Share

5

Author: Harucchi
last update publish date: 2026-10-21 17:11:07

“N-nyonya!” Martha, kepala pelayan yang paling dipercaya Alana melangkah cepat menghampirinya. Wanita itu menahan bahu Alana yang terkulai lemas. Namun, Alana menahan tangan Martha agar tak perlu membantunya.

“Aku tidak apa-apa, Martha.” Alana menyahut lemah.

“Astaga! Kulit Nyonya dingin sekali! Nyonya, seharusnya Nyonya pergi ke rumah sakit!” seru Martha. Wanita berusia empat puluh lima tahun itu menatap Alana cemas. "Saya-saya panggil Tuan."

Alana hanya tersenyum tenang. “Tidak usah. Aku hanya kelelahan."

Mendengar suara rapuh itu, Martha menatap majikannya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya mengusap pundak majikannya lembut, berusaha menghibur sang majikan yang beberapa waktu terakhir ini terlihat begitu menyedihkan.

“Nyonya, Nyonya sudah beberapa kali muntah-muntah seperti ini! Tuan juga berhak tahu jika Nyonya sedang sakit. Saya … saya bisa memanggil Tuan untuk segera kembali! Saya mohon jangan menyiksa diri seperti ini, Nyonya!” isak Martha yang meneteskan air mata.

Alana hanya tersenyum tipis menatap Martha. Dia yakin, Martha sendiri pun kalau Julian tak akan peduli. Di mansion ini, tak ada seorang pelayan pun yang tak pernah melihat pengabaian Julian terhadap Alana.

Di atas meja, ponsel Alana terdengar berdering.

“Martha, tolong ambilkan ponselku,” titah Alana.

“B-baik, Nyonya.”

Martha kembali sambil membawa ponsel milik Alana. Begitu benda pipih itu ditempelkan ke telinga, suara hangat seorang pria terdengar.

“Selamat pagi, Saya Robert dari Pameran Nasional Hubert.”

Mendengar nama itu, jantung Alana berdebar-debar.

Pameran Nasional Hubert.

Setiap tahun, mereka menggelar pameran seni dari pelukis-pelukis andal yang karyanya dikurasi secara ketat. Alana juga tak pernah menyerah mengajukan karyanya setiap bulan Juni.

Namun, selama lima tahun dia mendaftarkan diri berkali-kali, hanya penolakan yang dia terima di surelnya.

“Kami sudah melihat lukisan yang anda ajukan. Sejujurnya, saya menyukai konsep lukisan-lukisan anda. Portofolio anda juga menarik. Karena itu, saya ingin menyampaikan kabar gembira bahwa anda terpilih sebagai salah satu seniman untuk pameran musim gugur tahun ini. Bagaimana? Apa anda bersedia?”

Alana membeku. Napasnya tercekat. Jantungnya memompa semakin hebat.

Lima tahun dia menantikan kabar ini dengan penuh harap. Namun takdir baru mengizinkannya sekarang, ketika nyawa hidupnya hanya tinggal beberapa waktu ke depan.

“Nyonya Ashford? Anda masih di sana?” suara pria di seberang telepon kembali terdengar, memecah lamunan Alana.

“I-iya, saya masih di sini, Tuan Robert.” seru Alana. “Tentu, saya bersedia!”

“Bagus sekali! Kalau begitu, saya minta anda menyiapkan satu mahakarya istimewa anda yang belum pernah dipublikasikan di mana pun. Ini akan menjadi karya utama berukuran besar yang menjadi pusat pameran. Apa anda bisa menyelesaikannya dalam waktu tiga bulan?”

Tiga bulan. Durasi yang kurang lebih sama dengan kepergiannya. Juga perceraiannya dari Julian.

Alana menurunkan pandangan, menatap tangannya yang gemetar. Dia tahu, fisiknya seiring waktu akan melemah. Tapi ketika impian lamanya akhirnya menunjukkan jalan, Alana tentu tidak akan menyia-nyiakannya.

“Bisa. Saya akan menyelesaikannya dalam dua bulan.”

