author-banner
Adw_Canss781
Adw_Canss781
Author

Novel-novel oleh Adw_Canss781

DIPTA

DIPTA

Semua berawal dari sebuah taruhan. Bagi Dipta (Dipta Niskala Mahesa), hidup adalah strategi. Ia terbiasa menang di kelas, di kompetisi, dalam bisnis keluarga, bahkan dalam permainan yang tak pernah orang lain sadari. Aira (Humaira Navya Aruna) hanyalah satu langkah dalam rencana kecilnya di masa sekolah, sebuah tantangan, sebuah eksperimen, sebuah pembuktian. Namun rencana tak pernah memperhitungkan perasaan. Aira datang dengan kepolosan yang tak dibuat-buat, kecerdasan yang tenang, dan cara menatap yang membuat pertahanan Dipta perlahan runtuh. Kedekatan mereka tumbuh lewat diskusi panjang tentang bintang dan masa depan, sesi belajar di apartemen mewah yang menyimpan ruang rahasia penuh piala dan medali, hingga sentuhan-sentuhan yang semakin sulit diabaikan. Awalnya hanya permainan. Lalu menjadi kebiasaan. Kemudian… candu. Rumor di sekolah berhembus liar. Iri dan ambisi menyusup di antara teman-teman mereka. Taruhan baru muncul lebih mahal, lebih menantang. Namun semakin lama hubungan itu berjalan, semakin Dipta menyadari satu hal, ia bukan lagi pemain yang memegang kendali penuh. Ia mulai menginginkan lebih dari sekadar kemenangan. Lebih dari sekadar pembuktian. Lebih dari sekadar sentuhan yang tertahan. Waktu berlalu, masa sekolah usai. Dunia berubah, mereka tumbuh, ambisi menjadi nyata. Dipta menapaki jalur bisnis yang ia pilih sejak remaja, membangun kekuasaan dan pengaruh. Aira menemukan jalannya sendiri, namun bayangan masa lalu tak pernah benar-benar pergi. Ketika mereka dipertemukan kembali beberapa tahun kemudian, bukan lagi sebagai remaja, tetapi sebagai dua individu dewasa dengan luka, rahasia, dan keinginan yang lebih kompleks, api lama itu menyala kembali. Lebih dalam dan lebih berbahaya. Kini bukan hanya tentang cinta. Bukan pula sekadar obsesi. Ini tentang kendali. Tentang siapa yang akhirnya menyerah, tentang seberapa jauh seseorang bersedia melangkah demi memiliki. Dalam dunia yang dipenuhi ambisi, rahasia, dan gairah yang terus tumbuh, satu pertanyaan menggantung di udara. Apakah ini cinta yang tumbuh dari kesalahan? Atau permainan lama yang berubah menjadi takdir yang tak bisa dihindari?
Baca
Chapter: BAB 176 Tahap Akhir
Ruang audit internal itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena AC, justru karena tidak ada lagi ruang untuk “alasan sosial”. Hanya ada meja, laptop, dan dua orang auditor yang sudah tidak tertarik pada emosi hanya fakta. Rania duduk, tangannya mulai tidak setenang sebelumnya. Di depan layar, log komunikasi kembali ditampilkan. Nama-nama, waktu, akses, percakapan singkat. Semuanya terlalu rapi untuk bisa dibantah sepenuhnya. “Akses ini Anda lakukan atas instruksi siapa?” tanya auditor lagi. Rania diam, kali ini tidak seperti awal yang masih bisa pura-pura tenang. Diamnya lebih berat. “Saya hanya membantu.” jawabnya akhirnya. Auditor tidak langsung bereaksi, hanya geser satu file lagi. “Ini bukan bantuan internal biasa. Ini melibatkan koordinasi dengan pihak luar perusahaan.” Rania menelan ludah. Di sisi lain gedung, ruang kerja Dipta. Aira duduk di sofa, membaca beberapa dokumen kecil di tablet. Namun telinganya jelas “setengah fokus” ke arah ini. “Dia mulai tertekan.”
