Pergi merantau ke Ibukota untuk mengubah nasib, Joanna terjebak dalam pekerjaan paruh waktu setelah beberapa perusahaan menolaknya. Tetapi, siapa sangka, seseorang menawarkan pekerjaan yang menjanjikan, menjadi seorang istri paruh waktu dari laki-laki bernama Arkatama Dewangga seorang pria yang terkenal dingin. Menjadi istri jauh dari rencananya, tetapi uang menjadi faktor utama Joanna rela terjebak dalam pekerjaan konyolnya, menjadi seorang istri Arkatama. Tanpa adanya cinta dan sayang. Akankah Joanna mampu atau berhenti dari pekerjaannya setelah mengetahui semua rahasia dari Tama? Mampukah dia mempertahankan pernikahannya?
Kehidupan bagi Renata adalah tentang status sosial dan kekayaan. Selama tak memiliki keduanya, orang lain bisa dengan mudah merendahkan dirinya. Itulah sebabnya, Renata terus mengejar karir sampai usianya menginjak 30 tahun.
Bersikeras menolak perjodohan, Renata memilih untuk mencari sendiri calon suaminya. Dan akibat sebuah kejadian yang membuat Renata trauma, ia bertemu dengan Darren. Keduanya lantas menjalin kesepakatan terkait sebuah pernikahan.
Lantas bagaimana sesungguhnya ikatan pernikahan yang terjalin di antara Darren dan Renata?
Sebuah daerah digegerkan dengan tragedi naas yang menimpa seorang lelaki. Kajadian naas itu membuat semua orang bergidik ngeri dan membelalakan mata saat melihat seorang lelaki yang bergelimang darah dari bagian alat vitalnya.
Kinara harus menjalani hidupnya di Falseland, tempat asing yang penuh misteri dan keajaiban karena sebuah kesalahan fatal yang ia lakukan. Ia dikutuk menjadi setengah manusia setengah burung. Demi kembali menjadi manusia normal dan bisa hidup di dunia asalnya, ia harus melakukan misi penebusan dosa dengan melakukan banyak kebaikan agar bisa bertemu dengan Kinari. Mereka mendapat tugas yang sama, yaitu harus menemukan satu sama lain dan menarikan tarian kesetiaan di bawah pohon kalpataru dan disaksikan oleh seluruh penduduk Falseland. Perjalanan untuk menyelesaikan misi tidaklah mudah. Banyak rintangan yang dihadapi. Kinara dibantu oleh sahabat setianya yang bernama Rhara (berwujud setengah manusia setengah kelinci). Mereka berdua penuh optimis dan keberanian dalam menakhlukkan lawan-lawannya. Jika Kinara melakukan kebaikan, maka akan mendekatkan kepada Kinari. namun, kejahatan yang ia lakukan akan menjauhkannya dari Kinari dan membawanya ke Blackland (tempat di mana makhluk terkutuk sepenuhnya berubah menjadi binatang dan kehilangan semua sisi kemanusiaannya). Tantangan tidak berhenti sampai di situ. Sebab, Kinara adalah Si Terpilih. Artinya ia adalah sosok penentu keberhasilan bagi seluruh makhluk terkutuk yang sedang menjalani misi. Jika misinya berhasil maka semua makhluk bisa kembali ke wujud asli dan dunianya. Akankah Kinara menyelesaikan misinya? Atau justru terjebak dan memilih tinggal di Whiteland?
Ada yang mengejutkan, saat tiba-tiba burung peliharaan yang pandai menirukan ucapan penghuni rumah tiba-tiba mulai mengucapkan kalimat-kalimat mesra kepada pembantu.
"Fani, ibu tak ada, ibu tak ada, cium Fani!"
Bagaimana bisa seekor burung berbicara kalimat itu jika bukan dari meniru? Herannya, burung itu mengucapkan sebuah nama yang tidak lain adalah gadis berusia 20 tahun yang telah bekerja di rumah ini selama 2 tahun.
Seekor burung tidak mungkin memiliki nafsu dengan manusia, kan? Ataukah Ini adalah sebuah rahasia besar yang harus segera kuketahui?