“Hebat! Saya senang mendengarnya. Kalau begitu, saya akan kirimkan detail teknis untuk pameran ini lewat surel. Kita bisa melanjutkan diskusi di sana.”

“Baik. Terima kasih, Tuan Robert.”

Setelah beberapa saat, panggilan diputus.

Alana menatap layar ponselnya yang menggelap. Perlahan, sudut bibirnya naik tipis.

Akhirnya, dia punya kesempatan agar lukisan-lukisannya bisa dilihat dunia. Walau dirinya tiada, setidaknya dia bisa meninggalkan sesuatu yang abadi lewat karyanya.

Satu tetes air mata Alana meluncur. Kali ini, bukan karena kekecewaan pada Julian, melainkan karena rasa haru atas keberhasilannya.

Alana menghapus air matanya sejenak, lalu mendongak menatap Martha. “Martha, bisa menyiapkan ruangan lukis untukku?”

“T-tapi Nyonya, anda baru saja muntah hebat, kemarin anda juga baru saja pingsan—”

“Martha,” potong Alana. “tolong.”

Mendengar nada tegas yang menekan itu, Martha membungkuk hormat. “Baik, Nyonya.”

Wanita itu kemudian pergi meninggalkan majikannya.

***

Hari itu, Alana menghabiskan waktu nyaris sepanjang hari di studio lukisnya. Karena pihak pameran memutuskan mengubah konsep, Alana harus membuat setidaknya lima belas lukisan tambahan dalam waktu dua setengah bulan.

Dengan tubuhnya yang selemah ini, sejujurnya Alana tidak yakin dia akan sanggup. Namun, ini adalah kesempatan sekali seumur hidup.

Pukul tujuh malam, Alana sedang berbaring di sofa ruang tengah. Tubuhnya terasa menggigil, sampai-sampai dia meminta Martha membawakannya selimut. Melihat sang Nyonya tampak lemah, Martha sampai menawarkan diri mendampingi di sudut ruangan.

Beberapa saat kemudian, suara mesin mobil Julian terdengar memasuki pekarangan. Tak berselang lama, hentak langkahnya yang cepat terdengar semakin jelas.

“Alana! Katakan apa maksudmu.” geramnya ketika sudah berdiri di samping Alana.

Alana yang sedang bersandar di sofa dengan kepala terkulai pun membuka matanya perlahan.

Belum sempat dia bertanya, Julian sudah bertanya dengan nada rendah penuh amarah.

“Apa maksudmu menyembunyikan obat-obatan Elsa?”

Alana mengerutkan dahi. “Aku tidak melakukan itu,” jawabnya serak.

Julian menghela napas. “Kamu melarangku menemui Elsa! Dia menangis-nangis karena sendirian di rumah sakit! Dia bilang obat-obatannya tidak ditemukan, jadi dia tidak bisa meminumnya! Kamu membuangnya bukan?”

Alana mengernyit. “Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal seperti itu,”

Rahang Julian tampak berkedut karena amarah. “Berikan aku daftar harapan sialanmu itu!” bentaknya.

Alana memejamkan mata sesaat, berusaha menekan rasa pening yang menyerang. Dia lalu menyerahkan buku catatan bersampul biru miliknya pada Julian.

Julian menyambar buku itu cepat. “Aku akan tuntaskan ini sebelum seratus hari. Persetan dengan hal-hal remeh begini. Aku ingin cepat-cepat berpisah darimu!”

Kalimat Julian membuat napas Alana terasa semakin sesak. 

“Apa yang ingin kau lakukan setelah ini?”

Julian membaca halaman berikutnya sambil melonggarkan dasi.

‘2. Menonton film di ruang tengah sambil duduk berdampingan, juga berbagi satu selimut.’

Julian mengangkat wajah, menatap Alana yang memang sudah duduk di bawah selimut. Pria itu menatap canggung ke sekitar. Martha berada di ruangan ini bersama mereka. Menghela napas keras, Julian bederham kasar.

“Martha, keluar dari ruangan ini.” ucapnya dengan wajah mengeras, seolah tidak ingin ketahuan kalau dirinya yang selama ini menolak Alana, tiba-tiba berada dalam selimut yang sama.

Martha membungkuk singkat sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.

