Kutipan Bhinneka Tunggal Ika Terdapat Di Kitab Apa?

2026-06-11 12:02:51
188
Share
Kuis Kepribadian ABO
Ikuti kuis singkat untuk mengetahui apakah Anda Alpha, Beta, atau Omega.
Aroma
Kepribadian
Pola Cinta Ideal
Keinginan Rahasia
Sisi Gelap Anda
Mulai Tes

3 Jawaban

Simone
Simone
Teman Novel Koki
Aku selalu penasaran gimana satu kutipan bisa jadi semboyan bangsa. 'Bhinneka Tunggal Ika' itu ternyata diambil dari kakawin 'Sutasoma', karya sastra era Majapahit. Yang bikin aku salut, Mpu Tantular nulis ini bukan cuma sebagai puisi biasa, tapi sebagai konsep hidup. Di kitab itu, ada bagian yang bilang 'Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen' artinya kurang lebih 'Katanya Buddha dan Siwa itu dua zat berbeda, tapi bagaimana bisa dikenali?'

Justru di situ keindahannya. Lewat sastra, Mpu Tantular ngajarin kita untuk nggak hitam putih dalam melihat perbedaan. Kitab 'Sutasoma' sendiri isinya tentang perjalanan pangeran Sutasoma yang penuh nilai moral. Sayangnya, banyak generasi sekarang yang cuma tau semboyannya doang tanpa tahu akar budayanya.
2026-06-12 05:39:26
13
Quincy
Quincy
Pecinta Buku Peternak
Dulu waktu kuliah antropologi, dosenku pernah bahas kitab 'Sutasoma' sampe detail. Frasa 'Bhinneka Tunggal Ika' muncul di pupuh 139, tepatnya dalam konteks dialog spiritual. Uniknya, meski kitab ini berlatar belakang agama, pesannya universal banget. Mpu Tantular pake analogi bunga yang punya banyak kelopak tapi tetap satu kesatuan. Itu simbol yang pas buat Indonesia.

Yang bikin greget, kitab ini sempat hampir punah sebelum akhirnya ditemukan dan dipelajari kembali. Bayangin aja, tanpa penemuan naskah kuno itu, mungkin kita nggak akan punya semboyan sekeren ini. 'Sutasoma' nggak cuma warisan sastra, tapi juga blueprint hidup rukun yang udah diuji ratusan tahun.
2026-06-14 15:16:04
9
Yasmin
Yasmin
Ahli Cerita Wartawan
Pernah dengar soal semboyan 'Bhinneka Tunggal Ika' waktu pelajaran sejarah dulu? Ternyata, frasa ini berasal dari kitab kuno Jawa bernama 'Sutasoma' karangan Mpu Tantular, ditulis sekitar abad ke-14. Yang bikin menarik, kitab ini nggak cuma jadi landasan filosofis Indonesia, tapi juga bukti kecanggihan sastra Majapahit. Mpu Tantular pake bahasa Jawa Kuno yang puitis banget buat ngejelasin toleransi antara Hindu-Buddha.

Aku baru ngeh betapa dalam maknanya setelah baca terjemahannya. Kata 'Bhinneka' artinya 'beraneka', 'Tunggal' berarti 'satu', dan 'Ika' itu 'itu'. Jadi intinya, 'Berbeda-beda tapi tetap satu jua'. Keren kan? Bayangkan, sejak ratusan tahun lalu, nenek moyang kita udah ngerti artinya hidup berdampingan meski beda keyakinan. Kitab 'Sutasoma' ini kayak harta karun yang sering terlewat, padahal relevan banget sama kondisi sekarang.
2026-06-15 16:43:12
4
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Buku Terkait

Pertanyaan Terkait

Bhinneka Tunggal Ika berasal dari kitab mana?

3 Jawaban2026-06-11 19:17:33
Konsep 'Bhinneka Tunggal Ika' selalu membuatku terkesan setiap kali mendengarnya. Frasa ini ternyata diambil dari kitab kuno Jawa bernama 'Sutasoma', digubah oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 di era Majapahit. Yang menarik, kitab ini sebenarnya adalah karya sastra epik Buddhisme, tapi justru mengandung nilai toleransi yang luar biasa. Mpu Tantular menulis 'Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa' yang artinya 'Berbeda-beda tapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua'. Aku pernah membaca terjemahan modernnya dan terpana bagaimana nilai ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Kitab 'Sutasoma' sendiri bercerita tentang perjalanan spiritual Pangeran Sutasoma, tapi justru pesan tentang persatuan dalam keragaman itulah yang diabadikan menjadi semboyan bangsa kita sekarang. Rasanya seperti menemukan harta karun kebijaksanaan lokal yang relevan sampai detik ini.

Bhinneka Tunggal Ika berasal dari kitab apa?

3 Jawaban2026-05-29 19:33:09
Bhinneka Tunggal Ika itu unik banget karena frasa ini bukan cuma semboyan negara, tapi punya akar sejarah yang dalam. Aku pernah baca-baca soal ini waktu penasaran dengan filosofi di balik lambang Garuda Pancasila. Ternyata, frasa ini diambil dari kitab 'Kakawin Sutasoma' karya Mpu Tantular, seorang pujangga Jawa Kuno dari era Kerajaan Majapahit. Yang bikin menarik, kitab ini ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan aksara Kawi, dan isinya nggak cuma tentang persatuan, tapi juga toleransi antara Hindu dan Buddha. Yang bikin aku respect, Mpu Tantular itu genius banget bisa meramu konsep pluralisme dalam bentuk sastra. Di kitab itu, ada pupuh yang bilang 'Bhinna ika tunggal ika, tan hana dharma mangrwa'—yang artinya 'Berbeda-beda itu, satu itu, tak ada kebenaran yang mendua'. Jadi, semboyan kita sekarang itu disederhanakan dari konsep yang jauh lebih kompleks. Aku suka bagaimana nilai-nilai abad ke-14 masih relevan sampe sekarang.

Dari kitab apa Bhinneka Tunggal Ika berasal?

2 Jawaban2026-06-12 03:53:56
Kalimat 'Bhinneka Tunggal Ika' itu sebenarnya bukan berasal dari kitab suci tertentu, melainkan dari sebuah karya sastra Jawa Kuno bernama 'Sutasoma' yang ditulis oleh Mpu Tantular sekitar abad ke-14. Ini adalah salah satu mahakarya sastra Majapahit yang bercerita tentang toleransi dan persatuan. Yang menarik, frasa ini muncul dalam konteks perbedaan agama Hindu dan Buddha pada masa itu, tapi justru menekankan kesatuan di balik keragaman. Aku pertama kali tahu tentang asal-usul ini waktu kuliah dulu mengikuti mata kuliah Sejarah Nusantara. Dosenku saat itu menjelaskan betapa filosofinya sangat modern untuk zamannya. 'Bhinneka Tunggal Ika' dalam 'Sutasoma' itu seperti manifesto pluralisme yang ditulis enam abad sebelum Indonesia merdeka. Rasanya keren banget mengetahui semboyan negara kita ternyata punya akar sejarah yang begitu dalam dan bermakna.

Bhinneka Tunggal Ika diambil dari kitab apa?

2 Jawaban2026-06-11 11:50:02
Mengulik sejarah frasa 'Bhinneka Tunggal Ika' selalu bikin aku merinding. Kalimat ini ternyata diambil dari kitab 'Sutasoma' karya Mpu Tantular, ditulis sekitar abad ke-14 di era Majapahit. Yang bikin keren, Mpu Tantular nggak cuma nyatain perbedaan itu ada, tapi juga menegaskan bahwa perbedaan itu harus disatukan dalam kebenaran. Kitab 'Sutasoma' sendiri sebenarnya cerita epik tentang pangeran yang jadi Buddha, tapi ada satu bait spesifik yang jadi filosofi bangsa kita sekarang. Aku suka banget bagian ketika ngebandingin dengan konsep modern. Frasa ini muncul di tengah konflik Hindu-Buddha zaman dulu, tapi relevansinya tetap ada sampai sekarang. Kadang kepikiran, apa Mpu Tantular dulu sudah nebak Indonesia akan seberagam ini? Yang pasti, pilihan Presiden Soekarno buat menjadikan ini semboyan negara itu genius banget. Nggak cuma ngejaga warisan budaya, tapi juga ngasih pondasi buat hidup berdampingan.

