Ada getar-getar di dunia hiburan belakangan ini, dan aku penasaran banget sama kabar terbaru Lis Susiana. Dari obrolan di forum penggemar, sepertinya dia lagi sibuk dengan beberapa proyek kolaborasi musik yang bakal dirilis pertengahan tahun ini. Katanya sih, ada single baru yang lebih eksperimental dengan sentuhan elektronik, plus rumor video klip konseptual yang digarap bareng sutradara indie ternama. Tapi yang bikin aku excited? Desas-desus tentang album mini bertema personal yang mengangkat kisah perjalanan kariernya selama ini.
Beberapa teman di komunitas musik juga ngomongin kemungkinan Lis bakal jadi bintang tamu di festival musik urban akhir tahun. Kalau ini beneran terjadi, bisa jadi momen spesial buat fans yang udah nunggu penampilan live-nya. Aku sih berharap dia tetap konsisten dengan warna musik yang segar tapi tetap punya kedalaman lirik kayak biasanya.
Denger-denger sih Lis Susiana lagi menggoda kita dengan teaser proyek baru di Instagram story-nya. Beberapa screenshot studio rekaman dan cuplikan lirik misterius bikin banyak orang nebak-nebak. Aku sendiri curiga ini bakal jadi semacam EP atau kolaborasi sama musisi internasional—soalnya ada petunjuk subtle tentang tagar #GlobalCollab di postingan terakhirnya. Yang jelas, gaya visualnya belakangan lebih minimalist dan mature, jadi mungkin arah musiknya juga bakal lebih dewasa.
Ada juga kabar dari insider yang bilang Lis lagi ngobrol serius dengan platform streaming buat bikin docu-series behind-the-scenes proses kreatifnya. Bayangin aja, kita bisa liat langsung bagaimana dia ngolah ide dari nol sampai jadi lagu! Ini bisa jadi konten wajib buat penggemar yang suka insight artistik.
Kemarin nemu thread panjang di Twitter bahas kemungkinan Lis Susiana bakal merilis sesuatu sebelum akhir kuartal ketiga. Beberapa akun fanbase ngaku udah dapat leak info tentang project spesial bertepatan dengan anniversary debutnya. Katanya bakal ada versi akustik dari hits lama plus satu atau dua track baru. Yang bikin menarik, ada indikasi strong bahwa dia bakal eksplorasi genre jazz kontemporer—sesuatu yang belum pernah dia sentuh sebelumnya. Aku personally tunggu-tunggu apakah ini cuma phase atau jadi turning point di kariernya.
2026-07-20 12:25:54
10
Ver Todas As Respostas
Escaneie o código para baixar o App
Livros Relacionados
Kesempatan Kedua Sulis
Xuxi Law
10
445
Ketika penderitaan karena penyesalan itu tak bisa diperbaiki lagi, Sulis mendapat kesempatan kedua untuk memulai hidup baru. Berbekal pengetahuan dari kehidupan sebelumnya, Sulis mulai merubah nasibnya untuk menghadapi dunia yang begitu kejam.
Lusia melarikan diri dari ayah tirinya yang hendak melecehkannya, berlari tanpa tau arah dan pada akhirnya Lusia menyadari kalau ia sampai di tempat yang tak ia ketahui. Di tempat asing itu, Lusia bertemu dengan Brent. Laki - laki berhati baik yang menolongnya. Brent membantu Lusia dan memberikannya makanan. Lusia tak menyadari, Brent mempunyai niatan jahat padanya. Hingga Lusia merasa mengantuk, dan pada akhirnya ia terbangun di ranjang asing. Dengan laki - laki asing yang hendak menindih tubuhnya. Brent menjual Lusia, menyeret Lusia ke dalam lubang neraka yang lain.
Lisa, mahasiswi tingkat akhir yang menyambi sebagai asisten kurator ditugaskan untuk memilah barang-barang antik di sebuah villa. Sesampainya di sana, tidak ada penghuni vila yang menyukainya atau tak disukainya. Ada Kris, pembantu lalki-laki seusia Lisa; Katemi, pembantu perempuan paruh baya; Bram, sang majikan dan pemilik vila; serta Anne, putri sang majikan. Setiap penghuni menjebak dirinya sendiri dalam masa lalu dengan cara mereka masing-masing. Dapatkah Lisa memecahkan kemelut yang berusaha menelannya?
Sabtu Malam Lisa adalah bacaan sekali duduk yang sengaja disusun sebagai sebuah puzzle.
Dinara Jeandra tak pernah mengharapkan kisah romansa manis untuk hidupnya karena dia tak percaya lagi pada cinta. Dia tak memerlukan kisah muluk- muluk picisan untuk memenuhi harinya karena satu- satunya yang Dinara kejar sekarang adalah kestabilan hidup.
Namun siapa sangka tetangga baru Dinara adalah mantan 'mas crush' yang sempat meninggalkan kesan pahit di masa SMA-nya? Bertemu lagi dengan Sandi Arsena adalah sebuah kesialan baginya karena menggoyahkan banyak rencana hidup sempurna yang telah disusun sebelumnya.
Bagi Sandi Arsena yang suka misteri, Dinara terlalu misterius. Dia penuh kejutan yang mendebarkan sekaligus menyenangkan. Dia seolah berjalan pelan untuk membuka kotak pandora. Dengan sekelumit sisa kisah masa lalu yang rumit, dapatkah keduanya berdamai dan menyelesaikan kisah lama mereka?
Ini adalah event penting bagi Lusiana. Semua orang bertepuk tangan dan mengambil gambar. Dia menerima buket bunga mawar dari seorang penggemar, dengan anggun berjalan di atas karpet merah, bibirnya mengukir senyum menawan.
