Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa

Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa

last updateLast Updated : 2026-07-23
By:  JagadUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
13Chapters
44views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dirga, pria miskin yang dikenal sebagai perjaka tua, memiliki masalah kesehatan kulit dan bau badan tersandung hutang sejak lama, hidupnya sengsara karena semua orang menghina dan para perempuan menjauhi. Hidupnya berubah ketika bertemu seekor burung pipit ajaib yang memberinya kekuatan pemikat tingkat dewa.

View More

Chapter 1

Perjaka Tua

"Lebih keras lagi, Mas ... aku mau keluar! Aaaah!" Shanti menggeliat, dengan posisi terlentang dan kedua kaki yang terbuka lebar dia memandang wajah pria yang ada di depannya. Hentakan itu semakin lama semakin keras, Shanti merasakan geli di sekujur badan, kakinya terasa tak bertenaga dan napasnya yang terengah-engah.

Pelukan Shanti semakin mengencang, namun belum juga ia mencapai puncak kenikmatan itu tiba-tiba ia rasakan semburan pelan membasahi Goa keramat.

"Maaf," ucap pria itu tersenyum, lalu ambruk di sisi Shanti.

"Kok udah? Nanggung banget. Padahal sedikit lagi aku----," suara dengan nada kecewa keluar dari bibir Shanti.

"Ngomong apa sih? Perempuan itu enggak wajib merasa puas, tugasnya cuma melayani suami," kilah pria itu.

Shanti segera duduk, ia mengambil handuk menutupi Goa keramat miliknya.

"Tapi aku juga pingin kaya perempuan lainnya, Mas ... jadi perempuan sempurna yang bisa merasakan kenikmatan bareng suami," protes Shanti. Dia melihat perkutut suaminya yang berukuran kecil sudah loyo.

"Coba cari obat kuat, atau therapy gitu. Masa iya baru dua menit langsung out!"

"Heh, Shanti. Kemampuan aku cuma segitu! Berisik banget! Kalau mau puas, cari pria lain sana!" ujar pria tadi. Wajahnya muram, ia bangkit dan segera berpakaian seperti semula membiarkan Shanti yang bengong di ranjang.

_____

Di sisi desa lainnya ....

Perempuan berusia 65 tahun menangis sesenggukan, ia duduk bersimpuh sambil memeluk kambing jantan miliknya. Namanya Sukiyem. Sudah beberapa tahun terakhir hidup terguncang akibat tagihan hutang yang semakin hari semakin besar jumlahnya.

"Bayar hutangmu! Ini sudah jatuh tempo!" bentak seorang pria berjaket kulit kusam dengan anting di telinga serta lengan yang dipenuhi tato. Dia tidak datang sendiri, ada dua orang lelaki lain yang juga berwajah sangar berdiri di belakangnya.

"Kami belum punya uang, tunggulah dua bulan lagi biar nanti aku jual kambingku yang paling besar ini. Setidaknya dua bulan lagi, harganya lebih tinggi," kilah perempuan itu.

"Hutangmu sudah jatuh tempo lewat seminggu, aku tak punya kesabaran lebih. Pokoknya kambing ini harus kami bawa, paling tidak untuk membayar bunganya aja!" sambung pria lain yang tadi hanya berdiri sambil mengamatinya.

"Jangan, Den. Jangaaaan!" sekuat tenaga perempuan tua itu mempertahankan tali yang mengikat leher kambing dari rampasan para penagih hutang.

Braaak!

"Mampus!" Bukannya iba, salah satu dari mereka justru mendorongnya keres perempuan itu hingga jatuh ke tanah dengan hempasan keras.

"Deeen, kembalikan kambing itu. Saya janji akan bayar!" Sukiyem segera bangkit, ia coba merebut kembali kambing tadi hingga salah satu pria mengambil celurit dari ikat pinggang.

"Maju selangkah lagi, aku tebas lehermu!" ancam orang itu, Sukiyem kali ini tak bisa berbuat banyak. Tubuhnya lemas lalu terjatuh hingga hanya bisa berdiri di atas lutut sambil meratapi kambingnya yang dibawa pergi para penagih hutang.

"Selama ini aku rutin membayar bunga, tapi mereka tak memberikan kesempatan sama sekali. Padahal seharusnya kambing itu cukup untuk membayar hutang sekaligus bunganya," ratap perempuan itu sambil menangis.

Kondisi desa pagi itu cukup ramai orang berlalu-lalang, namun tak ada yang perduli seolah apa yang terjadi saat itu merupakan sesuatu yang normal.

Berselang sekitar sepuluh menit, seorang pria berusia 35 tahun yang berkulit sawo matang dengan bintik panu di hampir seluruh badan datang sambil membawa seikat rumput yang ia gendong dengan pundaknya.

"Bu, kenapa lagi?" Melihat perempuan renta itu menangis, maka pria itu langsung menjatuhkan rumput ke tanah, ia membantu ibunya berdiri.

"Mana Bejo?" Setelah ibunya bisa berdiri dengan benar, pria itu langsung mencari kambing miliknya yang seharusnya ada di kandang.

"Anak buah Pak Wira membawa kambingmu si Bejo, Nak. Katanya buat bayar bunga hutang kita," jelas si ibu.

"Memangnya berapa bunga hutang itu, Bu?"

