
DIPTA
Semua berawal dari sebuah taruhan.
Bagi Dipta (Dipta Niskala Mahesa), hidup adalah strategi. Ia terbiasa menang di kelas, di kompetisi, dalam bisnis keluarga, bahkan dalam permainan yang tak pernah orang lain sadari.
Aira (Humaira Navya Aruna) hanyalah satu langkah dalam rencana kecilnya di masa sekolah, sebuah tantangan, sebuah eksperimen, sebuah pembuktian. Namun rencana tak pernah memperhitungkan perasaan. Aira datang dengan kepolosan yang tak dibuat-buat, kecerdasan yang tenang, dan cara menatap yang membuat pertahanan Dipta perlahan runtuh.
Kedekatan mereka tumbuh lewat diskusi panjang tentang bintang dan masa depan, sesi belajar di apartemen mewah yang menyimpan ruang rahasia penuh piala dan medali, hingga sentuhan-sentuhan yang semakin sulit diabaikan.
Awalnya hanya permainan.
Lalu menjadi kebiasaan.
Kemudian… candu.
Rumor di sekolah berhembus liar. Iri dan ambisi menyusup di antara teman-teman mereka. Taruhan baru muncul lebih mahal, lebih menantang. Namun semakin lama hubungan itu berjalan, semakin Dipta menyadari satu hal, ia bukan lagi pemain yang memegang kendali penuh.
Ia mulai menginginkan lebih dari sekadar kemenangan.
Lebih dari sekadar pembuktian.
Lebih dari sekadar sentuhan yang tertahan.
Waktu berlalu, masa sekolah usai.
Dunia berubah, mereka tumbuh, ambisi menjadi nyata. Dipta menapaki jalur bisnis yang ia pilih sejak remaja, membangun kekuasaan dan pengaruh. Aira menemukan jalannya sendiri, namun bayangan masa lalu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika mereka dipertemukan kembali beberapa tahun kemudian, bukan lagi sebagai remaja, tetapi sebagai dua individu dewasa dengan luka, rahasia, dan keinginan yang lebih kompleks, api lama itu menyala kembali. Lebih dalam dan lebih berbahaya.
Kini bukan hanya tentang cinta.
Bukan pula sekadar obsesi.
Ini tentang kendali.
Tentang siapa yang akhirnya menyerah, tentang seberapa jauh seseorang bersedia melangkah demi memiliki. Dalam dunia yang dipenuhi ambisi, rahasia, dan gairah yang terus tumbuh, satu pertanyaan menggantung di udara.
Apakah ini cinta yang tumbuh dari kesalahan?
Atau permainan lama yang berubah menjadi takdir yang tak bisa dihindari?
읽기
Chapter: BAB 12 Pertemuan dan Lebih dari Sekedar PedasJam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. Akhirnya ia mengambil kemeja krem tipis dengan celana hitam sederhana. Rapi, tapi tidak berlebihan. Ia berdiri di depan cermin, rambutnya dibiarkan terurai, lalu ia ikat setengah, lalu dilepas lagi.“Ya ampun, kenapa jadi ribet gini…”, desahnya pelan.Ponselnya berbunyi.Nadhira: "Jadi?"Aira langsung membalas.Aira: "Jadi lah. Cuma makan doang."Tiga detik kemudian.Nadhira: "Cuma makan katanya."Aira mendengus kecil. Lalu membalas lagi. 'Udah sana, kamu fokus hidup kamu sendiri.'Ia meletakkan ponsel di kasur, lalu duduk sebentar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Padahal ini bukan pertama kalinya ia bicara dengan Dipta. Bukan juga pertama kali mereka duduksendiri, tapi ini di
최신 업데이트: 2026-03-03
Chapter: BAB 11 Tarikan Tidak TerlihatPagi itu sekolah terasa seperti biasa, tapi bagi Aira, ada sedikit rasa “tidak biasa” yang sulit dijelaskan. Ia berjalan bersama Nadhira dan Lestari, tas digendong satu sisi, buku di tangan. Suara sepatu beradu dengan lantai keramik, tawa teman-teman terdengar dari beberapa kelas.“Air, nanti istirahat jangan lupa ke kantin, ya?” Lestari mencondongkan tubuh, merapikan rambutnya.“Iya, aku belum sarapan tadi”, jawab Aira ringan, tersenyum sekilas.Langkah mereka melambat saat Aira menangkap sosok yang sudah dikenalnya. Dipta berdiri di ujung koridor, bersandar di dekat jendela. Di dekatnya, Rania tampak tertawa atas sesuatu yang Dipta katakan. Ia terlihat rapi, rambut terurai, dan gesturnya santai.Aira menelan sedikit rasa canggungnya. Tangannya yang memegang buku mengencang. Nadhira menyadari tatapan Aira dan menoleh pelan.“Eh…”, gumamnya.Aira cepat-cepat mengalihkan pandangan, pura-pura merapikan tali tasnya.“Kenapa?”, Lestari menatapnya.“Nggak kok”, jawab Aira, terlalu cepat.B
최신 업데이트: 2026-03-02
Chapter: BAB 10 Celah Yang TerlihatPagi itu koridor sekolah lebih ramai dari biasanya. Anak-anak baru selesai upacara dan bergerak ke kelas masing-masing. Suara sepatu beradu dengan lantai, tawa kecil terdengar di beberapa sudut. Aira berjalan bersama Nadhira dan Lestari. Tasnya digendong satu sisi, tangannya memegang buku yang belum sempat dimasukkan ke dalam tas.“Air, nanti istirahat ke kantin ya?”, tanya Lestari sambil merapikan rambutnya.“Iya, aku belum sarapan tadi”, jawab Aira ringan.Langkahnya melambat ketika tanpa sengaja pandangannya menangkap sesuatu di ujung koridor, ada Dipta di sana. Ia berdiri bersandar santai di dekat jendela. Seragamnya rapi seperti biasa, lengan kemeja sedikit digulung. Di depannya berdiri Rania. Rania terlihat lebih rapi dari biasanya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan ia tertawa cukup keras atas sesuatu yang Dipta katakan.Aira tidak langsung berhenti, tapi langkahnya otomatis melambat. Tangannya yang memegang buku sedikit mengencang.Rania menyentuh lengan Dipta ringan saat tertaw
최신 업데이트: 2026-03-01
Chapter: BAB 9 Percakapan dan PesanBeberapa hari setelah mereka bertukar nomor HP, Aira duduk di kelas kosong XI IPA 2. Di depannya, buku Biologi terbuka lebar, catatan rapi tertata di setiap halaman. Tapi matanya sesekali menatap layar ponsel, jari-jarinya memainkan ujung pena tanpa sadar. Napasnya pendek ketika ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai mengetik pesan pertama ke Dipta.Aira: "Kak Dipta, aku masih bingung sama diagram sel… bisa jelasin lagi?"Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Dipta.Dipta: "Oke… aku jelasin sedikit. Tapi jangan salah paham, diagram sel itu kayak labirin, aku jadi mau ikut nyasar juga"Aira menutup mata sebentar, tersenyum sendiri. Ia kembali menatap catatan, tapi pikirannya entah kenapa melayang membayangkan Dipta dengan ekspresi serius tapi nakal, sedikit menggoda lewat chat itu. Ada hangat yang muncul di dadanya, tanpa ia mengerti dari mana asalnya.Aira: "Hahaha… iya deh, aku coba lagi."Dipta: "Bagus… tapi jangan sampai tersesat di labirin itu ya. Kal
최신 업데이트: 2026-02-28
Chapter: BAB 8 Persaingan & Flirty Close CallHari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area sekolah, walau mereka beda jurusan.“Nadhira, lihat deh, catatan Biologi aku masih berantakan”, keluh Aira sambil menatap buku di tangan.Nadhira menepuk bahu Aira, tersenyum nakal. “Santai aja, Air… lagian aku pikir kakak kelas itu eh, maksudku, Dipta tidak akan memperhatikanmu kalau kau kelihatan panik, kan?”Aira tersipu, menunduk sebentar. “Eh… jangan bilang gitu, Nadhira… aku nggak tahu juga, kok…”Lestari, yang duduk di samping, tersenyum tipis. “Hati-hati, Air. Kau kelihatan sedikit terganggu tiap kali ada dia. Tapi jangan sampai kehilangan fokus sama latihan hari ini.”Aira menatap keduanya, nyaman itu yang dia rasakan. Kehadiran teman-temannya membuatnya lebih tenang, tapi tetap ada
최신 업데이트: 2026-02-27
Chapter: BAB 7 PerhatianPagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beberapa hari terakhir, pemuda dari kelas XII IPS 1 yang tinggi, rapi, dan selalu tampak fokus. Namanya Dipta. Meski mereka tidak sekelas dan memiliki jurusan berbeda, ada sesuatu pada aura Dipta yang sulit dijelaskan. Matanya sesekali menatap kosong, tapi selalu penuh perhatian terhadap apa yang ia lakukan. Aira menghela napas dan menepuk buku pelan, mencoba menenangkan pikirannya. "Ah.. Jangan mikirin dia terus, Aira…”, gumamnya pelan. Tapi bayangan pemuda itu terus muncul dalam benaknya, membuat hatinya berdebar saat ia menoleh ke lorong, kantin, atau perpustakaan dan tempat-tempat mereka kadang kebetulan bertemu. Jam kosong pertama dimulai. Aira membawa buku catatan Biologi menuju kantin
최신 업데이트: 2026-02-26