Karakter Mas Rahim dalam sinetron selalu bikin aku tertarik karena kompleksitasnya. Dia sering digambarkan sebagai sosok yang tegas tapi punya sisi lembut, terutama pada keluarga. Aku suka bagaimana penulis naskah membangun konflik internalnya—misalnya, ketika harus memilih antara prinsip atau cinta. Yang bikin relatable, ekspresi wajah aktornya pas banget nangkep emosi itu, kayak adegan dia marah tapi matanya berkaca-kaca.
Dari segi perkembangan karakter, Mas Rahim jarang stuck di satu titik. Awalnya mungkin keras kepala, tapi seiring cerita, kita liat dia belajar dari kesalahan. Kayak kemarin pas episode dia akhirnya minta maaf ke adiknya setelah 10 tahun berseteru. Itu yang bikin penonton kayak aku ngerasa invested buat terus ngikutin perjalanannya.
Mas Rahim itu tipikal karakter yang bikin penonton emosi campur aduk. Di satu sisi, aku sebel sama sikap sok tahu-nya, tapi di sisi lain, aku ngerti latar belakangnya yang broken home bikin dia defensif. Ada momen-momen kecil yang bikin gregetan, kayak pas dia nolak bantuan teman-temannya dengan alasan gengsi, padahal jelas-jelas butuh.
Yang bikin fresh, aktornya bisa bikin karakter ini nggak monoton. Lihat aja cara dia bereaksi pas tahu dikhianati—beda banget sama ekspresi waktu dia ketawa ngeledek ponakannya. Nuansanya keliatan banget. Ini mungkin salah satu alasan sinetronnya tahan lama—karakter utama seperti Mas Rahim punya dimensi yang terus berkembang, nggak datar.
Kalau ngomongin Mas Rahim, yang langsung keinget justru chemistry-nya sama para pemain lain. Dinamikanya dengan Bu Atik, misalnya—kadang mereka ribut soal warisan keluarga, tapi di detik genting selalu saling backup. Aku appreciate bagaimana hubungan ini nggak hitam putih. Ada satu scene favoritku waktu dia diam-diam naro selimut di pundak Bu Atik yang ketiduran di kursi, sementara sebelumnya mereka lagi bertengkar hebat.
Yang juga keren, dialog-dialognya sering nyelipin falsafah hidup sederhana. Kayak waktu dia bilang, 'Kaya nggak perlu pamer, miskin jangan malu.' Nggak cuma jadi hiburan, tapi kadang bikin mikir juga. Mungkin itu sebabnya karakter ini banyak yang suka—relatable tapi tetap aspirasional.
2026-07-20 10:25:57
17
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Silakan Pergi Bersama Selingkuhanmu, Mas!
Siti_Rohmah21
10
162.8K
Nurma adalah istri kedua yang baik, justru kehadirannya sangat diinginkan oleh istri pertama, Giska, 27 tahun, wanita yang bisu dan lumpuh semenjak mengalami kecelakaan 3 tahun silam.
Giska menguak pengkhianatan suaminya pada Nurma. Bagaimana ceritanya kalau istri pertama dan istri kedua bersatu untuk menghancurkan suami nakal mereka?
Bagaimana jika istri yang baru kalian nikahi selama enam minggu, ternyata sudah hamil selama sepuluh minggu? Apa yang akan kalian lakukan kepadanya? Menceraikannyakah atau bertahan dan menerima benih orang lain yang ada di dalam istri kalian?
Grace mengalami perubahan hidup drastis setelah kecelakaan yang menimpa orang tuanya membuatnya harus meminjam uang pada Angkasa Group. Tanpa sadar, Grace menandatangani surat perjanjian yang mengharuskannya menjadi Surrogate Mother bagi keluarga tersebut untuk melunasi utangnya. Gabriel, anak pertama keluarga Angkasa, awalnya menolak keputusan orang tuanya karena ia mencintai istrinya, Natalia, meski Natalia tidak ingin memiliki anak. Namun, Gabriel perlahan luluh terhadap ketabahan Grace, sementara Natalia menjadi cemburu dan merencanakan cara untuk memisahkan mereka. Grace berusaha tetap profesional, namun cinta tumbuh di antara dia dan Gabriel. Kisah ini mengeksplorasi dilema cinta, tanggung jawab, dan rencana jahat Natalia yang berusaha memisahkan pasangan ini.
