
Saat Aku Salah Membencimu
Hazel Chiara Parameswari adalah gadis cerdas dan ceria yang hidupnya berubah sejak kehilangan kedua orang tuanya di usia muda. Kehidupan sebagai yatim piatu mengajarkannya mandiri, tangguh, dan pantang menyerah, namun tetap menyisakan ruang untuk kelembutan dan kasih sayang.
Suatu hari, pertemuan singkat dengan Lintang Aksara Narendra, kakak tingkat tampan, kaya, dan terkenal di kampus, menorehkan titik balik yang tak terduga. Dari salah paham kecil, lahirlah serangkaian keputusan dan peristiwa yang perlahan mengubah hidup Hazel, membuatnya harus menghadapi kesulitan dan rahasia yang berat seorang diri.
Lintang, dengan karisma dan kekuasaannya, tetap menjalani hidupnya seperti biasa, namun pertemuan itu meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi, namun tidak ada yang sama seperti dulu. Hazel telah melewati jalannya sendiri, menghadapi dunia yang keras, dan meninggalkan masa lalunya tetapi bayangan masa lalu mereka masih menuntut kehadiran satu sama lain.
Di antara penyesalan, rahasia, dan perasaan yang belum selesai, apakah mereka mampu menemukan jalan menuju pengertian, kepercayaan, dan mungkin… cinta yang sejati? Atau apakah luka lama akan tetap membayangi langkah mereka selamanya?
Basahin
Chapter: BAB 127 Mengurus Anak-AnakSuasana ruang VVIP itu perlahan mulai lebih tenang setelah semuanya dibicarakan. Hazel Chiara Parameswari masih terlihat lelah di atas ranjang rumah sakit. Matanya sembab, tubuhnya juga tampak jauh lebih lemah dibanding biasanya. Sedangkan Miranti duduk di samping ranjang sambil sesekali mengusap kepala Hazel pelan. Sementara itu, Lintang mulai membantu membereskan tas kecil tiga anak tersebut yang tadi dibawa dari sekolah. Tatapannya sesekali jatuh ke arah Hazel setiap melihat wajah perempuan itu dadanya terasa makin berat. Akhirnya laki-laki itu kembali mendekat ke sisi ranjang. “Kalau gitu… Aku bawa anak-anak dulu ya.” Hazel perlahan mengangkat wajahnya. Sedangkan Lintang kembali bicara tenang. “Sekalian aku pinjam kunci cadangan rumah kamu. Kalian belum ganti pakaian dari sekolah.” Tatapannya bergantian melihat tiga anak kecil yang masih duduk dekat ranjang Hazel. “Kasihan juga kalau mereka terlalu lama di rumah sakit.” Hazel langsung diam berdiri. Dirinya memang tidak
Huling Na-update: 2026-09-01
Chapter: BAB 126 Untuk HazelMobil Lintang akhirnya masuk ke area parkir rumah sakit. Suasana di dalam mobil jauh lebih sunyi dibanding saat berangkat dari sekolah tadi. Leyan yang biasanya paling ribut sekarang duduk diam sambil memeluk tas sekolahnya. Sesekali anak itu melirik ke arah gedung rumah sakit dengan wajah cemas. Sedangkan Liana terlihat menggigit bibir kecilnya pelan sejak tadi. Matanya beberapa kali berkaca-kaca meski dirinya berusaha terlihat kuat. Dan Lintang kecil, anak itu justru paling diam. Tatapannya kosong mengarah keluar jendela mobil. Jemarinya menggenggam kuat tali tas di pangkuannya sampai buku-buku jarinya sedikit memutih. Lintang memperhatikan semuanya diam-diam dari kaca tengah. Melihat reaksi tiga anak itu, dadanya terasa makin berat. Dia sadar Hazel benar-benar pusat dunia mereka. Mobil akhirnya berhenti. “Ayo…” Suara Lintang terdengar pelan sekarang. Jauh lebih lembut dibanding biasanya. Leyan langsung turun cepat lebih dulu. Diikuti Liana, sedangkan Lintang kecil keluar paling
