Gara-gara menonton video dewasa yang dikirimkan temanku sore itu, pembantuku yang menjadi pelampiasan. Padahal, minggu depan aku akan melangsungkan pernikahan.
Kumpulan kisah percintaan yang akan mengundang air mata bagi para pembaca. Chapter dengan tiap cerita berbeda baru akan membawa emosi pembaca pada tahapan berbeda.
Anelies sebenarnya putri dari keluarga kaya yang di culik sejak masih bayi. Dia kabur dari penculiknya demi bisa menemukan keluarga sebenarnya.
Ternyata dia malah terlibat hutang dan datang ke tempat yang salah untuk meminta bantuan.
Anelies berakhir dijual oleh seorang mucikari untuk dinikahi diam-diam oleh seorang raja yang sudah tua renta. Pada malam pertama Anelies berusaha berontak dan berhasil kabur. Sayangnya Aneleis segera kembali tertangkap oleh Pangeran Serkan. Anelies akan dipancung karena dituduh telah membunuh raja.
Tapi tiba-tiba rencana berubah setelah Pangeran Serkan tahu Anelies memiliki kemampuan spesial dapat membaca pikiran. Pangeran Serkan nekat menikahi Anelies agar bisa dia bawa pulang ke istana untuk membongkar pembunuh raja yang sebenarnya.
Serkan bersumpah akan melepaskan Anelies jika dia bisa mengungkap pelaku pembunuhan berencana atas ayahnya.
Cerita ini andalah series ke 7 dari HOT BILLIONAIRE SERIES
Urutan cerita:
1. HOT AND DANGEROUS BILLIONAIRE (season 1)
2. HOT NIGHT (seasons 2-6)
3. ME AND PRINCE (seasons 7-14 ongoing)
Note: Meski cerita ini terinspirasi dari beberapa kisah nyata dan ada kesamaan nama untuk beberapa tokoh, cerita ini tetap seratus persen fiksi. Mohon jangan ada yang tersinggung.
(Aku hanya akan menulis cerita tentang wanita-wanita yang tangguh karena aku ingin semua wanita menjadi hebat)
Warning! Mengandung adegan dewasa! Harap bijak dalam memilih bacaan.***“Tara ingin nonton film apa?” tanya pak Donny pada Tara.“ Apa saja boleh koq pak, “jawab Tara ketika dilihatnya pak Donny memilih beberapa DVD yang tertata rapih disana.Tidak lama kemudian seorang asisten datang ke ruangan menonton kami sambil membawa minuman soft drink dan camilan atas perintah dari pak Donny. Asisten rumah tangga itupun berlalu dari hadapan Tara setelah menaruh berberapa minuman soft drink dan camilan di meja bundar disamping sofa yang ada disana.Pak Donny kemudian menutup pintu ruangan menonton itu dan meredupkan lampu yang ada di ruangan tersebut agar terlihat seperti bioskop pada umumnya. Setelah menyalakan vidio yang berisikan film romance terlihat pak Donny duduk di bagian tengah dari sofa itu yang di ikuti oleh Tara yang waktu itu duduk di sofa. Mereka pun duduk bersama di permadani yang terasa lembut pada saat pertama kali Tara ke ruangan tersebut. Terlilhat pak Donny mengambilkan minuman soft drink untuk Tara. Mereka menonton film romance itu dengan sesekali menghela nafas bersama karena ada beberapa adegan dewasa yang di pertontonkan disana. Tanpa disadari pak Donny tiba-tiba telah memegang tangan Tara.
Untuk kisah selanjutnya silakan baca pada Bab novel ini.
Aku memang bukan lelaki polos yang nggak pernah nonton video panas di situs dewasa, tapi siapa sangka kalau tenyata salah satu wanita di situs dewasa itu adalah tetanggaku sendiri?!
Aiden Mike Chayton adalah seorang billionaire di negaranya. Berparas tampan dengan mata cokelat yang mampu membius banyak orang, terutama wanita.
Dia adalah penerus tunggal nama Chayton, sebuah keluarga yang sangat disegani oleh banyak orang. Keluarga Chayton selalu berada di urutan pertama dengan pemilik harta terbanyak sedunia.
Tidak disangka, keluarganya telah mempersiapkan sebuah wanita untuk dijadikan sebagai istri untuk Aiden. Seorang perempuan yang berasal dari keluarga terhormat, keluarga Casey. Keluarga yang juga hampir memiliki derajat yang sama seperti kekuarga Chayton.
