Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel

Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel

last updateآخر تحديث : 2026-05-08
بواسطة:  Zeyaتم تحديثه الآن
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
لا يكفي التصنيفات
12فصول
10وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Celia, seorang gadis biasa yang memiliki hobi makan. Suatu hari dia di minta untuk membaca novel karya sahabatnya, namun menurutnya novel itu sangat jelek dan dia berniat untuk meminta revisi pada sahabatnya. Akan tetapi, dalam perjalanan ke rumah sahabatnya sebuah kecelakaan tragis membuatnya terlempar ke dalam novel yang baru saja dia baca. Sialnya, dari banyaknya karakter novel dia menjadi karakter antagonis yang akan berakhir tragis. Tak ingin bernasib sama, Celia berusaha mengubah alurnya demi bertahan hidup tapi semua tak semudah membalikan telapak tangan. Akankah Celia berhasil bertahan di dunia baru itu?

عرض المزيد

الفصل الأول

Bab 1

"Celia!" Teriak seorang gadis di koridor sekolah menengah atas.

Gadis berambut sepinggang itu menepuk pundak sahabatnya begitu tiba di dekat gadis bernama Celia tersebut. "Kemana aja sih? Aku cari dari tadi malah ketemu di sini."

"Toilet, emang ada apa?" Celia merangkul bahu Siska, sahabatnya.

"Aku butuh bantuan kamu, Cel."

Kening Celia mengkerut. "Bantuan?"

Siska mengangguk. "Aku bikin novel baru, dan niatnya mau aku terbitin bulan ini. Cuma aku butuh pendapat kamu sebagai pembaca."

Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari sekolah, saat tiba di parkiran Siska mendadak berhenti dan membuka ranselnya kemudian mengeluarkan sebuah tumpukan kertas berisi novel yang akan dia cetak bulan depan.

"Nih, tolong di baca, ya." Ujarnya sambil menyerahkan tumpukan kertas itu.

Celia menatap horor tumpukan kertas yang ada di tangan sahabatnya. "Serius? Kamu mau aku baca sebanyak ini?"

"Cuma dikit kok, paling dua ratus halaman."

"Cuma?" Celia tertawa hambar. "Halaman segitu bisa ngabisin waktu satu minggu, Sis. Yang benar aja dong, ini namanya bukan minta tolong lagi tapi maksa."

Tanpa ada niat mengelak, Siska tersenyum ceria. "Emang, makanya bantuin aku biar bisa lolos pas terbit cetak. Nanti kalo ada komisi aku traktir kamu makan sepuasnya deh."

Celia memicingkan mata, menatap Siska penuh curiga. "Sejak kapan kamu dermawan gini?"

Siska terkekeh pelan, lalu menyenggol lengan Celia. "Sejak aku butuh kamu."

"Enak aja," balas Celia cepat, tapi sudut bibirnya mulai terangkat. "Traktir doang? Nggak ada bonus lain?"

Siska berpura-pura berpikir, jari telunjuknya menyentuh dagu. "Hmm... aku tambahin minuman bebas refill."

Celia menghela napas panjang, lalu menatap tumpukan kertas di tangannya lagi. "Ini bukan novel, ini skripsi berkedok cerita cinta."

"Hei! Jangan ngerendahin karyaku dong," protes Siska. "Aku serius kali ini. Aku pengen ini bener-bener bagus sebelum diterbitin."

Ekspresi Celia perlahan berubah. Candaan di wajahnya memudar, digantikan dengan tatapan yang lebih lembut. Dia tahu betul, di balik sikap santai Siska, sahabatnya itu sedang mengejar sesuatu yang penting.

"Ada deadline?" tanya Celia akhirnya.

Siska mengangguk cepat. "Minggu depan harus masuk ke percetakan."

"Minggu depan?!" Celia hampir menjatuhkan kertas itu. "Kamu gila, ya? Dua ratus halaman dalam seminggu?"

"Aku yakin kamu bisa," sahut Siska tanpa ragu.

Celia mendengus pelan. "Kamu terlalu percaya sama aku."

"Bukan terlalu percaya," Siska tersenyum, menatapnya lurus. "Aku cuma tahu kamu nggak pernah setengah-setengah kalau udah bantuin orang."

Kalimat itu membuat Celia terdiam sejenak.

