Ungkapan itu bikin rasa ingin tahu ikut meledak—kayak potongan dialog pendek yang langsung nyentuh suasana hatiku.
Kalau
ditanya siapa yang menciptakan frasa '
dia datang menunggu dan pergi', jawaban singkatnya: tidak ada
satu nama besar yang jelas dan universal di balik ungkapan itu. Dari yang kukerjakan sendiri waktu menelusur, frasa itu lebih terasa seperti konstruksi naratif sederhana yang sering muncul di puisi pendek,
cerpen, caption media sosial, atau lirik lagu lokal ketimbang kutipan yang berasal dari satu penulis klasik. Struktur "datang — menunggu — pergi" adalah pola dramatis yang sangat umum untuk menggambarkan hubungan singkat atau perpisahan yang datar, jadi banyak penulis kecil dan anonim mungkin menciptakannya secara independen.
Jika mencoba menelusur lebih jauh, aku sempat membandingkan pola serupa dalam karya-karya penyair dan penulis Indonesia terkenal—misalnya gaya melankolis ala Sapardi Djoko Damono atau ironi singkat ala Chairil Anwar—tetapi tidak ada catatan kuat yang menyatakan salah satu dari mereka secara eksplisit memformulasikan kalimat persis itu. Di dunia berbahasa Inggris juga ada banyak versi yang mirip: "he came, he waited, and he left" atau variasi singkat dalam prosa modern dan flash fiction. Karena terlalu generik dan ringkas, frasa semacam ini sering kali jadi milik publik wacana—dipakai berulang oleh banyak orang tanpa rujukan tunggal yang jelas.
Buat aku, bagian menariknya bukan cuma soal siapa yang pertama mengatakannya, melainkan bagaimana ungkapan singkat seperti itu bekerja efektif: tiga kata kerja berurutan memberi ritme, mencipta mood datar dan kosong yang langsung terasa. Jadi kalau tujuanmu untuk menemukan sumber otentiknya, kemungkinan besar yang muncul adalah kutipan dari post blog, caption Instagram, atau cerpen lokal yang tidak terdokumentasi secara luas. Di sisi lain, kalau mau memakai frasa itu dalam tulisan sendiri, justru enak karena ia punya kekuatan universal—mudah dipahami dan emosional tanpa harus mengklaim kepengarangan seseorang yang terkenal.
Intinya, aku cenderung percaya frasa 'dia datang menunggu dan pergi' lebih merupakan ungkapan umum yang lahir berkali-kali di berbagai mulut dan pena, bukan satu ciptaan tunggal dari penulis terkenal. Itu membuatnya terasa familiar sekaligus pribadi setiap kali terbaca, dan menurutku justru di situlah keindahannya—sederhana tapi memancing bayangan cerita yang lebih besar dalam kepala pembaca.