Terakhir Diperbarui: 2026-10-18
Chapter: BAB 175 Efek Samping
Aira menutup pintu ruang kerja Dipta pelan. Begitu bunyi klik terdengar bahunya langsung turun sedikit. Seperti ada beban yang baru saja “diizinkan jatuh”. Langkahnya yang tadi di luar terlihat rapi dan tenang, perlahan berubah begitu dia sudah tidak lagi jadi sorotan siapa pun. Baru dua langkah di dalam ruangan, kakinya terasa agak goyah. Bukan jatuh tapi jelas tidak stabil. Aira langsung berhenti, berdiri diam sebentar. Matanya melirik ke lantai, lalu ke kursi terdekat. Seolah sedang “mengkalibrasi ulang” tubuhnya sendiri. “Capek banget ternyata jadi manusia profesional.” gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. Dia menarik napas panjang, lalu duduk di kursi tanpa drama. Baru setelah itu, bahunya benar-benar lemas. Di sisi lain ruangan, Dipta sedang membereskan beberapa dokumen. Dia melirik sekilas, lalu sadar satu hal kecil yang tidak diucapkan Aira tadi di luar. Mode tadi itu bukan stabil, itu mode bertahan hidup. Dipta tidak langsung komentar, hanya saja sudut bibirnya naik s
Terakhir Diperbarui: 2026-10-17
Chapter: BAB 174 Bukan Akhir
Priska akhirnya tidak lagi punya ruang untuk bertahan di dalam ruangan itu. Ayahnya berdiri wajahnya tegang, tapi masih berusaha menjaga martabat di depan semua pemegang saham. “Priska.” suaranya rendah, tapi tegas. “Keluar.” Priska menoleh cepat. “Papa, aku bisa jelasin—” “Keluar sekarang.” ulangnya, kali ini lebih dingin. Tidak ada ruang diskusi lagi. Beberapa staf keamanan perusahaan yang sudah memahami situasi langsung melangkah maju, tapi tetap menjaga jarak sopan. Priska mundur setengah langkah. Matanya masih mencari pembelaan ke ruangan, ke Dipta, ke siapa pun. Namun tidak ada yang menyambut itu. Akhirnya, dengan napas yang sudah tidak stabil, dia melangkah keluar ruangan. Pintu tertutup, ruangan kembali hening. Ayah Priska berdiri beberapa detik tanpa bicara. Lalu menarik napas panjang. Mengalihkan fokusnya ke arah Arjito dan Dipta. “Untuk sementara,” ucapnya, “saya mohon kejadian ini tidak keluar dari ranah internal perusahaan.” Nada suaranya berubah dari emosio
Terakhir Diperbarui: 2026-10-16
Chapter: BAB 173 Kamera Tersembunyi
Di ruang rapat, suasana masih berjalan normal di permukaan. Presentasi lanjutan terus bergerak, angka-angka proyek, laporan kerja sama, dan proyeksi saham ditampilkan satu per satu.7 Tapi di balik itu. Dipta tidak benar-benar hanya mendengar. Layar kecil di samping laptopnya kembali menyala. Notifikasi sistem CCTV, satu titik rekaman masuk otomatis. Dipta menatap sebentar, tiidak lama tapi cukup untuk menangkap pola. Rak dokumen, pergerakan orang di area luar ruangannya, waktu akses yang tidak seharusnya terjadi, jarinya bergerak pelan di trackpad. Membuka rekaman, layar terlihat koridor dekat ruang kerja Dipta. Beberapa staf lalu-lalu normal. terlihat muncul di sudut frame. Tidak langsung masuk tapi menunggu melihat situasi sekitar. Beberapa detik kemudian, seorang OB datang membawa tray minuman. Kopi dan teh untuk ruang rapat. Rania mendekat, gerakannya terlihat santai seolah hanya lewat. Namun dari sudut kamera tangan Rania bergerak sedikit lebih lama di area tray hanya bebera
Terakhir Diperbarui: 2026-10-15
Chapter: BAB 172 Setelah Kekacauan