Dia menatap tumpukan naskah di tangannya sekali lagi, lalu menghela napas panjang seolah sedang membuat keputusan besar dalam hidupnya.

"Oke," ucapnya akhirnya.

Mata Siska langsung berbinar. "Serius?!"

"Tapi ada syaratnya," lanjut Celia cepat sebelum Siska terlalu senang.

"Apa aja! Mau aku jadi pembantu kamu seminggu juga oke!"

Celia tersenyum tipis. "Nggak usah lebay. Cuma satu."

"Apa?"

Celia mengangkat naskah itu sedikit. "Kalau ceritanya jelek, aku bakal jujur. Kamu nggak boleh marah."

Siska terdiam sebentar, lalu mengangkat kedua tangannya. "Deal."

"Dan satu lagi," tambah Celia.

Siska mengernyit. "Lah, katanya cuma satu?"

"Ini bonus," jawab Celia santai. "Aku mau tahu... cerita kamu ini tentang apa?"

Siska tersenyum pelan. Kali ini bukan senyum ceria seperti biasanya, melainkan senyum yang sedikit misterius.

"Tentang seorang cewek," ujarnya pelan, "yang hidupnya berubah gara-gara satu cowok yang nggak bisa dia dapatin."

Celia mengangguk pelan. "Oke, tunggu seminggu lagi nanti aku ke rumahmu."

"Makasih, Cel."

***

Brak!

Celia membanting naskah ke atas meja belajarnya, seminggu telah berlalu dan dia baru saja membaca setengah dari naskah tersebut. Bukan tanpa alasan, tapi Celia tidak menyukai karakter ciptaan sahabatnya yang berperan sebagai antagonis dan memiliki hidup tragis.

"Kenapa Siska bikin karakter antagonisnya naas begini sih? Apa nggak kasihan dia sama karakter itu sendiri?"

Lelah dengan semua kekesalan yang ingin di luapkan, Celia meraih ransel biru dan memasukan naskah tersebut ke dalam ransel itu.

"Aku harus minta Siska revisi beberapa bab, biar si antagonis nggak terlalu tersiksa hidupnya."

Setelah memasukan semua naskah ke dalam ransel, Celia bergegas keluar dari kamar. Saat dia membuka pintu, Celia terkejut melihat sosok kakaknya yang baru pulang kerja berdiri di depannya.

"Loh, tumben jam segini sudah pulang, Bang?" Tanya Celia heran.

Samuel mengangguk. "Kamu mau ke mana bawa tas segala?"

"Aku mau ke rumah Siska."

"Jangan lama-lama, kalau lewat jam sebelas kamu belum pulang... Kamu tahu sendiri akibatnya." Ancam Samuel.

Celia mengangguk patuh, di dalam rumah itu hanya ada dua hal yang Celia takutkan. Pertama adalah orang tuanya, dan kedua Samuel. Pria itu terlalu protektif tapi Celia paham sebab Samuel menyayanginya.

"Aku pergi dulu, Bang." Pamit Celia.

Samuel mengangguk. "Hati-hati, jangan ngebut."

Celia mengangkat jempolnya sebagai tanda setuju, lalu berlari keluar dari kediaman tersebut. Celia mengambil kunci motor dan bergegas meninggalkan rumah tersebut setelah menyalakan kendaraannya.

***

Semilir angin malam menerpa wajah Celia di balik helm full face yang dia kenakan, dalam pikirannya berbagai omelan sudah dia siapkan untuk membuat Siska merevisi naskahnya.

Hingga, tanpa di duga dari arah berlawanan tampak sebuah mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.

Celia tersadar dari lamunannya, saat dia hendak menghindar jarak mobil itu dengan motornya sudah tidak jauh. Celia memelototi kendaraan roda empat itu, hanya dalam hitungan detik tabrakan tak bisa di hindari.

Brak!

Tubuh Celia terlempar cukup jauh dan menghantam aspal yang keras, helm yang dia kenakan retak dan darah merembes keluar dari sela-sela helm tersebut.

"Ugh... sakit," rintih Celia di sela-sela kesadarannya yang tersisa.

Saat dia hendak meminta tolong, suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Celia menatap langit malam yang gelap gulita tanpa ada bulan sebagai penerang.

"Apa akhirnya aku mati seperti...i-ini?" Gumam Celia sebelum kegelapan menelan seluruh kesadarannya.

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
12 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status