"Dasar anak durhaka!”
Begitulah kalimat terakhir yang Arya dengar dari mulut ibunya, sebelum kemudian dia terbangun dan mendapati dirinya terdampar di sebuah tempat asing. Dengan menahan panik, Arya mencoba mencari tahu di mana dia berada.
Ternyata Arya sedang berada di dalam sebuah game yang sangat berbahaya. Usut punya usut, ternyata Arya dikirim oleh orang yang sangat mengasihinya.
Arya ingin segera keluar. Tapi, tentu saja tidak mudah! Dia harus menyelesaikan setiap misi yang bisa melenyapkan nyawanya kapan saja.
Apakah Arya berhasil menaklukkan setiap misi dan keluar dari dalam game tersebut? Dan siapakah orang terkasih, yang dengan teganya mengirim Arya ke dalam game mematikan tersebut?
Follow instagram-ku di: @mayuunice.feli
Cover's Credit:
Desain by Azusa Rain
Aku masih ingat waktu pertama kali nyanyi 'Tuhan Raja Maha Besar' di kebaktian sekolah minggu—suara paduan kecil itu bikin aku penasaran soal siapa yang menulis liriknya.
Setelah cek beberapa buku lagu di gereja dan obrolan sama beberapa pemandu pujian, yang jelas adalah: versi bahasa Indonesia yang biasa dipakai itu sering kali merupakan terjemahan dari lagu berbahasa asing. Nama penulis lirik asli kadang tercantum, tapi sering kali yang muncul di buku lagu adalah nama penerjemah atau keterangan 'lirik terjemahan' tanpa menyebut penulis asli. Jadi kalau mau tahu nama pastinya, solusi cepatnya adalah buka lembar kredit di buku nyanyian yang kalian pakai—misalnya 'Kidung Jemaat', 'Kidung Sion', atau buku liturgi lain—di situ biasanya tercantum asal-usul lagu dan nama penulis/penyunting.
Kalau aku harus berspekulasi berdasar pengalaman, banyak lagu rohani Indonesia memang hasil terjemahan, bukan ciptaan lokal, sehingga kreditasinya bisa berbeda antar edisi. Aku suka mencari info itu karena sering ada cerita menarik soal siapa yang menerjemahkan dan kapan lagu itu masuk tradisi ibadah kita.
Garis besar cerita bisa saja stabil, tapi satu pengakuan tentang saudara sepupu sering bikin semuanya goyah.
Aku suka nonton film yang pintar memainkan hubungan keluarga, dan efek twist soal sepupu itu selalu terasa berbeda dibandingkan twist lain. Pertama, ada unsur kedekatan yang langsung membuat konflik terasa pribadi — bukan cuma soal misteri atau harta, tapi identitas dan ikatan darah. Ketika penonton sudden diberi info bahwa tokoh yang selama ini dianggap sahabat atau rival ternyata punya hubungan darah, otak kita langsung recalibrate: semua motif, tatapan, dan adegan-adegan kecil jadi punya makna baru. Itu bikin momen tersebut intens secara emosional.
Kedua, ada lapis tabu dan ambiguitas moral. Di banyak budaya, relasi keluarga punya aturan tak tertulis; memutarbalikkan posisi itu bikin penonton merasa terkejut sekaligus tidak nyaman, yang meningkatkan rasa penasaran. Ketiga, dari sudut penceritaan, sepupu sering dipakai sebagai cermin atau foil; mereka dekat secara sosial tapi cukup jauh secara hukum—jadi reveal bisa merombak aliansi dan warisan narasi tanpa terkesan dipaksakan. Kalau sutradara dan penulis tahu tempo dan clue-nya, twist itu bisa sangat memukau. Kalau nggak, ya malah terasa cheap. Aku paling suka yang memberikan setidaknya satu atau dua petunjuk halus sebelumnya, jadi ketika reveal datang, rasanya memuaskan bukan cuma kaget belaka.
Di akhir, aku nikmatin momen-momen itu sebagai detik di mana cerita benar-benar menantang asumsi kita — dan kalau dikerjakan dengan cermat, efeknya bikin film susah dilupakan.
