Matanya menatapku tajam, ada sesuatu di dalamnya, seperti bara yang akan membakar habis diriku.
Tatapan itu membuat seluruh tubuhku terasa lemah di hadapannya, meleleh dalam dekapannya.
Aku gugup dan berpikir, 'Akan kulakukan apa saja untuk membuat dia melepaskan diriku.'
Aku sudah bersiap hendak berjanji untuk tidak menyerangnya, ketika aku merasakan sesuatu perlahan membesar dan mengeras, menekanku tepat di tempat yang paling sensitif itu.
Destriana Maurice terjebak di antara dua pilihan. Ia dipertemukan oleh laki-laki itu melalui laki-laki yang lain. Atensinya disedot habis oleh Sang Adik yang sifatnya berbanding terbalik dengan Sang Kakak.
Semuanya mungkin akan menjadi mudah... jika Sang Kakak tidak berniat melamar Destriana sejak awal perjumpaan mereka.
Seorang anak laki-laki yang hidup penuh kemiskinan sehingga ia hanya bisa mengunyah permen karet yang sudah lama ia miliki dan hanya itu satu-satunya yang dia miliki,kini telah berubah menjadi sosok yang sangat kuat dan tidak kenal takut siapapun.
Rayen Akinson yang rela menjadi simpanan wanita kaya raya demi bisa hidup dengan layak. ia bahkan hanya menjadi pemuas ranjang bagi Anna White Stopher yang sudah berstatus sebagai istri dari pria lain. Hanya satu syarat yang diberikan oleh Anna saat itu. “Jangan sampai kau jatuh cinta padaku!” Itulah pesan Anna pada Rayen. Karena jika Rayen jatuh cinta padanya maka Anna akan membuangnya dan menggantikannya dengan laki-laki lain.
"Aku tidak bisa ... maaf," katanya lirih.
Wanita yang masih memakai gaun penganten itu terdiam. Harusnya dia percaya dengan desas-desus yang berkaitan dengan pria di depannya.
Apa yang lebih berat dibanding ujian menikah dengan laki-laki penyuka sesama jenis?
18+
Dalam rumah tangga mereka, cinta saja rasanya tidak cukup. Keikhlasan harus mereka tumpahkan dalam cinta yang bertaut tak hanya pada satu hati.
Bagaimana jika harus bersuami sama dengan kadar cinta yang tidak diketahui? Adakah rasa cemburu, sedang kehidupan cinta itu tampak baik-baik saja?
Kisah cinta tak biasa. Antara Rendra, Kresna, Tessa, Kanti, dan Wanda. Satu laki-laki dengan empat istri. Adakah rahasia di balik harmonis kisah mereka?
Follow me on:
• Facebook: Kim Sumi Ryn
• IG: @sumi_ryani9
Happy reading ️
Kupikir alasan utama kenapa perempuan seringkali didorong untuk punya pendidikan tinggi supaya bisa kerja setara itu kompleks dan cukup menyebalkan kalau dipikir panjang. Dari pengalamanku ngeliat proses rekrutmen dan ngobrol sama teman-teman, gelar sering dipakai sebagai 'jaminan' oleh perusahaan—padahal itu cuma satu dari banyak tanda kompetensi. Sayangnya, bias gender masih kuat; banyak pewawancara tanpa sadar memasang standar lebih tinggi untuk perempuan karena ada anggapan mereka akan cuti melahirkan, pindah prioritas, atau kurang 'committed'. Jadi perusahaan minta gelar lebih tinggi untuk menutup kemungkinan perceived risk itu.
Selain itu, adanya credentialism—kultur di mana kualifikasi formal diletakkan di atas pengalaman nyata—membuat perempuan yang mungkin sempat vakum karena keluarga harus mengejar gelar atau sertifikat agar dipandang setara. Aku juga melihat kalau jaringan dan akses ke peluang sering berlapis: pria kadang dapat promosi lewat koneksi informal, sedangkan perempuan harus buktikan lewat dokumen resmi. Pendidikan tinggi memberi perempuan alat negosiasi: kata-kata yang tepat di CV, referensi akademis, dan algoritma-percaya yang membuat resume mereka lebih 'lewat'.
Bukan berarti gelar itu solusi tunggal. Kita butuh perubahan budaya kerja — kebijakan cuti yang adil, transparansi gaji, dan rekruitmen yang ngevaluasi skill nyata. Tapi sampai semua itu jalan, pendidikan tinggi jadi semacam 'pelindung' dan tiket agar perempuan dipandang setara. Aku sih berharap kelak gelar bukan lagi satu-satunya syarat; pengalaman, fleksibilitas, dan kemampuan harus dihargai setara juga.
