Menggali kisah sejarah Indonesia melalui novel selalu memberi pengalaman berbeda dibanding textbook. Salah satu yang paling menggugah bagiku adalah 'Pulang' karya Leila S. Chudori—bukan sekadar tentang exil politik 1965, tapi juga bagaimana trauma berbentuk dalam hubungan keluarga dan identitas. Adegan ketika Dimas mencicipi soto setelah pulang tahunan, hanya untuk menemukan rasanya 'tidak seperti dulu', itu menusuk sekali.
Juga ada 'Amba' oleh Laksmi Pamuntjak, yang mengeksplorasi Pembantaian 65 dengan latar belakang cinta tragis dan mitologi wayang. Yang kut suka, Laksmi tidak terjebak dalam dikotomi hitam-putih; tokoh-tokohnya kompleks seperti manusia sungguhan. Kalau mau sesuatu lebih klasik, 'Ronggeng Dukuh Paruk' Ahmad Tohari menyajikan sejarah lokal melalui lensa penari tradisional yang terhimpit perubahan zaman.