ログイン
"Hei, apa yang kamu lakukan di sini? Jangan-jangan kamu mau mencuri?" seru seorang wanita mengagetkan roni.
Roni langsung menjelaskan. "Bukan, Mbak. Saya hanya berusaha menghindari preman yang mengejar saya. Kalau tidak percaya, saya akan pergi sekarang." Wanita itu mengamati Roni yang tampak ketakutan, lalu bertanya. "Kamu bukan orang sini, ya? Dari kampung, kan?" "Iya, benar, Mbak. Kok Mbak tahu?" tanya Roni. "Hanya menebak," jawab wanita itu sambil tersenyum tipis. Roni memperkenalkan diri. "Nama saya Roni, Mbak. Saya sedang mencari kos-kosan, tapi belum dapat yang sesuai. Harganya mahal sekali, sedangkan uang saya tidak banyak." Wanita itu mendengarkan dengan perhatian. "Oh, kamu mencari kos-kosan, ya? Kebetulan di sini juga kos-kosan, tapi saat ini penuh. Mungkin minggu depan ada yang kosong." "Walah, kalau begitu saya harus cari tempat lain. Hari sudah hampir malam," kata Roni, hendak pergi. "Tunggu," kata wanita itu menghentikan langkahnya. "Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sementara di rumah saya. Ada kamar kosong untuk sementara waktu. Kota ini tidak aman, apalagi untuk orang baru seperti kamu." "Benarkah, Mbak? Tidak apa-apa?" tanya Roni ragu. "Tidak apa-apa. Ayo, ikut saya," ajak wanita itu. Roni mengikutinya ke dalam rumah. Wanita itu memperkenalkan dirinya. "Ini rumah pribadi saya, dan di belakang adalah kos-kosan milik saya. Kamu bisa tinggal di sini dulu. Panggil saja saya Mbak Maya." "Terima kasih banyak, Mbak Maya. Tapi apa suami Mbak tidak keberatan kalau saya tinggal di sini?" tanya Roni. Maya tersenyum tipis. "Saya sudah lama menjanda, Roni. Jadi tenang saja, saya tinggal sendiri." Roni mengangguk penuh terima kasih. "Baik, Mbak Maya. Sekali lagi, terima kasih." "Kamar mandinya ada di sana, kalau kamu ingin membersihkan tubuhmu. Tidak apa-apa, pakai saja untuk sementara. Itu kamar mandi saya," kata Maya sambil menunjukkan arah kamar mandi kepada Roni. "Terima kasih banyak, Mbak Maya. Saya benar-benar merepotkan Anda," ucap Roni dengan sopan. "Ah, tidak apa-apa. Anggap saja seperti rumah sendiri. Omong-omong, tujuan kamu ke kota ini apa ya, kalau saya boleh tahu?" tanya Maya penasaran. "Saya datang ke kota untuk melanjutkan kuliah, Mbak. Kebetulan saya mendapatkan beasiswa di kampus besar di sini. Selain itu, saya juga ingin mencari pekerjaan," jelas Roni dengan senyum yang membuat Maya terpesona. "Begitu, ya? Tapi hati-hati, ya. Jakarta itu keras. Banyak hal yang mungkin tidak kamu ketahui di sini, apalagi kalau kamu tidak punya kenalan," nasihat Maya dengan nada khawatir. "Iya, Mbak. Untungnya saya bertemu dengan orang baik seperti Mbak, jadi saya merasa lebih tenang," kata Roni sambil tersenyum lagi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Tok! Tok! Tok! "Mbak, apa saya harus bersembunyi? Takutnya nanti mereka berpikiran aneh kalau melihat saya di sini," ucap Roni sedikit panik. "Tidak perlu, kamu tetap di sini saja. Mungkin itu salah satu penghuni kos. Saya akan bukakan pintunya," jawab Maya sambil berjalan ke pintu. Ketika pintu dibuka, seorang pemuda berdiri di sana. "Mbak, ada masalah di kamar saya. Atapnya bocor, air hujan masuk," kata pemuda itu, yang ternyata bernama Bayu. "Oh, begitu. Tunggu sebentar ya, saya akan meminta Pak Hasim untuk memperbaikinya," jawab Maya. Roni