author-banner
Adw_Canss781
Adw_Canss781
Author

Novel-novel oleh Adw_Canss781

Saat Aku Salah Membencimu

Saat Aku Salah Membencimu

Hazel Chiara Parameswari adalah gadis cerdas dan ceria yang hidupnya berubah sejak kehilangan kedua orang tuanya di usia muda. Kehidupan sebagai yatim piatu mengajarkannya mandiri, tangguh, dan pantang menyerah, namun tetap menyisakan ruang untuk kelembutan dan kasih sayang. Suatu hari, pertemuan singkat dengan Lintang Aksara Narendra, kakak tingkat tampan, kaya, dan terkenal di kampus, menorehkan titik balik yang tak terduga. Dari salah paham kecil, lahirlah serangkaian keputusan dan peristiwa yang perlahan mengubah hidup Hazel, membuatnya harus menghadapi kesulitan dan rahasia yang berat seorang diri. Lintang, dengan karisma dan kekuasaannya, tetap menjalani hidupnya seperti biasa, namun pertemuan itu meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi, namun tidak ada yang sama seperti dulu. Hazel telah melewati jalannya sendiri, menghadapi dunia yang keras, dan meninggalkan masa lalunya tetapi bayangan masa lalu mereka masih menuntut kehadiran satu sama lain. Di antara penyesalan, rahasia, dan perasaan yang belum selesai, apakah mereka mampu menemukan jalan menuju pengertian, kepercayaan, dan mungkin… cinta yang sejati? Atau apakah luka lama akan tetap membayangi langkah mereka selamanya?
Baca
Chapter: BAB 102 Bertemu Masa Lalu
Tak lama setelah itu semua pesanan akhirnya datang memenuhi meja mereka. Aroma sate bakar langsung semakin terasa kuat, kuah sop masih mengepul panas. Sedangkan dua piring iga sapi bakar sukses membuat mata Leyan berbinar paling terang. “Waaaah… Ayah ini gede banget.” Lintang sampai tertawa kecil melihat ekspresi anak itu. “Ingat makannya jangan langsung kalap. Takutnya nanti gak habis.” Leyan langsung menggeleng cepat. “Habis kok.” “Yakin?” tanya Lintang. “YAKIN.” Sedangkan Liana sudah sibuk memperhatikan sate ayamnya sendiri. Namun beberapa detik kemudian kening kecilnya mulai berkerut. Karena dirinya kesusahan menarik daging sate dari tusuknya. “Ayah…” Lintang langsung menoleh. “Hmm?” “Ini susah.” keluh Liana, dia mendorong piring berisi sate pesanannya ke arah Lintang sedikit. Lintang akhirnya mengambil piring sate milik Liana. Lalu perlahan membantu melepaskan potongan daging sate dari tusuk satu per satu. “Nah… Makannya pelan-pelan aja.” Liana langsung tersenyum puas.