Huling Na-update: 2026-08-27
Chapter: BAB 125 Karena Ada AyahPintu ruang rawat sebenarnya sudah tertutup sejak Lintang pamit tadi. Laki-laki itu juga sudah berjalan beberapa langkah menjauh dari ruangan. Namun tepat saat dirinya hendak benar-benar pergi menuju lift langkahnya perlahan berhenti. Suara tangisan pelan dari dalam ruangan masih samar terdengar. Lintang langsung diam di tempat. Tangannya yang tadi hendak memasukkan ponsel ke saku perlahan turun lagi. Tanpa sadar kakinya justru kembali bergerak pelan mendekati pintu ruang rawat itu. Bukan untuk masuk, hanya dirinya tidak sanggup benar-benar pergi dalam keadaan Hazel seperti itu. Lintang berdiri diam di dekat pintu. Tatapannya kosong mengarah ke lantai koridor rumah sakit. Lalu suara Miranti terdengar lirih dari dalam. “Apa sebenarnya yang terjadi nak…” Beberapa detik kemudian, suara tangis Hazel mulai terdengar pecah. “Aku capek bu…” Kalimat itu langsung membuat dada Lintang terasa seperti diremas keras. Tangannya perlahan mengepal di samping tubuh. Sedangkan dari dalam suara Ha
Huling Na-update: 2026-08-23
Chapter: BAB 124 Semua LukaSuasana di dalam ruang rawat itu perlahan mulai lebih tenang. Meski mata Hazel masih terlihat sembab, napas perempuan itu sudah jauh lebih stabil dibanding tadi. Sedangkan Lintang masih berdiri di dekat ranjang sambil memegang ponsel Hazel di tangannya. Tatapan laki-laki itu sesekali jatuh pada layar ponsel yang terus dipenuhi panggilan dan pesan dari Rehan Pratama. Namun untuk sementara Lintang memilih mengabaikannya dulu. Fokusnya sekarang hanya satu, Hazel. Laki-laki itu akhirnya kembali duduk di kursi dekat ranjang. Tatapannya mengarah pada Hazel yang terlihat masih sangat lelah. “Anak-anak pulang jam berapa?” Hazel yang tadi sedang menunduk perlahan mengangkat wajah. “Jam sepuluh biasanya…” Suaranya masih terdengar pelan dan lemas. Lintang langsung melirik jam di tangannya. Pukul 09.40 pagi. Berarti sekitar dua puluh menit lagi anak-anak akan selesai sekolah. Lintang mengangguk kecil pelan. “Ya udah.” Nada suaranya tetap tenang. “Nanti kalau ibu datang… aku yang jemput anak-
Huling Na-update: 2026-08-20
Chapter: BAB 123 PasswordRuangan rawat itu kembali dipenuhi sunyi setelah pertanyaan kecil dari Hazel tadi. Perempuan itu masih menunduk, jemarinya menggenggam pelan ujung selimut rumah sakit di atas tubuhnya. Sedangkan Lintang duduk di kursi dekat ranjang sambil memperhatikan Hazel tanpa berkedip. Dia tau perempuan itu menahan semua lukanya sendiri, sangat teringat jelas dikepalanya. Sulit baginya untuk mengabaikan. Memar di lengan, bekas cengkeraman, luka di leher dan sudut bibir yang pecah. Lintang mengusap wajahnya kasar pelan. Lalu akhirnya menarik napas panjang sebelum kembali bicara. “Hazel…” Suaranya terdengar jauh lebih berat sekarang. Perempuan itu perlahan mengangkat wajah. Tatapannya terlihat lelah. Sedangkan Lintang menatapnya lurus, sorot matanya serius sekali. “Kamu mau nunggu apa lagi sekarang?” Hazel langsung diam. “Kamu masih mau mikirin apa?” Nada suara Lintang mulai terdengar lebih tegas sekarang. Dia tidak sedang membentak. Namun jelas sekali emosinya sedang ditahan kuat-kuat. “Sem
