Chapter: Bab 63 Kegilaan AshleyMeilani menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan perubahan sikap sahabatnya yang mendadak itu. "Tadi katanya jijik? Kok sekarang malah minta dipanggilkan? Harga diri 'wanita kelas atas' kamu ke mana, Ash?" Ashley menyandarkan punggungnya ke kursi velvet klub, melipat kaki jenjangnya dengan angkuh. Matanya yang tajam menatap Meilani dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara dendam yang membara dan keinginan untuk memberontak. "Harga diri tidak memberiku kepuasan, Mei," desis Ashley. "Aku butuh bersenang-senang. Kita harus merayakan rencana besar kita. Lagipula, Arya sama sekali tidak mau menyentuhku lagi. Dia terlalu sibuk memuja wanita bodoh itu." Meilani tertawa renyah, menggelengkan kepalanya tak percaya. "Astaga, Ash ... Arya benar-benar bodoh menolak supermodel sepertimu demi seonggok daging murah di rumahnya sendiri." Tanpa membuang waktu, Meilani memberikan kode pada pelayan VIP. Tak lama kemudian, dua laki-laki muda melangkah masuk ke lounge pribadi mere
Last Updated: 2026-04-04
Chapter: Bab 62 Rencana Licik AshleyLampu strobe berwarna ungu, biru, dan merah menyambar-nyambar dengan gila, membelah kegelapan club malam kelas atas. Dentuman bass dari musik EDM yang dimainkan DJ internasional, menciptakan getaran yang membuat lantai dansa berguncang. Di sudut area VIP yang sedikit tersembunyi, Ashley duduk menyentakan bokongnya di sofa beludru hitam, mengabaikan kerumunan manusia yang bergoyang mengikuti irama. Di depannya, meja kristal penuh dengan botol-botol minuman keras premium yang sudah kosong setengahnya. "Mei ... kau tidak akan percaya! Dia ... Suamiku ... benar-benar sudah gila!" isak Ashley, suaranya parau karena berteriak melawan dentuman musik. Ashley menyambar gelas shot keenamnya. Tanpa garam, tanpa jeruk nipis, ia membiarkan cairan tequila gold itu membakar kerongkongannya. Rasa panas itu setidaknya sedikit mengalihkan rasa perih di hatinya yang hancur. "Arya bilang aku tidak pantas jadi ibu, Mei!" teriak Ashley tepat di telinga Meilani. "Dia bahkan tega mengusirku ... dia le
Last Updated: 2026-04-04
Chapter: Bab 61 Ashley Tantrum "Tega kamu, Arya ... Aku ini istrimu yang sah, bukan Rayana!" ratap Ashley. Suaranya pecah, parau karena terlalu banyak berteriak. Ia jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin, mengabaikan kimono sutra mahalnya, memukul-mukul lantai marmer itu, mencoba meluapkan rasa sakit di hatinya. Namun, Arya sudah tak peduli lagi, hanya berdiri mematung. Tidak ada tangan yang terulur, ataupun bisikan penenang yang seperti biasa ia lakukan kalah Ashley tantrum. Ia justru melirik ke arah jam dinding perak di ruang makan dengan gestur yang sangat tidak peduli. "Keputusanmu kutunggu sampai besok pagi," ucap Arya datar. "Jika besok pagi kulihat kau masih mencoba menyentuh atau mengintimidasi Rayana, aku sendiri yang akan menyeret koper-kopermu ke luar gerbang." Tanpa menoleh lagi pada istrinya yang masih merengek histeris di lantai, Arya membalikkan badan, meninggal Ashley sendirian di ruang makan. "TEGANYA KAMU MENGUSIRKU DEMI WANITA ITU!" teriak Ashley, suaranya melengking pecah hingga u
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Bab 60 Pecahnya kebohongan AshleyAshley menuruni tangga pualam dengan langkah perlahan. Empat jam perawatan mewah baru saja ia lalui—dari lulur yang menghaluskan kulit hingga pijat aromaterapi beraroma mawar yang melekat lembut. Kini kulitnya tampak berkilau, lembap, dan memancarkan daya tarik yang sulit diabaikan. Di ujung meja makan panjang yang diterangi lampu gantung kristal temaram, ia melihat suaminya sedang makan sendiri. Arya duduk dengan punggung tegak, tampak sangat fokus menikmati sepotong steak medium-rare di hadapannya. "Selamat malam, Sayang ...," sapa Ashley dengan nada suara mendayu manja. Ia menarik kursi tepat di samping Arya, duduk dengan gerakan lambat yang penuh maksud, Ashley menyibakkan kimono tidurnya yang berbahan satin tipis, membiarkan kain itu meluncur jatuh dari bahunya. Tindakan itu memperlihatkan belahan dadanya yang menantang dan kulit putihnya yang masih menyisakan rona merah bekas pijatan. Ia menopang dagu dengan satu tangan, menatap Arya dengan tatapan lapar akan perhatian, berh