Malam itu lagu itu terasa seperti selimut hangat untuk hari yang capek.
Maaf, aku tidak bisa memberikan lirik lengkap dari lagu itu. Namun aku bisa menggambarkan esensi dan suasana 'Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan' oleh 'Payung Teduh' dengan cukup detail. Lagu ini terasa seperti percakapan lembut antara dua orang: nadanya hangat, aransemen akustik yang sederhana, dan vokal yang penuh rasa membuat setiap baris terasa pribadi. Tema utamanya tentang keintiman, kenyamanan, dan momen-momen kecil yang bikin hati adem.
Secara musikal, aku suka bagaimana gitar dan perkusi halus memberi ruang pada vokal untuk bernapas; itu memberi kesan seperti sedang berbisik di telinga. Liriknya penuh citra puitis yang menggambarkan pelukan, hujan, dan waktu yang melambat—bukan lewat kata-kata bombastis, tapi lewat pilihan frasa yang mudah dirasakan. Jika kamu butuh, aku bisa merangkum bait-bait utama atau membahas makna metafora tertentu yang ingin kamu tahu. Aku selalu merasa lagu ini cocok diputar larut malam sambil menatap jendela, entah sendiri atau bersama seseorang, karena hangatnya benar-benar menempel di hati.
Ada momen dalam hidup di mana kata-kata bisa menyayat lebih dalam dari pisau. Salah satu yang paling sering kudengar dari cerita teman-teman perempuan adalah ketika pasangan mereka mengatakan 'Kamu terlalu berlebihan' saat mereka mencurahkan perasaan. Kalimat itu seperti menyangkal validitas emosi mereka, membuat mereka merasa dianggap remeh. Lalu ada juga 'Sudah, jangan dramatis'—frasa yang seolah mengubur kesedihan mereka sebelum sempat dipahami. Kata-kata seperti ini sering keluar dalam konflik, ketika seharusnya yang dibutuhkan adalah ruang untuk didengar, bukan dihakimi.
Di lain sisi, ada juga kalimat-kalimat yang lebih halus tetapi sama menyakitkannya, seperti 'Aku sibuk, nanti saja' yang diulang terus-menerus. Ini bukan sekadar penolakan waktu, tapi terasa seperti penolakan terhadap keberadaan mereka. Yang paling menusuk mungkin adalah 'Kamu bukan prioritasku sekarang'. Tidak ada wanita yang ingin merasa seperti opsi kedua, apalagi dari orang yang mereka cintai. Kata-kata ini bisa mengikis kepercayaan diri dan keamanan emosional perlahan-lahan, tetes demi tetes.
Membaca 'Perempuan Selalu Benar' seperti menyelami samudra pemikiran tentang bagaimana perempuan sering diposisikan dalam narasi sosial. Novel ini mengangkat tema agency perempuan, di mana protagonisnya secara aktif menolak stereotip pasif yang dilekatkan pada gender mereka. Adegan-adegan dialog yang tajam menyoroti bagaimana karakter utama menggunakan kecerdasan dan ketajaman verbal mereka untuk melawan dominasi laki-laki.
Yang juga menarik adalah eksplorasi novel tentang solidaritas perempuan. Bukan sekadar tentang persaingan atau rivalitas seperti yang sering digambarkan di media, melainkan bagaimana perempuan saling mendukung dalam menghadapi sistem patriarkal. Konflik batin tokoh-tokohnya menggambarkan pergulatan antara tuntutan sosial dan keinginan pribadi, sebuah tema yang relevan bahkan di era modern ini.
Ada sesuatu yang sangat menarik tentang bagaimana hubungan laki-laki dengan laki-laki digambarkan dalam budaya populer belakangan ini. Dari manga seperti 'Given' hingga drama Korea 'Semantic Error', representasi ini semakin beragam dan mendalam. Tidak lagi sekadar fanservice atau stereotip, tapi mulai mengeksplorasi dinamika emosional yang kompleks.
Yang paling keren menurutku adalah bagaimana beberapa karya justru menghindari label tertentu. Misalnya, 'Yuri!!! on Ice' tidak pernah secara eksplisit menyatakan orientasi karakter utamanya, tapi chemistry antara Viktor dan Yuuri terasa begitu alami. Ini menunjukkan bahwa storytelling yang baik bisa berbicara lebih lantang daripada label.