Huling Na-update: 2026-08-17
Chapter: BAB 122 RapuhRuangan pemeriksaan itu akhirnya mulai kembali tenang setelah seluruh pengecekan selesai dilakukan. Suara alat monitor terdengar pelan memenuhi ruangan. Aroma khas rumah sakit bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan membuat suasana terasa semakin sunyi. Hazel masih terbaring lemah di atas ranjang pasien. Infus sudah terpasang di tangan kirinya. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih pucat dibanding biasanya. Bekas memar di pipinya sekarang terlihat lebih jelas setelah make up yang menutupinya tadi dibersihkan. Sudut bibirnya juga tampak sedikit bengkak. Sedangkan Lintang berdiri tidak jauh dari ranjang. Tatapannya sejak tadi tidak pernah benar-benar lepas dari Hazel. Semakin lama dirinya memperhatikan perempuan itu semakin sesak dadanya terasa. Dokter yang tadi menangani Hazel akhirnya menutup map hasil pemeriksaan pelan. Lalu menoleh pada Lintang. “Secara fisik pasien memang kelelahan.” Nada suara dokter itu terdengar tenang dan profesional. “Tensi juga sempat turun cukup j
Huling Na-update: 2026-08-16

DIPTA
Semua berawal dari sebuah taruhan.
Bagi Dipta (Dipta Niskala Mahesa), hidup adalah strategi. Ia terbiasa menang di kelas, di kompetisi, dalam bisnis keluarga, bahkan dalam permainan yang tak pernah orang lain sadari.
Aira (Humaira Navya Aruna) hanyalah satu langkah dalam rencana kecilnya di masa sekolah, sebuah tantangan, sebuah eksperimen, sebuah pembuktian. Namun rencana tak pernah memperhitungkan perasaan. Aira datang dengan kepolosan yang tak dibuat-buat, kecerdasan yang tenang, dan cara menatap yang membuat pertahanan Dipta perlahan runtuh.
Kedekatan mereka tumbuh lewat diskusi panjang tentang bintang dan masa depan, sesi belajar di apartemen mewah yang menyimpan ruang rahasia penuh piala dan medali, hingga sentuhan-sentuhan yang semakin sulit diabaikan.
Awalnya hanya permainan.
Lalu menjadi kebiasaan.
Kemudian… candu.
Rumor di sekolah berhembus liar. Iri dan ambisi menyusup di antara teman-teman mereka. Taruhan baru muncul lebih mahal, lebih menantang. Namun semakin lama hubungan itu berjalan, semakin Dipta menyadari satu hal, ia bukan lagi pemain yang memegang kendali penuh.
Ia mulai menginginkan lebih dari sekadar kemenangan.
Lebih dari sekadar pembuktian.
Lebih dari sekadar sentuhan yang tertahan.
Waktu berlalu, masa sekolah usai.
Dunia berubah, mereka tumbuh, ambisi menjadi nyata. Dipta menapaki jalur bisnis yang ia pilih sejak remaja, membangun kekuasaan dan pengaruh. Aira menemukan jalannya sendiri, namun bayangan masa lalu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika mereka dipertemukan kembali beberapa tahun kemudian, bukan lagi sebagai remaja, tetapi sebagai dua individu dewasa dengan luka, rahasia, dan keinginan yang lebih kompleks, api lama itu menyala kembali. Lebih dalam dan lebih berbahaya.
Kini bukan hanya tentang cinta.
Bukan pula sekadar obsesi.
Ini tentang kendali.
Tentang siapa yang akhirnya menyerah, tentang seberapa jauh seseorang bersedia melangkah demi memiliki. Dalam dunia yang dipenuhi ambisi, rahasia, dan gairah yang terus tumbuh, satu pertanyaan menggantung di udara.
