LOGINDirga, pria miskin yang dikenal sebagai perjaka tua, memiliki masalah kesehatan kulit dan bau badan tersandung hutang sejak lama, hidupnya sengsara karena semua orang menghina dan para perempuan menjauhi. Hidupnya berubah ketika bertemu seekor burung pipit ajaib yang memberinya kekuatan pemikat tingkat dewa.
View More"Lebih keras lagi, Mas ... aku mau keluar! Aaaah!" Shanti menggeliat, dengan posisi terlentang dan kedua kaki yang terbuka lebar dia memandang wajah pria yang ada di depannya. Hentakan itu semakin lama semakin keras, Shanti merasakan geli di sekujur badan, kakinya terasa tak bertenaga dan napasnya yang terengah-engah.
Pelukan Shanti semakin mengencang, namun belum juga ia mencapai puncak kenikmatan itu tiba-tiba ia rasakan semburan pelan membasahi Goa keramat. "Maaf," ucap pria itu tersenyum, lalu ambruk di sisi Shanti. "Kok udah? Nanggung banget. Padahal sedikit lagi aku----," suara dengan nada kecewa keluar dari bibir Shanti. "Ngomong apa sih? Perempuan itu enggak wajib merasa puas, tugasnya cuma melayani suami," kilah pria itu. Shanti segera duduk, ia mengambil handuk menutupi Goa keramat miliknya. "Tapi aku juga pingin kaya perempuan lainnya, Mas ... jadi perempuan sempurna yang bisa merasakan kenikmatan bareng suami," protes Shanti. Dia melihat perkutut suaminya yang berukuran kecil sudah loyo. "Coba cari obat kuat, atau therapy gitu. Masa iya baru dua menit langsung out!" "Heh, Shanti. Kemampuan aku cuma segitu! Berisik banget! Kalau mau puas, cari pria lain sana!" ujar pria tadi. Wajahnya muram, ia bangkit dan segera berpakaian seperti semula membiarkan Shanti yang bengong di ranjang. _____ Di sisi desa lainnya .... Perempuan berusia 65 tahun menangis sesenggukan, ia duduk bersimpuh sambil memeluk kambing jantan miliknya. Namanya Sukiyem. Sudah beberapa tahun terakhir hidup terguncang akibat tagihan hutang yang semakin hari semakin besar jumlahnya. "Bayar hutangmu! Ini sudah jatuh tempo!" bentak seorang pria berjaket kulit kusam dengan anting di telinga serta lengan yang dipenuhi tato. Dia tidak datang sendiri, ada dua orang lelaki lain yang juga berwajah sangar berdiri di belakangnya. "Kami belum punya uang, tunggulah dua bulan lagi biar nanti aku jual kambingku yang paling besar ini. Setidaknya dua bulan lagi, harganya lebih tinggi," kilah perempuan itu. "Hutangmu sudah jatuh tempo lewat seminggu, aku tak punya kesabaran lebih. Pokoknya kambing ini harus kami bawa, paling tidak untuk membayar bunganya aja!" sambung pria lain yang tadi hanya berdiri sambil mengamatinya. "Jangan, Den. Jangaaaan!" sekuat tenaga perempuan tua itu mempertahankan tali yang mengikat leher kambing dari rampasan para penagih hutang. Braaak! "Mampus!" Bukannya iba, salah satu dari mereka justru mendorongnya keres perempuan itu hingga jatuh ke tanah dengan hempasan keras. "Deeen, kembalikan kambing itu. Saya janji akan bayar!" Sukiyem segera bangkit, ia coba merebut kembali kambing tadi hingga salah satu pria mengambil celurit dari ikat pinggang. "Maju selangkah lagi, aku tebas lehermu!" ancam orang itu, Sukiyem kali ini tak bisa berbuat banyak. Tubuhnya lemas lalu terjatuh hingga hanya bisa berdiri