Partager

4

Auteur: Harucchi
last update Date de publication: 2026-10-21 17:10:51

Julian tiba-tiba memotong.

Matanya menyorot Alana dengan tatapan penuh peringatan. Pria itu menegakkan punggung, menggeser tubuhnya seolah menjadi tameng di antara Elsa dan Alana.

“Elsa sedang sakit. Aku tidak akan mengabaikan adikku demi menuruti keegoisanmu, Alana.”

Alana yang baru saja duduk kemudian menatap Julian tenang. “Kalau begitu, sesuai kesepakatan. Aku tidak akan menandatangani surat cerainya.”

“Kamu …,” Julian menggeram.

Pria itu mengetik cepat di ponsel sebelum membawa benda itu menempel di telinga. “Antar Elsa ke rumah sakit, dampingi dia menemui dokter kepercayaanku. Pastikan dia mendapatkan pelayanan terbaik.”

Julian lalu menurunkan ponselnya. Matanya masih menyorot tajam penuh kebencian.

“Puas kamu sekarang?”

“K-kak Julian …,” dari balik punggung Julian, Elsa berbisik ragu. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Julian dengan gemetar. “kakak tidak ikut pergi bersamaku? Aku tidak ingin sendirian, Kak! Kumohon ....”

Julian membalikkan bahu, mengusap puncak kepala Elsa dengan lembut. Tatapannya berubah hangat seketika. Sesuatu yang masih mengalirkan rasa sesak di dada Alana.

“Pergilah dengan asistenku,” bisik Julian lembut. “Aku akan menyusul sepulang kerja nanti,”

“Tidak bisa,” Alana memotong tegas. “Sesuai kesepakatan kita tadi malam, selama seratus hari ke depan, kamu berjanji tidak akan menemuinya lagi, kan? Kenapa dia masih disini?"

“Alana, dia adikku dan dia sedang sakit! Ini keterlaluan!”

“Adik yang akan kamu nikahi?” Pertanyaan itu membuat Julian seketika bungkam.

“Saat dulu Ibuku sekarat sampai akhirnya meninggal dunia, kamu bahkan tidak sempat menemuinya. Kamu sibuk merayakan ulang tahun Elsa di luar negeri.” Alana melipat lengannya di depan dada. “Dia Ibu mertuamu yang memberi akses lahan untuk proyek besar Ashford. Bukankah itu juga keterlaluan?”

Julian mengeraskan rahang hingga urat-urat di lehernya menonjol. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Elsa pun hanya berani menatap Alana dan sang kakak bergantian dengan wajah memelas.

Asisten Julian datang pada detik berikutnya. Pria berseragam formal itu lalu menuntun Elsa keluar dari ruang makan.

Sesekali, Elsa masih menoleh ke belakang dengan tatapan memohon. “K-kak Julian! Kakak akan tetap mengunjungiku kan? Aku mohon, Kak!”

Pintu ruang makan ditutup. Kini hanya tersisa Alana dan Julian di ruangan megah itu.

Julian menatap kursi kosong yang sebelumnya ditempati Elsa, tatapan penuh kebencian itu lalu pindah ke wajah istrinya.

“Kamu … benar-benar keterlaluan, Alana,” desis Julian. Pria itu menarik kursinya dengan kasar sebelum duduk.

Sementara itu, Alana mendorong sebuah buku catatan berwarna biru di atas meja. Halamannya sudah terbuka.

“Apa ini?” Julian membaca tulisan yang tertera di tengah bagian halaman pertama.

‘1. Menemaniku sarapan pagi di meja yang sama, sampai habis, tanpa membuka ponsel, menerima panggilan, atau membahas pekerjaan.’

“Benar-benar konyol.” Julian mengangkat wajah menatap Alana. Tangannya membanting buku itu di atas meja.

“Kamu ingin aku meninggalkan adikku yang sakit hanya untuk duduk dan menyantap sarapan sambil melihat wajahmu yang menyedihkan itu?”

Alana tidak langsung menjawab. Dia menyesap teh hangatnya sejenak.

“Selama ini, kamu tidak pernah sarapan denganku di rumah. Setidaknya sebelum tiga bulan lagi kita berpisah, aku ingin melakukan ini walau hanya satu kali,” ucap Alana sebelum menarik semangkuk bubur di meja.

Julian tak merespon. Pria itu menarik piring makannya kasar dan mulai menyantap sarapan dengan wajah masam.

Namun, Alana yang baru saja mengaduk bubur, tiba-tiba merasakan perutnya bergejolak hebat saat aroma kuah sup menguar tajam. Keringat dingin perlahan menyemut di pelipisnya.

