Dengung

Dengung

By:  Itari Raiansa  Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Not enough ratings
5Chapters
382views
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Lima seorang remaja 16 tahun bertemu dengan Laim seorang anak diplomat dari Singapura. Laim selalu melindungi Lima dari ancaman orang-orang yang menganggap Lima orang jahat. Di satu sisi Lima berteman dekat dengan Nori, anak psikolog yang membantu Lila, si kepribadian Lima yang penuh energi dan sedikit binal. Kakak Laim selalu mencegah Laim agar menjauhi Lima. Kedua sahabatnya pun tidak menyukai Lima sebab mereka menganggap Lima orang yang aneh. Dari balik misteri itu, ternyata Laim mengetahui kebenaran dari masa lalu Lima setelah berusaha mencari tahu. Saat masih lima tahun, ayah Laim menikahi gadis cantik asal Indonesia tanpa unsur cinta. Gadis itu berselingkuh di belakang ayah Laim dan diketahui Ico, kakak Laim. Ibu tiri mereka berselingkuh dengan bodyguard nya sendiri. Anak hasil perselingkuhan itu diberikan kepada sepasang paranormal. Untuk menghilangkan jejak, ia membunuh bodyguard nya dan berusaha menjebak Ico yang mengetahui rahasianya. Ibu tiri mereka kemudian membunuh orang tua Lima dan Ico melecehkan Lima karena jebakan ibu tiri. Masa lalu itu mempengaruhi psikis Lima. Setelah tahu akan masa lalunya, Laim berjanji untuk menjaga Lima meskipun gadis itu tidak pernah lagi tersenyum padanya. Lima menikah dengan Tahun untuk melepas segala kenangannya yang ditinggalkan oleh Laim. Sedangkan Laim pergi untuk melanjutkan studi ke Inggris.

