Short
Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku

Pernikahan Suci Bagiku, Aib Bagi Suamiku

Oleh:  LezraTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Bab
4Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Di mata Adam, pernikahan kami adalah sebuah aib atas kegagalannya melawan perjodohan keluarga. Bahkan anak kami pun menjadi noda dalam hidupnya. Selama tujuh tahun pernikahan kami, orang luar tidak pernah tahu aku adalah istrinya. Apalagi tahu bahwa dia memiliki seorang putra. Saat Adam sekali lagi tidak mengakui keberadaanku dan putra kami demi Rani serta anak perempuan Rani, aku tidak menangis ataupun membuat keributan. Aku hanya diam-diam membereskan barang-barang dan membawa pergi putraku. Mungkin Adam sudah lama lupa. Saat kami menikah, dia pernah menandatangani sendiri sebuah surat perjanjian cerai. Selama aku menandatanganinya, surat itu bisa berlaku kapan pun.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Manajer umum menatap surat pengunduran diriku dengan ekspresi penuh penyesalan. "Sheila, kamu benar-benar nggak mau mempertimbangkannya lagi? Soal promosi kali ini, aku masih bisa bantu memperjuangkannya ke Pak Adam ... posisi wakil direktur. Belum tentu nggak ada kemungkinan."

Aku hanya menggelengkan pelan. "Pak Joko, nggak perlu lagi., aku berhenti bukan karena masalah ini."

Atau lebih tepatnya lagi, bukan hanya karena masalah ini.

Tahun ini adalah tahun kesepuluh aku masuk ke Grup Sulaiman sekaligus tahun ketujuh pernikahanku dengan Adam. Aku telah memenangkan satu per satu proyek dan menutup satu per satu lubang masalah. Setelah menikah, sumber daya yang aku bawa dari Keluarga Nugroho bahkan berhasil membuat Keluarga Sulaiman yang sudah berada di ambang kehancuran bangkit kembali.

Di perusahaan, aku adalah bawahan Adam yang paling setia. Di rumah, aku adalah pembantunya yang paling kompeten. Di depan orang lain, dia tidak pernah aku adalah istrinya. Setelah tujuh tahun pernikahan, aku tetap tidak pernah bisa membuka pintu hatinya.

Aku kira sifat asli Adam memang dingin. Jika begitu, aku akan mengandalkan pengalaman dan prestasiku untuk menjadi partner yang berdampingan dengannya. Menemaninya seperti ini seumur hidup juga termasuk menua bersama. Namun, saat Rani yang merupakan cinta pertamanya muncul, semuanya menjadi pengecualian.

Saat sedang bersama dengan Rani, Adam baru menunjukkan kelembutan dan ketenangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dia memberikan semua sumber daya pada Rani, bahkan posisi direktur yang seharusnya menjadi milikku pun diserahkan pada Rani. Ternyata dia juga tahu bagaimana mencintai seseorang, hanya saja orang yang berada di hatinya bukan aku.

Saat tahu orang yang menjadi direktur itu adalah Rani, aku memang sempat merasa sedih untuk sesaat. Namun, yang lebih banyak adalah rasa patah hati. Kekecewaan yang sudah menumpuk selama berhari-hari membuatku benar-benar kelelahan.

Joko terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan dan menandatangani surat pengunduran diri itu. "Sheila, kamu adalah karyawan yang baik ...."

Aku tidak menanggapinya. Karyawan yang baik, istri yang baik, dan ibu yang baik. Aku sudah menjalani semua peran itu dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga, tetapi Adam selalu saja menyangkal semua usahaku dengan santai.

Saat mengambil formulir pengunduran diri itu dan keluar, aku kebetulan berpapasan dengan Adam. Saat menatapku, ekspresinya datar.

Pada akhirnya, kata-kata yang tersangkut di tenggorokanku tetap tidak bisa terucap. Tidak naik jabatan juga tidak apa-apa. Aku tidak perlu persetujuannya saat mengundurkan diri dengan jabatanku yang sekarang, sehingga menghindari lebih banyak masalah.

Saat aku hendak melewatinya, Adam tiba-tiba memanggilku untuk yang pertama kalinya, "Bu Sheila, bersiaplah, malam ini kita makan bersama."

Mengapa Adam tiba-tiba mengundangku? Apa Adam ingat hari ini adalah hari jadi pernikahan kami yang ketujuh? Memikirkan itu, tiba-tiba muncul sedikit rasa haru yang menyedihkan di hatiku.

Namun pada detik berikutnya, Adam berkata dengan nada yang sopan dan berjarak, "Bu Rani baru masuk kerja, jadi malam ini ada jamuan penyambutan. Karyawan divisi nggak boleh absen."

Kata-kata yang dingin itu langsung memadamkan getaran hatiku yang terakhir. Aku tertawa kecil dan sudut bibirku berkedut. "Nggak sempat."

Adam sudah memberikan posisi direktur yang seharusnya menjadi milikku pada Rani, sekarang dia masih ingin aku menghadiri jamuan penyambutan Rani. Kebersamaan selama tujuh tahun ini akhirnya tetap kalah dari cinta pertamanya.

Mendengar jawaban itu, wajah Adam langsung menjadi muram. "Kalau kamu nggak pergi, apa anak buahmu akan datang?"

Ternyata Adam tidak peduli apa aku akan datang atau tidak. Dia hanya takut jika aku tidak datang, pesta penyambutan Rani malam ini akan terasa canggung. Dia takut fondasi Rani sebagai orang baru yang tiba-tiba naik jabatan ini masih belum stabil, sehingga karyawan dalam timku akan meremehkan Rani karena aku tidak hadir.

Semua yang dilakukan Adam ini hanya untuk membuka jalan bagi Rani. Memanfaatkan anak buahku dan aku untuk membuka jalan bagi Rani.

Aku bahkan belum sempat berbicara, Rani sudah mendekat dengan mengenakan sepatu hak tinggi dan setelan krem serta riasan yang elegan. Dia merangkul lengan Adam dengan alami. "Adam, jangan mempersulit Bu Sheila. Kali ini dia gagal naik jabatan, jadi hatinya pasti merasa agak nggak nyaman. Kalau dia datang, bukannya situasinya jadi canggung?"

Setelah itu, Rani menoleh ke arahku dan tersenyum lembut. "Sheila, aku dengar kamu ini juga seorang ibu tunggal. Kalau ada waktu, kita bisa ajak anak-anak untuk main bersama-sama. Biar mereka punya teman baru."

Aku tidak mengatakan apa-apa, melainkan langsung berbalik dan pergi. Baru saja berjalan sampai di depan pintu kantor, aku mendengar suara Rani dari belakang. Kali ini, hanya tersisa kami berdua.

Rani tersenyum sinis. "Miranda yang cukup dekat denganmu itu, ibunya sedang sakit dan butuh uang, kan? Kalau aku memberi performanya nilai D, kamu rasa dia masih bisa dapat bonus akhir tahun?"

Aku berbalik dan menatap Rani. "Kamu mengancamku?"

"Aku hanya mau mengundangmu menghadiri jamuan penyambutanku sebagai direktur saja, Bu Sheila," kata Rani dengan ekspresi polos, tetapi sikapnya meremehkan.

Melihat Rani pamer dan menghina dengan begitu terang-terangan, aku tanpa sadar mengepalkan tanganku yang terkulai di sisi tubuh dengan kuat.

Reaksiku sepertinya membuat Rani merasa sangat puas, sehingga dia sama sekali tidak menyembunyikan ejekan ti tatapannya lagi. "Kamu ... akan datang, 'kan?"
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
9 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status