Kitab apa yang menjadi sumber Bhinneka Tunggal Ika?

3 Jawaban2026-06-11 11:33:15
Pernah dengar tentang 'Kakawin Sutasoma' karya Mpu Tantular? Itu naskah Jawa Kuno yang jadi akar filosofis Bhinneka Tunggal Ika. Aku selalu terpesona bagaimana karya sastra abad ke-14 ini sudah bicara toleransi dengan begitu elegan—'Berbeda-beda tetapi tetap satu' bukan sekadar slogan, tapi konsep hidup yang tertulis indah dalam pupuh-pupuhnya. Yang bikin aku respect, Mpu Tantular menulis ini di era kerajaan Majapahit yang multietnis. Dia menggunakan kisah Buddha Sutasoma sebagai allegori untuk menyatukan perbedaan Hindu-Siwa dan Buddha. Sekarang bayangkan, kita punya warisan pemikiran brilian dari nenek moyang yang relevan sampai detik ini! Kalau baca terjemahannya, rasanya seperti ngobrol sama orang bijak dari masa lalu.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika berasal dari kitab mana?

2 Jawaban2026-06-12 14:53:20
Membahas 'Bhinneka Tunggal Ika' selalu bikin aku merinding—gimana enggak, semboyan ini nggak cuma jadi simbol persatuan, tapi juga punya akar sejarah yang dalam! Kutipan ini ternyata berasal dari kitab 'Sutasoma' karangan Mpu Tantular, ditulis sekitar abad ke-14 zaman Majapahit. Yang bikin menarik, kitab ini sebenarnya karya sastra Buddha, tapi justru menggambarkan toleransi antara Hindu dan Buddha dengan indah. 'Bhinneka Tunggal Ika' sendiri artinya 'Berbeda-beda tetapi tetap satu', dan konteks aslinya ngomongin perbedaan dua agama itu. Aku suka ngebayangin gimana Mpu Tantular waktu itu bisa nulis konsep begitu progresif di era dimana konflik agama sering terjadi. Kitab 'Sutasoma' nggak cuma penting buat sastra Jawa Kuno, tapi jadi bukti bahwa Indonesia udah punya DNA pluralisme sejak ratusan tahun lalu. Lucu juga ya, sekarang semboyan ini dipake sebagai lambang negara, padahal dulu dimaksudin buat harmoni agama. Keren banget menurutku!

Kitab apa yang memuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika?

2 Jawaban2026-06-12 08:00:07
Semboyan 'Bhinneka Tunggal Ika' yang menjadi prinsip dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sebenarnya berasal dari kitab kuno Jawa bernama 'Sutasoma'. Ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 di era Kerajaan Majapahit, kitab ini adalah mahakarya sastra yang menggabungkan nilai-nilai Hindu dan Buddha. Yang menarik, frasa lengkapnya adalah 'Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa' yang artinya 'Berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua'. Konteksnya saat itu adalah tentang toleransi antara umat Hindu dan Buddha. Mpu Tantular melalui karyanya ingin menunjukkan bahwa meskipun berbeda dalam keyakinan, esensi kebenaran tetaplah satu. Kitab 'Sutasoma' sendiri bercerita tentang perjalanan Sang Sutasoma, seorang pangeran yang akhirnya mencapai pencerahan. Selain mengandung nilai spiritual, kitab ini menjadi bukti historis betapa tingginya pemikiran tentang persatuan dalam keragaman sudah ada sejak ratusan tahun lalu di Nusantara.

Kitab asal usul Bhinneka Tunggal Ika apa?