Di seberang Alana, Julian tanpa sengaja menghentikan tatapan pada Alana yang makan dengan kesulitan: tangannya menyuap sendok dengan gemetar, dadanya juga naik turun karena napasnya tak beraturan.

Alih-alih peduli, Julian justru mendengus. “Hentikan. Kamu pikir dengan pura-pura terlihat sakit begitu aku akan memedulikanmu? Kamu bukan Elsa, Alana.”

Julian menggeleng, lalu melanjutkan sarapan dengan tergesa, seolah ingin cepat-cepat pergi dari ruangan itu. Alana sendiri tak bisa mencerna ucapan suaminya. Fokusnya kini menekan rasa mual yang semakin menyiksa.

Ketika akhirnya Julian menuntaskan sarapan, pria itu berdiri. Meraih jasnya dan memakainya dengan cepat.

“Kalau kamu pikir trik murahan seratus harimu itu akan membuatku berpaling, bersiaplah untuk kecewa,” tegas Julian, sebelum kemudian berjalan cepat keluar dari ruangan.

Tepat detik itu pula, pertahanan Alana runtuh. Wanita itu menghambur cepat ke wastafel dapur, meluapkan beberapa suap bubur yang baru saja dia telan paksa. Cairan itu bercampur dengan bercak kemerahan yang tampak seperti darah.

Melihat itu, napasnya terengah, energinya seolah terkuras habis. Tubuhnya jatuh merosot ke lantai. Pandangannya perlahan memburam.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Ketika Aku Pergi Nanti   6

    Julian bertanya spontan. Wajahnya sempat terlihat cemas. Namun kemudian, dia mendengus. “Atau kamu sengaja mengubah suhu pendingin untuk menipuku agar memperhatikanmu?” Alana segera menarik tangannya kembali ke dalam selimut. Sejujurnya, kaki dan tangannya belakangan ini mudah sekali kedinginan dan kebas. “Tolong nyalakan saja filmnya. Aku tidak masalah dengan film apa pun,” ucap Alana. Sengaja menghindari pertanyaan Julian. Julian menatap istrinya tajam. Jawaban itu tidak memuaskan kecurigaannya. Namun, dia menuruti permintaan Alana untuk menyalakan TV berlayar besar di ruangan itu. Setelah tiga puluh menit film ditayangkan, Alana hanya fokus menonton dengan tenang. Sikap itu membuat Julian menoleh ke arahnya dengan alis berkerut. Pria itu mengira Alana akan memanfaatkan momen ini untuk pura-pura bersandar, atau memegang tangannya. Tetapi tidak. Jangankan melakukan kontak fisik, mengajak bicara pun tidak. Rahang pria itu terkatup semakin rapat. Alana yang biasanya, selalu

  • Ketika Aku Pergi Nanti   5

    “N-nyonya!” Martha, kepala pelayan yang paling dipercaya Alana melangkah cepat menghampirinya. Wanita itu menahan bahu Alana yang terkulai lemas. Namun, Alana menahan tangan Martha agar tak perlu membantunya. “Aku tidak apa-apa, Martha.” Alana menyahut lemah. “Astaga! Kulit Nyonya dingin sekali! Nyonya, seharusnya Nyonya pergi ke rumah sakit!” seru Martha. Wanita berusia empat puluh lima tahun itu menatap Alana cemas. "Saya-saya panggil Tuan." Alana hanya tersenyum tenang. “Tidak usah. Aku hanya kelelahan." Mendengar suara rapuh itu, Martha menatap majikannya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya mengusap pundak majikannya lembut, berusaha menghibur sang majikan yang beberapa waktu terakhir ini terlihat begitu menyedihkan. “Nyonya, Nyonya sudah beberapa kali muntah-muntah seperti ini! Tuan juga berhak tahu jika Nyonya sedang sakit. Saya … saya bisa memanggil Tuan untuk segera kembali! Saya mohon jangan menyiksa diri seperti ini, Nyonya!” isak Martha yang meneteskan air mata.