Terakhir Diperbarui: 2026-07-19
Chapter: BAB 101 Protes Kecil
Begitu Leyan berlari mendekat, suasana taman yang tadi terasa agak murung langsung berubah ramai lagi. “AYAHHH.” Anak itu langsung memeluk pinggang Lintang tanpa rem. Sedangkan Liana menyusul beberapa detik kemudian dengan wajah yang masih terlihat sedikit kesal. “Ayah kok lama sekali…” Nada suaranya terdengar seperti protes tulus anak kecil yang benar-benar menunggu. Lintang langsung jongkok pelan di depan mereka. Tatapannya bergantian melihat dua wajah kecil itu. Lagi-lagi dadanya terasa penuh melihat mereka menyambutnya seperti ini. “Iya…” Lintang tersenyum kecil samar. “Ayah tadi meeting.” "Meetingnya lama banget.” Leyan langsung ikut nimbrung cepat. “Iya.” “Ayah biasanya kan cepet.” protes Leyan lagi. Lintang mengangguk kecil. “Iya… tapi kali ini memang gak bisa ditinggal, maaf ya.” Kalimat itu keluar begitu pelan dan tulus sampai Liana yang tadi masih manyun perlahan mulai luluh lagi. Jujur saja anak perempuan itu memang sedari tadi terus melihat ke arah jalan menunggu
Terakhir Diperbarui: 2026-07-18
Chapter: BAB 100 Menunggu
Jam menunjukkan pukul setengah dua siang saat Lintang akhirnya berdiri dari kursinya. Meeting tetap harus berjalan, mau bagaimana pun keadaan isi kepalanya sekarang. Map putih hasil tes DNA itu akhirnya dimasukkan kembali ke dalam tas kerja hitam miliknya. Meski begitu Lintang tetap merasa seolah benda itu masih berada tepat di depan matanya. Setiap kali mengingat hasilnya, dadanya kembali terasa sesak. Angka itu jelas, 99,98% tiga anak itu anaknya dan kesadaran itu belum benar-benar selesai ia cerna sampai sekarang. Lintang akhirnya berjalan keluar ruangan menuju ruang meeting utama. Beberapa staf yang melihatnya langsung berdiri kecil menyapa. “Siang Pak.” Lintang mengangguk singkat. Langkahnya tetap tenang seperti biasa, raut wajahnya juga masih datar. Namun orang-orang yang sudah cukup lama bekerja pasti sadar atasan mereka hari ini jauh lebih diam dibanding biasanya. Karena biasanya Lintang termasuk tipe pemimpin yang cukup aktif saat meeting. Cepat memberi tanggapan, cepat m
Terakhir Diperbarui: 2026-07-18
Chapter: BAB 99 Tentang Kenyataan
Ruangan Dokter Maya Anindita mendadak terasa terlalu sempit bagi Lintang. Padahal sejak tadi tidak ada yang berubah. AC masih menyala pelan, suara langkah kaki yang terdengar samar masih terdengar dari lorong luar. Jam dinding masih berdetak tenang. Namun setelah kalimat itu keluar semuanya terasa berbeda. “Bapak adalah ayah biologis dari ketiga anak itu.” Lintang masih diam. Kepalanya menunduk dalam, tangannya menutup wajah sendiri. Dadanya terasa penuh sampai sulit bernapas normal dan yang paling menyakitkan dirinya justru merasa lega. Lega karena selama ini perasaannya tidak salah. Lega karena tiga anak kecil yang memanggilnya Ayah itu benar-benar darah dagingnya. Sekaligus hancur karena dirinya tahu persis bagaimana mereka hadir ke dunia ini. Dokter Maya memperhatikan laki-laki di depannya beberapa saat. Lalu kembali membuka lembar hasil pemeriksaan lebih detail. “Pak Lintang…” Lintang perlahan menurunkan tangannya dari wajah. Matanya terlihat merah sekarang. Dokter Maya me
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: BAB 98 Hasil Tes DNA
Senin siang di gedung cabang Narendra Group Bandung sedang berada di jam paling sibuk. Suasana lantai direksi terasa padat sejak pagi. Beberapa staf keluar masuk ruang meeting membawa dokumen. Suara printer terdengar hampir tanpa jeda. Beberapa telepon kantor juga terus berbunyi bergantian. Sedangkan di ruang direktur sementara, Lintang bahkan belum benar-benar berhenti bekerja sejak datang pagi tadi. Laptopnya masih terbuka penuh laporan, tumpukan map memenuhi meja dan layar tablet di sampingnya menampilkan data evaluasi cabang yang belum selesai diperiksa. “Pak Lintang, ini revisi laporan distribusi minggu lalu.” “Taruh aja dulu.” “Meeting jam setengah dua jadi dimajuin Pak.” Lintang mengangguk kecil tanpa mengalihkan fokus dari layar laptopnya. Kepalanya sebenarnya mulai terasa berat. Sejak pagi dirinya terus berpindah dari satu urusan ke urusan lain tanpa jeda. Bahkan kopi di meja sejak tadi belum benar-benar disentuh. Namun di tengah semua kesibukan itu, pikirannya tetap be