Apakah ini cinta yang tumbuh dari kesalahan?
Atau permainan lama yang berubah menjadi takdir yang tak bisa dihindari?
Basahin
Chapter: BAB 160 ReuniSaat Aira keluar dari kamar mandi dengan dress yang sudah rapi menempel di tubuhnya, suasana kamar terasa lebih tenang. Rambutnya masih setengah basah, ujung-ujungnya meneteskan air yang ia biarkan jatuh begitu saja sebelum akhirnya duduk di depan meja rias. Tangannya bergerak pelan, mengambil cushion, menepuk-nepuk tipis ke wajahnya. Tidak berlebihan, hanya cukup untuk meratakan warna kulit yang sedikit lelah. Lalu concealer tipis di bawah mata, sedikit lipbalm, dan sentuhan halus lain yang hampir tidak terlihat tapi cukup membuat aura wajahnya berubah. Bukan jadi mencolok, hanya terlihat lebih segar. Di saat yang sama, pintu kamar terbuka. Dipta masuk, rambutnya masih sedikit berantakan, kaosnya sudah ia ganti dengan yang lebih santai setelah tadi menemani Askara mandi. Langkahnya sempat terhenti begitu melihat Aira di depan meja rias. Ia tidak langsung bicara hanya berdiri sebentar, memperhatikan. Aira yang awalnya fokus ke cermin akhirnya sadar sedang diperhatikan. Matanya meli
Huling Na-update: 2026-09-03
Chapter: BAB 159 Sebelum AcaraMenjelang sore, suasana rumah sudah kembali hidup seperti biasanya. Dari dapur, aroma masakan mulai menyebar perlahan ke seluruh ruangan. Wangi gurih ayam kremes yang sedang digoreng bercampur dengan aroma rolade yang sudah matang, ditambah tumis kacang panjang yang masih mengeluarkan suara “cesss…” pelan dari wajan. Aira berdiri di depan kompor, rambutnya diikat seadanya, tangannya sibuk bolak-balik antara wajan dan piring. Sesekali ia mencicipi masakan, memastikan rasanya pas. Sementara di sampingnya, Dipta duduk santai di kursi dapur sambil membantu memotong ujung-ujung kacang panjang. Gerakannya rapi, meski jelas bukan ahli dapur, tapi cukup terbiasa. “Yang ini dibuang semua?” tanyanya sambil mengangkat satu potong. Aira melirik sekilas. “Iya, yang keras-keras dibuang. Jangan ikut dimasak nanti susah dimakan.” Dipta mengangguk pelan, lanjut bekerja tanpa banyak komentar. Suasana itu sederhana, tapi terasa hangat. Di kamar, Askara yang tadi tidur siang mulai bergerak pelan. Al
Huling Na-update: 2026-08-27
Chapter: BAB 158 Baterai HabisSetelah keluar dari butik, mereka tidak langsung pulang. Langkah Aira justru melambat saat melewati deretan restoran di lantai itu. Perutnya sebenarnya sudah mulai terasa kosong, apalagi sejak tadi hanya fokus memilih baju dan “mengawasi” dua orang di belakangnya, satu suami, satu anak. “Aku lapar.” ucap Aira tiba-tiba. Dipta yang berjalan di sampingnya langsung menoleh. “Dari tadi nggak bilang.” Aira mendengus. “Lagi milih baju mana sempat mikirin makan.” Askara yang dengar kata makan langsung bereaksi paling cepat. “MAKAN??” Nada suaranya naik satu oktaf Aira langsung tertawa kecil. “Iya, makan.” “AYO!” katanya sambil langsung menarik tangan Aira. Dipta hanya menggeleng kecil melihat itu. Mereka akhirnya memilih salah satu restoran yang tidak terlalu ramai tapi cukup nyaman. Tempatnya hangat, tidak terlalu formal, cocok untuk makan santai. Begitu duduk, Askara langsung naik ke kursi dengan semangat, bahkan belum lihat menu. “Aku mau ayam!” Aira menghela napas. “Belum liha