Aiden tidak bisa menolak dikarenakan keluarganya mengancam akan mencoret namanya dari daftar ahli waris Chayton jika Aiden tidak menerima perjodohan ini.
Siapa sangka, perempuan itu adalah perempuan yang berhasil membuatnya marah di waktu pertama mereka bertemu.
Akankah perempuan berparas cantik dengan nama Stephanie Michelle Casey bisa menaklukan hati sang Billionaire?
Pernah dengar cerita tentang Nabi Musa dan tongkatnya? Begitu juga dengan jodoh, dalam Islam ada konsep takdir yang tertulis di Lauh Mahfuz. Tapi bukan berarti kita pasif menunggu. Proses ta'aruf (perkenalan), memilih kriteria pasangan shalih, dan ikhtiar tulus itu bagian dari sunnatullah. Aku sering ngobrol dengan teman-teman majelis taklim tentang bagaimana Al-Qur'an surat Ar-Rum ayat 21 bicara tentang pasangan yang diciptakan untuk memberi ketenangan. Uniknya, Rasulullah juga memerintahkan kita melihat calon pasangan sebelum menikah - ini menunjukkan kolaborasi antara takdir ilahi dan usaha manusia.
Di 'One Piece', Luffy tidak tahu akan bertemu kru seperti apa, tapi ia tetap berlayar. Begitu pula kita, qadarullah sudah ditetapkan, tapi harus tetap 'berlayar' mencari jodoh dengan cara yang benar. Pernah baca kisah Siti Khadijah yang aktif mengajukan proposal pada Nabi? Itu bukti bahwa takdir berjalan beriringan dengan ikhtiar.
Gila, aku sempat kepo soal ini juga dan berusaha cek beberapa sumber sebelum bilang apa-apa.
Dari yang kutelusuri, nggak ada data publik yang jelas dan terverifikasi tentang umur pacarnya Devano. Banyak kabar gosip dan postingan fans yang beredar di media sosial, tapi seringkali sumbernya cuma akun gosip atau komentar tanpa bukti. Kalau orang itu benar-benar figur publik, biasanya umur atau tahun lahirnya bisa ditemukan di artikel berita resmi, wawancara, atau bio akun media sosial yang terverifikasi. Namun kalau dia bukan figur publik, informasi semacam itu biasanya nggak dipublikasikan demi privasi.
Aku cenderung hati-hati soal hal ini—lebih baik andalkan sumber yang jelas daripada rumor. Kalau kamu pengin kepo lebih jauh, cari tulisan dari media terverifikasi atau pengumuman resmi; selain itu, menghormati privasi orang juga penting. Akhirnya, tetap enjoy ngikutin kabar tanpa ikut menyebar spekulasi negatif.
Aku pernah berselancar lama cuma buat cari siapa yang sebenarnya menulis lirik sebuah lagu, dan sering kali jawabannya nggak langsung terlihat kecuali ada wawancara resmi yang jelas menyebutkan nama. Tanpa menyebut judul lagu atau artis tertentu, aku nggak bisa menuduh satu nama—jadi ini bukan soal menutupi, melainkan soal konteks yang hilang.
Kalau kamu nemu wawancara resmi yang bilang 'bukan aku', biasanya mereka menyebutkan siapa yang dimaksud: bisa penulis lirik profesional, tim penulis, atau bahkan penerbit lagu. Langkah yang biasa aku lakukan adalah cek transkrip wawancara di situs resmi, lihat credits di platform streaming (fitur 'Show credits' di Spotify sering berguna), dan konfirmasi lewat database seperti ASCAP, BMI, atau PRS. Sering juga label atau publisher mempublikasikan kredit di rilisan pers. Intinya, tanpa referensi spesifik aku cuma bisa bilang: cari sumber resmi yang menyertakan kutipan langsung atau catatan kredit, dan itu akan menunjukkan siapa penulis lirik yang dimaksud, bukan kamu. Semoga ini ngebantu kamu ngarahin pencarian—aku sendiri sering kaget pas nemu nama penulis yang ternyata bukan performer.