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15
Chapter: BAB 97 Telepon Kevin
Suasana ruang tamu masih hangat dengan suara ocehan Liana yang belum selesai memperlihatkan isi album foto. Sedangkan Leyan sekarang mulai sibuk mengambil camilan lagi dari meja makan. “Aku lapar lagi.” “Kamu tuh…” Lintang kecil langsung geleng kepala pasrah. Sedangkan Hazel terlihat jauh lebih santai sekarang dibanding awal tadi. Meski sesekali dirinya masih tampak sedikit canggung karena ada Lintang di rumahnya. Di tengah suasana itu ponsel Lintang tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di layar membuat sudut bibirnya naik tipis. “Tumben…” gumamnya kecil. Hazel yang duduk tidak jauh sempat melirik penasaran. Lintang memperlihatkan layar ponselnya sekilas sambil tertawa kecil. “Tuh… Baru dibahas orangnya nelpon.” Hazel langsung sedikit membelalak. “Astaga…” Karena nama yang muncul jelas terlihat, Kevin Al-Bassy. Lintang akhirnya berdiri sambil membawa ponselnya. “Saya angkat telpon dulu ya.” Hazel mengangguk kecil pelan. Lintang lalu melangkah keluar menuju teras depan ruma
Terakhir Diperbarui: 2026-07-14
DIPTA

DIPTA

Semua berawal dari sebuah taruhan. Bagi Dipta (Dipta Niskala Mahesa), hidup adalah strategi. Ia terbiasa menang di kelas, di kompetisi, dalam bisnis keluarga, bahkan dalam permainan yang tak pernah orang lain sadari. Aira (Humaira Navya Aruna) hanyalah satu langkah dalam rencana kecilnya di masa sekolah, sebuah tantangan, sebuah eksperimen, sebuah pembuktian. Namun rencana tak pernah memperhitungkan perasaan. Aira datang dengan kepolosan yang tak dibuat-buat, kecerdasan yang tenang, dan cara menatap yang membuat pertahanan Dipta perlahan runtuh. Kedekatan mereka tumbuh lewat diskusi panjang tentang bintang dan masa depan, sesi belajar di apartemen mewah yang menyimpan ruang rahasia penuh piala dan medali, hingga sentuhan-sentuhan yang semakin sulit diabaikan. Awalnya hanya permainan. Lalu menjadi kebiasaan. Kemudian… candu. Rumor di sekolah berhembus liar. Iri dan ambisi menyusup di antara teman-teman mereka. Taruhan baru muncul lebih mahal, lebih menantang. Namun semakin lama hubungan itu berjalan, semakin Dipta menyadari satu hal, ia bukan lagi pemain yang memegang kendali penuh. Ia mulai menginginkan lebih dari sekadar kemenangan. Lebih dari sekadar pembuktian. Lebih dari sekadar sentuhan yang tertahan. Waktu berlalu, masa sekolah usai. Dunia berubah, mereka tumbuh, ambisi menjadi nyata. Dipta menapaki jalur bisnis yang ia pilih sejak remaja, membangun kekuasaan dan pengaruh. Aira menemukan jalannya sendiri, namun bayangan masa lalu tak pernah benar-benar pergi. Ketika mereka dipertemukan kembali beberapa tahun kemudian, bukan lagi sebagai remaja, tetapi sebagai dua individu dewasa dengan luka, rahasia, dan keinginan yang lebih kompleks, api lama itu menyala kembali. Lebih dalam dan lebih berbahaya. Kini bukan hanya tentang cinta. Bukan pula sekadar obsesi. Ini tentang kendali. Tentang siapa yang akhirnya menyerah, tentang seberapa jauh seseorang bersedia melangkah demi memiliki. Dalam dunia yang dipenuhi ambisi, rahasia, dan gairah yang terus tumbuh, satu pertanyaan menggantung di udara. Apakah ini cinta yang tumbuh dari kesalahan? Atau permainan lama yang berubah menjadi takdir yang tak bisa dihindari?