Beberapa waktu kemudian, ruangan itu sudah kembali sunyi. Hanya ada suara napas yang perlahan mulai stabil. Dipta duduk di tepi sofa ruang istirahat. Tangannya masih bertumpu di dahi. Matanya terpejam sebentar, seperti sedang mengembalikan kesadaran penuh. Efek yang tadi mengganggu pikirannya, perlahan mulai reda. Sisa-sisanya masih ada tapi sudah jauh lebih bisa dikendalikan. Di sisi lain Aira sudah duduk bersandar di sofa. Bukan duduk tegak lagi lebih ke rebahan setengah sadar. Matanya setengah terbuka, tangannya menutup wajah sebentar. “Dipta…” suaranya pelan banget. “Kamu ini… seriusan…” Dipta melirik sekilas. Ada sedikit senyum tipis di wajahnya. “Tadi kamu bilang bantu.” Aira langsung diam. Lalu hanya bisa menghela napas panjang. “Bantu bukan berarti begini…” gumamnya lemah. Dipta tertawa kecil, suaranya rendah. Masih agak berat, tapi sudah stabil. “Harusnya kamu kabur, "Harusnya kamu mikir dulu…” Balas Aira pelan. “Ini kantor…” Dipta menoleh, tatapannya mulai kemb
Terakhir Diperbarui: 2026-10-14
Chapter: BAB 171 Gagal
Di dalam ruangan suasana sudah panas dan tegang. Detik itu juga Priska bergerak cepat, tangannya langsung mengacak rambutnya sendiri, napasnya dibuat terengah, beberapa kancing bajunya dibuka paksa, kainnya sedikit ditarik hingga tampak kusut. Lalu dia dengan sengaja menampar dirinya sendiri. 'Plak!' Satu tamparan mendarat di pipinya sendiri, keras sekali, dua kali. Sampai meninggalkan bekas kemerahan. Dipta yang melihat itu, matanya langsung menyempit. “Gila… gumamnya pelan. Sekarang dia benar-benar paham, ini bukan sekadar jebakan. Ini sudah dirancang matang. 'Brak!' Pintu terbuka, Aira masuk. Langkahnya cepat, napasnya sedikit memburu dan matanya langsung menyapu ruanga dan berhenti. Di sana di depan matanya seorang wanita dengan pakaian berantakan, duduk di pangkuan suaminya. Hanya satu detik tapi cukup. Tatapan Aira berubah dingin, tajam dan meledak. “Gak tahu malu.” Satu kalimat terucap lain tapi penuh tekanan. Priska sempat pura-pura terkejut, seolah ketahuan.
Terakhir Diperbarui: 2026-10-11
Saat Aku Salah Membencimu

Saat Aku Salah Membencimu

Hazel Chiara Parameswari adalah gadis cerdas dan ceria yang hidupnya berubah sejak kehilangan kedua orang tuanya di usia muda. Kehidupan sebagai yatim piatu mengajarkannya mandiri, tangguh, dan pantang menyerah, namun tetap menyisakan ruang untuk kelembutan dan kasih sayang. Suatu hari, pertemuan singkat dengan Lintang Aksara Narendra, kakak tingkat tampan, kaya, dan terkenal di kampus, menorehkan titik balik yang tak terduga. Dari salah paham kecil, lahirlah serangkaian keputusan dan peristiwa yang perlahan mengubah hidup Hazel, membuatnya harus menghadapi kesulitan dan rahasia yang berat seorang diri. Lintang, dengan karisma dan kekuasaannya, tetap menjalani hidupnya seperti biasa, namun pertemuan itu meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi, namun tidak ada yang sama seperti dulu. Hazel telah melewati jalannya sendiri, menghadapi dunia yang keras, dan meninggalkan masa lalunya tetapi bayangan masa lalu mereka masih menuntut kehadiran satu sama lain. Di antara penyesalan, rahasia, dan perasaan yang belum selesai, apakah mereka mampu menemukan jalan menuju pengertian, kepercayaan, dan mungkin… cinta yang sejati? Atau apakah luka lama akan tetap membayangi langkah mereka selamanya?