di atas lutut sambil meratapi kambingnya yang dibawa pergi para penagih hutang. "Selama ini aku rutin membayar bunga, tapi mereka tak memberikan kesempatan sama sekali. Padahal seharusnya kambing itu cukup untuk membayar hutang sekaligus bunganya," ratap perempuan itu sambil menangis. Kondisi desa pagi itu cukup ramai orang berlalu-lalang, namun tak ada yang perduli seolah apa yang terjadi saat itu merupakan sesuatu yang normal. Berselang sekitar sepuluh menit, seorang pria berusia 35 tahun yang berkulit sawo matang dengan bintik panu di hampir seluruh badan datang sambil membawa seikat rumput yang ia gendong dengan pundaknya. "Bu, kenapa lagi?" Melihat perempuan renta itu menangis, maka pria itu langsung menjatuhkan rumput ke tanah, ia membantu ibunya berdiri. "Mana Bejo?" Setelah ibunya bisa berdiri dengan benar, pria itu langsung mencari kambing miliknya yang seharusnya ada di kandang. "Anak buah Pak Wira membawa kambingmu si Bejo, Nak. Katanya buat bayar bunga hutang kita," jelas si ibu. "Memangnya berapa bunga hutang itu, Bu?" "Empat ratus ribu katanya, padahal dulu cuma hutang satu juta untuk selamatan 1000 hari bapakmu,"' imbuh Sukiyem. Lelaki itu tak menjawab, ia menuju kandang bebek yang ada di belakang rumah. Dengan sebuah keranjang besar ia memasukkan sepuluh ekor bebek lalu diangkut menggunakan sepeda onthel menuju rumah apak Wira, pria kaya yang sehari-hari bekerja dengan cara meminjamkan uang tanpa jaminan pada warga. "Dirga, kamu mau apa? Dirga?" Sukiyem bangkit, ia tahu anaknya itu tak akan rela jika Bejo disita oleh Pak Wira. Setengah jam perjalanan dengan menyusuri jalan setapak perkampungan, pria bernama Dirga itu sampai juga di rumah Pak Wira. "Permisi, Pak. Tadi anak buah bapak membawa kambing milik kami, katanya untuk bayar bunga hutang," dengan nada sopan pemuda itu bicara, tangannya gemetar dan napasnya ngos-ngosan. Pak Wira yang sedang duduk bersama anak buahnya sore itu lekas berdiri. Dia terkejut dengan kedatangan pria yang dikenal sebagai perjaka tua di kampung ini. "Kamu masih berani memperlihatkan muka padaku setelah gagal bayar hutang?! bentak Pak Wira. "Jangan ambil kambing itu, beberapa bulan lagi harganya akan naik. Saya rasa cukup untuk membayar semuanya," "Bukan urusanku. Emangnya aku lembaga amal?! Sana pergi!" usir Pak Wira. "Saya tak akan pergi sebelum kambing itu kembali bareng saya. Sebagai gantinya, ini ada sepuluh bebek kalau dijual bisa mencapai enam ratus ribu, Pak," Dirga menyerahkan keranjang berisi bebek-bebek jantan dewasa. "Jiiih! Bau sekali! Kamu mau buat aku muntah ya? Kurang ajar!" Pak Wira semakin emosi, beberapa anak buahnya langsung maju siap memberi pelajaran bagi perjaka tua tadi. "Biarkan saja dia bawa kambingnya, Pak. Kasian, toh dia kasih bebek sebagai ganti," saat kericuhan hampir terjadi tiba-tiba Lastri, anak Pak Wira keluar dari ruangan depan. "Lastri, bapak ini menjalankan usaha pinjaman. Kamu jangan mudah kasihan sama orang, apalagi macam Dirga dan ibunya itu, hutangnya banyak enggak cuma pada kita," "Aku yakin dia akan memenuhi janjinya. Biarkan saja, toh sekarang harga bebek lagi bagus. Nilainya lebih tinggi dari seekor kambing