Masih belum bisa move on dari kisah cintanya yang telah kandas tiga tahun yang lalu membuat Mayang harus bertemu dengan atasannya yang baru. Atasan tersebut kakak tingkat semasa kuliah yang dulu pernah membantunya saat dihukum ketika OSPEK.
Apakah Mayang bisa membuka hati untuk Dia? atau Mayang memilih sendiri karena masih terbayang masa lalunya?
WARNING!
BUKU INI PENUH ADEGAN DEWASA! BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN! TIDAK UNTUK BAHAN OLOKAN PORNOGRAPHY.
Mengisahkan seorang laki-laki bernama Steven Alessio. Dia terjebak pada seorang wanita yang baru dikenalnya hingga mengakibatkan terjadinya pembunuhan pada istrinya. Saat Steven hendak membalas dendam, dirinya terjebak pada keluarga wanita tersebut hingga terbongkarnya semua kebobrokan keluarganya. Itu adalah awal merasakan; Sebuah Penyesalan.
Sebuah Penyesalan apa itu?
Aku sempat berpikir bahwa aku tidak seberuntung seperti orang yang sangat beruntung di planet ini.
Aku Tere. Gadis yang hidup sebatang kara dan hanya berteman dengan kesunyian dan kegelapan.
Sejak usiaku 7 tahun, aku telah kehilangan keluarga ku. Bukan karena kecelakaan melainkan karena mereka tega membuang ku ke jalanan.
Entah apa salahku? Aku tidak cacat dan aku juga tidak meminta untuk di lahirkan ke dunia ini. Tapi mereka sangat tega kepadaku? Mereka tega membuang ku ke jalanan dengan alasan aku hanya membawa kesialan di dalam kehidupan mereka.
Saat itu aku berusaha memohon agar mereka tak meninggalkan ku di tempat asing ini. Tapi tak satupun di antara mereka memiliki keinginan untuk membawaku pulang.
Mereka membawa ku jauh dari rumah agar tak satupun ada orang yang mengenaliku ataupun mengenali keluargaku.
Mereka meninggalkan ku seorang diri di tempat ini dalam kondisi kelaparan. Tubuhku yang kurus ini juga merasa sangat kedinginan karena hujan deras mengguyur tubuhku.
Aku berusaha berjalan untuk mencari pertolongan, tapi sepertinya tempat ini jauh dari pemukiman warga karena tak melihat seorang pun melewati tempat ini.
Karena tubuh kurus ku ini tak sanggup menahan rasa dingin yang menusuk hingga terasa sampai ke tulang akhirnya aku pun perlahan lemas karena perutku juga sangat kelaparan.
Langit pun perlahan mulai gelap dan hujan semakin deras, tubuhku mulai sangat lemas hingga akhirnya aku terjatuh dan tak sadarkan diri.
Bagaimana nasib Tere selanjutnya? Temukan kisahnya dalam bab- bab yang telah di suguhkan untuk anda para pembaca setia Good Novel.
Selamat membaca
Salam dari saya buat kalian semua
_Riri Kaori_
Perbedaan status yang memisahkan mereka yang diakhiri dengan kerelaan gadis itu melihat pasangannya memiliki kehidupan yang bahagia bersama dengan keluarganya, itulah cerminan cinta sejati dari gadis lugu itu.
Esti tidak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya yang harmonis, seketika terguncang kala menemukan hubungan aneh Haris dengan seorang biduan. Hatinya remuk, tapi Esti memilih untuk tetap berdiri! Lantas, bagaimana kisah Esti selanjutnya?
Mencintai dengan tulus seorang Bryan, tetap tak membuat pria tampan itu melirik seorang Jolie Harper, dokter estetik cantik asal London yang banyak dikagumi oleh para kaum adam. Sayangnya meski banyak yang tergila-gila pada Jolie, tetap yang diinginkan oleh wanita cantik itu adalah Bryan McKinney. Bahkan di kala Jolie hanya dijadikan barang taruhan, tetap tak membuat cinta wanita itu pudar.
Sampai suatu ketika ada benih yang berada di rahim Jolie, dan membuat keduanya menjadi terikat. Lantas bagaimana kelanjutan kisah Bryan dan Jolie? Akankah cinta Bryan akhirnya luluh pada sosok Jolie yang memberikannya ketulusan?