yang mendengar percakapan itu segera menawarkan diri. "Maaf, Mbak, tadi saya dengar ada atap yang rusak. Boleh saya lihat?" tanya Roni. "Kamu bisa memperbaiki atap?" Maya terkejut. "Kebetulan, di kampung saya sering memperbaiki atap sendiri kalau rusak. Saya bisa, kok, Mbak," jawab Roni dengan yakin. "Tapi ini sedang hujan, nanti kamu sakit. Lagipula, kamu baru sampai di kota. Istirahat saja, biar nanti tukang kebun saya yang memperbaikinya," saran Maya. "Tidak apa-apa, Mbak. Saya bisa mengatasinya. Ayo, Bayu, tunjukkan di mana atap yang rusak," ucap Roni penuh semangat. Bayu membawa Roni ke kamar yang bocor. Setelah mengambil tangga, Roni memeriksa kerusakannya. Dia menemukan beberapa genteng pecah dan segera menggantinya. Namun, saat berada di atas, dia mendengar suara aneh dari kamar sebelah. "Astaga, suara mereka bisa sekencang itu, ya? Mengalahkan suara hujan di atap," gumam Roni sambil menggelengkan kepala dan tersenyum kecil sebelum turun. "Sudah selesai, atapnya tidak akan bocor lagi," kata Roni kepada Bayu. "Terima kasih, Bang. Oh ya, saya baru pertama kali melihat Anda. Apa Anda orang baru di sini?" tanya Bayu penasaran. "Iya, kenalkan, saya Roni. Saya dari kampung. Kebetulan butuh tempat tinggal di kota, tapi karena di sini belum ada kamar kosong, Mbak Maya mengizinkan saya tinggal sementara," jelas Roni. "Oh, begitu. Katanya yang di kamar sebelah saya mau pulang kampung. Syukurlah. Jujur saja, saya sering terganggu setiap malam dengan suara-suara dari kamarnya," ucap Bayu. Roni tersenyum mendengar itu, teringat suara serupa saat memperbaiki atap tadi. "Memangnya tidak ada aturan di sini soal bawa pasangan ke kos?" tanya Roni heran. "Haha, di sini bebas, Bang. Asal tidak ribut, tidak ada yang melarang," jawab Bayu sambil tertawa. "Pantas saja. Kamu sendiri kenapa nggak ajak pacar biar nggak cuma dengar suara saja?" goda Roni. "Haha, saya ini anak polos, Bang. Belum mikir buat pacaran," jawab Bayu bercanda. Setelah mengobrol sebentar, Roni pamit untuk kembali ke rumah Maya. "Saya mau mandi dulu, Bayu. Badan saya basah kuyup. Besok kita ngobrol lagi, ya," kata Roni. "Baik, Bang. Jangan lupa main ke sini lagi, ya," jawab Bayu ramah. Ketika Roni kembali, Maya langsung memanggilnya. "Roni, ayo makan bersama. Saya sudah masak makanan," ucap Maya. "Astaga, saya merepotkan sekali, Mbak. Tidak perlu, saya bisa beli makanan di luar," jawab Roni merasa tidak enak. "Sudah, ayo sini. Jangan banyak bicara, makan saja," kata Maya sambil tersenyum. Roni melihat ke arah meja makan, namun matanya tanpa sengaja tertuju pada tubuh Maya yang mengenakan pakaian santai. Lekuk tubuh Maya membuatnya sulit mengalihkan pandangan. Maya yang sadar akan tatapan itu hanya tersenyum kecil. Khem! Dia berdehem, menyadarkan Roni yang sedang melamun. Setelah makan malam selesai, Maya meminta bantuan Roni membawa piring ke dapur. "Tolong bawakan piringnya ke dapur. Saya mau mencuci," pinta Maya. Roni menurut. Saat berjalan di belakang Maya, matanya lagi-lagi tertuju pada tubuh Maya yang mengenakan celana pendek. Hasratnya memuncak. Tanpa di duga, Roni memeluk Maya dari belakang. Tangan Roni menyentuh tubuh Maya dengan gemetar. Maya terdiam sejenak, namun bukannya marah, dia malah tersenyum tipis. "Roni... apa yang kamu lakukan?" bisiknya pelan. Roni yang sudah