
Saat Aku Salah Membencimu
Hazel Chiara Parameswari adalah gadis cerdas dan ceria yang hidupnya berubah sejak kehilangan kedua orang tuanya di usia muda. Kehidupan sebagai yatim piatu mengajarkannya mandiri, tangguh, dan pantang menyerah, namun tetap menyisakan ruang untuk kelembutan dan kasih sayang.
Suatu hari, pertemuan singkat dengan Lintang Aksara Narendra, kakak tingkat tampan, kaya, dan terkenal di kampus, menorehkan titik balik yang tak terduga. Dari salah paham kecil, lahirlah serangkaian keputusan dan peristiwa yang perlahan mengubah hidup Hazel, membuatnya harus menghadapi kesulitan dan rahasia yang berat seorang diri.
Lintang, dengan karisma dan kekuasaannya, tetap menjalani hidupnya seperti biasa, namun pertemuan itu meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi, namun tidak ada yang sama seperti dulu. Hazel telah melewati jalannya sendiri, menghadapi dunia yang keras, dan meninggalkan masa lalunya tetapi bayangan masa lalu mereka masih menuntut kehadiran satu sama lain.
Di antara penyesalan, rahasia, dan perasaan yang belum selesai, apakah mereka mampu menemukan jalan menuju pengertian, kepercayaan, dan mungkin… cinta yang sejati? Atau apakah luka lama akan tetap membayangi langkah mereka selamanya?
Read
Chapter: BAB 60 Biaya Tak SedikitSatu bulan berlalu. Rumah yang dulu terasa kosong kini selalu dipenuhi suara tangis kecil, tawa lirih dan langkah tergesa Hazel setiap kali salah satu bayinya terbangun. Pagi itu, Hazel bersiap sejak lebih awal. Tiga bayi, tiga tas kecil berisi perlengkapan dan satu tas besar tambahan jaga-jaga. “Udah semua, Bu?” tanya Hazel sambil mengecek ulang isi tas. Miranti mengangguk. “Udah. Popok, baju ganti, susu cadangan, selimut… lengkap" Ia menatap Hazel sebentar. “Kamu kuat?” Hazel tersenyum tipis, capek sudah jelas tapi matanya tetap hangat. “Harus kuat, Bu.” Hari ini mereka ke rumah sakit. Kontrol pertama setelah satu bulan untuk Leyan setelah dibawa pulang, sekalian imunisasi untuk ketiga bayi yang sudah memasuki usia dua bulan. Perjalanan tidak terlalu lama, cukup membuat Hazel beberapa kali menoleh ke belakang memastikan tiga bayi itu baik-baik saja di dalam car seat. Sesampainya di rumah sakit, aroma khas antiseptik langsung menyambut. Hazel sudah familiar dengan tempat
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: BAB 59 Pasca Operasi Si BungsuLampu merah di atas ruang operasi akhirnya padam. Sudah lebih dari lima jam, waktu seperti berhenti bagi Hazel. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan tangannya berhenti gemetar atau sejak kapan air matanya kering sendiri. Saat pintu ruang operasi terbuka Hazel langsung berdiri. Langkahnya cepat hampir limbung. “Dok…” suaranya serak. Dokter utama yang keluar masih mengenakan masker di lehernya. Wajahnya lelah, tapi matanya menatap Hazel dengan serius. “Operasinya… berhasil kami lakukan.” Kalimat itu seperti menyelamatkan napas Hazel, namun belum selesai. “Tapi kondisinya masih sangat kritis. Jantungnya sempat berhenti beberapa detik di tengah operasi. Kami berhasil mengembalikannya, tapi 24 sampai 48 jam ke depan itu masa yang sangat menentukan.” Hazel menatap dokter itu tanpa berkedip. Menelan setiap kata dan setiap kemungkinan. “Dia… boleh saya lihat?” suaranya nyaris berbisik. Dokter terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Sebentar saja. Jangan terlalu lama.” Langkah Hazel terasa
Last Updated: 2026-06-01
Chapter: BAB 58 Tetralogy Of FallotPagi itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Dua bayi kembar Hazel tertidur setelah menyusu. Nafas kecil mereka teratur, sesekali tangan mungil itu bergerak refleks. Hazel duduk di samping boks, memandangi mereka dalam diam. Tangannya masih lemah, tapi sudah cukup kuat untuk mengelus pelan kepala keduanya. “Bunda di sini…” bisiknya lirih. “Kalian nggak sendirian…” Kalimat itu terasa seperti menusuk dirinya sendiri, karena satu anaknya memang sendirian di rumah sakit disaat saudaranya yang lain sudah dibawah pulang. Di sisi lain, sekitar pukul 10 pagi. Miranti sudah berada di rumah sakit, duduk berhadapan dengan dokter di ruang konsultasi. Wajahnya tegang, tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Dokter menarik napas panjang sebelum berbicara. “Bu Miranti… kondisi bayi ketiga sudah lebih stabil dibanding beberapa hari lalu.” Miranti langsung mengangkat wajahnya, ada sedikit harapan muncul. “Berat badannya juga mulai naik. Itu perkembangan yang baik.” “Tapi…” suara