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
5 chapters
Gerbang Pembuka
Kata orang dia adalah gadis paling menyedihkan di arena kompleks. Bulan yang menyoroti wajahnya bahkan tidak mampu meluruhkan gersang kemuraman yang amat kental. Jika dia keluar anak-anak tetangga akan bersembunyi di balik semak-semak. Kabarnya dia punya gigi taring yang sangat panjang. Bisa memutus saraf-saraf penting di dalam tubuh. Jika ada bau bunga yang menyengat itu bukan berasal dari taman. Bahkan sekalipun taman memiliki bunga yang beragam baunya tak pernah menyengat seperti aroma tubuh gadis menyedihkan. Bilamana malam melahap cahaya itu adalah waktu menyenangkan untuk menyelinap keluar. Tetangga perempuan menyedihkan tidak akan pernah tahu, siapa perempuan yang berjalan seperti kapas di tengah hari. Menari seperti lebah yang mengisap bunga. Mereka semua tahu, itu bukan waktu untuk berbicara. Vampir itu akan datang--mengambil perlahan darah mereka. Dia kehausan setelah cahaya banyak menyerap energinya. Perempuan yang menari di bawah permadani hitam m
Read more
1. Putri Malu
Deru mesin motorku berhenti di depan gerbang setinggi enam meter dengan runcing panjang di atas. Mungkin jika ada yang memanjat gerbang ini ia harus mengangkat punggungnya ke atas dan membentuk U ke bawah di tubuh. Namun, aku tidak berniat memanjatnya. Itu terlalu berisiko. Pagi ini tepat di bulan Januari Ayah membawa kabar membosankan lagi. Dia seorang diplomat, sekarang pindah ke Indonesia dan harus membawa keluarganya ke tempat dinas. Pindah sekolah, sudah seperti rutinitas. Bisa saja aku tidak perlu ikut Ayah dan tinggal dengan Nenek di Singapore. Namun, ini berbeda setelah aku tahu Ayah mengabarkan Indonesia tempat dinas berikutnya. "Nak Liam, ya?" Seorang lelaki dengan wajah licinnya bertanya. "Iya, Pak. Saya murid baru, tapi bapak kok bisa tau nama saya?""Saya Joni. Ciri-ciri kamu persis banget sama foto di hp saya." Pak Joni menunjukkan layar ponsel. Itu memang aku. "Pak kepala sekolah yang ngasih. Katanya, saya disuruh nganterin ka
Read more
2. Orang Asing
Jika ada negara kedua yang ingin aku kunjungi, aku akan menyebut Jepang. Sebab, aku suka musim semi dan mekarnya sakura. Aroma musim semi selalu penuh dengan warna. Aku suka hangatnya. Bagaimana aku akan memakai syal tebal dan bulu-bulu yang imut di ujung kaus kaki. Di Jepang aku memiliki banyak teman. Sebab, di kelas hanya ada siswa laki-laki saja. Persamaan itu membuatku mudah membaur dan banyak dikenal hingga ke kelas lainnya karena beberapa kali aku sempat menjadi delegasi sekolah untuk menjalankan kegiatan di luar pembelajaran. Aku senang memainkan musik biola bersama dengan Yuri, teman perempuan di kelas sebelah. Yuri pandai bermain piano dan aku memainkan biola. Kami berlatih di ruang musik yang sama setiap sekali dalam seminggu.  dibunyikan secara estafet. Namun karena Yuri sudah akrab dengan musik tidak butuh waktu yang lama untuk membuatnya mengerti.Sayang sekali, setelah lulus dari sekolah dasar ayah harus pindah ke negeri Kanguru. Salah satu hal yang sangat a
Read more
3. Guru Les Deon (Tahun)
Sialan! Mulut Syasi memang sukar dikontrol. Dia membeberkan kepada Liam tentang guru Deon. Sekarang, aku tidak bisa berkutik lagi jika melihat Syasi yang berusaha memberikan perhatian kepada Nori. Akh! Masih untung perempuan cerewet itu aku antar sampai gerbang rumah. Tidak kubuang ke sungai Ciliwung atau tempat pembuangan sampah."Heh, Tahun! Kemana pembantumu pergi?" Si kecil cabe rawit ini mengagetkan ku saja! Sudah jam berapa ini? Ah ya ampun, sepuluh?! Kenapa cabe rawit si mulut pedas belum tidur?"Dia tidur di kandang monyet. Jika ingin bertemu dengannya, pergilah ke kebun binatang." Aku melempar kunci mobil ke arah meja. Malam ini mobil itu bersahabat denganku karena tidak  batuk-batuk dan mogok di jalan. Deon mengikuti langkahku. Hrrggg, si cabe rawit ini benar-benar parasit dalam kemalasanku! Aku berbalik dan menatap tubuhnya yang pendek. Bisa dibilang, anak itu sepuluh kali lipat lebih imut dariku. Namun punya kelakuan minus seratus derajat pad
Read more
4. Senja dalam Rengkuhan (Lima)
Deting jam berbunyi dua kali. Sudah menunjukkan pukul dua malam. Lima menguap, tapi berusaha bangun dan berjalan pelan ke arah kamar mandi. Rumahnya terasa sangat sunyi. Beberapa kali burung hantu yang mendiami pohon mangga di depan berbunyi nyaring. Kosong dan hampa ketika Lima keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah kuyup. Lima mengaduh kesakitan, memegang kepalanya yang terasa ngilu tiba-tiba.Lima berjalan ke arah cermin. Memperhatikan rambutnya yang panjang terurai sepintas berubah warna. Ada robekan yang cukup besar di kepala. Lima menghela napas, sedikit panjang dan berjalan lagi ke arah gantungan baju. Lima ingin melaksanakan sholat dahulu. Entah bagaimana aroma kemenyan masih tidak hilang meskipun dia mencuci badan setiap dua kali sehari. Lima sudah terbiasa dengan aroma itu sejak kecil.Usai salat tahajjud Lima mengambil jaket yang cukup tebal kainnya. Lima hanya menyisir rambut tanpa mau mengikat. Dia tak pernah memiliki ikat rambut. Bukan tidak mampu, Lim
Read more
DMCA.com Protection Status