Baca
Chapter: BAB 136 Yang di Sengaja
Aira masih belum berhenti juga. Nada bicaranya santai, tapi jelas ada sengaja di sana semacam “menarik pelan” reaksi dari orang yang di sebelahnya. “Terus dulu kamu nggak pernah segini jauh jaraknya. Sekarang malah kayak takut sendiri.” Dipta akhirnya menghela napas panjang. Ia tidak kesal mendengar ucapan Aira, justru sekarang ia tau bahwa ini sudah masuk tahap “oke ini disengaja.” “Kamu sengaja ya?” Aira langsung diam sepersekian detik, lalu jawab dengan tenang. “Iya.” Dipta menoleh. “Kenapa?” Aira menatapnya sekilas, lalu kembali menatap langit-langit. “Kamu lucu kalau gini.” Dipta langsung diam. Dan diamnya Dipta justru membuat Aira semakin yakin kalau Dipta terpancing. Aira lanjut pelan, masih dengan nada ringan. “Dulu kamu nggak segini hati-hati... Kalau di kamar, kamu nggak pernah jaga jarak kayak sekarang.” Dipta mengalihkan pandangan sebentar, lalu menjawab pelan tapi jelas. “Dulu beda.” Aira menoleh. “Beda karena apa?” Hening sebentar. Dipta akhirnya menjawab juju
Terakhir Diperbarui: 2026-07-19
Chapter: BAB 135 Perkembangan dan Batas
Askara memang bukan anak yang “baru mulai belajar” seperti kebanyakan anak seusianya. Sejak usia sekitar 1,5 tahun, dia sudah terbiasa melihat huruf, angka, dan pola bahasa setiap hari. Bukan dengan cara dipaksa belajar, tapi lewat kebiasaan kecil di rumah yang tanpa sadar membentuknya. Aira sering menulis kadang di notes, kadang di buku kecil untuk urusan pekerjaannya sebagai penulis novel online. Huruf-huruf itu sering dibuat besar, sengaja, karena ada satu “pembaca kecil” yang selalu penasaran di dekatnya dan pembaca itu adalah Askara. Awalnya hanya menunjuk “Ini apa?” Lalu berubah jadi mengeja pelan. “…A… I… R… A…” Lama-lama anak itu jadi terbiasa. Sampai akhirnya bukan hanya huruf, tapi juga angka, pola, dan logika sederhana ikut masuk tanpa terasa. Sekarang, saat masuk usia playgroup, Askara sudah jauh lebih maju dibanding anak seusianya. Dia sudah bisa membaca kata-kata sederhana dengan cukup lancar, mengenali angka tanpa ragu, bahkan mulai memahami konsep dasar penjumlahan
Terakhir Diperbarui: 2026-07-18
Chapter: BAB 134 Perubahan
Sore itu, sekitar jam empat lewat sedikit, suasana rumah mulai berubah lagi. Bukan jadi sepi total tapi jelas lebih ringan. Indri Mahesa dan Hadiyasa Mahesa sudah lebih dulu pamit, disusul Arjito Rajendra dan Linda yang juga akhirnya pulang setelah obrolan panjang yang terasa seperti reuni masa lalu yang terlalu jujur untuk ukuran satu hari. Begitu mobil terakhir keluar dari halaman, rumah itu langsung terasa lebih “longgar”. Aira berdiri di dekat pintu, masih sedikit melamun, seperti otaknya belum selesai memproses semua cerita tadi. Di belakangnya, Dipta baru saja menutup pintu. “Capek?” tanya Dipta pelan. Aira menoleh, lalu menghela napas panjang. “Capek sih. Tapi lebih ke… penuh.” Dipta mengangguk kecil. “Hari ini memang terlalu banyak sejarah yang keluar sekaligus.” Dari ruang tengah, suara kecil terdengar. Askara masih sibuk sendiri, main tanpa peduli dunia orang dewasa yang barusan “rapat besar keluarga”. Aira melirik ke arah suara itu, lalu sedikit tersenyum. “Tapi aneh
Terakhir Diperbarui: 2026-07-18
Chapter: BAB 133 Nostalgia Para Orang Tua
Begitu semua sudah masuk, suasana rumah Dipta langsung berubah dari “kunjungan mendadak” jadi “piknik keluarga yang tidak direncanakan”. Dari arah dapur, terdengar suara plastik kresek dan kotak makanan diturunkan satu per satu. Indri Mahesa datang dengan dua tas besar. “Ini Bunda masakin sup, sama lauk ringan.” Belum selesai bicara, dari belakang Linda sudah menyusul sambil meletakkan beberapa kotak. “Ibu bawa makanan favorit kamu juga.” Aira yang berdiri di ruang tengah langsung diam. “Ini rumah atau acara potluck…” gumamnya pelan. Di sisi lain, Askara sudah lebih dulu “sibuk”. Dia duduk di karpet ruang keluarga, membuka satu persatu cemilan yang dibawa Indri dan Linda. “Ini buat aku semua?” Indri langsung tersenyum. “Iya, tapi jangan makan banyak-banyak dulu ya.” Linda ikut menambahkan sambil mengelus kepala Askara. “Kalau ini habis, nanti nenek bikin lagi.” Askara langsung mengangguk serius. “Aku akan evaluasi kualitasnya.” Aira hampir tersedak tawa kecil dengar i
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: BAB 132 Kegiatan Baru
Perubahan kecil itu mulai kelihatan dari rutinitas harian Aira. Kalau dulu dia masih sering pulang ke rumah orang tuanya, sekarang arah pulangnya pelan-pelan bergeser. Lebih sering ke rumah Dipta . Bukan karena “sudah diumumkan ke dunia luar”, tapi karena di titik ini, itu terasa paling aman dan paling tenang untuk sementara. Awalnya Aira masih canggung. Namun lama-lama, ritme itu terbentuk sendiri. Pulang kerja, makan, istirahat, urus hal kecil rumah, tidur. Sederhana, namun tetap stabil, dan yang paling menarik justru bukan itu. Justru perubahan kecil dari Aira terhadap Askara. “Papa pinjaman.” begitu Askara menyebut Dipta dengan santai, tanpa beban, seperti nama panggilan yang sudah jadi kebiasaan. Dipta awalnya hanya diam mendengar itu. Lalu menatap Askara sebentar. “Pinjaman?” Askara mengangguk polos. “Soalnya papa asli aku belum bisa bareng aku terus.” Aira yang mendengar itu langsung terdiam sebentar. Tidak ada nada sedih yang berlebihan, hanya ada sesuatu yang pelan-pela
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15
Chapter: BAB 131 Runtuh
Iya, itu justru jadi garis penting yang mereka jaga ketat. Di dalam mobil itu, meskipun suasana mulai lebih tenang, ada satu hal yang tidak berubah: status mereka tetap “tidak diumumkan”. Aira masih memilih diam. Bukan karena tidak percaya, tapi karena situasi di luar belum stabil rumor, tekanan kantor, dan bayang-bayang Andine yang belum selesai benar-benar diputus. Dipta juga tidak memaksa. Dia paham, ini bukan soal ingin disembunyikan selamanya tapi soal waktu yang belum aman. Di perjalanan, Aira sempat bicara pelan tanpa menoleh. “Soal kita… tetap kayak kemarin ya.” Dipta langsung paham maksudnya. “Iya.” jawabnya singkat. Aira melanjutkan, lebih pelan lagi. “Di kantor… tetap biasa.” Dipta mengangguk. “Tetap profesional.” Hening sebentar. Dipta menambahkan, suaranya tenang. “Aku nggak akan maksa kamu ngakuin apa pun ke siapa pun. “…sampai kamu siap.” Aira diam lama. Lalu pelan menjawab. “Aku belum siap.” “Aku tahu.” jawab Dipta singkat, tanpa nada kecewa, tanpa tekanan. A
Terakhir Diperbarui: 2026-07-14
Anda juga akan menyukai
Jeratan Cinta Kakak Tiri
Jeratan Cinta Kakak Tiri
Romansa · LOVAYU
3.8K Dibaca
720 Jam
720 Jam
Romansa · twonefr
3.8K Dibaca
My Bad Doctor
My Bad Doctor
Romansa · 5Lluna
3.8K Dibaca
HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN
HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN
Romansa · Prettyies
3.8K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status