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: BAB 57 Boleh Pulang Pagi itu kamar rawat Hazel terasa lebih ramai dari biasanya. Dua boks bayi kecil berada di dekat ranjangnya. Anak sulung dan anak tengahnya sudah dinyatakan cukup stabil untuk pulang dihari ke empat. Bayi laki-lakinya tampak tidur pulas setelah tadi pagi menyusu, sementara bayi perempuan kecilnya sesekali bergerak pelan di dalam selimut. Namun Hazel justru duduk diam. Tangannya memegang ujung selimut erat. Tatapannya kosong ke arah pintu, karena ada satu boks yang tidak ada di sana. “Hazel...” panggil Miranti pelan sambil melipat pakaian-pakaian bayi ke dalam tas kecil. “Nanti dokter sebentar lagi datang.” Hazel menoleh pelan. “Kalau aku pulang...” suaranya lirih. “Adiknya gimana?” Miranti terdiam beberapa detik. “Dia masih harus dirawat dulu, sayang.” Hazel langsung menunduk. Sejak tadi pagi ia sudah tahu jawaban itu. Dokter semalam juga sudah bilang kondisi si bungsu belum cukup kuat untuk pulang. Tetap saja, rasanya sangat sakit. Bagaimana mungkin ia harus pulang membawa
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: BAB 56 Levian Turun TanganPagi itu, sebelum Lintang akhirnya membuka mata. Levian sudah lebih dulu membuka sesuatu yang jauh lebih mengganggu, kebenaran. Ia berdiri di dekat jendela ruang tunggu, ponsel Lintang ada di tangannya. Layarnya retak tapi masih hidup dan cukup untuk menunjukkan semuanya. Awalnya Levian hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi semalam. Karena kecelakaan itu terasa janggal. Lintang memang sering ngebut, meski begitu tidak pernah ceroboh. Tidak pernah sampai kehilangan kendali, apalagi sampai separah itu. Ditambah lagi rekaman CCTV jalanan yang sudah didapat ayah mereka sejak beberapa jam setelah kejadian jelas terlihat, mobil Lintang melaju cepat. Lalu sebuah motor tiba-tiba mengambil jalur terlalu ke tengah sehingga Lintang membanting setir dan semuanya terjadi begitu saja. Murni kecelakaan yang tetap saja seperti ada sesuatu sebelum itu, dan Levian yakin penyebabnya ada di sini di ponsel ini. Ia membuka W******p, ada ratusan chat masuk tanpa henti. Teman kampus, rekan orga
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: BAB 55 Kenangan Tentang LintangPagi harinya, Lintang masih belum sadar. Langit di luar jendela ICU mulai terang, tapi suasana di lorong rumah sakit tetap terasa berat. Ibunya tertidur sebentar di kursi setelah semalaman menangis. Ayahnya duduk diam sejak tadi malam, sementara kakaknya masih berdiri di dekat kaca ICU, menatap Lintang yang tak bergerak sedikit pun. Di dalam, monitor jantung masih berbunyi pelan. 'Bip... Bip... Bip...' Lintang tetap terbaring diam. Ponselnya yang layarnya retak diletakkan di atas meja kecil dekat ayahnya. Untung saja ponsel itu masih bisa menyala. Semalam, pihak kepolisian bahkan memakai ponsel itu untuk menghubungi keluarga Lintang setelah membukanya dengan sidik jari. Dari sana, kakaknya menemukan banyak pesan masuk. Salah satunya dari Levian. Akhirnya, dengan tangan gemetar, kakaknya membalas pesan itu dan memberi tahu apa yang terjadi. Tak butuh waktu lama. Menjelang siang, empat orang muncul tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Kevin, Arga, Dio an Raka wajah mereka pucat. Nap
Last Updated: 2026-05-27

DIPTA
Semua berawal dari sebuah taruhan.
Bagi Dipta (Dipta Niskala Mahesa), hidup adalah strategi. Ia terbiasa menang di kelas, di kompetisi, dalam bisnis keluarga, bahkan dalam permainan yang tak pernah orang lain sadari.
Aira (Humaira Navya Aruna) hanyalah satu langkah dalam rencana kecilnya di masa sekolah, sebuah tantangan, sebuah eksperimen, sebuah pembuktian. Namun rencana tak pernah memperhitungkan perasaan. Aira datang dengan kepolosan yang tak dibuat-buat, kecerdasan yang tenang, dan cara menatap yang membuat pertahanan Dipta perlahan runtuh.
Kedekatan mereka tumbuh lewat diskusi panjang tentang bintang dan masa depan, sesi belajar di apartemen mewah yang menyimpan ruang rahasia penuh piala dan medali, hingga sentuhan-sentuhan yang semakin sulit diabaikan.
Awalnya hanya permainan.
Lalu menjadi kebiasaan.
Kemudian… candu.
Rumor di sekolah berhembus liar. Iri dan ambisi menyusup di antara teman-teman mereka. Taruhan baru muncul lebih mahal, lebih menantang. Namun semakin lama hubungan itu berjalan, semakin Dipta menyadari satu hal, ia bukan lagi pemain yang memegang kendali penuh.
Ia mulai menginginkan lebih dari sekadar kemenangan.
Lebih dari sekadar pembuktian.
Lebih dari sekadar sentuhan yang tertahan.
Waktu berlalu, masa sekolah usai.
Dunia berubah, mereka tumbuh, ambisi menjadi nyata. Dipta menapaki jalur bisnis yang ia pilih sejak remaja, membangun kekuasaan dan pengaruh. Aira menemukan jalannya sendiri, namun bayangan masa lalu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika mereka dipertemukan kembali beberapa tahun kemudian, bukan lagi sebagai remaja, tetapi sebagai dua individu dewasa dengan luka, rahasia, dan keinginan yang lebih kompleks, api lama itu menyala kembali. Lebih dalam dan lebih berbahaya.
Kini bukan hanya tentang cinta.
Bukan pula sekadar obsesi.
Ini tentang kendali.
Tentang siapa yang akhirnya menyerah, tentang seberapa jauh seseorang bersedia melangkah demi memiliki. Dalam dunia yang dipenuhi ambisi, rahasia, dan gairah yang terus tumbuh, satu pertanyaan menggantung di udara.
Apakah ini cinta yang tumbuh dari kesalahan?
Atau permainan lama yang berubah menjadi takdir yang tak bisa dihindari?
Read
Chapter: BAB 95 InspeksiBarang-barang di atas meja kasir mulai berpindah satu persatu. Suara beep mesin scanner terdengar berulang kaleng susu, botol minum, buku gambar astronot dan cemilan sampai perintilan kecil lainnya. Aira berdiri di sisi kasir, sesekali melirik layar total belanja. “Ini kayaknya bisa buat buka warung…” gumamnya pelan, setengah bercanda. Di sampingnya, Dipta masih membantu mengangkat barang dari troli. Gerakannya tenang sudah terbiasa, kasir menyebutkan total pembelian yang angkanya tidak kecil. Aira langsung mengambil dompetnya tanpa ragu. “Sebentar ya—” Namun tangan Dipta lebih dulu bergerak. Satu kartu sudah diletakkan di mesin. Aira langsung menoleh cepat. “Pak?!” Dipta tidak melihat ke arahnya. “Lanjut saja mbak.” Kasir langsung memproses. Aira langsung mendekat sedikit. “Pak, ini saya yang bayar…” Dipta tetap tenang. “Sudah biar saya aja.” Aira mengernyit. “Kan ini belanjaan saya…” Dipta baru memandang, tatapannya datar. “Iya.” Aira makin bingung. “Terus ken
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: BAB 94 BelanjaanAira masih berdiri di depan rak susu, mencoba mengembalikan fokusnya setelah kejadian barusan yang jujur saja, cukup membuat kepalanya sedikit “panas dingin”. Troli di depannya sudah hampir penuh. Ia mengambil satu kaleng susu formula, memperhatikan labelnya sebentar, lalu tanpa ragu memasukkannya ke dalam troli. Gerakannya cepat seolah sudah hafal. Di sampingnya, Dipta berdiri tenang. Tadinya hanya memperhatikan sekilas, namun kali ini tatapannya bertahan lebih lama. Matanya turun perlahan ke dalam troli, satu persatu isi di dalamnya terlihat jelas produk anak-anak. Cemilan khusus, perawatan bayi, minyak telon dan lainnya. Semuanya bukan yang biasa, lalu pandangannya bergeser ke bagian lain. Produk milik Aira seperti sabun, sampo, body lotion, skincare, make up, semuanya standar. Bahkan bisa dibilang sederhana. Dipta tidak langsung bicara, tatapannya sedikit berubah lebih dalam. Aira yang masih fokus merapikan barang, tidak langsung sadar diperhatikan seperti itu. “Ini harusnya
Last Updated: 2026-06-01