Kisah perjanjian sewa rahim yang penuh intrik, perselingkuhan, ego, dan kepentingan masing-masing pihak. Embun terjebak di antara transaksi dan cinta. Mana yang harus ia pilih? Bisakah mendapatkan keduanya?
“Di dunia yang hancur ini, kau bukan lagi manusia. Kau adalah Aset 01—rahim murni milik Sektor 7.”
Aruna dididik untuk melayani lima pria elit demi mengembalikan peradaban yang telah runtuh. Dengan prosedur terlarang dan batas waktu 360 hari, rahimnya menjadi satu-satunya harapan Dewan untuk melahirkan generasi baru umat manusia.
Namun di balik misi itu, lima pria berbahaya mulai terobsesi padanya.
Satu rahim murni. Lima pria yang haus untuk mengklaimnya.
Siapa yang akan berhasil menanam benih pertama di dalam tubuh Aruna?
"Silahkan, Mas bela terus ibuk dan Susan tapi aku sudah tidak bisa lagi menjamin mau sampai kapan pernikahan kita akan berlanjut."
"Apa maksud kamu, Rum?"
"Sudah aku tegaskan, kalau Mas tidak bisa bersikap tegas sama mereka maka aku yang akan mengambil keputusan. Sudah cukup selama ini mereka berbuat seenaknya sendiri, kita juga punya keluarga sendiri Mas yang harus Mas perhatikan."
Bayu terdiam, sedang Arum sudah berada di puncak kemarahan dan lelah karena selama ini keluarga suaminya itu terus saja menjadi duri dalam rumah tangganya dan Arum sudah muak dan tak mau lagi menurutinya .
Kalau ngomongin karakter sinetron yang sering 'beradegan ranjang', pasti langsung keingetan tokoh antagonis atau pasangan yang konfliknya selalu berujung di kamar tidur. Misalnya di 'Ikatan Cinta', Arya dan Aldebaran sering banget ada scene panas, sampe jadi bahan meme. Tapi menurutku, ini lebih karena tuntutan rating—adegan begitu bikin penasaran dan ngunci penonton. Aku sendiri lebih suka yang alurnya dibangun pelan, bukan cuma ngandalkan sensasi.
Di sisi lain, sinetron Malaysia kayak 'Adam & Hawa' malah lebih eksplisit, tapi ya itu bukan produksi Indonesia. Di lokal, mungkin karakter seperti Andin dari 'Dunia Terbalik' juga sering dapat jatah adegan romantis, tapi masih dalam batas wajar. Lucunya, penonton justru lebih cerewet kalau adegannya kurang 'greget'!
Pernah nggak sih ngerasain betapa seringnya tokoh pembantu rumah tangga di sinetron selalu jadi sasaran kemarahan majikan? Kayak di 'Ikatan Cinta' atau 'Anak Jalanan', mereka selalu digambarin sebagai orang yang harus nerima bentakan, tuduhan palsu, bahkan kadang sampai kekerasan fisik. Aku suka sebel karena stereotip ini bikin seolah-olah abuse of power itu normal. Padahal, di kehidupan nyata, hubungan majikan-PRT harusnya saling menghargai.
Justru menurutku, penulis bisa bikin konflik lebih kreatif tanpa selalu menjadikan karakter lemah sebagai punching bag. Misalnya, konflik internal keluarga majikan atau masalah bisnis yang lebih kompleks. Tapi entah kenapa, drama kayak gini selalu laku dan mungkin itu sebabnya produser terus ngulang formula yang sama.