Warisan yang seharusnya menjadi milik Nurma, malah dijual oleh kakak laki-lakinya setelah orang tua mereka tiada. Bukannya menjadi pelindung untuk adik perempuan satu-satunya. Usman dan Halim malah berbuat dzolim. Bahkan tempat yang menjadi mata pencaharian Nurma dan suaminya pun tak luput dari incaran mereka.
Bagaimana Nurma dan suaminya memulai hidup dari nol. Apakah akan datang pertolongan yang tidak diduga? Bagaimana juga akibat yang menimpa pada kedua kakak laki-lakinya? Simak kisahnya.
Kisah seorang Istri yang bernama Niar yang depresi akibat ditinggal suaminya bekerja di luar kota. Ia harus tinggal bersama mertua dan iparnya yang jahat. Uang belanjanya sebesar tujuh juta diambil paksa mertuanya hingga menyisakan sejumlah 500 ribu setiap bulannya. Dan ia harus membeli kebutuhannya dan kedua anaknya dari uang sisa itu.
Yuk dibaca novelnya!
"Kamu bisanya habisin uang anak saya saja! Bisa-bisanya kamu memakai uang anak saya untuk mengumrohkan ibumu, Alma!"
Bagaimana bisa Bu Kamila menuduh Alma menghabiskan uang Reno untuk mengumrohkan ibunya. Padahal sang besan sudah menabung cukup lama dari gaji yang Alma sisakan tiap bulan untuknya.
Apakah Alma akan bertahan dengan hinaan Bu Kamila-sang mertua, atau justru memilih untuk pergi dan berpisah dari Reno?
Arini, seorang gadis cerdas yang berprofesi sebagai perawat lansia dipersunting oleh seorang duda beranak satu.
Dalam menjalani mahligai pernikahannya, ia harus menerima kenyataan kalau sang suami masih perhatian pada mantan istrinya dengan alasan anak mereka. Bukan hanya perhatiannya saja yang dirampas, sang mantan istri suaminya pun meminta 'jatah' nafkah yang lebih dari biasanya. Hubungan mereka kian dekat membuat Arini muak.
Ia merasa dimanfaatkan, bukan sebagai istri melainkan perawat ibu mertuanya yang lumpuh. Dari pada terus menerus kesal dan makan hati, akhirnya Arini mengembalikan sang suami pada mantan istrinya.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Yang Anggun tahu hanyalah, kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas tragis. Keadaan memaksanya untuk meninggalkan rumah mewah dan segala fasilitas yang dulu dianggap biasa.
Namun, Anggun mulai menyadari bahwa kematian orang tuanya menyimpan misteri yang lebih dalam. Sembari mencoba membangun kembali hidupnya, Anggun juga mencari tahu tentang kejanggalan yang pernah ada. Ia nekat mencari tahu kebenaran di balik tragedi yang menghancurkan hidupnya dan sedikit demi sedikit menemukan titik terang. Saat semua terkuak, akhirnya tujuannya hanyalah satu, yakni membalas semua dendam dan mengambil kembali semua yang telah dirampas darinya.
Dalam satu penugasan, upeti yang dikawal Tumanggala dirampas gerombolan begal. Seluruh anggota rombongan tewas kecuali dirinya dan seorang prajurit lagi.
Akibatnya, Tumanggala difitnah terlibat dalam perampasan tersebut. Ia pun nyaris dijatuhi hukuman mati. Coreng di muka membuat sang prajurit gigih mengembalikan nama baik.
Tumanggala kemudian berhasil menghabisi gerombolan begal yang merampas upeti raja. Namun Tumanggala sungguh tak menyangka, semua itu justru mendatangkan malapetaka bagi dirinya dan keluarga.
Ada satu pengalaman menarik ketika membahas hukum umroh dirampas dalam fikih dengan seorang teman yang sedang mempersiapkan ibadah tersebut. Menurut penjelasannya, dalam fikih, umroh yang dirampas atau dibatalkan secara paksa—misalnya karena kondisi darurat seperti perang atau larangan pemerintah—memiliki ketentuan khusus. Ulama berbeda pendapat, tapi mayoritas sepakat bahwa jika umroh belum sempat dilakukan sama sekali, biaya bisa dikembalikan atau ditunda pelaksanaannya. Namun, jika sudah memulai ihram tetapi terpaksa dibatalkan, ada kewajiban membayar dam (denda) sebagai pengganti.
Yang menarik, beberapa kitab fikih kontemporer membahas kasus modern seperti pandemi atau pembatalan visa secara tiba-tiba. Di sini, prinsip 'rukhsah' (keringanan) sering diterapkan, terutama jika alasan pembatalan di luar kendali jamaah. Tapi tetap, konsultasi dengan ahli fikih atau lembaga resmi sangat disarankan untuk penyesuaian praktis.
Pengalaman umroh seharusnya menjadi momen spiritual yang mendalam, tapi bayangkan betapa hancurnya hati ketika ada yang harus mengalami perampasan selama perjalanan suci ini. Seorang teman bercerita, saat sedang bermunafur di Masjid Nabawi, tas kecilnya yang berisi paspor dan uang tiba-tiba raib. Rasanya seperti mimpi buruk—di tanah suci, di antara ribuan orang yang seharusnya sama-sama mencari kedamaian, ada tangan-tangan tak bertanggung jawab yang merusak harmoni. Yang paling menyedihkan adalah proses pelaporan yang berbelit-belit karena keterbatasan bahasa dan prosedur asing.