kehilangan kendali hanya bisa berbisik, "Maaf, Mbak... saya tidak bisa menahan diri, bisa gak mbak." Suasana berubah menjadi penuh ketegangan di antara mereka. "Mb... Mbak, izinkan saya melakukannya malam ini saja. Saya sungguh tidak tahan dengan keindahan tubuh Anda," ucap Roni dengan sangat berani, padahal baru saja kenal, tak lagi peduli pada rasa takut atau malu. Hasratnya meluap-luap, dan dia sangat menginginkan Maya. "Roni, kamu baru kenal saya, saya bisa saja teriak loh kalo kamu kurang ajar begini," ucap Maya sambil menatap ke arah Roni, iya walaupun di dalam hati mbak maya juga pengen di sentuh pria setampan Roni, tapi mengingat mereka baru saja kenal maka tidak mungkin dia langsung menerima sentuhan Roni. "hehe, maaf kalo gitu mbak, saya terlalu kurang ajar, maaf ya, soalnya mbak memiliki tubuh yang molek jadi saya tidak bisa menahan diri..," bisik Roni jujur, suaranya berat, matanya tidak lepas dari kemolekan tubuh mbak maya yang mengenakan daster tipis. "tak ku sangka, baru saja kenal sudah di ajak tidur segala, tapi pria ini boleh juga, parasnya tampan, tapi walau begitu dia terlalu cepat gak sih, aku jadi curiga jangan-jangan dia ini penjahat wanita lagi," gumam mbak maya dengan menyipitkan matanya, memperhatikan seluk beluk Roni dari kaki hingga ujung rambutnya. "Hemmm...baik saya maafin, tapi ingat jangan di ulangi lagi , apalagi sampai memeluk saya seperti tadi, mending sekarang pergi beristirahat, kamu pasti capek kan, oh ya terimakasih ya idah bantu benerin gentengnya..."kata mbak maya menghela nafas lalu berbalik lanjut mencuci piring. Roni kembali menatap bokong mbak maya, dalam hati ingin sekali dia menepuknya hanya saja dia tidak seberani tadi setelah mbak maya memarahinya. "huh...bisa-bisanya aku memeluknya seperti tadi, untung dia gak ngamuk kalo ngamuk bisa di penjara aku karena kasus pencabulan..."kata roni dalam hati sedikit menyesal, lalu berbalik menuju kamar yang sudah di siapkan untuknya beristirahat malam ini. Roni seperti tadi itu sebab dia memilki hasrat yang kuat, dimana dia tidak bisa menahan diri jika melihat perempuan seksi di depannya membuat ya sering lepas kendali contohnya seperti tadi, untungnya mbak maya gak terlalu marah dan melaporkannya. lagian gimana roni gak lepas kendali seperti tadi, mbak maya saja mengenakan daster yang super tipis, belahan bokongnya terlihat begitu jelas sekali, di tambah lagi roni baru saja mendengar suara-suara aneh dari penghuni kos saat dia memperbaiki genteng. melihat roni sudah pergi ke kamar mbak maya kembali tersenyum, sentuhan roni saat memeluk dan meremas dadanya tadi masih membekas dalam dirinya. "Hampir aku di buat lepas kendali..." Bersambung....Di pagi harinya, di sebuah taman anak-anak terlihat Roni sedang menemani anaknya Arga dan cucunya Eren. kedua anak yang baru tumbuh itu begitu ceria bermain dengan Roni. Bukan hanya mereka saja di sana, tetapi banyak juga anak-anak lainnya yang ditemani oleh orang tua mereka. Ya, hari-hari Roni terus dihabiskan bersama anak dan cucunya. Awalnya tadi dia juga mengajak Alia, sayangnya Alia susah sekali pisah dengan mamanya sehingga tak bisa ikut dibawa oleh Roni.Sementara itu di rumah, Mbak Maya yang sedang menonton televisi ditemani oleh Lola langsung menanyakan soal Bara yang beberapa hari ini tidak pernah ia lihat.“Suamimu gimana? Baik kan? Apa dia terlalu sibuk akhir-akhir ini hingga tak pernah ikut denganmu pulang?” tanya Mbak Maya kepada menantunya.“Ah… iya, Ma. Bara memang sangat sibuk akhir-akhir ini. Urusan di Surabaya juga membuatnya sangat sibuk, saat ini bara sedang di surabaya mengurus bisnis disana” jawab Lola berbohong, tidak memberitahu bahwa suaminya sekarang sedang