Ketika dia berjalan dan mencium aroma mawar dari penggemarnya tiba-tiba kepalanya terasa berputar. Lusiana melihat wajah orang itu dan sosok itu sudah pergi dari kerumunan dengan senyum aneh di bibirnya.
"Apa yang terjadi padaku? Kepalaku sakit sekali!"
Lusiana merasa pandangan matanya menjadi gelap, dia tidak bisa melihat apa-apa dan tubuhnya jatuh di atas karpet merah.
Secara ajaib tubuhnya menghilang, dia dilupakan dan seperti tidak pernah ada di dunia modern.
***
Di zaman kuno, seorang putri raja sedang sekarat meregang nyawa, tubuhnya sudah membiru, kedua matanya cekung dan lehernya bengkak.
"Lebih baik aku mati, dengan begini aku tidak perlu mendengar orang-orang menghinaku, pria yang satu-satunya aku percaya juga berkhianat, dia memilih adikku sendiri, aku tidak akan melihatnya lagi setelah malam ini!"
Semua tabib sudah dipanggil untuk mengobatinya tapi hasilnya nihil. Nyawanya sudah di ujung tanduk.
Lusiana sang putri mati dan setelah dua puluh menit dinyatakan meninggal dunia tiba-tiba napasnya kembali. Sang putri bangun dan duduk di atas ranjangnya. Semua orang kaget dan mengira Lusiana adalah hantu. Lusiana sang tuan putri menjadi sangat berbeda setelah meminum racun, dia menjadi sosok yang dingin dan acuh.
"Aku hidup kembali untuk membalas dendam! Aku bukan lagi Lusiana sang putri gendut yang lemah dan tidak bisa apa-apa! Aku adalah Lusiana sang artis terkenal dan bermartabat! Hahahaha!"
Mendengar tawa kerasnya dan ucapannya, semua orang berpikir Tuan putri sudah tidak waras, tapi semua tindakannya di masa mendatang sangat menakjubkan!
✨ Perjalanan seorang putri dalam menemukan versi terbaik dirinya, baik dari segi karakter, kedewasaan, maupun kekuatannya.
Lisa seorang ibu rumah tangga yang mengalami masalah emosional. Masalah itu mengakibatkan muncul konflik dalam rumah tangganya.
Saat rumah tangganya sedang di ujung tanduk, tiba-tiba dia terbangun di dalam tubuhnya yang berusia sembilan belas tahun. Lisa menyingkap banyak rahasia dan menemukan banyak hal yang selama ini tidak dia sadari. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Lisa dan bagaimana hidup Lisa selanjutnya?
Kebetulan beberapa waktu lalu aku lagi iseng ngecek film-film indie lokal, dan nemu nama Lis Susiana di beberapa judul yang cukup menarik. Aktris satu ini emang sering muncul di film-film dengan nuansa sosial atau drama keluarga, dan menurutku aktingnya natural banget. Salah satu yang paling berkesan buatku itu 'Bukan Cerita Cinta Biasa' (2018), di situ dia main sebagai sosok ibu single parent yang berjuang buat anaknya. Ada juga 'Ruang Tanpa Jendela' (2020) di mana dia bikin merinding sebagai korban kekerasan domestik. Yang terbaru, di 'Laut Bercerita' (2022) adaptasi novel ternama itu, penampilannya sebagai tetangga misterius bikin film makin atmosferik.
Aku suka cara Lis Susiana milih proyek yang selalu punya pesan kuat. Di 'Dinding Waktu' (2019) yang eksperimental itu, ekspresi matanya aja udah bisa bercerita tanpa dialog panjang. Kalau mau liat versi lebih mainstream, dia pernah cameo di 'Milea: Suara dari Dilan' (2020) sebagai guru tari. Yang bikin aku respect, meskipun sering dapat peran pendukung, tapi presence-nya selalu memorable. Kayaknya dia emang spesialis di karakter-karakter kompleks yang butuh kedalaman emosi.
Bicara tentang karya Lis Susantawati yang mungkin difilmkan, rasanya seperti membuka lembaran baru dalam dunia adaptasi sastra Indonesia. Beberapa tahun terakhir, minat produser terhadap novel lokal memang meningkat pesat, terutama yang punya ciri khas kuat seperti 'Ayah' atau 'Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam'. Lis punya gaya narasi magis-realisme yang visual banget—adegan-adegannya sering terasa seperti sudah dirancang untuk layar lebar. Tapi tantangannya ada di sisi komersial: apakah pasar siap dengan tema-tema filosofisnya yang dalam? Yang menarik, beberapa sutradara indie mulai melirik karyanya untuk film eksperimental, meski belum ada konfirmasi resmi. Kalau melihat tren film 'Bumi Manusia' yang sukses, mungkin karya Lis bisa jadi kandidat kuat adaptasi berikutnya.
Di sisi lain, adaptasi film selalu membutuhkan lebih dari sekadar materi bagus. Faktor produksi, keputusan studio, dan bahkan timing politik budaya bisa berpengaruh. Aku pernah ngobrol dengan salah satu kru yang terlibat di 'Aruna & Lidahnya', dan mereka bilang proses adaptasi itu ribetnya minta ampun—harus nemuin titik balance antara kesetiaan ke sumber materi dan kreativitas sineas. Karya Lis yang sarat simbolisme mungkin butuh pendekatan khusus, kayak gaya sutradara Mouly Surya atau Joko Anwar. Jadi, meski belum ada pengumuman, jangan heran kalau tiba-tiba ada kabar gembira dalam 2-3 tahun ke depan.