SENDIAKALA
Setelah itu, kami berdiri berbaris sambil menunduk, dan doa dipimpin oleh Mas Abrisam yang memiliki suara dalam dan penuh rasa khusyuk.
Doa telah usai, tapi aku belum bisa pergi. Aku tetap berdiri di sana, memandangi batu nisan yang telah menjadi saksi bisu atas semua cerita keluarga kami. Mbak Aiza dan Mas Abrisam secara halus berdiri sedikit di belakang, memberi ruang untukku berbicara dengan Bapak sendirian. Air mataku lagi-lagi mengalir tanpa izin, menetes pelan ke pipiku dan jatuh ke tanah yang menjadi tempat tinggal terakhir bapak.
Hot Chapters