***
Follow me on IG: abigail_kusuma95
Ada satu momen di 'Clannad: After Story' yang selalu bikin mata berkaca-kaca. Tomoya akhirnya bisa berdamai dengan masa lalunya dan menyadari arti keluarga. Adegan di lapangan bunga dengan Nagisa dan Ushio itu sederhana tapi punya kedalaman emosi yang luar biasa. Musik latarnya, 'Dango Daikazoku', bikin momen itu semakin menusuk hati.
Yang bikin epilog ini istimewa adalah perjalanan panjang karakter utama. Kita melihat Tomoya tumbuh dari pemuda pemarah menjadi ayah yang penyayang. Epilognya bukan sekadar happy ending, tapi penyelesaian sempurna untuk semua penderitaan dan kebahagiaan yang ditampilkan sepanjang cerita.
Epilog tanpa prolog sebenarnya cukup sering ditemui dalam film-film modern, terutama yang mengandalkan alur cerita linear. Ambil contoh 'The Dark Knight'—film ini langsung terjun ke aksi tanpa prolog panjang, tapi menutup dengan epilog kuat yang menyelesaikan arc karakter Joker.
Alasannya sederhana: prolog kadang dirasa memperlambat pacing, sementara epilog memberi rasa closure. Tapi ini sangat tergantung genre. Film misteri atau fantasi lebih mungkin pakai prolog untuk world-building, sementara thriller atau drama sering skip prolog dan fokus di ending yang memorable.
Ada sesuatu yang memikat tentang bagaimana sebuah novel bisa membungkus ceritanya, bukan? Prolog dan epilog ibarat pintu masuk dan keluar dari sebuah dunia imajinasi. Prolog biasanya jadi pembuka yang menyiapkan panggung—memberi latar belakang, atmosfer, atau bahkan kilasan peristiwa sebelum cerita utama dimulai. Misalnya, di 'The Name of the Wind', prolognya menciptakan aura misteri tentang tokoh utama tanpa langsung menceritakan hidupnya.
Epilog, di sisi lain, seperti aftertaste yang tertinggal setelah menutup buku. Ia bisa menjawab pertanyaan yang tersisa, menunjukkan konsekuensi jangka panjang, atau sekadar memberikan closure yang memuaskan. Contohnya, epilog 'Harry Potter and the Deathly Hallows' yang melompat ke masa depan memberi rasa lega sekaligus nostalgia. Keduanya bukan sekadar hiasan; mereka alat naratif yang, jika digunakan dengan tepat, bisa mengubah cara pembaca merasakan seluruh cerita.
Bicara soal epilog dan prolog, rasanya seperti membuka pintu masuk ke dunia lain. Prolog itu ibarat trailer film—memberi gambaran awal tentang apa yang akan terjadi, tapi tanpa spoiler. Misalnya di 'The Lord of the Rings', prolognya menjelaskan latar belakang Ring dengan narasi epik. Sedangkan epilog lebih seperti bonus scene setelah credit roll, kayak di 'Harry Potter and the Deathly Hallows' yang kasih closure kehidupan karakter 19 tahun kemudian.
Untuk pemula, coba bandingkan prolog/epilog di novel dengan adaptasi filmnya. Contohnya 'Dune'—prolog bukunya panjang banget soal politik antarplanet, tapi di film 2021 disederhanakan jadi visual yang memukau. Epilog juga nggak selalu wajib; beberapa cerita seperti 'Inception' justru lebih powerful karena ending ambigu tanpa epilog.
Epilog tanpa prolog dalam novel itu seperti menemukan potongan puzzle terakhir tanpa tahu gambaran besarnya—menimbulkan rasa penasaran sekaligus kebingungan yang unik. Biasanya, prolog berfungsi sebagai pintu masuk ke dunia cerita, memberi konteks atau latar belakang sebelum narasi utama dimulai. Tapi ketika sebuah novel memilih untuk langsung menampilkan epilog, efeknya bisa sangat berbeda tergantung bagaimana penulis mengolahnya. Ini bisa jadi teknik sengaja untuk membuat pembaca meraba-raba, atau sekadar gaya bercerita yang minimalis.
