Masuk
"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGRamli masih berdiri di tempatnya dan kepala pelayan itu seolah sedang melihat orang penting padahal di depannya hanya pria biasa yang sedang mencari keberadaan Vina dan anak-anaknya. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu jika ini adalah Tuan, sungguh! Saya tidak tahu!" lanjut kepala pelayan itu sambil menundukkan kepalanya di hadapan Ramli yang masih memunggunginya seolah sedang memberikan hormat. Meskipun ia tidak melihat wajahnya dengan jelas, tapi dari warna suara khas seorang Aland sudah sangat bisa dikenali. Orang-orang yang ada di sana ikut terkejut dengan sikap kepala pelayan yang mendadak baik, padahal mukanya sangat garang dan kejam seperti wajah Tuan Takur di film-film India. Ramli pun perlahan menoleh. Dilihatnya kepala pelayan itu masih menundukkan wajahnya. Lalu Ramli mendekat dan berkata kepada pria itu. "Aku harap kamu tutup mulut dan jangan sampai ada orang yang tahu ini adalah aku, mengerti!" katanya sangat lirih. Kepala pelayan itu langsung patuh dan tidak memb
Vina kembali menjawabnya dengan santai. Terlihat di wajahnya yang tenang dan tidak terlalu marah dengan ucapan sahabatnya itu. "Ramli bukan sembarang pelayan, mungkin bagi orang yang belum tahu bagaimana dia pasti menganggap dia pelayan kampung, tapi aku tidak melihat seperti itu. Ramli itu bukan pelayan biasa!" katanya dengan lembut. Monica cukup tertarik mendengar jawaban Vina. Ia menaikkan salah satu alisnya. Entah kenapa ia merasa sahabatnya itu memandang pelayan itu dengan tatapan lain. "Hello, Vina! Kamu ngomong kayak gini kayak bukan Vina yang aku kenal dulu loh. Sejak kapan kamu mengagumi pelayan, Beb? Ini bukan dirimu, Vin!" kata Monica dengan senyum miringnya. Vina tersenyum lagi. Wanita itu menghela napas panjang sambil menatap kedua anak Ramli. "Salah satu alasanku adalah, mereka!" Vina jelas-jelas menunjuk ke arah Bagas dan Ayu meskipun hanya dengan tatapan bola matanya. Monica menoleh dan masih tidak mengerti. "Mereka? Anak-anak pelayan itu? Astaga, Vina! Uda
Ramli tahu arah tatapan mata Monica. Pria itu mengira jika Monica pasti mengenali bekas lukanya di siku. Dengan cepat Ramli menyembunyikannya dengan mengalikan perhatian Monica. "Maaf Mbak, Nona, Bu, eh Tante, itu hiasan bajunya mau copot!" kata Ramli sambil menunjuk ke arah dada Monica, di mana ada sebuah hiasan pita baju berbentuk kupu-kupu di tengah belahan dada yang terlihat hendak copot. Sontak Monica melihat ke arah dadanya yang besar. Memang benar, hiasan pita itu hampir saja terlepas. Di sisi lain Vina langsung menatap wajah Ramli dengan tajam. Ramli tahu kenapa Vina menatapnya seperti itu. Seakan-akan dirinya sedang mengambil kesempatan untuk melihat bentuk buah dada Monica yang besar. Ramli menatap gugup dan memelas, berharap Vina tidak salah paham terhadapnya. Sementara itu Monica segera merapikan kembali pita tersebut dengan wajah cuek tanpa melihat ke arah Ramli. Seolah dirinya tak sudi melihat wajah pelayan itu. "Shit! Pasti Vina berpikiran macam-macam." Seketi
"Oh, itu Ramli, dia pelayanku, dan anak-anak itu adalah anaknya!" jawab Vina. Monica langsung membelalakkan matanya mendengar jawaban Vina. Bagaimana bisa Vina membawa pelayan dan anak-anaknya kw Mall yang tentunya pasti banyak mata yang melihat. Seorang wanita sosialita sepertinya nggak malu membawa pelayan ke tempat umum, apalagi melihat penampilan Ramli yang benar-benar membuat mata para wanita menjadi sepet. Beruntung Ramli memakai masker sehingga Monica tidak akan mudah mengenalinya. "Pelayan kamu! Astaga Vina! Kenapa kamu bawa pelayan kampung itu keliling mall, beb? Sorry, bukannya aku ngehina kamu. Tapi coba pikir deh! Itu orang ya ampun engga enak banget dilihatnya. Masa iya ke mall pakai sendal jepit yang talinya udah jamuran gitu. Vina plis dehh!" kata Monica sambil berbisik menatap wajah Ramli dengan tatapan jijik. Vina cuma tersenyum, bagaimana pun Ramli di mata perempuan lain, baginya Ramli adalah pria yang paling tampan sedunia. "Tidak apa-apa, aku memang sengaja
Vina terlihat begitu akrab dengan perempuan bernama Monica itu. Anak-anak Ramli nampak bersama ayah mereka karena tak ingin mengganggu Vina yang sedang bertemu dengan temannya. Di sisi lain Ramli masih belum mau menoleh, pria itu pura-pura melihat orang-orang yang sedang lalu lalang di sekitarnya. "Ayah, ada temannya Bu Vina. Temannya cantik ya, Yah! Kenapa ya orang kota itu mukanya cantik-cantik, putih, bersih. Nggak kayak di kampung, mbak-mbak di kampung mukanya nggak sebening ini!" kata Bagas, anak laki-laki Ramli yang sudah bisa menilai bagaimana perempuan cantik itu. "Eh, orang kota itu perawatannya mahal. Sampai ratusan juta segala. Jadi wajar mukanya pada mulus, bening, lalat hinggap aja kepleset. Kalau perempuan desa mukanya asli dan natural. Lihat aja wajah nenek kalian, meskipun udah tua tapi mukanya masih bersih dan natural karena nggak tersentuh bahan kimia. Tapi ayah juga suka kok sama wanita desa. Buktinya ayah mau nikah sama ibu kalian!" jawab Ramli sembari mengac
"Serius!" Rangga sendiri juga antusias dengan laporan dari anak buahnya. "Kami sudah menemukan identitas mereka, hanya saja sekarang mereka tidak ada di desa. Sumber mengatakan mereka dibawa pria itu pergi ke sebuah tempat! Jadi, kami masih belum tahu di mana keberadaan mereka!" ungkap anak buah Rangga. "Pria? Apa itu Aland?" Rangga bertanya dengan sangat penasaran. Lebih-lebih Tuan Andreas yang juga ikut mendengarkannya. "Menurut informasi sepertinya begitu. Kata mereka, nenek tua itu dan anaknya menemukan pria yang sedang terluka parah dan bertepatan dengan hilangnya jasad Aland Orlando di sekitar lereng gunung itu. Dan kami sangat yakin sekali bahwa itu memang Aland Orlando, dan setelah kami berikan perbandingan foto Aland dan pria yang ditemukan, ternyata memiliki banyak kemiripan!" ungkap pria itu, mengingat saat ditemukan wajah Aland sudah rusak dan susah untuk dikenali. "Cari sampe ketemu! Aku ingin hidup Aland hancur seperti di dalam neraka, sebelum aku mati, aku ingin