Membicarakan perjalanan kreatif Fiersa Besari selalu menarik karena dia menulis dengan hati. Awalnya dikenal sebagai musisi, karyanya seperti 'Garis Waktu' dan 'Catatan Juang' justru lahir dari kebiasaannya menulis catatan perjalanan di media sosial. Prosesnya organik: dari coretan personal tentang kehidupan, cinta, hingga refleksi sosial, lalu berkembang menjadi novel yang menyentuh. Yang kusuka dari Fiersa adalah konsistensinya mengeksplorasi tema sederhana dengan kedalaman emosi—seolah setiap buku adalah percakapan lama dengan sahabat.
Dia tidak terburu-buru menerbitkan karya. 'Garis Waktu' (2017) misalnya, ditulis selama bertahun-tahun sembari mengumpulkan fragmen pengalaman. Polanya selalu sama: observasi kehidupan nyata, lalu diramu dengan metafora puitis. Justru karena proses alami ini, tulisannya terasa autentik. Aku sering merasa karyanya seperti album musik—setiap bab adalah lagu yang bisa dinikmati terpisah, tapi lebih powerful ketika disatukan.
Bagi yang penasaran dengan perjalanan kreatif Fiersa Besari, timeline karyanya bisa dilacak melalui berbagai platform. Mulai dari akun Instagram pribadinya yang sering membagikan cuplikan proses kreatif, hingga situs resmi penerbit yang menaungi buku-bukunya seperti 'Consul' atau 'Tentang Kamu'. Media sosialnya menjadi kanal utama untuk melihat perkembangan terbaru, baik dalam bentuk tulisan, musik, maupun proyek kolaborasi.
Selain itu, beberapa komunitas sastra dan musik secara berkala mengadakan acara diskusi atau peluncuran karyanya. Di sana, biasanya ada pemaparan lebih detail tentang timeline karya-karyanya. Jika ingin melihat secara kronologis, coba cek thread di forum seperti Kaskus atau Reddit Indonesia yang sering membahas perjalanan kreatif seniman lokal.
Pernah menemukan cerita fanfic tentang Phoenix dari 'Harry Potter' yang di-reimagine sebagai sosok laki-laki abadi dengan aura memikat. Plotnya mengisahkan persahabatannya dengan penyihir zaman kuno yang penuh intrik, diracik dengan nuansa mitologi dan sentuhan romansa forbidden love. Yang bikin nagih adalah cara penulis membangun chemistry-nya—dialog sarkastik tapi hangat, plus deskripsi visual burung api itu berubah wujud jadi manusia dengan rammerah menyala di bawah sinar bulan. Ada satu adegan di mana dia mempertaruhkan nyawa untuk melindungi karakter OC (original character) dari kutukan gelap, dan itu bikin aku nangis bombay di tengah malam.
Kalo suka cerita fantasi dengan elemen slow burn, coba cari judul 'Ashes of Eternity' di AO3. Penulisnya piawai memadangkan sisi mistis dan humanis. Personal favoritku bagian ketika Phoenix itu mengelus scar di punggung protagonis sambil berbisis, 'Kau lebih dari sekadar luka yang mereka berikan padamu.' Gila, itu lebih dalam dari kebanyakan novel published!
Kalau bicara Fiersa Besari dan hubungan manusia-alam, 'Garis Waktu' adalah mahakaryanya yang paling menusuk kalbu. Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi atau prosa, melainkan semacam manifestasi kerinduan pada hutan, gunung, dan dentang hujan. Ada bab khusus berjudul 'Semesta Menghardik' yang menggambarkan betapa manusia modern sering lupa bahwa mereka bagian dari alam, bukan penguasa.
Fiersa menulis dengan gaya yang sangat personal, seolah sedang berbisik kepada pembaca tentang trauma pohon yang ditebang atau sungai yang dicemari. Di 'Catatan Juang', ia bahkan memadukan kisah pendakian dengan renungan filosofis—bagaimana kita bisa merasa kecil di hadapan gunung, tapi justru itu yang membuat kita memahami arti menghargai. Buku-bukunya selalu punya aroma tanah basah dan gemericik air, semacam terapi bagi jiwa yang lelah oleh beton kota.
