Ramli itu dark horse-nya 'Ach Mantab Mas'. Awalnya mungkin banyak yang nggak nyangka bakal sepopuler ini, tapi ternyata charisma-nya nempel banget di penonton. Aku suka gaya dia yang nggak neka-neka, natural banget kayak lagi ngobrol biasa. Kontras sama konten kebanyakan yang overacting, Ramli justru diemin aja dan malah lebih lucu.
Uniknya lagi, dia jadi simbol 'orang kecil' yang bisa viral karena keasliannya. Nggak perlu kostum fancy atau konsep ribet, cukup jadi diri sendiri aja udah bisa nyentuh hati banyak orang. Beberapa netizen bahkan bilang Ramli itu representasi humor lokal yang autentik—nggak perlu ngejar trend, tapi tetep bisa bikin ketawa.
Ada satu karakter yang bikin gemes sekaligus ngakak di konten 'Ach Mantab Mas', yaitu Mas Ramli. Sosoknya itu tipe orang yang polos tapi punya aura kocak alami. Gerak-geriknya, ekspresi wajah, sampai cara ngomongnya yang medok bikin konten jadi segar. Awalnya Ramli cuma muncul sebagai figuran, tapi karena respons netizen positif, akhirnya sering diajak collab sama kreator utama.
Yang bikin Ramli unik itu improvisasinya. Nggak ada skrip ketat, dia pure jadi diri sendiri. Contohnya pas dia bilang 'Mantab mas' dengan nada datar tapi justru jadi punchline. Netizen suka karena relatable—kayak ketemu om-om baik hati di warung kopi yang ceritanya random tapi menghibur. Sekarang doi udah punya basis fans sendiri, bahkan ada yang bikin edit-an videonya jadi meme.
Kalau ditanya siapa Ramli, jawabannya sederhana: dia adalah bintang tak terduga yang muncul dari konten viral. Aku pertama kali liat dia di 'Ach Mantab Mas' langsung tertarik sama energi yang dipancarin—kayak punya magnet kebaikan dan kelucuan sekaligus. Rambutnya yang ikonik, senyumnya yang sumringah, plus reaksinya yang unpredictable bikin setiap kemunculannya ditunggu. Ramli ngebuktiin bahwa konten menghibur nggak harus selalu glamor; sometimes the most ordinary moments become extraordinary just by being genuine.
2026-07-23 14:36:16
11
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
Ah! Mantap Mas Ramli
Miss Luxy
9.8
4.1M
"Ramli, hamili istriku, aku akan membayarmu dua puluh kali lipat dari gajimu!"
Ramli, duda anak tiga dari desa, terpaksa bekerja untuk CEO kaya. Namun, kedua majikannya terus bertengkar karena lima tahun ini, mereka tidak dikaruniai anak. Ramli yang butuh uang, tepaksa harus melakukan kerjasama. Perlahan, Vina mulai merasa nyaman dan ketagihan dengan sang pelayan. Hingga akhirnya mereka terjebak dalam hubungan yang sangat rumit. Apalagi saat Vina tahu sang suami telah mengkhianati dirinya dengan memiliki selingkuhan.
Yang lebih mengejutkan adalah, Ramli sebenarnya bukan pelayan biasa hingga semua orang terkejut!
Roni, pemuda desa yang merantau ke Jakarta demi mengubah nasib, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah begitu cepat. Ketampanan dan sikap polosnya justru membuat banyak wanita terpikat—mulai dari ibu kos cantik yang kesepian, wanita karier yang menggoda, hingga janda-janda muda yang haus perhatian.
Awalnya Roni hanya ingin bekerja dan hidup sederhana. Namun pesona para wanita itu menyeretnya ke dalam hubungan-hubungan terlarang yang penuh godaan dan rahasia.
Dukungan yang diberikan Rani, malah membuat Tedi menjadi lupa diri. Setelah naik jabatan, ia mulai bertingkah dengan mengencani karyawan lain yang juga bekerja di Pabrik tempat ia bekerja.
perselingkuhan yang terlanjur terekspos, mebuat Tedi mengucapkan talak terhadap Rani.
Akankah kehidupan Rani menjadi sulit, atau sebaliknya?
Jangan lewatkan kisah seru pembalasan dendam Rani kepada mantan suami dan selingkuhan nya.
Orang pikir kecantikan adalah Anugerah tapi bagi Raras itu merupakan masalah, terlahir cantik membuat Raras menjadi incaran orang serakah di kampungnya hingga ia harus lari dari kampungnya ke kota, di sana ia bertemu dengan Pria tampan yang merupakan anak majikannya.
"Siapa namamu?" Tanya Maxime Yudhanegara
Raras mengangkat wajahnya, Maxime tertegun ketika melihat berapa cantiknya pembantu baru tersebut.
"Raras tuan"
Apa yang terjadi antara Raras dan Maxime?