"Empat ratus ribu katanya, padahal dulu cuma hutang satu juta untuk selamatan 1000 hari bapakmu,"' imbuh Sukiyem. Lelaki itu tak menjawab, ia menuju kandang bebek yang ada di belakang rumah. Dengan sebuah keranjang besar ia memasukkan sepuluh ekor bebek lalu diangkut menggunakan sepeda onthel menuju rumah apak Wira, pria kaya yang sehari-hari bekerja dengan cara meminjamkan uang tanpa jaminan pada warga.

"Dirga, kamu mau apa? Dirga?" Sukiyem bangkit, ia tahu anaknya itu tak akan rela jika Bejo disita oleh Pak Wira.

Setengah jam perjalanan dengan menyusuri jalan setapak perkampungan, pria bernama Dirga itu sampai juga di rumah Pak Wira.

"Permisi, Pak. Tadi anak buah bapak membawa kambing milik kami, katanya untuk bayar bunga hutang," dengan nada sopan pemuda itu bicara, tangannya gemetar dan napasnya ngos-ngosan.

Pak Wira yang sedang duduk bersama anak buahnya sore itu lekas berdiri. Dia terkejut dengan kedatangan pria yang dikenal sebagai perjaka tua di kampung ini.

"Kamu masih berani memperlihatkan muka padaku setelah gagal bayar hutang?! bentak Pak Wira.

"Jangan ambil kambing itu, beberapa bulan lagi harganya akan naik. Saya rasa cukup untuk membayar semuanya,"

"Bukan urusanku. Emangnya aku lembaga amal?! Sana pergi!" usir Pak Wira.

"Saya tak akan pergi sebelum kambing itu kembali bareng saya. Sebagai gantinya, ini ada sepuluh bebek kalau dijual bisa mencapai enam ratus ribu, Pak," Dirga menyerahkan keranjang berisi bebek-bebek jantan dewasa.

"Jiiih! Bau sekali! Kamu mau buat aku muntah ya? Kurang ajar!" Pak Wira semakin emosi, beberapa anak buahnya langsung maju siap memberi pelajaran bagi perjaka tua tadi.

"Biarkan saja dia bawa kambingnya, Pak. Kasian, toh dia kasih bebek sebagai ganti," saat kericuhan hampir terjadi tiba-tiba Lastri, anak Pak Wira keluar dari ruangan depan.

"Lastri, bapak ini menjalankan usaha pinjaman. Kamu jangan mudah kasihan sama orang, apalagi macam Dirga dan ibunya itu, hutangnya banyak enggak cuma pada kita,"

"Aku yakin dia akan memenuhi janjinya. Biarkan saja, toh sekarang harga bebek lagi bagus. Nilainya lebih tinggi dari seekor kambing yang belum dewasa itu," lanjut Lastri.

"Aaaakh! Sudahlah, bawa pergi kambingmu itu. Awas kalau kamu telat bayar, habis kalian!" mendapatkan desakan dari putrinya sendiri akhirnya Pak Wira luluh. Dirga lekas menukar kambing tersebut dengan sepuluh ekor bebek, tak lupa ia memandang Lastri yang kali ini bertindak sebagai dewa penyelamat.

"Mbak Lastri, terimakasih," ucap Dirga sambil membungkukkan badannya. Ia kemudian pergi begitu saja.

Kambing itu dia gendong di pundak sambil menggandeng sepeda onthel miliknya. Ada rasa senang sebab biasanya Pak Wira tak akan pernah bisa diajak rembukan. Namun begitu Dirga sampai di rumah, beberapa tetangga berdiri di halaman depan hingga ke dalam rumah.

"Pakde, ada apa ini?" tanya Dirga sambil mengikat Bejo pada sebuah batang pohon jambu yang tumbuh di samping rumah.

"Ibumu, Nak. Dia ... meninggal dunia barusan. Dia pernah mengeluh soal jantung yang bermasalah," ucap pria yang akrab dipanggil pakde itu.

"A--apa?! Pakde jangan bercanda!" Wajah Dirga langsung berubah yang tadinya ceria karena berhasil membawa kambingnya pulang berganti muram hampir meneteskan air mata.

Dirga berlari ke dalam rumah, terlihat ibunya terpejam dengan wajah pucat dan kulit yang dingin.

"Bu, Bejo sudah aku bawa pulang, Bu. Kenapa Ibu malah matiiii?! Bu, bangun!" Dirga mengguncang bahu ibunya, tak ada reaksi.

"Maafkan aku, Buuu! Ibuuuu! Jangan tinggalkan aku!" Dirga menangis seperti anak kecil, ia memeluk jasad ibunya dengan air mata yang tertumpah.

"Kasian Sukiyem. Di masa tuanya ia hidup menderita, mana anaknya tak kunjung menikah padahal Sukiyem berharap Dirga menikah seperti para pria normal lainnya," bisik seorang ibu-ibu pada temannya.

"Halah, siapa yang mau sama pria miskin seperti dia?! Badannya panuan, wajahnya pas-pasan, miskin pula. Aku kalau punya anak gadis pun pasti aku larang bergaul sama Dirga," balas Ibu-ibu lain.

"Perjaka tua itu seharusnya sudah punya anak, tapi memang nasibnya sial aja. Hampir 40 tahun tapi masih lajang, malang nian nasib keluarga ini," suara lainnya ikut terdengar.

"Coba pikir, masih lajang aja enggak punya uang. Mana ada perempuan yang mau! Hahaha!"

Cemoohan terus terdengar dengan nada sumbang tak perduli orang yang dibicarakan sedang berdukacita atas kematian sosok terpenting dalam hidupnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
13 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status