Pernah menemukan cerita fanfic tentang Phoenix dari 'Harry Potter' yang di-reimagine sebagai sosok laki-laki abadi dengan aura memikat. Plotnya mengisahkan persahabatannya dengan penyihir zaman kuno yang penuh intrik, diracik dengan nuansa mitologi dan sentuhan romansa forbidden love. Yang bikin nagih adalah cara penulis membangun chemistry-nya—dialog sarkastik tapi hangat, plus deskripsi visual burung api itu berubah wujud jadi manusia dengan rammerah menyala di bawah sinar bulan. Ada satu adegan di mana dia mempertaruhkan nyawa untuk melindungi karakter OC (original character) dari kutukan gelap, dan itu bikin aku nangis bombay di tengah malam.
Kalo suka cerita fantasi dengan elemen slow burn, coba cari judul 'Ashes of Eternity' di AO3. Penulisnya piawai memadangkan sisi mistis dan humanis. Personal favoritku bagian ketika Phoenix itu mengelus scar di punggung protagonis sambil berbisis, 'Kau lebih dari sekadar luka yang mereka berikan padamu.' Gila, itu lebih dalam dari kebanyakan novel published!
Lagu 'Perempuan yang Sedang dalam Pelukan' adalah karya penyanyi legendaris Indonesia, Iwan Fals. Aku ingat pertama kali mendengarnya di radio tua milik ayahku, suara serak khas Iwan langsung menusuk hati. Liriknya yang puitis tentang cinta dan kehilangan bikin merinding, apalagi dengan aransemen gitarnya yang sederhana tapi dalam.
Dulu waktu SMP, aku sering nyetel lagu ini pakai kaset bekas sambil ngerjain PR. Sampe sekarang, setiap dengar intro-nya, rasanya kayak dibawa kembali ke masa itu—masa di mana musik bukan sekadar hiburan, tapi teman cerita.
Menggali sejarah peradaban Islam, sulit mengabaikan sosok seperti Umar bin Khattab. Figur ini bukan sekadar pemimpin, tapi arsitek sistem pemerintahan yang revolusioner di masanya. Bayangkan, di era kekhalifahannya, sistem administrasi modern mulai terbentuk - mulai dari sensus penduduk hingga pengadilan independen.
Yang personal bagi saya adalah bagaimana beliau membangun budaya malu berbuat korupsi. Konon, gubernur-gubernur di bawahnya sering menangis ketika menerima gaji karena merasa belum bekerja maksimal. Kisah-kisah semacam ini yang membuat saya selalu merinding, menunjukkan standar integritas yang nyaris mitologis di zaman sekarang.
Pramoedya Ananta Toer mungkin lebih sering disebut, tapi jangan lupa Dee Lestari! Karyanya yang epik 'Supernova' sempat diadaptasi jadi film meski dengan judul berbeda. Aku pertama kali baca 'Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh' waktu SMA, dan langsung terpukau dengan cara Dee membangun dunia sci-fi dalam setting Indonesia. Film adaptasinya memang beda banget dengan bukunya (seperti biasa, hehe), tapi setidaknya membuka gerbang buat banyak orang buat mengenal karya-karya Dee yang lain kayak 'Aroma Karsa' yang baru-baru ini terbit.
Dee punya gaya bercerita yang unik, campuran sains, filosofi, dan budaya lokal. Yang bikin karyanya menarik adalah cara dia mengeksplorasi isu-isu sosial tanpa terasa menggurui. Meskipun film adaptasi 'Supernova' enggak sesukses harapan banyak fans, tapi buat aku justru itu jadi pembuka percakapan seru di komunitas buku online tentang tantangan mengadaptasi novel kompleks ke layar lebar.
Bicara soal mahkota perempuan, sosok Andrea Hirata langsung melintas di kepala. Lewat 'Laskar Pelangi', ia menggambarkan bagaimana perempuan seperti Ibu Muslimah menjadi mahkota keluarga dengan ketegaran dan cinta tanpa syarat. Tapi kalau mau lebih dalam lagi, ada Pramoedya Ananta Toer yang melalui 'Gadis Pantai' memotret perempuan sebagai mahkota peradaban yang justru diinjak oleh feodalisme.
Yang menarik, kedua penulis ini membahas mahkota perempuan dari sudut berbeda. Andrea lebih romantis, sementara Pram menyodorkan realita pahit. Aku pribadi lebih terkesan dengan cara Pramoedya membongkar paradoks: di satu sisi perempuan diagungkan sebagai mahkota, tapi di sisi lain diperlakukan sebagai warga kelas dua. Ini bikin aku sering merenung tentang makna sebenarnya dari ungkapan 'mahkota perempuan' itu sendiri.