MasukAdelia mengira, ketulusan cinta dan pengorbanannya akan membuat hati Samuel luluh, lalu berbalik mencintainya. Ia rela menjadi babu di rumah mertua demi Samuel. Namun, takdir bertindak kejam padanya. Di hari ulang tahun pernikahan mereka, Samuel justru memberikan kejutan mencengangkan yang mampu mengubah hidup Adelia lebih menderita.
Lihat lebih banyak"Eh, Samuel ... Adelia ... kalian sudah sampai?" sapa Rania dengan nada ceria yang sedikit dipaksakan, mencoba bersikap normal."Ekhem, kami kira kalian ... tidak datang hari ini," ujara Jusuf, tak berani menatap Samuel. "Iya, Pa," jawab Samuel pendek, matanya masih sempat melirik Rania yang kini tersenyum kaku ke arah Adelia. Di atas ranjang, Satrio yang sudah tampak jauh lebih segar meskipun selang infus masih menempel di tangannya, tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka. "Nah, ini dia pasangan yang paling dinanti," ujar Satrio penuh semangat. "Jangan berdiri di pintu terus. Tidakkah kalian mendengar suara perutku yang keroncongan, karena mencium aroma sup ayam." Adelia tersenyum haru, segera mendekat ke arah Satrio dan meletakkan rantang yang dibawanya. "Kak Satrio sudah mendingan? Aku buatkan sup obat, harus dihabiskan, ya Kak." "Tentu saja. Akan aku habiskan, sup buatanmu adalah obat paling mujarab," canda Satrio, mencoba mencairkan suasana kaku yang sempat diciptakan
Pagi ini, Adelia sedang sibuk memotong wortel dan daun seledri, sementara aroma kaldu ayam kampung yang gurih mulai memenuhi dapur hingga ruang makan. Suasana hatinya kini tenang, setelah melalui proses pemulihan batin yang luar biasa, karena perbuatan ibu mertuanya yang semakin menggila. Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya. Adelia tersentak, tapi segera tersenyum saat merasakan deru napas hangat di ceruk lehernya, disusul kecupan-kecupan lembut yang mendarat di sana. "Sayang ... aku sedang masak," bisik Adelia sambil mencoba fokus mengaduk sup, meski tubuhnya mulai bereaksi pada sentuhan suaminya. "Masak apa, hmm?" suara Samuel terdengar berat dan serak, khas orang yang baru bangun tidur. Wajahnya tempelkan ke bahu Adelia, menghirup aroma wangi khas sang istri. "Sup ayam obat untuk pemulihan, Kak Satrio," jawab Adelia lembut. Samuel melepaskan wajahnya dari bahu Adelia sejenak, lalu mencium pipi istrinya dengan gemas. "Perhatian sekali kamu, sama kakak ipar
Suasana ruang sidang Pengadilan Negeri terasa dingin dan menyesakkan. Meskipun bangku pengunjung tampak lengang karena keluarga besar Widyantara menyepakati untuk menutup akses media sebentar, ketegangan tetap terasa di udara.Di kursi terdakwa, Devina duduk dengan punggung tegak, memakai baju tahanan. Wajah datar tanpa ekspresi bersalah, sesekali coba tersenyum kaku, masih mempertahankan sisa-sisa keangkuhannya. Di barisan depan, kursi yang seharusnya diisi oleh Jusuf dan Samuel tampak kosong. Mereka memilih untuk tidak hadir, hanya diwakili oleh tim pengacara keluarga. Bagi Samuel, melihat wajah ibunya hanya akan membuka kembali luka trauma atas apa yang menimpa Adelia dan kakaknya.Hakim Ketua mengetukkan palu, memecah kesunyian yang mencekam.Tok! Tok! Tok!"Menyatakan terdakwa, Devina, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menyuruh melakukan penculikan dan percobaan pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP jo. Pasal 53 KUHP dan P
Cahaya lampu sorot beberapa motor yang membelah temaram sawah seketika menyilaukan mata Adelia, tapi hatinya mengenali getaran itu. Tanpa alas kaki, tanpa memedulikan rasa perih di lukanya, Adelia menghambur keluar dari pintu kayu rumah bidan. "SAM ...!!" teriak Adelia, suaranya pecah di antara sunyi senja. Di ujung jalan setapak, sebuah mobil hitam berhenti mendadak. Pintunya terbuka bahkan sebelum mesin mati sempurna. Sosok pria dengan kemeja yang sudah tak keruan bentuknya melompat turun. Wajahnya yang biasanya rapi kini kuyu, dipenuhi bayangan jenggot tipis dan mata yang merah karena tidak tidur selama tiga hari. "ADEL!!" Suara Samuel menggelegar. Ia tidak peduli pada tanah pematang sawah yang becek dan berlumpur akibat hujan semalam. Sepatu mahalnya terbenam di lumpur, tetapi langkahnya tak melambat sedikit pun. Ia berlari seperti orang gila, menerjang sisa cahaya jingga yang mulai meredup. Mereka bertemu di tengah pelataran, di bawah langit Sukamakmur yang berwarna ungu kem
“Di mana wanita yang kalian sekap? Aku harus segera menghabisinya… sebelum polisi datang." kata Satrio, tanpa memberi kesempatan Marlan berpikir panjang, ia tak ingin membuang waktu.Mendengar itu, wajah Marlan menegang, Nadia tercengang, satu tangan menutup mulutnya, matanya membelalak. Wajah Doni
“Gang ini sempit sekali…” Devina menggerutu pelan, menyingkirkan sarang laba-laba dari pundaknya.“Memang jalurnya cuma ini, Nyonya,” sahut Doni tanpa menoleh. Doni berjalan di depan, senter kecil di tangannya memantul-mantul di atas jalan tanah yang becek. Gang itu memang sempit—cukup untuk dua or
"Bagaimana bisa! Kenapa Mama tega… melakukan hal ini!?" Suara Satrio meledak, mengiris keheningan malam yang dingin.Satrio menatap ibunya dengan mata menyala, seolah api kemarahan membakar setiap sudut hatinya. Devina terguncang, lututnya melemas, dan dia jatuh ke tanah."Satrio… tolong… jangan la
Di mana aku?Apa yang terjadi?Kesadaran Adelia kembali perlahan, seperti muncul dari dasar air yang dalam. Kepalanya berdenyut hebat, seperti dipukul berulang kali.Ia ingat sedikit—para penculik memberinya obat bius, rasa lemas yang tak tertahankan, lalu pingsan. Kelopak matanya berat, tapi dingi


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak