LOGINCelia, seorang gadis biasa yang memiliki hobi makan. Suatu hari dia di minta untuk membaca novel karya sahabatnya, namun menurutnya novel itu sangat jelek dan dia berniat untuk meminta revisi pada sahabatnya. Akan tetapi, dalam perjalanan ke rumah sahabatnya sebuah kecelakaan tragis membuatnya terlempar ke dalam novel yang baru saja dia baca. Sialnya, dari banyaknya karakter novel dia menjadi karakter antagonis yang akan berakhir tragis. Tak ingin bernasib sama, Celia berusaha mengubah alurnya demi bertahan hidup tapi semua tak semudah membalikan telapak tangan. Akankah Celia berhasil bertahan di dunia baru itu?
View More"Celia!" Teriak seorang gadis di koridor sekolah menengah atas.
Gadis berambut sepinggang itu menepuk pundak sahabatnya begitu tiba di dekat gadis bernama Celia tersebut. "Kemana aja sih? Aku cari dari tadi malah ketemu di sini." "Toilet, emang ada apa?" Celia merangkul bahu Siska, sahabatnya. "Aku butuh bantuan kamu, Cel." Kening Celia mengkerut. "Bantuan?" Siska mengangguk. "Aku bikin novel baru, dan niatnya mau aku terbitin bulan ini. Cuma aku butuh pendapat kamu sebagai pembaca." Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari sekolah, saat tiba di parkiran Siska mendadak berhenti dan membuka ranselnya kemudian mengeluarkan sebuah tumpukan kertas berisi novel yang akan dia cetak bulan depan. "Nih, tolong di baca, ya." Ujarnya sambil menyerahkan tumpukan kertas itu. Celia menatap horor tumpukan kertas yang ada di tangan sahabatnya. "Serius? Kamu mau aku baca sebanyak ini?" "Cuma dikit kok, paling dua ratus halaman." "Cuma?" Celia tertawa hambar. "Halaman segitu bisa ngabisin waktu satu minggu, Sis. Yang benar aja dong, ini namanya bukan minta tolong lagi tapi maksa." Tanpa ada niat mengelak, Siska tersenyum ceria. "Emang, makanya bantuin aku biar bisa lolos pas terbit cetak. Nanti kalo ada komisi aku traktir kamu makan sepuasnya deh." Celia memicingkan mata, menatap Siska penuh curiga. "Sejak kapan kamu dermawan gini?" Siska terkekeh pelan, lalu menyenggol lengan Celia. "Sejak aku butuh kamu." "Enak aja," balas Celia cepat, tapi sudut bibirnya mulai terangkat. "Traktir doang? Nggak ada bonus lain?" Siska berpura-pura berpikir, jari telunjuknya menyentuh dagu. "Hmm... aku tambahin minuman bebas refill." Celia menghela napas panjang, lalu menatap tumpukan kertas di tangannya lagi. "Ini bukan novel, ini skripsi berkedok cerita cinta." "Hei! Jangan ngerendahin karyaku dong," protes Siska. "Aku serius kali ini. Aku pengen ini bener-bener bagus sebelum diterbitin." Ekspresi Celia perlahan berubah. Candaan di wajahnya memudar, digantikan dengan tatapan yang lebih lembut. Dia tahu betul, di balik sikap santai Siska, sahabatnya itu sedang mengejar sesuatu yang penting. "Ada deadline?" tanya Celia akhirnya. Siska mengangguk cepat. "Minggu depan harus masuk ke percetakan." "Minggu depan?!" Celia hampir menjatuhkan kertas itu. "Kamu gila, ya? Dua ratus halaman dalam seminggu?" "Aku yakin kamu bisa," sahut Siska tanpa ragu. Celia mendengus pelan. "Kamu terlalu percaya sama aku." "Bukan terlalu percaya," Siska tersenyum, menatapnya lurus. "Aku cuma tahu kamu nggak pernah setengah-setengah kalau udah bantuin orang." Kalimat itu membuat Celia terdiam sejenak. Dia menatap tumpukan naskah di tangannya sekali lagi, lalu menghela napas panjang seolah sedang membuat keputusan besar dalam hidupnya. "Oke," ucapnya akhirnya. Mata Siska langsung berbinar. "Serius?!" "Tapi ada syaratnya," lanjut Celia cepat sebelum Siska terlalu senang. "Apa aja! Mau aku jadi pembantu kamu seminggu juga oke!" Celia tersenyum tipis. "Nggak usah lebay. Cuma satu." "Apa?" Celia mengangkat naskah itu sedikit. "Kalau ceritanya jelek, aku bakal jujur. Kamu nggak boleh marah." Siska terdiam sebentar, lalu mengangkat kedua tangannya. "Deal." "Dan satu lagi," tambah Celia. Siska mengernyit. "Lah, katanya cuma satu?" "Ini bonus," jawab Celia santai. "Aku mau tahu... cerita kamu ini tentang apa?" Siska tersenyum pelan. Kali ini bukan senyum ceria seperti biasanya, melainkan senyum yang sedikit misterius. "Tentang seorang