Kelahiran yang Menghancurkan
Saat usia kehamilanku sembilan bulan, aku sudah ada di penghujung masa kehamilan, tubuhku terasa berat dengan bayi yang bisa lahir kapan saja.
Tapi suamiku, Alexander Santoso, wakil kepala keluarga, justru mengurungku. Dia menahanku di sebuah ruang medis bawah tanah yang dingin dan steril, lalu menyuntikkan obat penahan kontraksi.
Saat aku berteriak kesakitan, dia menatapku dengan dingin dan berkata aku harus menahannya.
Karena pada saat yang sama, istri almarhum kakaknya, Elisa juga diperkirakan akan melahirkan.
Sebuah sumpah darah yang pernah dia buat dengan mendiang kakaknya menyatakan bahwa anak laki-laki sulung akan mewarisi wilayah keluarga di Teluk Bara