yang belum dewasa itu," lanjut Lastri. "Aaaakh! Sudahlah, bawa pergi kambingmu itu. Awas kalau kamu telat bayar, habis kalian!" mendapatkan desakan dari putrinya sendiri akhirnya Pak Wira luluh. Dirga lekas menukar kambing tersebut dengan sepuluh ekor bebek, tak lupa ia memandang Lastri yang kali ini bertindak sebagai dewa penyelamat. "Mbak Lastri, terimakasih," ucap Dirga sambil membungkukkan badannya. Ia kemudian pergi begitu saja. Kambing itu dia gendong di pundak sambil menggandeng sepeda onthel miliknya. Ada rasa senang sebab biasanya Pak Wira tak akan pernah bisa diajak rembukan. Namun begitu Dirga sampai di rumah, beberapa tetangga berdiri di halaman depan hingga ke dalam rumah. "Pakde, ada apa ini?" tanya Dirga sambil mengikat Bejo pada sebuah batang pohon jambu yang tumbuh di samping rumah. "Ibumu, Nak. Dia ... meninggal dunia barusan. Dia pernah mengeluh soal jantung yang bermasalah," ucap pria yang akrab dipanggil pakde itu. "A--apa?! Pakde jangan bercanda!" Wajah Dirga langsung berubah yang tadinya ceria karena berhasil membawa kambingnya pulang berganti muram hampir meneteskan air mata. Dirga berlari ke dalam rumah, terlihat ibunya terpejam dengan wajah pucat dan kulit yang dingin. "Bu, Bejo sudah aku bawa pulang, Bu. Kenapa Ibu malah matiiii?! Bu, bangun!" Dirga mengguncang bahu ibunya, tak ada reaksi. "Maafkan aku, Buuu! Ibuuuu! Jangan tinggalkan aku!" Dirga menangis seperti anak kecil, ia memeluk jasad ibunya dengan air mata yang tertumpah. "Kasian Sukiyem. Di masa tuanya ia hidup menderita, mana anaknya tak kunjung menikah padahal Sukiyem berharap Dirga menikah seperti para pria normal lainnya," bisik seorang ibu-ibu pada temannya. "Halah, siapa yang mau sama pria miskin seperti dia?! Badannya panuan, wajahnya pas-pasan, miskin pula. Aku kalau punya anak gadis pun pasti aku larang bergaul sama Dirga," balas Ibu-ibu lain. "Perjaka tua itu seharusnya sudah punya anak, tapi memang nasibnya sial aja. Hampir 40 tahun tapi masih lajang, malang nian nasib keluarga ini," suara lainnya ikut terdengar. "Coba pikir, masih lajang aja enggak punya uang. Mana ada perempuan yang mau! Hahaha!" Cemoohan terus terdengar dengan nada sumbang tak perduli orang yang dibicarakan sedang berdukacita atas kematian sosok terpenting dalam hidupnya.Dirga menghela nafas panjang, tangannya gemetar karena takut namun pada akhirnya tetap membelai rambut Bella sebagai bentuk dukungan. "Pada akhirnya Mbak bisa bangkit dari keterpurukan bukan?" "Ya, aku memulai usaha ini sebagai makelar. Dengan bermodalkan relasi, aku mulai menawarkan rumah-rumah yang dijual lalu berpikir untuk membangun usaha sendiri, semuanya modal pinjaman. Untungnya dalam waktu lima tahun, aku bisa melunasi pinjaman. Semuanya," ujar Bella dengan wajah yang berbinar. Selama beberapa detik mereka berpandangan, Bella menutup mata berharap Dirga akan memberikan kecupan namun pemuda itu terlalu lugu. Bahkan untuk berbuat lebih pun dia tidak berani. Malam itu dihabiskan keduanya untuk saling mengenal satu sama lain, Dirga menceritakan semangat tentang dirinya. Termasuk keadaannya yang miskin, tidak berpendidikan serta sering mendapatkan cemoohan dari orang-orang."Dulu beberapa tahun yang lalu aku memiliki masalah pada kulit. Setiap hari bergelut di kandang ternak, bek