Baca
Chapter: BAB 153 Ikan
Setelah semua siap, akhirnya mereka benar-benar keluar dari rumah. Lintang memastikan lampu lantai atas sudah mati lalu mengunci pintu rumah Hazel pelan menggunakan kunci cadangan. Sedangkan di sampingnya, Leyan sudah sibuk loncat-loncat kecil sambil menggandeng tangan Liana. “Cepet ayah… Aku lapar.” Lintang langsung melirik datar ke arah bocah itu. “Kamu habis mandi apa habis lari maraton?” Leyan langsung nyengir lebar tanpa rasa bersalah. Sedangkan Levian yang berjalan di belakang mereka cuma bisa menggeleng kecil sambil memasukkan tangan ke saku celana. Sampai sekarang dia masih belum benar-benar percaya melihat pemandangan ini. Adiknya yang dulu bahkan malas meladeni anak kecil milik saudara mereka saat kumpul keluarga, sekarang justru berjalan paling depan sambil menggandeng dua bocah kecil dan yang lebih aneh wajah dingin Lintang sama sekali tidak muncul di depan anak-anak itu. Begitu sampai di parkiran, Liana langsung berseru semangat. “Ayah… Kita makan ikan ya?” “Iyaa…
Terakhir Diperbarui: 2026-10-18
Chapter: BAB 152 Berhak Tahu
Suasana ruang tengah rumah itu masih dipenuhi keheningan berat. Dari lantai dua suara anak-anak mulai terdengar lebih pelan sekarang. Mungkin mereka sudah selesai mandi dan sedang sibuk memakai pakaian. Namun di bawah sini, percakapan dua bersaudara itu justru makin dalam. Levian duduk sambil menatap adiknya lama. Sedangkan Lintang masih bersandar di sofa dengan wajah lelah. Tatapan matanya kosong dan setelah cukup lama diam akhirnya Levian kembali bicara. “Kapan rencana lo mau ngasih tau dia?” Pertanyaan itu langsung membuat rahang Lintang sedikit menegang. Tatapannya turun lagi. “Gue…” Kalimatnya menggantung cukup lama. “Belum tau.” Jawaban itu membuat Levian langsung mengembuskan napas berat, sebenarnya dia sudah menduga. Lintang terlalu takut untuk sampai ke tahap itu. Takut kehilangan semuanya sekaligus. Namun kali ini Levian tidak membiarkan adiknya terus menghindar. “Dia berhak tau.” Nada suaranya tegas sekarang. Lintang diam. Sedangkan Levian melanjutkan sambil mencond
Terakhir Diperbarui: 2026-10-17
Chapter: BAB 151 Yang Pertama
Suasana ruang tengah rumah itu terasa semakin berat. Lampu ruang tamu menyala redup kekuningan. Sedangkan dari lantai dua, masih terdengar samar suara anak-anak berceloteh kecil sambil mandi dan berganti pakaian. Suara-suara kecil itu membuat pengakuan Lintang terasa jauh lebih menyakitkan. Anak-anak yang tertawa di atas sana, lahir dari malam yang menghancurkan hidup seseorang. Levian masih duduk diam memandang adiknya. Sedangkan Lintang sendiri terlihat sangat lelah sekarang. Bukan lelah fisik, melainkan lelah karena terlalu lama memendam semuanya sendirian. Setelah cukup lama diam akhirnya laki-laki itu kembali bicara. “Gue gak tau… Gue bingung harus bereaksi gimana.” Tatapannya kosong lurus ke depan. “Pas tau mereka anak gue… gue seneng.” Kalimat itu keluar lirih. “Sumpah gue seneng.” Itu adalah kejujuran paling polos yang keluar dari dirinya sejak tadi. Selama bertahun-tahun, Lintang hidup dengan keyakinan bahwa dirinya mungkin tidak akan pernah punya keturunan. Divonis s
Terakhir Diperbarui: 2026-10-16
Chapter: BAB 150 Anak Gue
