Rahim yang Tergadai
Ia hanya mengangkat amplop itu, membukanya dengan gerakan kaku, lalu menarik lembaran kertas di dalamnya.
Tatapan abu-abu itu menyapu isi laporan. Matanya yang semula dipenuhi kebimbangan kini membelalak, rahangnya mengeras, dan napasnya tertahan.
Tidak mungkin.
Galen menelan ludah. Ia membaca ulang angka-angka yang tertera, berharap ada kesalahan.
“Hubungan darah: 30% …”
Angka itu menghantamnya seperti pukulan telak di perut. Dunia di sekelilingnya seolah runtuh.