Dalam beberapa kasus, epilog tanpa prolog terasa seperti kilas balik yang tiba-tiba. Misalnya, di 'Haruki Murakami's Kafka on the Shore', meski tidak ada prolog eksplisit, epilognya justru meninggalkan kesan mendalam dengan menggantung pertanyaan filosofis. Tanpa pengantar, pembaca dipaksa untuk menyelami cerita lebih dalam dan menafsirkan sendiri hubungan antara epilog dan alur utama. Ini seperti diundang ke pesta tanpa tahu tema acaranya—membuat pengalaman membaca jadi lebih personal.
Di sisi lain, ada juga novel yang menggunakan epilog tunggal sebagai alat untuk mengejutkan pembaca. Bayangkan membaca kisah romantis biasa, lalu tiba-tiba epilognya mengungkap bahwa semua yang terjadi adalah mimpi atau simulasi. Tanpa prolog yang 'mempersiapkan' pembaca, twist semacam itu bisa terasa lebih menohok. Tapi risiko besar dari pendekatan ini adalah potensi kebingungan jika epilog terlalu abstrak atau tidak terkait jelas dengan alur sebelumnya.
Yang menarik, beberapa penulis sengaja menghilangkan prolog untuk menciptakan epilog yang berfungsi sebagai 'a-ha moment'. Contohnya, epilog di 'Gone Girl' justru menjadi kunci memahami seluruh karakter Amy. Tanpa prolog yang mungkin bisa 'memihak', pembaca dibiarkan terombang-ambing oleh narasi yang tidak bisa sepenuhnya dipercaya sampai detik terakhir. Ini seperti magang sastra—kita belajar kebenaran sambil jalan, bukan dari manual di awal.
Terlepas dari gaya penulisannya, epilog tanpa prolog selalu meninggalkan ruang untuk interpretasi. Sebagai pembaca, aku justru sering menemukan kenikmatan dalam mencoba menghubungkan titik-titik yang sengaja dibiarkan terpisah. Tapi memang, butuh novelis berbakat untuk membuat struktur seperti ini terasa memuaskan, bukan sekadar mengada-ada.
Ada sensasi khusus ketika sebuah cerita langsung menyergapmu dengan epilog tanpa prolog—seperti menemukan potongan puzzle terakhir tanpa pernah melihat gambarnya utuh. Teknik ini sering dipakai untuk menciptakan misteri atau kesan fragmentaris, misalnya di 'Haruki Murakami' yang suka menghilangkan konteks awal. Aku ingat betul bagaimana 'Kafka on the Shore' membuatku meraba-raba makna, tapi justru itu yang bikin ceritanya terasa seperti mimpi.
Dari sudut pandang kreatif, epilog solo bisa jadi alat karakterisasi. Bayangkan kita langsung disuguhi nasib akhir tokoh tanpa tahu perjalanannya—ini memaksa pembaca untuk merekonstruksi masa lalu lewat subteks. Serial 'Black Mirror' pernah melakukannya di episode 'White Christmas', di mana twist akhir justru menjadi pintu masuk untuk menebak seluruh plot.
Prolog dalam drama sering menjadi batu loncatan emosional yang memikat, tapi bukan keharusan mutlak. Aku pernah terlibat dalam diskusi panas di forum penggemar teater tentang bagaimana 'Death of a Salesman' justru lebih kuat tanpa prolog—kita langsung terjun ke konflik Willy Loman, dan itu menciptakan efek kejut yang memorabel. Di sisi lain, prolog di 'Romeo and Juliet' yang memberitahu ending justru membangun ironi tragis yang indah.
Tergantung niat sutradara atau penulis naskah. Prolog bisa jadi pisau bermata dua: jika terlalu panjang atau menjelaskan segala hal, ia menghilangkan misteri. Tapi dalam serial seperti 'Breaking Bad', monolog Walter White di episode pertama adalah prolog sempurna yang menggiring penasaran tanpa merusak alur.
