Dari pengalaman diskusi di beberapa forum muslimah, sikap mendiamkan suami itu seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ada yang bilang ini bentuk emotional abuse jika dilakukan terus-menerus. Tapi di kondisi tertentu, mungkin diperlukan untuk meredam emosi sementara waktu sebelum bicara baik-baik.
Kitab 'Adab al-Mufrad' mencatat bagaimana Rasulullah tak pernah mendiamkan istrinya lebih dari sehari. Ini jadi pelajaran berharga. Aku pribadi lebih memilih klarifikasi langsung ketimbang silent treatment. Percayalah, suami yang baik akan mau mendengar keluhan istri asalkan disampaikan dengan cara yang ma'ruf.
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum mendiamkan suami dalam Islam. Beberapa berpendapat itu bisa termasuk bentuk nusyuz (pembangkangan) istri jika dilakukan tanpa alasan syar'i, sementara yang lain melihatnya sebagai metode komunikasi yang wajar selama tidak berlarut-larut. Dalam 'Umdatul Salik', disebutkan bahwa istri wajib taat selama perintah suami tidak melanggar syariat.
Tapi ingat, Rasulullah SAW mengajarkan untuk selalu menjaga keharmonisan rumah tangga. Aku pernah baca di sebuah majelis ilmu bahwa diam lebih dari tiga hari tanpa alasan jelas bisa merusak ikatan pernikahan. Solusi terbaik? Komunikasikan masalah dengan baik-baik, karena diam yang disertai amarah justru sering memperkeruh suasana.
Membahas soal mendiamkan pasangan selalu menarik. Dalam Islam, relasi suami-istri harus dibangun atas dasar mawaddah warahmah. Silent treatment yang berkepanjangan bisa merusak prinsip ini. Ulama kontemporer seperti Dr. Haifaa Younis sering menekankan pentingnya komunikasi sehat.
Pernah dengar cerita tentang Aisyah RA yang pernah marah pada Rasulullah? Beliau justru menghadapinya dengan humor dan kelembutan. Ini mengajarkan kita bahwa diam bukan solusi terbaik. Kecuali mungkin untuk mendinginkan suasana sebentar sebelum berdiskusi lebih tenang.
2026-03-13 17:42:23
2
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Dipaksa Nikah, Malah Kecanduan
Langit Parama
10
171.3K
Di usianya yang baru delapan belas tahun, Savana Melati Wirajaya terpaksa menerima ajakan menikah Daryan Bumi Ardhanata—seorang CEO dingin dan dominan—demi biaya kuliah dan demi menyelamatkan ayahnya dari pemecatan.
Walaupun begitu, pernikahan mereka berdua hanyalah pernikahan kontrak. Daryan hanya menggunakan Savana untuk melawan perjodohan sang ibu. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, batas-batas yang mereka bangun mulai runtuh dan tumbuh benih cinta di antara mereka.
Blurb
"Izinkanlah suamimu menikah lagi."
Nabila Salsabila seorang menantu yang sangat berbakti pada mertua juga menurut pada suami. Secara tiba-tiba diminta mertua untuk mengikhlaskan suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Alasan klasik yang membuat Bu Saropah memaksa anaknya menikah lagi. Nabila belum bisa memberikan keturunan untuknya.
Biasanya, seorang mertua akan mencari calon istri yang terbaik untuk anaknya. Tapi, berbeda dengan Bu Saropah. Wanita itu memilih Nunik— seorang perempuan yang telah memiliki anak down sindrom. Apa Bu Saropah tidak takut keturunannya nanti akan cacat? Lalu, alasan apa yang membuat Bu Saropah memilih Nunik menjadi menantu keduanya? Ikuti kisahnya di sini. Bagaimana Nabila menyikapi permintaan konyol Ibu mertuanya?
Tentang Marsha yang tak pernah mencintai William, begitu juga dengan sebaliknya. Namun, semesta membuat mereka terlibat dalam sebuah ikatan pernikahan. Perjanjian dibuat, yang membatasi mereka. Akan tetapi, siapa sangka pada akhirnya mereka melanggar perjanjian yang telah mereka buat.
Lantas bagaimana kelanjutan kisah William dan Marsha?
Sebuah undangan yang Putraku terima membuat aliran darah seolah berhenti seketika. Nama mempelai laki-laki sama persis dengan nama suami, tapi nama orangtuanya berbeda. Aku bahkan tak mengenal siapa mereka.
Aku dan Putraku menghadiri undangan itu karena penasaran, dan saat aku melihat siapa yang duduk bersanding aku langsung down. Dia benar suamiku. Aku mendapat undangan pernikahan suamiku sendiri.