Ketika kutipan 'hidup ini adalah kesempatan' nyangkut di kepalaku, rasanya seperti alarm kecil yang mengingatkan bahwa setiap napas bisa dipakai buat sesuatu. Aku suka membayangkan momen-momen kecil: menahan diri untuk nggak membalas chat yang bikin stres, melangkah ke panggung mini di acara kampus, atau bilang iya pada rencana spontan teman. Bukan soal harus melakukan sesuatu yang besar setiap hari, melainkan melihat peluang di keseharian—ada kesempatan untuk belajar, menebar kebaikan, atau sekadar memperbaiki mood sendiri.
Di komunitas fandom tempat aku sering nongkrong, kutipan itu juga sering dipakai buat menyemangati orang yang ragu submit fanart atau fanfic. Buatku, kesempatan itu kayak frame kosong dalam strip komik; kita bisa menggambar apa pun di dalamnya. Terkadang kesempatan datang cuma sekali, tapi sering juga berulang kalau kita rajin membuka mata. Akhirnya aku selalu mencoba treat hidup ini seperti save file: kalau ragu, simpan progres dan coba lagi. Itu bikin aku lebih berani ambil risiko kecil—dan percayalah, koleksi memori kecil itu lama-lama bikin hidup lebih padat warna.
Membaca novel psikologi seperti 'The Untethered Soul' atau 'Man’s Search for Meaning' sering membuatku merenung tentang konsep berdamai dengan diri sendiri. Bagiku, kuncinya ada pada penerimaan—mengakui bahwa kita tidak sempurna, bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Tokoh-tokoh dalam novel-novel itu biasanya melalui fase penyangkalan dulu sebelum akhirnya menemukan kedamaian dengan memaafkan diri sendiri.
Salah satu pelajaran besar yang kudapat adalah pentingnya berhenti menyalahkan diri secara berlebihan. Misalnya, di 'The Midnight Library', Nora belajar bahwa setiap pilihan hidup punya konsekuensi, dan yang terpenting adalah bagaimana kita bangkit dari kegagalan. Aku mencoba menerapkan ini dengan menulis jurnal refleksi, mengurai emosi lewat kata-kata seperti yang sering dilakukan protagonis dalam cerita-cerita psikologis.
Pertanyaan tentang usia galaksi tata surya selalu membuatku terpana. Berdasarkan penelitian terbaru, para astronom memperkirakan usia Bima Sakti—tempat tata surya kita berada—sekitar 13.6 miliar tahun. Tata surya kita sendiri relatif lebih muda, terbentuk sekitar 4.6 miliar tahun lalu dari awan molekul raksasa. Angka ini didapat dari analisis meteorit tertua dan isotop radioaktif.
Yang menakjubkan, ketika kupikirkan betapa muda tata surya dibanding galaksi induknya, aku jadi membayangkan bagaimana Bima Sakti sudah ada selama 9 miliar tahun sebelum matahari bahkan menyala. Rasanya seperti membaca prolog epik kosmik yang panjang sebelum 'karakter utama' muncul. Teori terbaru juga menunjukkan bahwa tata surya kita mungkin generasi kedua atau ketiga, terbentuk dari puing-puing bintang-bintang purba yang sudah meledak.
Langit mendung sering memantik suasana khusyuk di masjid, dan aku perhatikan bagaimana imam mengambil peran saat guntur menggema.
Dalam pandanganku, menurut fiqh umum—terutama tradisi sunni—imam boleh memimpin doa kolektif ketika ada tanda-tanda alam seperti petir atau ketika jamaah berkumpul memohon hujan (istisqa) atau perlindungan. Nabi pernah memimpin dan mengajarkan doa-doa untuk berbagai keperluan publik, sehingga imam yang memimpin jamaah untuk berdoa bersama itu sesuai dengan praktek sunnah, asalkan doa yang dibaca tidak menyimpang dari dalil syariat dan disampaikan dengan niat ikhlas.
Yang penting kubilang adalah imam harus menjaga tata cara: jangan menambah ritual yang tidak diajarkan (hindari bid'ah), gunakan dzikir dan doa yang shahih atau doa umum yang sesuai adab, dan bersikap tawadhu'. Bila doa untuk hujan, beberapa ulama menekankan sunnah keluar masjid, khutbah singkat, shalat dua rakaat, lalu doa; tapi jika konteksnya hanya doa singkat di dalam masjid saat guntur, memimpin doa pendek yang menenangkan jamaah juga diperbolehkan. Intinya aku nyaman kalau imam memimpin asalkan berlandaskan ilmu dan adab, bukan atraksi.