cewek," ujarnya pelan, "yang hidupnya berubah gara-gara satu cowok yang nggak bisa dia dapatin." Celia mengangguk pelan. "Oke, tunggu seminggu lagi nanti aku ke rumahmu." "Makasih, Cel." *** Brak! Celia membanting naskah ke atas meja belajarnya, seminggu telah berlalu dan dia baru saja membaca setengah dari naskah tersebut. Bukan tanpa alasan, tapi Celia tidak menyukai karakter ciptaan sahabatnya yang berperan sebagai antagonis dan memiliki hidup tragis. "Kenapa Siska bikin karakter antagonisnya naas begini sih? Apa nggak kasihan dia sama karakter itu sendiri?" Lelah dengan semua kekesalan yang ingin di luapkan, Celia meraih ransel biru dan memasukan naskah tersebut ke dalam ransel itu. "Aku harus minta Siska revisi beberapa bab, biar si antagonis nggak terlalu tersiksa hidupnya." Setelah memasukan semua naskah ke dalam ransel, Celia bergegas keluar dari kamar. Saat dia membuka pintu, Celia terkejut melihat sosok kakaknya yang baru pulang kerja berdiri di depannya. "Loh, tumben jam segini sudah pulang, Bang?" Tanya Celia heran. Samuel mengangguk. "Kamu mau ke mana bawa tas segala?" "Aku mau ke rumah Siska." "Jangan lama-lama, kalau lewat jam sebelas kamu belum pulang... Kamu tahu sendiri akibatnya." Ancam Samuel. Celia mengangguk patuh, di dalam rumah itu hanya ada dua hal yang Celia takutkan. Pertama adalah orang tuanya, dan kedua Samuel. Pria itu terlalu protektif tapi Celia paham sebab Samuel menyayanginya. "Aku pergi dulu, Bang." Pamit Celia. Samuel mengangguk. "Hati-hati, jangan ngebut." Celia mengangkat jempolnya sebagai tanda setuju, lalu berlari keluar dari kediaman tersebut. Celia mengambil kunci motor dan bergegas meninggalkan rumah tersebut setelah menyalakan kendaraannya. *** Semilir angin malam menerpa wajah Celia di balik helm full face yang dia kenakan, dalam pikirannya berbagai omelan sudah dia siapkan untuk membuat Siska merevisi naskahnya. Hingga, tanpa di duga dari arah berlawanan tampak sebuah mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Celia tersadar dari lamunannya, saat dia hendak menghindar jarak mobil itu dengan motornya sudah tidak jauh. Celia memelototi kendaraan roda empat itu, hanya dalam hitungan detik tabrakan tak bisa di hindari. Brak! Tubuh Celia terlempar cukup jauh dan menghantam aspal yang keras, helm yang dia kenakan retak dan darah merembes keluar dari sela-sela helm tersebut. "Ugh... sakit," rintih Celia di sela-sela kesadarannya yang tersisa. Saat dia hendak meminta tolong, suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Celia menatap langit malam yang gelap gulita tanpa ada bulan sebagai penerang. "Apa akhirnya aku mati seperti...i-ini?" Gumam Celia sebelum kegelapan menelan seluruh kesadarannya.Mata Anna kembali berkaca-kaca. Wajahnya pucat pasi setelah mendengar bentakan dari Jennifer.Sementara itu, Gina semakin dibuat bingung ketika melihat ke arah Rafka yang sejak tadi hanya diam tanpa melakukan tindakan apa pun kepada Jennifer, padahal sudah jelas gadis itu baru saja melukai Anna, mantan kekasihnya."Kak Rafka, kenapa hanya diam? Anna baru saja dirundung oleh Kak Jennifer. Kenapa Kakak nggak melakukan apa pun?" tanya Gina.Pertanyaan itu membuat semua mata yang ada di sana langsung beralih kepada Rafka.Mereka merasa ada yang aneh.Rafka masih memasang wajah datar meskipun kondisi Anna terlihat sangat memprihatinkan. Para sahabatnya juga ikut memandangnya dengan penuh tanda tanya.Terutama Tobi yang baru menyadari bahwa Rafka sama sekali tidak melakukan apa pun terhadap Jennifer.Rafka mengembuskan napas panjang, kemudian dia melangkah mendekati mereka. Namun, bukan berhenti di depan Anna. Pemuda itu justru menghentikan langkahnya tepat di hadapan Jennifer yang berdiri