2 Jawaban2026-06-12 19:30:55
Membahas kitab yang menjadi akar filosofi 'Bhinneka Tunggal Ika' selalu bikin aku merinding. Ini bukan sekadar slogan, tapi warisan leluhur yang tertanam dalam DNA bangsa kita. Kalau ditelusuri, konsep ini berasal dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular abad ke-14, tepatnya pupuh 139 bait 5. Dulu pertama kali nemu informasi ini waktu jalan-jalan ke perpustakaan daerah, dan langsung terpana bagaimana seorang pujangga Jawa Kuno bisa merumuskan prinsip persatuan dalam keragaman yang begitu modern. Yang menarik, Kakawin Sutasoma sebenarnya epos Buddhismais bercerita tentang perjalanan pangeran Sutasoma. Tapi di tengah narasi epik itu, Mpu Tantular menyelipkan kalimat sakti 'Bhinna ika tunggal ika, tan hana dharma mangrwa' yang artinya 'Berbeda-beda tetapi satu, tidak ada kebenaran yang mendua'. Konteksnya waktu itu sedang menggambarkan toleransi antara Hindu dan Buddha, tapi pesannya universal banget sampai bisa jadi pegangan bangsa besar seperti Indonesia sekarang. Aku sering mikir, betapa visionary-nya orang zaman dulu bisa menciptakan konsep yang relevan selama tujuh abad!

Apa sumber kitab ungkapan Bhinneka Tunggal Ika?

2 Jawaban2026-06-12 04:46:05
Ada sesuatu yang magis ketika kita menyelami akar budaya Indonesia, terutama frasa sepenting 'Bhinneka Tunggal Ika'. Frasa ini ternyata berasal dari kitab 'Sutasoma' karya Mpu Tantular, seorang pujangga Jawa dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14. Yang bikin menarik, kitab ini bukan sekadar teks kuno biasa—ia adalah mahakarya sastra yang mengajarkan toleransi antara Hindu dan Buddha lewat cerita epik. Mpu Tantular dengan jenius merangkum semangat pluralisme dalam bait 'Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa' (Berbeda-beda tapi satu, tak ada kebenaran yang mendua). Aku selalu terpana bagaimana nilai yang ditulis tujuh abad lalu masih relevan sampai sekarang. Bayangkan: di tengah dominasi dua agama besar saat itu, Mpu Tantular justru menekankan kesatuan dalam keragaman. Kitab 'Sutasoma' sendiri bercerita tentang pangeran Buddha yang menyatukan kerajaan-kerajaan, mirip metafora Indonesia modern. Uniknya, frasa ini baru dipopulerkan sebagai semboyan negara pada 1951 setelah diteliti oleh para sejarawan. Jadi meski berasal dari teks kuno, pesannya sengaja dipilih untuk menjadi perekat bangsa yang baru merdeka.

Ajudan kitab yang memuat Bhinneka Tunggal Ika?

3 Jawaban2026-06-11 20:24:46
Pernah dengar tentang 'Sutasoma' karya Mpu Tantular? Itu kitab kuno Jawa yang jadi saksi bisu konsep Bhinneka Tunggal Ika! Aku pertama kali nemu referensinya pas browsing artikel tentang sejarah Nusantara, terus penasaran banget buat ngulik lebih dalem. Ternyata, kitab ini nggak cuma puisi epik biasa, tapi juga filosofi hidup yang bikin merinding. Mpu Tantular nulis ini di era Majapahit, zaman di mana Hindu-Buddha berbaur dengan apik. Yang keren, dia berani ngomong 'Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa' - beda-beda tapi tetap satu, nggak ada kebenaran yang ganda. Aku suka cara kitab ini pakai kisah pangeran Sutasoma buat simbol toleransi. Pas baca terjemahannya, kayak dapet time machine langsung ke masa lalu, lho! Yang bikin aku makin respect, konsep ini ternyata dipakai sama founding fathers kita buat jadi semboyan negara. Bayangin aja, karya sastra abad ke-14 masih relevan sampe sekarang! Terakhir ke museum, aku sempet lihat fragmen naskahnya - teksturnya aja udah bikin merinding. Buat yang penasaran, coba cari buku 'Sutasoma: Kakawin dan Filsafatnya', penjelasannya lengkap banget buat pemula.
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status