Masih muda, memiliki karir bagus, dan sudah mempersembahkan tiga buah hati untuk suami, tapi tetap saja dia diduakan dengan perempuan lain. Kenapa bisa?
Siska tidak menyangka bahwa dia akan mengalami nasib serupa sahabatnya yang diduakan secara diam-diam.
Roni yang dikenal alim dan berpengetahuan luas ternyata telah menikah lagi tanpa izin Siska. Memorinya melayang beberapa tahun silam, saat Roni membicarakan tentang bolehnya seorang suami memiliki istri lebih dari satu, tapi Siska terang-terangan menolak.
Apakah Siska tetap bertahan? Atau justru pergi dengan membawa serta anak-anaknya?
“Udah ya jangan nangis. Liat ni dah ada tanda tangan Mas di sini.”
Seorang remaja laki-laki sedang mengusap pipi basah anak perempuan. Di tangan gadis itu ia memegang selembar kertas yang terkena tetesan air matanya. Dia menatap kertas di tangan laki-laki di depannya setelah tangisnya mereda. Mukanya memerah dan sekejap ekspresinya tergantikan oleh bahagia dan malu yang tercampur.
“Kata Papah ini bukti kontrak kita berdua, jadi Mas Yan harus nepatin!”
Laki-laki itu tersenyum mendengar penuturan bocah perempuan berumur lima tahun itu. Ia pun mengangguk yang membuat gadis kecil berumur lima tahun itu bersorak gembira. Setelah kejadian itu mereka berpisah dan tak pernah bertemu. Selama bertahun-tahun itu si bocah perempuan itu telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan ia telah melupakan kejadian tersebut. Hingga datanglah seorang laki-laki melamarnya. Apakah dia akan menikah dengan laki-laki lain dan melupakan janjinya?
Pernah suatu hari aku penasaran tentang hukum sentuhan dengan mahram dalam Islam, terutama suami pamanku. Setelah baca-baca beberapa sumber, ternyata suami pamanku termasuk mahram karena sudah menikah dengan bibiku. Jadi, hukumnya boleh bersentuhan seperti jabat tangan atau pelukan biasa selama tidak ada syahwat. Tapi beberapa ulama menyarankan tetap menjaga batas untuk menghindari fitnah. Aku sendiri lebih nyaman menjaga jarak sekadar salam biasa tanpa kontak fisik berlebihan.
Menurut pengalamanku, keluarga besar kami memang punya tradisi salaman saat lebaran. Tapi untuk suami paman, biasanya cukup anggukan dan senyuman. Lebih aman dan enggak bikin awkward. Lagipula, kan lebih baik menjaga etika sosial yang umum di masyarakat kita.
Mencintai suami orang lain dalam Islam jelas dilarang karena termasuk dalam wilayah yang bisa mengarah pada zina hati. Islam sangat menjaga kehormatan dan kesucian hubungan pernikahan, sehingga perasaan seperti ini dianggap sebagai ancaman terhadap ikatan suci tersebut.
Dalam banyak cerita yang kubaca, terutama di novel-novel berlatar Timur Tengah, konflik batin seperti ini sering digambarkan dengan sangat intens. Tokoh-tokohnya biasanya dihadapkan pada pilihan antara mengikuti nafsu atau menjaga kehormatan diri. Hal ini membuatku semakin memahami betapa berat konsekuensinya, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat.
Sebagai seseorang yang suka mengeksplorasi berbagai sudut pandang, aku juga mencoba memahami alasan di balik larangan ini. Ternyata, selain untuk menjaga keharmonisan rumah tangga orang lain, aturan ini juga melindungi perasaan semua pihak yang terlibat, termasuk diri sendiri dari penyesalan yang mendalam.
Membahas pernikahan dalam Islam selalu menarik karena kompleksitas dan kedalamannya. Sistem pernikahan dalam Islam memiliki berbagai bentuk yang diatur dengan ketat berdasarkan syariat, mulai dari nikah sah, mut'ah, hingga praktik yang sudah dihapus seperti nikah misyar. Pernikahan sah adalah yang paling umum, memenuhi semua rukun seperti ijab qabul, wali, saksi, dan mahar. Ini adalah fondasi keluarga muslim yang diakui secara agama dan negara.
Ada juga nikah mut'ah atau pernikahan kontrak yang sebenarnya diperdebatkan. Mayoritas ulama Sunni melarangnya, sementara beberapa mazhab Syiah masih mengizinkan dengan batasan tertentu. Uniknya, ini mencerminkan bagaimana interpretasi hukum bisa berbeda berdasarkan konteks sejarah dan mazhab. Pernikahan seperti misyar—di mana wanita melepaskan beberapa haknya—juga menuai kontroversi karena dianggap merugikan pihak perempuan meski secara teknis sah.