Adik Angkat
Tapi, aku yakin, bukan itu maksud ibu, menjaga Bimo sebagai Adik, bukan sebagai pendamping hidup.
Aku bangkit dari duduk memunguti kertas-kertas yang berserakan di lantai dan ku masukan ke tempat sampah, ku rapikan sprei juga bantal dan guling, yang berada bukan di tempatnya.
Kamar Bimo sudah ku rapikan kembali. Namun, aku masih ingin duduk di kamar adikku, berderap menuju kursi dan meraih bingkai foto yang berada di atas meja belajar, ku pandangi foto tersebut seraya membelainya dengan jemariku.