Tidak lama kemudian Bara dan Liona pun tiba di rumahnya Riki. Tak disangka, ternyata rumah Riki begitu besar sesuai dengan perkataan Tuan Folio kalau Riki adalah putra seorang pengusaha sukses.“Inilah rumahnya, Kak. Tunggu sebentar ya,” kata Liona lalu turun dari mobil untuk menghampiri dua orang penjaga yang berjaga di depan gerbang rumah itu.“Maaf, apa Riki ada?” tanya Liona kepada kedua penjaga itu.“Oh iya nona, ada di dalam. Apa perlu saya panggilkan?” jawab penjaga itu dengan ramah, sebab setahu dia Liona adalah pacarnya Riki yang sering datang berkunjung ke sini waktu itu.“Kalau bisa gerbangnya dibuka biar saya bisa masuk,” ucap Liona. Penjaga itu pun mengangguk dan langsung membukakan gerbang agar mobil Bara bisa masuk.Liona kembali ke dalam mobil dan meminta Bara untuk masuk. Bara pun mengarahkan mobilnya masuk ke halaman rumah. Setelah itu mereka berdua turun dari mobil.Dengan sopan Liona mengetuk pintu rumah hingga salah satu pelayan membuka pintu.“Bisa bertemu dengan
Tidak lama setelah Ali tergeletak tidak sadarkan diri di jalan yang sepi itu, sebuah mobil putih melewati jalan tersebut. Untungnya, si pengemudi menyadari keberadaan Ali di sana. Ia melihat motor Ali di samping jalan dengan Ali yang tergeletak tak sadarkan diri di atas aspal. Segera orang itu turun dari mobilnya dan mengecek keadaan Ali.Dia terkejut melihat adanya bekas tembakan di bagian tubuh Ali. Dengan panik, orang itu langsung menelpon ambulans.Sementara di tempat lain, terlihat Bara sedang sibuk dengan dokumen-dokumennya di kantor yang sebentar lagi akan selesai ia tanda tangani. Tiba-tiba suara ponselnya berdering, membuatnya menoleh dan melihat nama Ali di layar ponselnya.“Ali? Tumben sekali,” kata Bara lalu mengangkat panggilan itu.“Iya Ali, ada apa? Tumben menelpon abang seginiannya?” tanya Bara, mengira Ali yang menelpon.Orang yang menemukan Ali tadi tidak tahu harus menghubungi keluarga Ali dengan cara apa karena ia tidak mengenalnya. Orang itu mencari ponsel Ali dan
Keesokan harinya, terlihat di suatu restoran Roni sedang melakukan pertemuan dengan salah satu klain bisnisnya yang berasal dari luar kota. Iya beginilah kesibukan Roni di tiap harinya melakukan pertemuan dengan klain untuk membicarakan rencana-rencana bisnis.Dan di saat Roni sedang fokus-fokusnya menjelaskan rencananya kepada klainnya itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia langsung menghentikan pembicaraan yang dia bicarakan untuk menerima panggilan telepon, karena yang menelpon adalah Miya istrinya. Dan sesibuk apa pun Roni jika yang menelpon atau mengganggunya adalah salah satu istrinya, Roni langsung menanggapi mereka dan menunda kesibukannya.“Sebentar ya, saya mau menerima panggilan telpon,” ujar Roni, dan klain bisnisnya itu hanya bisa mengangguk walaupun sedikit terlihat di raut wajahnya kalau dia tidak menyukai adanya hal lain yang mengganggu saat membicarakan hal penting seperti saat ini.“Halo sayang, iya ada apa?” tanya Roni ke Miya yang menelponnya.“Begini Roni, kamu p