Sering aku terpikat melihat bagaimana sebuah epilog bisa jadi obat penutup yang manis atau obat pahit yang ninggalin rasa campur aduk di mulut. Buatku, epilog itu berfungsi untuk merapikan subplot yang selama seri cuma berkedip di latar: kisah cinta sampingan yang nggak sempat dikuliti, kisah sahabat yang cuma muncul di beberapa episode, atau konflik kecil yang kerap dipakai sebagai motif berulang. Kadang epilog muncul sebagai adegan singkat yang nunjukin nasib karakter minor, memberi nuansa kalau dunia cerita itu tetap hidup setelah klimaks utama reda.
Selain penutup karakter, aku suka kalau epilog dipakai untuk menunjukkan konsekuensi jangka panjang—misalnya kerusakan yang ditinggalkan perang atau keputusan moral yang punya efek domino. Di beberapa serial, epilog juga jadi tempat untuk time-skip; kita diberi kilasan masa depan untuk lihat siapa yang bertahan, siapa yang berubah, dan bagaimana dunia cerita merespons peristiwa besar. Formatnya bisa berbeda-beda: montage, voice-over, atau sekadar teks di layar yang bilang "lima tahun kemudian".
Dan jangan lupa, epilog sering dipakai untuk menyiapkan pintu spin-off atau film penutup khusus. Contohnya, ada yang tetap nggak rela melepas nasib satu karakter lalu dibikin film khusus sebagai epilog lebih panjang—itu semacam hadiah untuk fans yang kepo. Intinya, epilog ngurus banyak subplot kecil dan kadang-kadang bikin seluruh cerita terasa lebih lengkap, meski kadang juga meninggalkan misteri baru yang bikin debat panjang di forum.
Prolog dalam 'The Name of the Wind' oleh Patrick Rothfuss benar-benar menghantam seperti petir. Aku masih merinding mengingat bagaimana narator misterius mulai bercerita tentang 'silence of three parts' yang begitu puitis. Itu seperti mantra yang langsung menarikmu ke dunia Temerant. Sementara epilog di 'The Book Thief'—duh, air mataku meleleh setiap kali mengingat Death yang berbisik tentang nasib Liesel di halaman terakhir. Zusak itu jenius dalam membuat penutup yang terasa seperti pelukan sekaligus pisau belati.
Buku klasik seperti '1984' juga punya epilog mengerikan dengan lampiran tentang Newspeak yang bikin merenung seminggu. Prolog 'The Eye of the World' (Wheel of Time) dengan Lews Therin yang gila? Robert Jordan langsung menancapkan kuku dunia raksasanya di situ. Aku selalu suka bagaimana prolog/epilog bisa menjadi miniature sempurna dari seluruh cerita—seperti sampel rasa sebelum makan atau aftertaste yang bertahan lama.
Prolog dalam buku dan film memiliki peran yang sangat berbeda, meskipun keduanya berfungsi untuk memperkenalkan cerita. Dalam buku, prolog sering kali memberi konteks yang lebih mendalam mengenai karakter atau dunia yang akan dijelajahi. Misalnya, dalam novel-fantasi seperti 'Lord of the Rings', prolognya menciptakan latar belakang sejarah yang sangat kaya dan menambah bobot pada pemahaman kita tentang konflik yang akan datang. Pembaca diperbolehkan untuk tenggelam secara perlahan, berbagi petualangan mental yang intim dengan karakter dan dunia yang kompleks.
Sebaliknya, prolog dalam sebuah film cenderung lebih ringkas dan langsung. Di banyak film seperti 'The Lord of the Rings' versi layar lebar, pembukaan sering kali berupa cuplikan visual yang menakjubkan, menyajikan gambaran cepat tentang dunia yang akan diceritakan. Film perlu menarik perhatian penonton dalam sekian menit pertama karena, berbeda dengan buku, mereka tidak memiliki cukup waktu untuk memasuki perasaan atau sejarah mendalam. Ini membuat perbedaannya mencolok, dan terkadang ada informasi penting yang mungkin terlewat dalam adaptasi film, kecuali jika mereka memperluasnya dengan narasi suara atau flashback yang cerdas untuk memberikan momen itu.
Jadi, keduanya memiliki kekuatan unik yang berfungsi dengan cara berbeda; buku lebih pada eksplorasi sementara film lebih pada visualisasi yang impact. Untuk para penggemar, mengalihkan dari satu medium ke yang lain sering kali harus melakukan penyesuaian, menerima pembeda eklektik dalam penyampaian cerita.