Ada satu momen dalam 'Laut Bercerita' karya Leila S. Chudori yang benar-benar membuatku merasakan betapa pahitnya
keterasingan. Karakter utama, Biru Laut, mengalami isolasi bukan hanya secara fisik di pengasingan politik, tapi juga secara emosional—terpisah dari keluarga, identitas, bahkan dari versi terbaik dirinya sendiri. Aku sering memikirkan bagaimana Chudori menggambarkan luka yang tak terlihat: saat Biru Laut berjalan di antara kerumunan tapi merasa seperti hantu yang tak diakui.
Yang lebih menusuk adalah adegan di mana dia mencoba menulis surat untuk ibunya, tapi kata-katanya menguap karena trauma. Itu bukan sekadar keterasingan geografis, melainkan keterputusan dari bahasa itu sendiri—hal yang paling manusiawi dari kita semua. Novel ini mengajari kita bahwa terkadang, pengasingan terbesar adalah ketika kita kehilangan kemampuan untuk bercerita.