Kematian mendadak sang ayah seharusnya menjadi duka terdalam bagi Rani yang baru berusia sepuluh tahun. Namun, air matanya tak sempat mengering ketika kebenaran yang jauh lebih kejam terungkap. Tante Riska, bibinya sendiri, merekayasa utang fiktif dan merampas paksa seluruh harta keluarganya, melempar Rani dan ibunya, Sinta, ke dasar jurang kemiskinan yang paling hina.
Demi bertahan hidup, Sinta terpaksa berjualan gorengan menggunakan minyak jelantah sisa. Asap tengik itu menempel abadi di seragam sekolah Rani, menjadikannya sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Dijuluki "Rani Jelantah", ia dihina, sepatunya dibuang ke selokan, uang sekolahnya dicuri, dan masa depannya nyaris dihancurkan oleh sepupunya yang licik dan arogan, Hilda.
Namun, para penindas itu melupakan satu hal penting: kemiskinan mungkin bisa merampas rumah Rani, tapi tak akan pernah bisa menumpulkan kecerdasannya yang mengerikan. Di balik aroma tengik minyak jelantah dan telapak kakinya yang melepuh di atas aspal panas, sebuah sumpah dendam yang absolut telah lahir. Rani menolak untuk hancur. Ia akan menggunakan otak jeniusnya sebagai senjata mematikan untuk menguliti kesombongan keluarga Kusuma dari akar-akarnya.
Gadis Bau Jelantah Itu Kini Bosmu Jilid adalah epik tentang pengorbanan darah seorang ibu, konspirasi keluarga yang keji, dan bangkitnya seorang anak dari dasar selokan. Karena balas dendam terbaik tidak butuh kepalan tangan; ia hanya butuh kecerdasan yang menolak untuk dikalahkan.
Seorang wanita penghibur bernama Shanum, ditugaskan oleh sang mucikari untuk mencari pelanggan yang akan meramaikan rumah bordir miliknya.
Di rumah bordir itu juga Shanum mengais rejeki, sehingga mau tidak mau dia harus menuruti perintahnya.
Tepat ketika dia melaksanakan tugasnya, Shanum malah terjebak pada seorang Kyai pemilik paras tampan.
Awalnya Shanum mengira dia adalah pria blasteran atau turis asing yang sedang berkunjung di kota ini, namun ternyata dugaannya salah.
“Karena kamu adalah wanita yang masuk ke dalam mobilku, maka maukah kamu menikah denganku untuk membantu diriku memenuhi janji yang telah aku buat, Nona?”
Ucapan pria itu sungguh mengejutkan Shanum, tidak mungkin dia menikah, itu artinya dia tidak bisa bekerja dan bersenang-senang dengan banyak pria lagi.
Sebuah syarat akhirnya diajukan oleh sang kyai bernama Rasyid itu, yang pada akhirnya disetujui oleh Shanum.
Namun ternyata menikah dengan Rasyid adalah awal penderitaan bagi Shanum, lalu, mengapa seorang Kyai yang taat agama bisa membuatnya menderita?
Aku ingat betul pertama kali nemuin konten 'Oh Mantap Mas Ramli' itu di TikTok, terus langsung ketagihan karena gaya delivery-nya yang unik banget. Ternyata kreator di baliknya adalah Mas Ramli sendiri, seorang pedagang nasi goreng asal Depok yang jadi sensasi karena ekspresi kocaknya pas ngomong 'Oh mantap!' dan intonasi khasnya. Kontennya itu pure spontanitas dari interaksi asli dengan pelanggan, bukan skrip. Aku suka banget vibe autentiknya—jarang banget nemuin konten viral yang segaris dengan kehidupan nyata kayak gini.
Yang bikin makin menarik, Mas Ramli nggak cuma sekadar jualan nasi goreng biasa. Dia piawai banget memanfaatkan momentum viral buat membangun personal branding. Sekarang dia udah punya merch sampai kolaborasi dengan brand besar. Ini bukti bahwa konten organik dari orang 'biasa' pun bisa tembus ke mainstream kalau dikemas dengan kepribadian yang kuat.
Ada sesuatu yang magis tentang bagaimana karakter Ramli dari 'Ach Mantab Mas' bisa meledak jadi meme di media sosial. Awalnya, serial ini cuma tontonan lokal yang dianggap receh, tapi ekspresi kocak Ramli dan dialognya yang absurd justru jadi bahan empuk untuk dijadikan template. Misalnya, adegan dia ngomong 'Mantab mas!' sambil senyum lebar itu langsung dibajak netizen buat reaksi segala situasi, dari yang lucu sampai frustasi.
Yang bikin lebih viral lagi, Ramli itu representasi orang kecil yang polos tapi optimis. Netizen suka banget nge-meme-in kelakuannya yang kadang norak tapi relatable. Ditambah lagi, serial ini tayang di YouTube, jadi aksesnya gampang banget buat di-cut dan diedit ulang. Jadi, Ramli bukan cuma meme, tapi semacam simbol resistensi terhadap kehidupan yang kadang absurd dengan cara yang ringan.