Naif dalam pandangan penulis terkenal itu sering kali berarti menghadapi dunia dengan ketulusan dan kejujuran tanpa banyak menimbang konsekuensi. Saya ingat kali pertama membaca sebuah wawancara dengan Haruki Murakami. Dia menggambarkan seorang penulis yang naif sebagai seseorang yang berani mengekspresikan perasaan dan ide-ide tanpa takut pada penilaian orang lain. Di dalam dunia literasi yang kadang keras dan kritis, keberanian untuk menulis dari hati dengan ketulusan adalah hal yang sangat berharga. Murakami bahkan mengatakan bahwa naif bukanlah suatu kelemahan, melainkan kekuatan yang membuat karya lebih beresonansi dengan pembaca. Yang menarik, hal ini membuatku merenungkan tentang bagaimana banyak penulis yang berusaha untuk menjadi 'realistis' terkadang kehilangan keautentikan yang bisa dihadirkan ketika mereka menulis dengan naif. Menurutku, itu juga mencerminkan cara hidup kita sehari-hari, ya kan? Terkadang kita semua butuh sedikit naif dalam menjelajahi kehidupan ini.
Di sisi lain, Kenzaburo Oe, penulis Jepang lainnya, memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Dalam wawancaranya, dia menunjukkan bahwa naif bisa mengarah pada kesatuan yang lebih dalam antara penulis dan pengalaman yang dirasakannya. Seperti saat dia menulis tentang perjuangan hidupnya, Oe mengatakan bahwa naif adalah kemampuan untuk kembali melihat dunia dengan mata seorang anak, tanpa prasangka. Itu memberi perspektif baru dan bisa membangkitkan rasa empati yang kuat. Hal ini juga mengingatkanku tentang anime yang menyentuh tema serupa, seperti 'Anohana: The Flower We Saw That Day', di mana setiap karakter menunjukkan ketulusan dan naivete saat mereka berhadapan dengan emosional masa lalu.
Setiap penulis mungkin memiliki interpretasi unik tentang naif, tetapi bagian terbaiknya adalah cara pandang itu menciptakan ruang bagi pembaca untuk merenungkan kembali pengalamannya sendiri. Itu yang membuat literatur terus hidup dan relevan. Saya berpendapat bahwa ketulusan yang muncul dari sikap naif bisa mengubah dunia, satu cerita pada satu waktu.
Menarik sekali membahas setting epik seperti 'Mahabharata'! Dalam kitab-kitab India kuno, perang legendaris ini disebut terjadi di Kurukshetra, sebuah wilayah yang sekarang termasuk negara bagian Haryana, India. Lokasinya digambarkan sebagai dataran luas yang sakral—bahkan dalam 'Bhagavad Gita', Krishna menyebutnya 'dharmakshetra' (medan dharma).
Yang bikin aku selalu terpesona adalah bagaimana tempat ini masih jadi tujuan ziarah hingga sekarang. Ada kolam suci Brahma Sarovar yang konon sudah ada sejak era perang, dan tiap tahun festival Gita Jayanti diadakan untuk memperingati pertempuran ini. Rasanya magis membayangkan Arjuna dan para ksatria lainnya bertarung di tanah yang bisa kita kunjungi hari ini.
Mendengarnya, aku langsung merasakan sesuatu yang lembut tapi tegas menyentuh bagian yang paling pribadi dalam diriku.
Penulis 'Saat Ku MenyembahMu' sepertinya menulis dari posisi seseorang yang sedang mengalami ketundukan dan pengakuan akan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Liriknya bukan sekadar kata-kata manis; ada dinamika antara kerinduan, pengakuan dosa atau keterbatasan, dan rasa syukur yang melebur jadi satu. Menurut penulisnya, inti dari frasa 'saat ku menyembahmu' itu adalah momen berhenti, melepaskan kontrol, lalu mengakui kehadiran yang memberi makna — entah itu Tuhan, entah itu kehadiran yang disucikan dalam hubungan batin.
Secara pribadi, aku merasa penulis sengaja memakai gambar-gambar sederhana supaya pendengar bisa ikut masuk ke ruang batinnya tanpa repot mikir teori. Lagu seperti ini lebih bicara lewat suasana daripada argumen, dan itulah yang membuatnya mudah dibawa dalam doa atau momen hening. Aku selalu pulang ke lagu itu ketika butuh pengingat untuk rendah hati.