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Bab 59 Semakin Tak Terkendali"Kamu ... bicara pada perutku seperti itu seolah sudah ada bayi di sana," ujar Rayana dengan sisa tawa yang masih menghiasi bibirnya yang bengkak. Ia mengusap pipi Arya, membiarkan jemarinya yang mungil menelusuri rahang tegas pria itu. "Memangnya kenapa? Aku hanya sedang memberikan sambutan hangat untuknya," bisik Arya parau. Ia kembali mendaratkan kecupan ringan di pusar Rayana yang masih basah. "Setiap tetes yang kuberikan padamu hari ini adalah janji, Rayana. Aku akan memastikan rahimmu tidak pernah merasa kesepian." Rayana merona hebat, ia menarik kepala Arya agar sejajar dengan wajahnya. "Tapi kalau dia benar-benar serakus ayahnya, aku bisa kewalahan, Arya. Lihat saja bagaimana kau 'mengobrak-abrik' rumahnya sejak subuh tadi." Arya terkekeh, suara baritonnya terasa hangat di kulit Rayana. "Itu karena rumahnya sangat nyaman. Aku betah berlama-lama di dalam milikmu. Dan kau pun sebaliknya," "Dasar nakal," rintih Rayana manja, "Tapi, kau benar, aku suka ... aku sangat suk
Last Updated: 2026-03-26
Chapter: Bab 58 Rayana Makin MenggodaRayana menengadah, menunjukkan senyum manis yang menggoda, yang jarang ia tunjukkan kepada siapapun. Bukannya langsung menuruti perintah suaminya, Rayana justru menunjukkan sisi liarnya yang lain. Dengan gerakan yang penuh perhitungan, Rayana membusungkan dadanya yang berisi, sengaja menekan payudaranya hingga bersentuhan langsung dengan milik Arya yang sudah keras dan berdenyut. Kedua tangan mungil Rayana meraih payudaranya sendiri, menekannya dari kiri dan kanan hingga menciptakan jepitan yang sempurna di tengah lembah dadanya. Ia mengunci milik suaminya di sana, merasakan sensasi gesekan kulit yang basah oleh sisa air mandi Arya. Siksaan Lembut yang Mematikan "Rayana ... kau memang sangat tahu apa yang kuinginkan," geram Arya parau. Suaranya pecah, matanya menggelap saat melihat pemandangan erotis di bawahnya. Urat-urat di leher Arya menonjol kencang, kedua tangannya mencengkeram seprei menahan ketegangan yang memenuhi jiwanya. Rayana terkekeh, tawa kecil yang penuh keme
Last Updated: 2026-03-26
Chapter: Bab 213 Mulut Manis SatrioDipenuhi amarah dan rasa kecewa, Adelia melangkah memasuki rumahnya. Ia tak memedulikan sekelilingnya dan langsung menerobos menuju dapur.Brak!Brak!Dengan napas memburu, ia meletakkan kotak-kotak bekal yang masih utuh itu ke atas meja dapur marmer, lalu membukanya satu per satu dengan gerakan kasar.Uap makanan yang sudah mendingin merebak, seolah mengejek seluruh usaha dan perhatian yang telah ia tuangkan sejak pagi."Kamu mau buang makanan itu?"Suara berat tiba-tiba terdengar dari arah pintu dapur, mengejutkan Adelia. Satrio berdiri di sana, bersandar pada tongkat ketiaknya dengan raut wajah penuh tanya."Eh... Mas Satrio," bisik Adelia tersentak. Ia buru-buru membalikkan badan dan cepat-cepat mengusap air mata yang terlanjur menetes di pipinya menggunakan punggung tangan."N-nggak kok, Mas. Mana mungkin aku buang... Makanan masih bagus begini." Adelia berusaha memoles senyum, meski bibirnya bergetar menahan isak tangis.Satrio tidak segera menjawab. Ia melangkah mendekat perlah
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: Bab 212 Emosi Adelia"Sudah, kamu nggak perlu cemas, sayang," sahut Samuel santai sambil melongokkan kepala dari jendela mobil. "Mas cuma nganter Amelia sampai depan kantor kok. Nanti kalau sore Amelia pulang kemalaman, biar Mas yang antar sekalian."Kata 'sekalian' yang diucapkan Samuel dengan begitu ringan justru terasa menghujam di dada Adelia."Bye, kak Adel! Kami berangkat ya!" seru Amelia riang dari dalam mobil, melambaikan tangan."Kami pergi dulu," pamit Samuel sebelum akhirnya menginjak pedal gas, membawa mobil hitam itu membelah jalanan pagi.Adelia berdiri mematung di teras depan. Tatapannya tertambat pada mobil yang perlahan menghilang di balik pagar."Hati-hati dijalan..." bisik Adelia lirih.Ia masih berdiri kaku ketika terdengar suara ketukan tongkat dari arah samping. Satrio berjalan perlahan, menyandarkan tumpuannya pada tongkat ketiak, berdiri tak jauh di sebelah Adelia.Satrio ikut menatap ke arah jalanan kosong yang ditinggalkan mobil Samuel."Semangat sekali mereka pagi ini," gumam Sa