Dengan alis yang bertaut curam, Julian menempatkan dirinya di sofa, memastikan tetap ada jarak di antara dirinya dengan sang istri.

Namun, ketika jarinya hendak menarik selimut untuk menutupi kakinya, tanpa sengaja, punggung tangan Julian bersentuhan dengan jari Alana. Seketika itu juga, pria itu tersentak.

Punggung tangan wanita itu dingin. Sangat dingin seolah tak ada darah yang mengalir di bawah kulitnya.

Sejenak. Julian membeku. Wajahnya diangkat untuk menatap Alana yang masih memejamkan mata di sofa.

“Apa ini lelucon?" ujarnya mendongak, "Kau pura-pura sakit, kan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Aku Pergi Nanti   6

    Julian bertanya spontan. Wajahnya sempat terlihat cemas. Namun kemudian, dia mendengus. “Atau kamu sengaja mengubah suhu pendingin untuk menipuku agar memperhatikanmu?” Alana segera menarik tangannya kembali ke dalam selimut. Sejujurnya, kaki dan tangannya belakangan ini mudah sekali kedinginan dan kebas. “Tolong nyalakan saja filmnya. Aku tidak masalah dengan film apa pun,” ucap Alana. Sengaja menghindari pertanyaan Julian. Julian menatap istrinya tajam. Jawaban itu tidak memuaskan kecurigaannya. Namun, dia menuruti permintaan Alana untuk menyalakan TV berlayar besar di ruangan itu. Setelah tiga puluh menit film ditayangkan, Alana hanya fokus menonton dengan tenang. Sikap itu membuat Julian menoleh ke arahnya dengan alis berkerut. Pria itu mengira Alana akan memanfaatkan momen ini untuk pura-pura bersandar, atau memegang tangannya. Tetapi tidak. Jangankan melakukan kontak fisik, mengajak bicara pun tidak. Rahang pria itu terkatup semakin rapat. Alana yang biasanya, selalu

  • Ketika Aku Pergi Nanti   5

    “N-nyonya!” Martha, kepala pelayan yang paling dipercaya Alana melangkah cepat menghampirinya. Wanita itu menahan bahu Alana yang terkulai lemas. Namun, Alana menahan tangan Martha agar tak perlu membantunya. “Aku tidak apa-apa, Martha.” Alana menyahut lemah. “Astaga! Kulit Nyonya dingin sekali! Nyonya, seharusnya Nyonya pergi ke rumah sakit!” seru Martha. Wanita berusia empat puluh lima tahun itu menatap Alana cemas. "Saya-saya panggil Tuan." Alana hanya tersenyum tenang. “Tidak usah. Aku hanya kelelahan." Mendengar suara rapuh itu, Martha menatap majikannya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya mengusap pundak majikannya lembut, berusaha menghibur sang majikan yang beberapa waktu terakhir ini terlihat begitu menyedihkan. “Nyonya, Nyonya sudah beberapa kali muntah-muntah seperti ini! Tuan juga berhak tahu jika Nyonya sedang sakit. Saya … saya bisa memanggil Tuan untuk segera kembali! Saya mohon jangan menyiksa diri seperti ini, Nyonya!” isak Martha yang meneteskan air mata.

  • Ketika Aku Pergi Nanti   4

    Julian tiba-tiba memotong. Matanya menyorot Alana dengan tatapan penuh peringatan. Pria itu menegakkan punggung, menggeser tubuhnya seolah menjadi tameng di antara Elsa dan Alana. “Elsa sedang sakit. Aku tidak akan mengabaikan adikku demi menuruti keegoisanmu, Alana.” Alana yang baru saja duduk kemudian menatap Julian tenang. “Kalau begitu, sesuai kesepakatan. Aku tidak akan menandatangani surat cerainya.” “Kamu …,” Julian menggeram. Pria itu mengetik cepat di ponsel sebelum membawa benda itu menempel di telinga. “Antar Elsa ke rumah sakit, dampingi dia menemui dokter kepercayaanku. Pastikan dia mendapatkan pelayanan terbaik.” Julian lalu menurunkan ponselnya. Matanya masih menyorot tajam penuh kebencian. “Puas kamu sekarang?” “K-kak Julian …,” dari balik punggung Julian, Elsa berbisik ragu. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Julian dengan gemetar. “kakak tidak ikut pergi bersamaku? Aku tidak ingin sendirian, Kak! Kumohon ....” Julian membalikkan bahu, mengusap