Suasana ruang tengah rumah itu berubah sangat sunyi. Bahkan suara anak-anak dari lantai dua terasa samar sekarang. Levian masih berdiri di depan sofa sambil menatap adiknya lekat. Sedangkan Lintang duduk diam beberapa detik dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuhnya. Tatapannya lurus ke lantai. Setelah cukup lama hening, akhirnya laki-laki itu bicara. “Memang darah daging gue.” Kalimat itu keluar begitu saja dengan tenang. Namun langsung membuat tubuh Levian membeku. Tatapan matanya langsung berubah tajam. “Apa?” Lintang mengangkat wajah pelan. Matanya terlihat lelah sekarang. “Anak-anak itu, anak gue.” Tidak ada penyangkalan, tidak ada usaha menghindar dan justru itu yang membuat dada Levian terasa makin berat. Karena berarti semua firasatnya sejak tadi benar. Ruangan kembali hening beberapa detik. Lalu akhirnya Lintang kembali bicara pelan. “Dulu... Gue sempat benci Hazel.” Nama itu membuat Levian langsung mengernyit. Sedangkan Lintang terus melanjutkan tanpa memand
Terakhir Diperbarui: 2026-10-15
Chapter: BAB 149 Hutang Penjelasan
Keramaian kecil di ruang rawat itu masih berlanjut saat Lintang mulai membantu anak-anak merapikan barang mereka. Tas sekolah kecil milik Liana disampirkan ke pundak anak itu. Botol minum milik Leyan yang tadi hampir tertinggal juga langsung diambilkan. Sedangkan Levian masih berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana jasnya. Tatapan matanya terus memperhatikan adiknya. Semua ini semakin terasa aneh dan rasa penasarannya jelas sudah di ujung kepala sekarang. Akhirnya dengan santai laki-laki itu buka suara. “Gue ikut.” Tangan Lintang yang sedang membantu merapikan hoodie kecil Leyan langsung berhenti sebentar. Lalu tanpa melihat kakaknya dirinya menjawab datar. “Ngapain lo ikut.” Levian langsung berjalan mendekat sampai berdiri tepat di dekat Lintang. Lalu dengan gerakan cepat, dirinya sedikit menunduk dan berbisik pelan di telinga adiknya. “Inget ya... lo hutang penjelasan sama gue.” Nada suaranya jauh lebih serius dibanding sebelumnya. Kalimat itu langsung membuat rah
Terakhir Diperbarui: 2026-10-14
Chapter: BAB 148 Tak Mudah
Langkah Lintang yang tadi berjalan tenang di lorong akhirnya melambat saat melihat dua sosok duduk di kursi tunggu dekat jendela koridor, Hazel dan Miranti. Keningnya langsung sedikit mengernyit. Seharusnya mereka sudah kembali ke ruang rawat dari tadi. Apalagi kondisi Hazel juga masih lemas setelah visum. Laki-laki itu akhirnya berjalan mendekat pelan. “Kenapa masih di luar?” Suara rendahnya membuat Miranti langsung menoleh. “Eh, Lintang…” Perempuan itu tersenyum kecil tipis. “Ini Hazel minta duduk dulu sebentar di sini.” Tatapan Lintang langsung berpindah ke arah Hazel. Detik itu juga dia langsung sadar, mata perempuan itu merah. Kelopak matanya sedikit bengkak dan wajahnya jelas baru habis menangis. Langkah Lintang otomatis berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya tertahan cukup lama pada Hazel. Ada sesuatu di dadanya yang langsung terasa berat melihat perempuan itu seperti ini lagi. Hazel bukan tipe yang mudah menangis di depan orang lain. Berarti pasti ada sesuatu yang bena
Terakhir Diperbarui: 2026-10-11
Anda juga akan menyukai
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status