Dampaknya bukan sekadar materi, tapi trauma psikologis. Mereka jadi was-was setiap melihat kerumunan, bahkan saat thawaf. Kisah seperti ini mengingatkan pentingnya selalu waspada, meski berada di tempat yang dianggap suci sekalipun. Beberapa jamaah akhirnya membagi tips: gunakan tas pinggang tersembunyi, fotokopi dokumen penting, dan simpan nomor darurat kedutaan. Pelajaran pahit, tapi mungkin perlu agar pengalaman spiritual tidak ternoda oleh kejadian seperti ini.
Tattoo 'Naruto' yang kupunya sempat bikin aku mikir keras soal haji dan umroh, tapi setelah cari-cari info dan ngobrol sama beberapa teman dan ustaz, aku jadi lebih tenang.
Pertama, dari sisi ibadah: punya tato permanen biasanya tidak menghalangi wudu atau sahnya ibadah. Tinta berada di bawah kulit, jadi air tetap menyentuh kulitmu. Yang perlu dihindari itu kalau tato masih baru—masih ada keropeng, perban, atau salep tebal yang bisa jadi penghalang. Jadi aturan praktisku: jangan bikin tato baru paling tidak 1–3 bulan sebelum berangkat, dan pastikan benar-benar sembuh tanpa kerak. Kalau pakai henna atau stiker warna, pastikan bukan berupa lapisan film yang mencegah air menyentuh kulit.
Kedua, dari sisi hukum agama, banyak ulama melarang tindakan membuat tato karena mengubah ciptaan, tapi itu berbeda soal melaksanakan haji/umroh. Memiliki tato yang sudah ada tidak membuatmu tidak sah beribadah. Kalau risau, ngobrol dengan orang yang kamu percaya di komunitas agama bisa menenangkan.
Terakhir, hal praktis di lapangan: di masjid dan tempat suci orang akan lebih fokus pada ibadahmu daripada gambarmu. Namun, jaga sopan santun—tutup tato jika gambarnya provokatif atau terlalu mencolok, terutama kalau kamu perempuan dan pakaian menutup aurat. Aku sendiri menutup tato lenganku dengan lengan panjang di beberapa momen, bukan karena harus, tapi supaya konsentrasi ibadah lebih gampang. Intinya: jangan tattoo baru, pastikan sembuh, dan hormati suasana — itu cukup buatku.
Ada teman dekat yang pernah bercerita soal pengalaman pahit urusan umroh. Dia hampir tertipun agen nakal yang menjanjikan harga super murah dengan fasilitas mewah. Dari situ, aku belajar pentingnya riset mendalam sebelum memilih penyelenggara. Cek izin resmi Kementerian Agama, baca review dari jamaah sebelumnya, dan jangan mudah tergiur diskon besar-besaran.
Satu hal lagi yang sering dilupakan: selalu minta rincian kontrak tertulis. Agen profesional biasanya menyediakan dokumen lengkap termasuk jadwal, akomodasi, dan maskapai yang digunakan. Kalau mereka cuma ngomong doang tanpa bukti hitam di atas putih, itu alarm merah pertama. Oh iya, hindari juga yang maksa bayar cash full di depan. Sistem cicilan dengan bukti transfer ke rekening resmi jauh lebih aman.
Ada sesuatu yang menakjubkan tentang bagaimana mimpi bisa menjadi cermin dari keadaan batin kita. Dalam Islam, mimpi tentang umroh yang dirampas sering kali ditafsirkan sebagai pertanda adanya gangguan dalam perjalanan spiritual seseorang. Bisa jadi ini simbol dari rasa takut atau keraguan yang menghalangi niat baik untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Beberapa ulama juga menyarankan untuk melihat konteks kehidupan nyata. Misalnya, apakah ada hal-hal duniawi yang terlalu menyita perhatian hingga mengabaikan ibadah? Mimpi semacam ini mungkin pengingat halus untuk mengevaluasi prioritas. Tapi ingat, tafsir mimpi bukanlah ilmu pasti—yang lebih penting adalah introspeksi dan memperbaiki diri.
Pernah dengar cerita soal jamaah umroh yang dicurangi? Kasus-kasus seperti ini memang terjadi, meski tidak terlalu sering diberitakan. Awal tahun lalu, ada kelompok jemaah dari Jawa Timur yang sudah bayar lunas paket umroh, tapi ternyata agen travelnya tidak pernah mengurus visa atau tiket. Mereka baru sadar sudah ditipu ketika hendak berangkat ke bandara. Sungguh menyedihkan karena uang puluhan juta lenyap begitu saja, apalagi bagi mereka yang menabung bertahun-tahun untuk ibadah ini.
Yang bikin geram, pelaku seringkali mengaku sebagai agen resmi berpengalaman. Mereka memamerkan sertifikat palsu dan testimoni fiktif di media sosial. Beberapa bahkan berani janji fasilitas mewah dengan harga miring. Kalau ketemu penawaran 'umroh murah tapi bintang 5', lebih baik langsung curiga. Pemerintah sebenarnya sudah punya sistem e-umroh untuk verifikasi travel, tapi masih banyak yang tergiur promo ngawur.