namun kemudian, pria itu berbalik, keluar dari kamar dengan langkah menghentak. Di tempatnya, Alana terdiam, menatap kembali map berisi surat perjanjian cerai yang berada di tangannya. Napasnya dihembuskan pelan. Siapa sangka, pada akhirnya, datang hari di mana Alana yang sejak dulu diam-diam mencintai Julian sebagai teman masa kecilnya, kini mampu merelakan pria itu dengan tenang. Wanita itu memalingkan wajah, menatap foto pernikahannya di dinding. Pandangannya jatuh pada wajah Julian yang tidak menampilkan sedikit pun kebahagiaan.
Alana mengambil dokumen itu. Benaknya mengingat kembali alasan mengapa pernikahannya terjadi. Tiga tahun lalu, bisnis properti milik keluarga Ashford berencana melakukan pembangunan mega konsorsium, dan lahan yang akan digunakan adalah milik keluarga Sinclair—keluarga Alana. Orang tua Alana yang saat itu masih hidup bersedia menyerahkan lahan itu hanya jika Julian menikahi Alana. Pernikahan itu menjadi jaminan bahwa lahan itu tidak akan jatuh ke tangan kompetitor, sekaligus menjaga stabilitas saham kedua keluarga selama masa pembangunan. “Tiga bulan lagi proyek bisnis kerjasama keluarga kita selesai. Saat itu, kita sudah bisa bercerai.” “Tiga bulan lagi?” tanya Alana lirih. ‘Itu berarti … waktunya nyaris bersamaan dengan waktuku pergi.’ Julian menatap Alana dingin. Jauh berbeda dengan caranya menatap Elsa. “Benar. Aku akan mendaftarkan pernikahanku dengan Elsa. Asistenku sedang mengurus semuanya.” Ucapan Julian bagai sayatan pisau tepat di dada Alana. Wanita itu mencengkram
“Gara-gara aku, kamu jadi harus hidup dengan satu ginjal.” Langkah Alana terhenti di depan pintu dapur. Suara rendah suaminya yang berada di dalam dapur itu mengejutkan Alana. Di sana, tampak Julian berdiri di depan meja dapur dan sedang memasak sesuatu.Ia hampir saja kaget bahwa pria itu... mengetahuinya. Pria itu tidak sendiri. Elsa—adik angkat Julian baru saja melangkah menghampiri, memeluk tubuh Julian dari samping sambil bercengkrama hangat. Tubuh Alana seketika menegang. Ia sempat berpikir, pria itu mengucapkan padanya ketika pulang. ‘… satu ginjal? Apa dia mengira donor ginjal yang dia terima lima tahun lalu itu didapatkan dari Elsa? Bagaimana bisa? ….’Miris. Padahal, baru saja, Alana kembali dari rumah sakit setelah divonis gagal ginjal karena hanya bergantung pada satu. ‘Jika satu-satunya ginjalmu yang sakit itu tidak segera mendapatkan donor, hidupmu akan bertahan paling lama seratus hari ke depan.’ Pernyataan itu membuat Alana terkesiap. Selama ini, ia sela