Chapter: BAB 93 BelanjaDulu, Dipta adalah seseorang yang mengendalikan. Sekarang dia terlihat seperti seseorang yang membentuk tanpa menekan. Arjito menghela napas lagi, lebih panjang dari sebelumnya. “Kamu benar-benar belajar…” Kalimat itu keluar pelan, bukan hanya untuk Aira justru ini juga untuk Dipta. Beberapa detik ruangan itu benar-benar hening. Tidak ada suara selain napas yang teratur. Lalu perlahan, tangan Arjito meraih ponselnya yang terletak di sisi meja. Ia menatap layar sebentar, seolah memastikan keputusan kecil itu, kemudian satu nama dipilih. Panggilan dilakukan. Nada sambung terdengar beberapa detik, sebelum akhirnya tersambung. “Jarang kamu yang menghubungi duluan.” suara di seberang terdengar santai, sedikit ringan, sangat kontras dengan suasana di ruangan itu. Suara dari Hadiyasa Mahesa. Arjito tidak langsung menjawab. Ia berdiri perlahan dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. Pemandangan kota terbentang luas di bawah sana, gedung-gedung tinggi berdir
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: BAB 92 Jalur yang DibentukSetelah Nadhira benar-benar pergi, akhirnya suasana di meja itu kembali tenang. Aira menarik napas panjang, lalu menegakkan badannya. “Akhirnya…” Di depannya, makanan sudah tersaji, hangat dan terlihat menggoda. Dipta mulai makan tanpa banyak bicara, seperti biasa. Aira mengambil sendok, belum langsung makan. “Pak.” Dipta berhenti dari aktivitasnya. “Ya?” “Tadi itu…” Aira berhenti sebentar. “…memalukan nggak sih?” Dipta tetap tenang. “Tidak.” Aira mengernyit. “Serius?” "Iya”, jawab Dipta singkat lagi. Aira memperhatikan ekspresinya, mencari jika ada tanda-tanda bercanda, tapi tidak ada. “Padahal itu temen saya paling… ya gitu lah…” Dipta menjawab singkat. “Sudah terlihat.” Aira langsung ketawa kecil. “Iya kan” Aira akhirnya mulai makan. Suasana perlahan jadi lebih santai dalam beberapa suapan berlalu. Aira tiba-tiba bicara lagi, lebih pelan. “…Pak.” “Ya?”, sahut Dipta yang kembali harus terhenti menikmati hidangan. “Kalau orang-orang dulu lihat kita sekar
Last Updated: 2026-05-30
Chapter: BAB 91 Andine dan Bertemu NadhiraPagi itu berjalan seperti biasa di Rajendra Engineering. Aira sudah kembali dengan rutinitasnya, menyusun jadwal, menyiapkan dokumen, dan memastikan semua agenda Dipta berjalan rapi. Suasana kantor relatif normal dan tenang. Sampai ada suara yang menahan aktivitasnya. “Bu Aira, ada tamu.” ucap staf yang memanggilnya. Aira menoleh. “Tamu?” Staf di depannya mengangguk. “Dari perusahaan luar, sudah ada janji dengan Pak Dipta.” Aira langsung mengangguk kecil. “Baik, saya konfirmasi dulu.” Dia berdiri, berjalan ke ruang kerja Dipta, mengetuk pelan. “Masuk.” ucap Dipta. Aira membuka pintu. “Pak, tamu dari perusahaan—” Kalimatnya terhenti, karena di dalam ruangan itu sudah berdiri dua orang. Seorang pria paruh baya dengan aura pebisnis kuat dan di sampingnya Andine. Aira langsung diam sepersekian detik, matanya menyipit sedikit. “Oh…” Andine yang melihat itu, langsung mengenali wajah Aira. Tatapannya berubah tajam, senyum tipis muncul di bibirnya. "Ternyata kamu…” gumamnya pelan
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: BAB 90 Revisi BersamaRuang kerja kembali hening setelah tumpukan revisi itu selesai mereka baca. Aira masih duduk, menatap dokumen di depannya seolah belum benar-benar selesai memproses semuanya. Sementara Dipta sudah mulai menandai bagian-bagian yang perlu diperbaiki. Aira akhirnya bicara pelan. “Pak.” Dipta tidak menoleh. "Iya?” Aira menarik napas kecil. “Saya baru ngerti sekarang.” Dipta berhenti sebentar. “Apa?” Aira menatap dokumen itu lagi. “Kenapa orang-orang masih hormat sama beliau…” Dia berhenti, lalu lanjut pelan. “…padahal standarnya kayak… ya ini…” dia mengangkat sedikit kertas revisi itu. Dipta menutup pulpen. “Karena dia tidak menjatuhkan orangnya.” Aira langsung menoleh. “Iya…” Dia mengangguk pelan. “…dia kayak… selalu punya cara lain sebelum nyalahin orang.” lalu berhenti sebentar. Aira melanjutkan, kali ini lebih jujur. “…dulu saya kira ayah saya itu dingin.” Dia tertawa kecil. “…ternyata bukan dingin… cuma terlalu mikir jauh.” Dipta menatapnya sekilas. “…dan kamu baru
Last Updated: 2026-05-28