Huling Na-update: 2026-08-23
Chapter: BAB 157 Undangan Reuni Sore itu, Dipta baru saja sampai rumah, masih dengan kemeja kerja yang belum sempat dia ganti. Ponselnya bergetar terus sejak tadi di mobil, tapi baru sekarang dia benar-benar membuka grup lama yang sudah lama sekali tidak aktif. “SMA Garuda – Angkatan Kita” Nama grup yang bahkan sudah hampir dia lupakan. Begitu dibuka, isinya sudah ramai, David, Angger, Bayu, Raka semuanya muncul lagi dengan gaya yang masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang ditambah topik kerja, hidup, dan reuni. Dipta membaca beberapa pesan, sudut bibirnya sedikit naik. “Reuni, ya…” gumamnya pelan. Malamnya, saat Aira sedang duduk santai di ruang tengah sambil scroll sesuatu di ponselnya, Dipta duduk di sebelahnya. “Ada undangan.” katanya tiba-tiba. Aira melirik sekilas. “Undangan apa?” “Reuni SMA Garuda.” Aira langsung berhenti scrolling. Dia menoleh penuh. “Reuni?” Dipta mengangguk. “Yang ngundang anak-anak satu angkatan. Di sekolah.” Aira diam sebentar, mencerna. SMA Garuda, tempat yang punya cuku
Huling Na-update: 2026-08-22
Chapter: BAB 156 Rencana HoneymoonMalam sudah benar-benar tenang ketika mereka berdua akhirnya rebahan di ranjang, bukan dengan suasana lelah seperti beberapa hari sebelumnya, tapi lebih ke kondisi “selesai semua urusan hari itu”. Aira bersandar di dada Dipta, posisinya santai, satu tangannya main pelan di ujung selimut, sementara Dipta menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Lampu kamar sudah diredupkan, menyisakan cahaya hangat yang bikin suasana terasa lebih pelan dari biasanya, tidak ada pembicaraan besar. Sampai Dipta tiba-tiba membuka suara. “Kalau kita honeymoon gimana?” Aira yang sedang santai langsung berhenti sejenak. Dia mengangkat sedikit kepalanya, menoleh ke arah Dipta. “Honeymoon?” ulangnya pelan. Dipta mengangguk, tetap tenang. “Iya.” Aira diam sebentar. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena kalimat itu terasa agak… terlambat, dalam arti yang tidak buruk, hanya saja baru sekarang muncul di tengah hidup yang sudah cukup panjang mereka jalani. Dia menghembuskan napas pelan. “Kita honeymoon s
Huling Na-update: 2026-08-20
Chapter: BAB 155 BetahBegitu keluar dari kamar mandi, Dipta hanya menemukan kamar yang sudah rapi, rapi dalam versi Aira yang khas. Tidak berantakan, tapi juga bukan tipe rapi yang “hotel banget”. Ada sentuhan hidup di sana, tas yang sudah kembali ke tempatnya, bed cover yang sedikit dirapikan, dan aroma samar sabun yang masih tertinggal di udara tapi Aira tidak ada di sana. Dipta berhenti sebentar di tengah langkah. Matanya menyapu kamar, kosong tidak ada tanda-tamda Aira disana. “Ke dapur lagi…” gumamnya pelan, sudah bisa menebak tanpa perlu banyak berpikir. Dia menghela napas kecil, lalu berjalan santai keluar kamar, masih dengan rambut setengah kering dan pakaian rumah yang sederhana. Cincin di jarinya sesekali memantulkan cahaya saat tangannya bergerak, seperti detail kecil yang sebenarnya tidak dia sadari tapi terus “ikut ada”. Begitu sampai di area dapur, benar saja. Aira sudah di sana. Suasana dapur terbuka itu hangat, bukan hanya karena kompor yang menyala, tapi juga karena suara kecil aktivi
Huling Na-update: 2026-08-19