Dia kembali melangkah maju, tubuhnya menunjukkan tanda-tanda siap menyerang lagi. Beberapa siswa mencoba melerai. Namun mereka langsung terdiam ketika Rafka akhirnya bergerak.Sayangnya, bukan untuk menghentikan Jennifer. Rafka justru meraih bahu salah satu siswa yang hendak maju lalu menariknya mundur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tatapannya tidak pernah lepas dari Jennifer. Seolah dia ingin melihat sampai di mana batas kemampuan gadis itu."Kak Jennifer, sudah!" Pekik Anna dari lantai sambil menahan rasa sakit. "Jangan sakiti Kak Tobi lagi, tolong..."Air mata kembali mengalir di pipinya. "Aku mohon..."Jennifer menghentikan langkahnya, dia menoleh perlahan ke arah Anna. Lalu tertawa pendek."Aku heran." Nada suaranya terdengar dingin. "Aku sudah memperlakukanmu buruk setiap hari menurut versimu, tetapi kamu masih saja membela orang lain."Jennifer memiringkan kepala. "Kamu pikir itu akan membuatku iba?"Anna menggigit bibirnya, tubuhnya sedikit gemetar. "Aku hanya nggak mau a
Jennifer mengangkat satu alis, tatapannya tetap tenang. "Aku jelas punya otak. Nggak kayak kamu yang kebodohannya bahkan mengalahkan ayam kampung."Wajah Tobi langsung memerah. "Katanya punya otak, tetapi tingkahmu lebih parah daripada pasien rumah sakit jiwa! Nggak waras!"Bayu yang berdiri di samping Tobi segera menepuk pundak sahabatnya itu. "Tenang, Bro."Dia berusaha menenangkan Tobi sebelum mengalihkan pandangan kepada Jennifer, Bayu mengembuskan napas panjang."Tapi kali ini kamu memang keterlaluan, Jen." Nada suaranya terdengar kecewa. "Kalau kamu terus memperlakukan Anna seperti ini, mentalnya bisa rusak."Jennifer memutar bola matanya malas. "Memang dari awal mentalnya sudah rusak, aku cuma menambahkan sedikit saja biar seimbang." "Astaga." Bayu memijat pelipisnya frustrasi.Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi, siapa pun yang mendengar jawaban Jennifer pasti akan kesal. Bahkan sampai saat ini gadis itu masih terlihat sama sekali tidak merasa bersalah."Bahkan
Anna yang semula menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya, senyum dingin langsung muncul di bibirnya."Jadi Kak Jennifer sudah tahu?" Wajah lugu yang selama ini selalu dia tunjukkan lenyap begitu saja. "Baguslah. Jadi aku tidak perlu berpura-pura baik lagi di depan iblis seperti Kakak."Jennifer memutar bola mata. Menurutnya, sebutan iblis jauh lebih cocok diberikan kepada Anna daripada dirinya.Anna memainkan rambutnya sambil menyunggingkan senyum sinis. "Aku benar-benar membenci Kak Jennifer. Semuanya pasti akan lebih baik tanpa Kakak. Terlebih lagi kalau Kakak nggak ada di dunia ini."Dia melangkah mendekat. "Kenapa Kakak nggak ikut mati saja bersama ibu kesayangan Kakak, hm?"Jennifer tidak menjawab. Dia hanya mengamati Anna yang terus berusaha memancing emosinya, dia tidak bodoh. Dan dia hanya menunggu waktu yang tepat."Kasihan sekali hidup Kakak." Anna kembali berbicara. "Bahkan papi menyesal memiliki anak seperti Kakak. Seharusnya Kak Jennifer sadar kalau benalu seperti
Jennifer melongo mendengar ucapan dari mulut Rafka, dia mengedipkan mata seolah sedang berperang dengan dunia nyata dan halusinasi. "Apa aku salah dengar?" Tanya Jennifer masih terkejut. Rafka menggeleng pelan. "Nggak, kamu sama sekali nggak salah dengar." Seketika tawa Jennifer meledak, dia
Di lantai dansa, Jennifer meletakkan lengan kirinya di pundak Gevan. Dia bisa merasakan tangan kanan Gevan membalas memegang pinggangnya, sementara tangan yang lain menggenggam lembut tangan kanannya. Mereka saling menatap dalam diam sebelum menggerakkan kaki secara perlahan mengikuti alunan musik.
Bukankah Jennifer yang selalu berusaha mendapatkan perhatian pemuda itu? Namun yang dia lihat sekarang justru kebalikannya. Seolah-olah Rafka tidak ingin Jennifer berada terlalu jauh darinya. Sementara Jennifer sendiri tampak ingin memukulnya kapan saja."Rafka, kamu benar-benar keterlaluan!" desis
Anna tersenyum sendu. "Mungkin Kak Jennifer masih belum bisa menerimaku, Kek." Frans terdiam mendengar ucapan itu, dia tahu betul kalo selama ini Jennifer memang tidak pernah akur dengan Anna. Ratih mengusap lembut pundak Anna. "Anna memang selalu merindukan Kakek, Yah. Tapi dia nggak berani men






Selamat datang di dunia fiksi kami - <a href="https://www.goodnovel.com/id/" >Goodnovel</a>. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, <a href="https://www.goodnovel.com/stories/Fantasi-novel" >novel fantasi</a>, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.