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: Bab 211 Mulai CemburuSuara tawa suaminya yang begitu berseri-seri itu mendadak memicu gaung ucapan Satrio di dalam kepalanya.Adelia meremas ujung bajunya sendiri. Ada perasaan asing yang mendadak merayap naik dan menyengat dadanya—sebuah rasa tidak nyaman yang belum pernah ia rasakan selama lima tahun mendampingi Samuel.Kenapa tawa senyaman itu begitu jarang ia dengar saat Samuel bersamanya di kamar? Kenapa Samuel selalu kelihatan terlalu lelah untuk sekadar mengobrol lepas dengannya?Namun, cepat-cepat Adelia memejamkan mata rapat-rapat. Ia menggelengkan kepala pelan, mencoba mengusir pikiran buruk itu.'Nggak... nggak boleh mikir macam-macam, bisik Adelia dalam hati. Amelia itu adiknya. Wajar kalau mereka dekat dan becanda kayak gitu. Mas Satrio cuma cuma asal ngomong.'Ia menghela napas panjang, menepis kuat-kuat benih kecurigaan yang berusaha merayapi hatinya. Adelia menegakkan tubuhnya kembali, memoles senyum manis di bibirnya, lalu melangkah keluar dari balik pilar menuju dapur—berusaha berpura-pu
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: Bab 210 Benih MenyesatkanSesampainya di kamar Satrio, Adelia membantunya duduk meluruskan kaki di tepi ranjang. Ia menarik bantal penyangga dengan telaten untuk menopang kaki Satrio yang terbungkus gips tebal."Nah, begini kan lebih aman," gumam Adelia, menyapu peluh tipis di pelipisnya sendiri. Rasa lega terpancar dari matanya. "Mas istirahat dulu, ya. Aku mau ke dapur ambilkan air hangat dan kompresan."Adelia berbalik hendak melangkah pergi. Namun, baru satu langkah tercipta, jemari Satrio yang dingin tiba-tiba melingkar di pergelangan tangannya.Cengkeramannya tidak keras, tapi cukup menahan langkah Adelia."Tunggu, Del..." suara Satrio terdengar serak dan sedikit berat.Adelia menghentikan langkah, menoleh penuh kebingungan. Matanya menatap tautan tangan Satrio di tangannya, lalu beralih ke wajah pria itu. "Ada apa, Mas? Ada bagian yang makin sakit? Atau butuh sesuatu?"Satrio tidak langsung mengutarakan niatnya. Ia mengembuskan napas pendek, lalu melonggarkan cengkeramannya perlahan—berubah menjadi elus
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: Bab 209 Hampir Jatuh"Percaya sama Kakak, dua-tiga bulan lagi kamu juga bakal kebal." seru Samuel, meyakinkan.Amelia mengembuskan napas panjang, seolah baru saja lolos dari lubang jarum. "Iiihs, seremnya gak ada obat. Galak banget!"Tawa Samuel langsung pecah mendengar rengekan itu. "Hahaha! Kan Kakak bilang apa, Steven memang begitu."Amelia menoleh bersungut-sungut, menatap Samuel dengan tatapan penuh curiga. "Iya, tapi nggak gitu juga, Kak! Kak Sam, sengaja mau jebloskan Amel ke mulut singa!""Loh, kok menyalahkan Kakak?" Samuel menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh. "Kakak itu justru berniat baik, Amel.""Niat baik dari mana?" potong Amelia sewot, tangannya bersedekap di dada."Amel sampai gemeteran pas dipanggil ke ruangannya! Orang galak dan dingin kayak gitu kok dibilang bagus. Rasanya kayak lagi diinterogasi penjahat, tahu!""Jangan terlalu dimasukkan ke hati," sahut Samuel santai. "Steven itu memang tegas, tapi dia perfeksionis sejati. Cara bicaranya memang tajam dan menekan, tapi percaya
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: Bab 208 Racun yang Terselubung"Paman, biar Arya yang bawain tas ini!""Kalau Bella bawa bantal leher Paman ya!"Satrio tak mampu menahan kekehan ringannya melihat dua keponakannya berebut repot. "Aduh... terima kasih ya, dua malaikat kecil Paman."Sesampainya di depan kamar, Adelia melangkah maju dan mendorong pintu perlahan.Aroma wangi kayu manis dan pelembut kain yang bersih langsung menyapa. Dominasi warna krem serta cokelat muda membalut ruangan itu dengan kehangatan yang menenangkan. Di salah satu sudut, sofa mungil berdiri berdampingan dengan rak buku kayu. Tak jauh dari sana, jendela kaca besar membiarkan tirai tersingkap, menyalurkan pendar keemasan sinar matahari sore yang hangat.Satrio berdiri mematung di ambang pintu, matanya menyapu setiap inci ruangan dengan saksama."Lumayan luas juga..." bisiknya.Adelia mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tulus. "Mas memang sengaja ditempatkan di kamar ini."Satrio menoleh, mengernyit halus. "Kenapa?"Tanpa menjawab langsung, Adelia berjalan melintasi ruangan
Last Updated: 2026-08-01