  • Ketika Aku Pergi Nanti   3

    Julian terdiam sebentar sebelum akhirnya menghela napas keras. “Baik. Kalau itu yang kamu mau, aku akan lakukan. Tapi ingat. Jangan berharap lebih. Tepat di hari ke-seratus, urusan kita selesai. Aku tidak akan mentolerir apa pun upayamu untuk mencegah pernikahan kami.” Alana tersenyum tipis. “Tentu,” jawabnya pelan. Sejenak, Julian melirik dengan pandangan asing ke arah Alana, seolah sikap wanita itu saat ini tidak seperti Alana yang dia kenal. Namun kemudian, pria itu berbalik, keluar dari kamar dengan langkah menghentak. Di tempatnya, Alana terdiam, menatap kembali map berisi surat perjanjian cerai yang berada di tangannya. Napasnya dihembuskan pelan. Siapa sangka, pada akhirnya, datang hari di mana Alana yang sejak dulu diam-diam mencintai Julian sebagai teman masa kecilnya, kini mampu merelakan pria itu dengan tenang. Wanita itu memalingkan wajah, menatap foto pernikahannya di dinding. Pandangannya jatuh pada wajah Julian yang tidak menampilkan sedikit pun kebahagiaan.

  • Ketika Aku Pergi Nanti   2

    Alana mengambil dokumen itu. Benaknya mengingat kembali alasan mengapa pernikahannya terjadi. Tiga tahun lalu, bisnis properti milik keluarga Ashford berencana melakukan pembangunan mega konsorsium, dan lahan yang akan digunakan adalah milik keluarga Sinclair—keluarga Alana. Orang tua Alana yang saat itu masih hidup bersedia menyerahkan lahan itu hanya jika Julian menikahi Alana. Pernikahan itu menjadi jaminan bahwa lahan itu tidak akan jatuh ke tangan kompetitor, sekaligus menjaga stabilitas saham kedua keluarga selama masa pembangunan. “Tiga bulan lagi proyek bisnis kerjasama keluarga kita selesai. Saat itu, kita sudah bisa bercerai.” “Tiga bulan lagi?” tanya Alana lirih. ‘Itu berarti … waktunya nyaris bersamaan dengan waktuku pergi.’ Julian menatap Alana dingin. Jauh berbeda dengan caranya menatap Elsa. “Benar. Aku akan mendaftarkan pernikahanku dengan Elsa. Asistenku sedang mengurus semuanya.” Ucapan Julian bagai sayatan pisau tepat di dada Alana. Wanita itu mencengkram

  • Ketika Aku Pergi Nanti   1

    “Gara-gara aku, kamu jadi harus hidup dengan satu ginjal.” Langkah Alana terhenti di depan pintu dapur. Suara rendah suaminya yang berada di dalam dapur itu mengejutkan Alana. Di sana, tampak Julian berdiri di depan meja dapur dan sedang memasak sesuatu.Ia hampir saja kaget bahwa pria itu... mengetahuinya. Pria itu tidak sendiri. Elsa—adik angkat Julian baru saja melangkah menghampiri, memeluk tubuh Julian dari samping sambil bercengkrama hangat. Tubuh Alana seketika menegang. Ia sempat berpikir, pria itu mengucapkan padanya ketika pulang. ‘… satu ginjal? Apa dia mengira donor ginjal yang dia terima lima tahun lalu itu didapatkan dari Elsa? Bagaimana bisa? ….’Miris. Padahal, baru saja, Alana kembali dari rumah sakit setelah divonis gagal ginjal karena hanya bergantung pada satu. ‘Jika satu-satunya ginjalmu yang sakit itu tidak segera mendapatkan donor, hidupmu akan bertahan paling lama seratus hari ke depan.’ Pernyataan itu membuat Alana terkesiap. Selama ini, ia sela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status