Mencari lagu 'Kata-kata Gunung' dari Fiersa Besari itu seperti berburu harta karun di era digital. Aku biasanya mengunjungi platform legal seperti Spotify, Joox, atau Apple Music karena mereka menawarkan kualitas audio terbaik dan mendukung artis secara langsung. Kalau mau versi offline, iTunes atau Amazon Music juga opsi solid. Jangan lupa cek YouTube Music untuk yang suka streaming dengan visual sederhana.
Bagi pengguna Android, aku sering rekomendasikan SoundCloud atau Deezer karena interface-nya user-friendly. Untuk yang ingin eksplorasi lebih jauh, Bandcamp kadang menyediakan versi FLMA buat kolektor audiofil. Tapi ingat, hindari situs ilegal—selain risiko malware, kita juga enggak adil ke musisi seperti Fiersa yang karya-karyanya sangat personal.
Menggali latar belakang Haula Rosdiana selalu menarik karena membuka cerita tentang tempat yang membentuknya. Dari beberapa sumber yang pernah kubaca, Haula lahir di Bandung, kota yang dikenal dengan budaya kreatifnya dan udara sejuk pegunungan. Dibesarkan di antara komunitas seni lokal, suasana kota ini mungkin memengaruhi ketertarikannya pada dunia hiburan. Bandung bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang inspirasi bagi banyak seniman, dan Haula tampaknya menyerap energi kreatif itu sejak kecil.
Aku ingat pernah melihat wawancaranya di YouTube di mana dia bercerita tentang menghabiskan waktu di sekolah seni dan sering mengunjungi pusat kebudayaan di Bandung. Pengalaman ini jelas membentuk perspektifnya dalam berkarya. Meski sekarang aktif di industri hiburan Jakarta, nuansa Bandung tetap terasa dalam beberapa proyeknya yang mengangkat tema kearifan lokal.
Ada sesuatu yang magis dari cara Fiersa Besari merangkai kata-kata. Aku selalu merasa liriknya seperti lukisan abstrak—setiap orang bisa menafsirkannya berbeda tergantung pengalaman hidup masing-masing. Misalnya di 'Celengan Rindu', ada yang melihatnya sebagai kisah cinta yang gagal, tapi aku justru merasa itu metafora tentang harapan yang terus ditabung meski tak pernah terwujud.
Yang menarik, Fiersa sering menggunakan elemen alam seperti hujan, langit, atau laut sebagai simbol. Waktu pertama dengar 'Arah Langit', kupikir itu sekadar lagu perjalanan, tapi setelah berkali-kali mendengar, aku merasa itu sebenarnya bicara tentang pencarian jati diri. Kuncinya menurutku: dengarkan dengan hati, biarkan emosi meresap, dan jangan terburu-buru mencari makna literal.
Lagu itu selalu bikin perasaan campur aduk buatku, kayak sedang buka kotak memori lama yang ternyata penuh catatan kecil.
Dari sudut pandang saya yang mudah larut sama lirik puitis, 'Celengan Rindu' terasa seperti dialog antara aku dan bayangan seseorang yang pernah dekat. Ada citra sederhana—celengan, koin, surat—yang dipakai sebagai metafora menabung rindu sedikit demi sedikit. Bukan rindu yang dramatis, tapi rindu yang riil: menunggu, mengumpulkan keberanian, dan menyadari setiap kali menambah koin berarti mengakui perasaan lagi.
Musiknya mendukung suasana itu; melodi akustik yang mellow bikin fokus ke kata-kata. Aku suka bagaimana Fiersa Besari nggak perlu bertele-tele, cukup gambar kecil dan momen sehari-hari untuk bikin emosi melekat. Di akhir, ada rasa penerimaan—rindu tetap ada, tapi jadi bagian dari hidup, bukan beban yang mendesak. Itu yang selalu membuatku ulang dengerin lagu ini.