Di saat jam pulang terlihat Liona menunggu jemputan Ali. Tidak jauh dari tempat Liona menunggu, Riki di sana berdiri memantau. Sepertinya dia ingin tahu siapa suami Liona. Ya, dia dengar Liona diantar tadi pagi oleh suaminya. Pastinya dia akan dijemput juga, jadi Riki ikut menunggu ingin melihat seperti apa suami Liona.Sampai sekitar lima menitan menunggu, Ali akhirnya datang dengan mengendarai motor yang tadi pagi. Ali tiba di depan gerbang kampus, di sana Ali sudah melihat Liona yang sedang menunggu.Dengan wajah tersenyum, Liona bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Ali.“Maaf aku sedikit terlambat, tadi Elina rewel. Untung ada mama yang bantu nenangin dia,” kata Ali menjelaskan kenapa dia sedikit terlambat.“Gak apa-apa kok, aku juga gak lama nunggunya,” ujar Liona sambil menerima helm yang diberikan oleh Ali.Tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Ali dan Liona, Riki mendekat lalu menarik jaket yang dikenakan oleh Ali dengan cukup keras, membuat Ali tertarik dan motor yang
Di keesokan harinya, terlihat Liona bersiap-siap berangkat ke kampus, takutnya kalau ditunda lagi dia bisa ketinggalan banyak mata pelajaran pada kuliahnya.Dan kali ini bukan papanya atau sopir pribadi keluarga yang mengantarnya, tapi Ali yang sudah menjadi suaminya.“Cie yang diantar suami...” ledek mamanya saat Liona bersiap-siap.“Hehe, ya dong, Ma. Oh ya, Mama sendiri kenapa gak berangkat?” kata Liona sambil bertanya balik.Oh ya, Mama Liona juga adalah seorang kepala dosen di kampus tempat Liona kuliah sekaligus penerus kepemilikan kampus itu setelah kakek Liona meninggal.“Nanti Mama belakangan, sana cepat, Ali sudah menunggu di luar itu.”“Iya, Ma, sabar. Ini udah mau siap,” ucap Liona.Sementara di luar, Ali sudah menunggu di atas motor. Ya, walaupun banyak sekali mobil terparkir di sana yang bisa saja digunakan oleh Ali untuk mengantar Liona, malah motor yang dipilih oleh Ali. Seperti yang kita tahu, memang dari masih remaja Ali sangat menyukai motor.“Pa, pinjem motornya ya
Roni mulai merasakan ada balasan dari gerakan mbak maya, dimana mbak maya juga mulai menciumnya," roni aku mau keluar..."bisiknya mendesah,tangannya merenggut rambut roni di sebabkan oleh sensasi hebat yang dia rasakan."jadi gimana mbak, saya berhenti atau lanjutin?," kata roni sengaja bertanya se
"Bang akhrinya kau datang juga,"Sapa bayu ketika melihat roni datang juga dari tadi dia menunggunya."Ada apa bayu, sepertinya ada hal penting?" Tanya roni.Ini saya mau mengajak abang pergi ke warung kopi, anggap saja sebagai tanda terimakasih tadi malam membantu memperbaiki atap saya, saya gak mu
Keesokan Pagi Roni bangun dari tidur lelapnya yang panjang, dia langsung pergi mandi. Setelah selesai, ia bersiap untuk pergi ke kampus barunya, tempat ia diterima melalui program beasiswa. tepat Saat mengambil air minum di meja makan, ia mendapati sarapan yang sudah disiapkan oleh Maya. Sambil t
Tiba-tiba Ali meneteskan air mata di saat Liona sedang menatap wajahnya, sepertinya Ali sedang memimpikan sesuatu yang begitu menyedihkannya hingga membuatnya sampai meneteskan air mata. Liona yang sedari tadi menatapnya pun terkejut, ia menjulurkan tangannya hendak mengusap air mata itu. Dan, “Sa