  • Ketika Aku Pergi Nanti   4

    Julian tiba-tiba memotong. Matanya menyorot Alana dengan tatapan penuh peringatan. Pria itu menegakkan punggung, menggeser tubuhnya seolah menjadi tameng di antara Elsa dan Alana. “Elsa sedang sakit. Aku tidak akan mengabaikan adikku demi menuruti keegoisanmu, Alana.” Alana yang baru saja duduk kemudian menatap Julian tenang. “Kalau begitu, sesuai kesepakatan. Aku tidak akan menandatangani surat cerainya.” “Kamu …,” Julian menggeram. Pria itu mengetik cepat di ponsel sebelum membawa benda itu menempel di telinga. “Antar Elsa ke rumah sakit, dampingi dia menemui dokter kepercayaanku. Pastikan dia mendapatkan pelayanan terbaik.” Julian lalu menurunkan ponselnya. Matanya masih menyorot tajam penuh kebencian. “Puas kamu sekarang?” “K-kak Julian …,” dari balik punggung Julian, Elsa berbisik ragu. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Julian dengan gemetar. “kakak tidak ikut pergi bersamaku? Aku tidak ingin sendirian, Kak! Kumohon ....” Julian membalikkan bahu, mengusap

  • Ketika Aku Pergi Nanti   3

    Julian terdiam sebentar sebelum akhirnya menghela napas keras. “Baik. Kalau itu yang kamu mau, aku akan lakukan. Tapi ingat. Jangan berharap lebih. Tepat di hari ke-seratus, urusan kita selesai. Aku tidak akan mentolerir apa pun upayamu untuk mencegah pernikahan kami.” Alana tersenyum tipis. “Tentu,” jawabnya pelan. Sejenak, Julian melirik dengan pandangan asing ke arah Alana, seolah sikap wanita itu saat ini tidak seperti Alana yang dia kenal. Namun kemudian, pria itu berbalik, keluar dari kamar dengan langkah menghentak. Di tempatnya, Alana terdiam, menatap kembali map berisi surat perjanjian cerai yang berada di tangannya. Napasnya dihembuskan pelan. Siapa sangka, pada akhirnya, datang hari di mana Alana yang sejak dulu diam-diam mencintai Julian sebagai teman masa kecilnya, kini mampu merelakan pria itu dengan tenang. Wanita itu memalingkan wajah, menatap foto pernikahannya di dinding. Pandangannya jatuh pada wajah Julian yang tidak menampilkan sedikit pun kebahagiaan.

  • Ketika Aku Pergi Nanti   2

    Alana mengambil dokumen itu. Benaknya mengingat kembali alasan mengapa pernikahannya terjadi. Tiga tahun lalu, bisnis properti milik keluarga Ashford berencana melakukan pembangunan mega konsorsium, dan lahan yang akan digunakan adalah milik keluarga Sinclair—keluarga Alana. Orang tua Alana yang saat itu masih hidup bersedia menyerahkan lahan itu hanya jika Julian menikahi Alana. Pernikahan itu menjadi jaminan bahwa lahan itu tidak akan jatuh ke tangan kompetitor, sekaligus menjaga stabilitas saham kedua keluarga selama masa pembangunan. “Tiga bulan lagi proyek bisnis kerjasama keluarga kita selesai. Saat itu, kita sudah bisa bercerai.” “Tiga bulan lagi?” tanya Alana lirih. ‘Itu berarti … waktunya nyaris bersamaan dengan waktuku pergi.’ Julian menatap Alana dingin. Jauh berbeda dengan caranya menatap Elsa. “Benar. Aku akan mendaftarkan pernikahanku dengan Elsa. Asistenku sedang mengurus semuanya.” Ucapan Julian bagai sayatan pisau tepat di dada Alana. Wanita itu mencengkram

  • Ketika Aku Pergi Nanti   1

    “Gara-gara aku, kamu jadi harus hidup dengan satu ginjal.” Langkah Alana terhenti di depan pintu dapur. Suara rendah suaminya yang berada di dalam dapur itu mengejutkan Alana. Di sana, tampak Julian berdiri di depan meja dapur dan sedang memasak sesuatu.Ia hampir saja kaget bahwa pria itu... mengetahuinya. Pria itu tidak sendiri. Elsa—adik angkat Julian baru saja melangkah menghampiri, memeluk tubuh Julian dari samping sambil bercengkrama hangat. Tubuh Alana seketika menegang. Ia sempat berpikir, pria itu mengucapkan padanya ketika pulang. ‘… satu ginjal? Apa dia mengira donor ginjal yang dia terima lima tahun lalu itu didapatkan dari Elsa? Bagaimana bisa? ….’Miris. Padahal, baru saja, Alana kembali dari rumah sakit setelah divonis gagal ginjal karena hanya bergantung pada satu. ‘Jika satu-satunya ginjalmu yang sakit itu tidak segera mendapatkan donor, hidupmu akan bertahan paling lama seratus hari ke depan.’ Pernyataan itu membuat Alana terkesiap. Selama ini, ia sela

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status