Bella memberanikan diri, ia menyentuh milik Dirga yang berdiri di balik celana. Hangat dan membuat Bella merasa semua penasaran, pelan-pelan ia memegang benda itu dan mengusapnya. Matanya terpejam seperti sedang membayangkan sesuatu, namun tiba-tiba Dirga menggeliat. Posisi tidurnya berubah dari terlentang jadi miring, karena takut Dirga terbangun maka Bella lepaskan tangannya. "Aaah, itu gede banget. Selain wajahnya tampan, dia juga memiliki pesona sebagai pria sempurna yang bisa memuaskan aku di ranjang. Mungkin begitu," ucap Bella dalam hati. Malam itu dihabiskan Bella dengan begadang, pikirannya berkecamuk. Kedekatan dengan seorang pria yang merupakan satpam di komplek perumahan miliknya, baru kali ini membuat Bella bergetar. Semacam ada desiran di jantung, rasa penasaran dan juga keinginan untuk mencoba petualangan terlarang. Pagi hari Dirga bangun lebih awal, sementara Bella baru aja tertidur. Namun saat Dirga membuka mata, ia terkejut sebab posisinya kini berada di atas
Dirga tak bermaksud untuk menyentuh bagian pribadi Bella, begitu mendengar Bella berkata demikian wajah Dirga langsung merona. "Ma--maaf, aku cuma mau bersihin percikan kopi aja, Mbak. Enggak bermaksud ke sana," ujar Dirga gugup. "Hmmm, enggak apa-apa. Ternyata kamu lucu juga ya, hahaha!" Bella tertawa. Rumah yang ditempati Bella berada tepat di samping tembok besar yang memisahkan komplek pemakaman dengan perumahan. Saat malam semakin larut, suasana di tempat itu begitu hening. Dirga dan Bella mengobrol untuk saling mengenal satu sama lain, biasanya Bella jarang tidur di tempat itu hanya sesekali saja. "Aku tidur dulu ya," pamit Bella, perempuan berparas cantik itu menguap sambil menutup mulutnya. "Selamat beristirahat, Mbak," balas Dirga. Terlihat jelas bahwa wajahnya sedang mengantuk, Dirga langsung mengambil gelas kopi untuk dibersihkan di dapur. Waktu menunjukkan pukul 11.30 malam, Dirga masih duduk di kamar sambil mendengarkan radio yang selama ini menjadi alat pemutar musik
Untungnya setelah malam itu, Bu Anna dan Pak Sadewo seperti berusaha melupakannya. Keduanya tampak lebih harmonis, sikapnya pun yang tadinya ketus pada Dirga dan satpam lainnya berubah menjadi ramah. Sesekali Bu Anna atau Sadewo memberikan uang kopi dan gorengan pada penjaga yang shift malam. Perumahan yang baru jadi itu masih sepi, baik siang ataupun malam. Jumlah penghuni masih jarang, Bella selaku pemilik properti seringkali sibuk melayani calon pembeli rumah. Meski tergolong rumah subsidi, namun bangunan di sana cukup bagus dan memiliki kualitas material yang teruji. Dalam hal pengembangan, Bella enggan menggunakan bahan yang asal pasang karena baginya kepercayaan pelanggan nomer satu. Siang itu, Dirga shift pagi. Di halaman depan kantor pemasaran yang masih tutup datang suami istri yang turun dari sebuah mobil. Keduanya masih tampak muda, tampan dan cantik. Dari pakaiannya, seperti orang kantoran yang kebetulan mampir untuk memeriksa rumah. "Kantornya buka jam berapa, Mas?" ta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews