LOGINHazel Chiara Parameswari adalah gadis cerdas dan ceria yang hidupnya berubah sejak kehilangan kedua orang tuanya di usia muda. Kehidupan sebagai yatim piatu mengajarkannya mandiri, tangguh, dan pantang menyerah, namun tetap menyisakan ruang untuk kelembutan dan kasih sayang. Suatu hari, pertemuan singkat dengan Lintang Aksara Narendra, kakak tingkat tampan, kaya, dan terkenal di kampus, menorehkan titik balik yang tak terduga. Dari salah paham kecil, lahirlah serangkaian keputusan dan peristiwa yang perlahan mengubah hidup Hazel, membuatnya harus menghadapi kesulitan dan rahasia yang berat seorang diri. Lintang, dengan karisma dan kekuasaannya, tetap menjalani hidupnya seperti biasa, namun pertemuan itu meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi, namun tidak ada yang sama seperti dulu. Hazel telah melewati jalannya sendiri, menghadapi dunia yang keras, dan meninggalkan masa lalunya tetapi bayangan masa lalu mereka masih menuntut kehadiran satu sama lain. Di antara penyesalan, rahasia, dan perasaan yang belum selesai, apakah mereka mampu menemukan jalan menuju pengertian, kepercayaan, dan mungkin… cinta yang sejati? Atau apakah luka lama akan tetap membayangi langkah mereka selamanya?
View MoreKabut pagi masih menggantung tipis di atas hamparan kebun teh yang luas ketika Hazel Chiara Parameswari berdiri di tepi jalan setapak yang membelah perkebunan milik keluarganya. Udara Bandung selalu terasa berbeda baginya, lebih dingin, lebih tenang, dan entah kenapa selalu berhasil membuat dadanya terasa lebih lega. Hazel menarik napas panjang, membiarkan aroma tanah basah dan daun teh yang segar memenuhi paru-parunya.
Sudah hampir lima tahun berlalu sejak kecelakaan itu. Kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya dalam satu waktu. Saat itu Hazel masih duduk di bangku kelas satu SMA, usianya bahkan belum genap tujuh belas tahun tepatnya masih 15 tahun, ketika dunia yang selama ini ia kenal runtuh begitu saja. Mobil yang ditumpangi ayah dan ibunya tergelincir di jalan pegunungan saat hujan deras. Kabar itu datang begitu cepat, begitu tiba-tiba, hingga Hazel bahkan tidak sempat benar-benar memahami apa yang telah terjadi. Hari itu menjadi garis pemisah dalam hidupnya, menjadi sebelum dan sesudah. Namun jika ada satu hal yang selalu dikatakan orang-orang tentang Hazel, itu adalah satu kata sederhana, 'Kuat'. Hazel tidak pernah membiarkan dirinya tenggelam terlalu lama dalam kesedihan. Ia menangis, tentu saja. bahkan berkali-kali. Tapi setiap kali ia jatuh, gadis itu selalu bangkit lagi, seolah-olah tenaganya tidak pernah habis. Rumah dua lantai peninggalan orang tuanya masih berdiri kokoh di tengah lingkungan yang tenang. Tidak terlalu besar, tetapi cukup asri dengan halaman luas yang dipenuhi berbagai jenis bunga dan pohon. Pagar besi tinggi mengelilinginya, membuat rumah itu terlihat sedikit berbeda dibandingkan rumah-rumah lain di sekitarnya. Ayah Hazel dulunya bekerja kantoran, namun memilih pensiun dini setelah menikah dengan ibunya. Ia lebih memilih mengurus perkebunan teh yang sudah dimilikinya jauh sebelum Hazel lahir. Selain kebun teh, keluarga mereka juga memiliki ladang cengkeh, sawah kecil, dan toko bunga yang dikelola oleh ibunya. Setelah kedua orang tuanya meninggal, semua itu tidak benar-benar hilang dari hidup Hazel. Karena ada satu orang yang tetap menjaga semuanya, Miranti. Wanita itu adalah orang kepercayaan ibunya sejak lama. Dialah yang kini mengurus perkebunan, ladang, sawah, bahkan toko bunga milik keluarga Hazel. Bagi Hazel, Miranti bukan sekadar pekerja, dia adalah keluarga. Bahkan bisa dibilang, sosok ibu pengganti setelah kedua orang tuanya tiada. “Hazel! Kamu kesana lagi?”, suara Miranti terdengar dari arah jalan setapak. Hazel langsung menoleh dan tersenyum lebar. “Iya bu! Aku cuma lihat-lihat sebentar!” Wanita itu berjalan mendekat sambil menggeleng pelan. “Kamu baru pulang dari Jakarta semalam. Harusnya istirahat dulu, bukan keliling kebun begini.” Hazel hanya tertawa kecil. “Kalau istirahat terus, nanti aku malah jadi malas, Bu.” Miranti menatap gadis itu beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas. “Memang ya… dari dulu energimu seperti tidak ada habisnya.” Hazel hanya menyeringai. Ia memang seperti itu. Ceria, energik, dan hampir selalu terlihat baik-baik saja. Namun orang-orang yang benar-benar mengenalnya tahu satu hal. Hazel Chiara Parameswari adalah gadis yang akan berubah menjadi sangat keras kepala jika keadaan memaksanya, bahkan bisa dibilang cukup bar-bar. Tapi itu hanya keluar ketika situasi benar-benar mendesak. Di luar itu, Hazel tetaplah gadis yang lembut, ramah, dan selalu berusaha membuat orang lain merasa nyaman di sekitarnya. “Besok kamu sudah balik ke Jakarta lagi?”, tanya Miranti. Hazel mengangguk. “Iya. Semester baru mulai minggu depan.” Miranti tersenyum bangga, tidak semua orang bisa masuk fakultas kedokteran, apalagi dengan beasiswa penuh dari universitas tapi Hazel berhasil. Gadis itu bahkan tidak pernah terlihat menyerah, meskipun kuliah kedokteran terkenal sangat melelahkan. Jika sedang tidak kuliah, Hazel biasanya akan pulang ke Bandung dan membantu Miranti mengurus usaha keluarga, kadang di toko bunga milik mendiang ibunya, kadang di ladang cengkeh atau hanya berjalan menyusuri perkebunan teh seperti pagi ini. “Hazel.” Miranti tiba-tiba memanggilnya dengan nada lembut. “Kalau ayah dan ibumu melihatmu sekarang… mereka pasti sangat bangga.” Hazel terdiam sejenak. Angin pagi kembali berhembus pelan, membuat daun-daun teh bergoyang lembut seperti ombak hijau yang tak berujung. Gadis itu tersenyum, senyum yang hangat, tetapi menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam. “Aku juga berharap begitu, Bu.” Ia menatap hamparan kebun di depannya, namun Hazel tidak pernah tahu bahwa beberapa bulan ke depan, hidupnya akan berubah lagi, bukan karena kehilangan tetapi karena seseorang yang suatu hari akan membencinya tanpa alasan yang ia pahami dan dari semua hal yang akan terjadi setelah itu. Hazel hanya akan menyadari satu hal, bahwa kadang, luka paling menyakitkan justru datang dari seseorang yang bahkan tidak pernah kita kenal sebelumnya. • Setelah membantu Miranti memeriksa beberapa petak kebun teh, Hazel kembali ke rumah sekitar pukul sembilan pagi. Matahari sudah mulai naik, menghangatkan udara Bandung yang sejak tadi terasa dingin. Ia mengganti pakaiannya dengan kaus sederhana dan celana panjang yang nyaman, rambut cokelat panjangnya yang bergelombang ia gulung cepat menjadi cepol sederhana di atas kepala. Sebelum keluar rumah, Hazel mengambil masker dari meja kecil di dekat pintu. Masker itu hampir selalu ia pakai ketika keluar rumah. Selain karena kebiasaan sejak pandemi beberapa tahun lalu, Hazel juga merasa lebih praktis jika wajahnya tidak terlalu dikenali orang. Ia memasukkan beberapa barang penting ke dalam tas selempangnya, dompet, ponsel dan sebuah kotak P3K kecil yang hampir selalu ia bawa ke mana pun. Kebiasaan lama sejak ia mulai mempelajari dasar-dasar medis. “Bu! Aku ke toko bunga dulu ya!”, teriak Hazel dari depan pintu. “Jangan lupa makan siang!”, sahut Miranti dari dalam rumah. Hazel hanya mengacungkan tangan sambil tertawa kecil sebelum akhirnya berjalan keluar melewati pagar rumah. Jalan menuju toko bunga tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari rumah. Udara pagi yang segar membuat langkah Hazel terasa ringan, namun ketika jaraknya tinggal sekitar lima puluh meter dari toko bunga milik ibunya, suara teriakan tiba-tiba memecah ketenangan jalan itu. “Copet! Copet! Tolong!”, teriak seseorang. Hazel langsung menoleh. Seorang ibu paruh baya terlihat terhuyung di pinggir jalan, sementara seorang pria berlari menjauh dengan tas di tangannya. Tanpa berpikir panjang, Hazel langsung berteriak. “COPET!” Dan detik berikutnya ia sudah berlari. Langkahnya cepat, sangat cepat. Sejak kecil Hazel memang terbiasa dengan aktivitas fisik. Mendaki gunung bersama ayahnya, berlari di ladang cengkeh, atau menyusuri perkebunan teh yang luas, tubuhnya terlatih tanpa ia sadari. Angin menyapu wajahnya ketika ia berlari mengejar pria itu. “Berhenti!” Beberapa orang di sekitar mulai menyadari situasi itu dan ikut berteriak. “COPET!” Pencopet itu menoleh sekilas ke belakang dengan wajah panik sebelum mempercepat langkahnya. Ia berusaha berbelok ke gang kecil, mencoba mengecoh Hazel, namun Hazel tidak menyerah. Ia terus mengejar. Beberapa pria yang mendengar teriakannya akhirnya ikut berlari membantu. “Kejar! Jangan sampai lolos!” Pencopet itu semakin panik. Saat jarak mereka semakin dekat, Hazel tiba-tiba melakukan sesuatu yang bahkan tidak sempat ia pikirkan sebelumnya. Ia melepas salah satu sepatunya dan melemparkannya sekuat tenaga. “HEI!” Sepatu itu melayang di udara sebelum menghantam bagian belakang kepala pencopet itu dengan keras. “UGH!” Pria itu langsung kehilangan keseimbangan. Tubuhnya tersandung dan jatuh keras ke tanah, tas yang ia curi terlepas dari tangannya. Beberapa warga yang ikut mengejar langsung menangkapnya sebelum pria itu sempat bangkit kembali. “Pegang dia!” “Dasar pencuri!” “Sudah beberapa kali meresahkan warga!” Hazel berhenti berlari beberapa meter dari sana, sedikit terengah. Dadanya naik turun, tetapi matanya langsung tertuju pada tas yang tergeletak di tanah. Ia mengambil tas itu. “Ini punya ibu yang tadi”, katanya sambil mengangkat tas tersebut. Beberapa warga mengangguk. “Biar kami yang urus orang ini”, kata salah satu pria. Hazel tidak berdebat. Ia hanya mengangguk sebelum berbalik dan kembali ke tempat ia meninggalkan ibu tadi. Wanita itu masih berdiri di tempat yang sama, terlihat cemas sambil memegangi lengannya. Hazel segera mendekat. “Ibu, tasnya.” Mata wanita itu langsung melebar lega. “Ya Tuhan… tas saya!” Hazel menyerahkannya sambil tersenyum di balik masker, namun ketika matanya menangkap sesuatu di lengan wanita itu, Hazel langsung terkejut. “Astaga… ibu terluka.” Ada goresan memanjang di lengan wanita itu. Tidak terlalu dalam, tetapi darah mulai merembes keluar. “Oh ini… tadi saya sempat melawan sedikit”, kata wanita itu pelan. Hazel langsung membuka tas selempangnya. “Sebentar ya, Bu.” Ia mengeluarkan kotak P3K kecil. Masker di wajahnya ia tarik turun sebentar agar lebih mudah berbicara. Pertama ia mengambil botol air kecil, Hazel menyiramkan air itu ke luka untuk membersihkan kotoran yang menempel, setelah itu ia mengelapnya perlahan dengan tisu. “Agak perih sedikit ya, Bu”, katanya lembut. Wanita itu mengangguk. Hazel kemudian mengambil alcohol swab dan membersihkan luka itu dengan hati-hati, lalu ia mengoleskan salep antiseptik tipis sebelum menutup luka dengan kasa steril dan plester. Gerakannya tenang dan terlatih, seolah-olah ia sudah melakukan ini berkali-kali. Wanita itu memperhatikan wajah Hazel yang terbuka tanpa masker beberapa detik, matanya sedikit membesar. “Wajahmu cantik sekali”, katanya tiba-tiba. Hazel langsung tertawa kecil. “Ah… ibu bisa saja.” Ia kembali memasang maskernya setelah selesai. Wanita itu memegang lengannya yang sudah dibalut. “Terima kasih banyak, Nak. Kalau bukan karena kamu…” Hazel menggeleng cepat. “Tidak apa-apa, Bu.” Mereka berbincang sebentar sebelum Hazel akhirnya melihat jam di ponselnya. “Maaf Bu, saya harus ke toko bunga dulu.” “Ah iya, iya.” Wanita itu tiba-tiba membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. “Ini untukmu.” Hazel langsung mengangkat kedua tangannya. “Tidak perlu, Bu.” “Tapi kamu sudah menolong saya—”, kata Ibu itu. “Benar-benar tidak perlu”, jelas Hazel cepat. Wanita itu sempat memaksa beberapa kali, tetapi Hazel tetap menolak dengan senyum yang sama. Akhirnya ia menghela napas sambil tersenyum. “Kamu anak yang baik.” Hazel hanya melambaikan tangan kecil. “Semoga lukanya cepat sembuh ya, Bu.” Setelah itu ia berjalan menjauh menuju toko bunga. Tidak lama setelah Hazel pergi, seorang pria tinggi berjalan cepat ke arah wanita itu. “Mom.” Wanita itu langsung menoleh. “Lintang.” Lintang Aksara Narendra berhenti di depannya dengan wajah khawatir. “Aku dengar ada keributan di sini, Mom tidak apa-apa?” Wanita itu tersenyum. “Tidak apa-apa, hanya sedikit goresan.” Lintang melihat balutan di lengan ibunya. “Bagaimana bisa?” Wanita itu kemudian menceritakan kejadian tadi, tentang pencopet, tentang gadis yang mengejarnya dan tentang sepatu yang melayang dan menjatuhkan pencuri itu. Lintang mengerutkan alisnya sedikit. “Gadis?” “Iya.” Wanita itu menunjuk ke arah jalan. “Dia yang menolong Mommy.” Lintang mengikuti arah itu. Di kejauhan, ia melihat sosok seorang gadis yang sedang berjalan menjauh. Rambutnya tidak terlihat karena dikuncir cepol, wajahnya juga tidak terlihat karena yang terlihat hanya tubuh bagian belakang, punggungnya. Namun langkahnya terlihat ringan dan tenang. Lintang menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya memalingkan pandangannya. Ia bahkan tidak tahu bahwa gadis itu, suatu hari nanti akan menjadi orang yang paling ia salah pahami dalam hidupnya.Saat mobil Lintang berhenti di depan toko bunga milik Miranti, langit sore Bandung sudah mulai berubah lebih redup. Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 16.35. Lampu-lampu toko di sekitar jalan mulai menyala satu persatu. Sedangkan suasana toko bunga masih cukup ramai oleh beberapa pembeli. Sebelum mobil benar-benar mati, Liana sudah lebih dulu semangat membuka seatbelt. “Ayo ayo… Kita bilang ke Nenek.” Sedangkan Leyan sibuk membawa plastik makanan bungkus yang tadi dibeli. “Hati-hati.” Lintang langsung mengingatkan. “Jangan sampai tumpah.” “Aman Ayah.” Leyan membawanya dengan penuh semangat. Padahal plastik itu sudah miring hampir jatuh. Lintang kecil langsung refleks membantu memegang bawah plastik sambil menghela napas kecil. “Kamu tuh…” Sedangkan Lintang hanya bisa tertawa kecil melihat mereka. Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya masuk ke dalam toko bunga. Aroma bunga segar langsung terasa begitu pintu dibuka. Miranti yang sedang merapikan bunga di meja depan langs
Suasana di sekitar meja mereka terasa canggung beberapa detik setelah kalimat terakhir Lintang terdengar. Melisa Cahyani masih berdiri di tempatnya. Ekspresinya berubah tipis karena jelas dirinya tidak menyangka Lintang akan sedingin ini. Dulu laki-laki itu bahkan rela menunggu berjam-jam hanya untuk menemaninya makan. Sedangkan sekarang keberadaannya justru seperti mengganggu. Lintang akhirnya kembali membuka suara. Tatapannya datar. “Kalau udah selesai bicara… mending Anda pergi.” Kalimat itu terdengar sangat formal dan sangat jauh dari yang dikenal dulu. “Jangan ganggu suasana disini.” Kalimat itu benar-benar membuat Melisa diam, jelas terasa Lintang sama sekali tidak ingin dirinya berada di meja itu lebih lama. Sedangkan di sisi lain, tiga anak kecil di meja justru mulai kembali sibuk dengan dunia mereka sendiri. Mereka tidak benar-benar mengerti ketegangan orang dewasa. Lintang kecil akhirnya angkat bicara sambil menaruh sendoknya pelan. “Ayah…” Lintang langsung menoleh, lag
Tak lama setelah itu semua pesanan akhirnya datang memenuhi meja mereka. Aroma sate bakar langsung semakin terasa kuat, kuah sop masih mengepul panas. Sedangkan dua piring iga sapi bakar sukses membuat mata Leyan berbinar paling terang. “Waaaah… Ayah ini gede banget.” Lintang sampai tertawa kecil melihat ekspresi anak itu. “Ingat makannya jangan langsung kalap. Takutnya nanti gak habis.” Leyan langsung menggeleng cepat. “Habis kok.” “Yakin?” tanya Lintang. “YAKIN.” Sedangkan Liana sudah sibuk memperhatikan sate ayamnya sendiri. Namun beberapa detik kemudian kening kecilnya mulai berkerut. Karena dirinya kesusahan menarik daging sate dari tusuknya. “Ayah…” Lintang langsung menoleh. “Hmm?” “Ini susah.” keluh Liana, dia mendorong piring berisi sate pesanannya ke arah Lintang sedikit. Lintang akhirnya mengambil piring sate milik Liana. Lalu perlahan membantu melepaskan potongan daging sate dari tusuk satu per satu. “Nah… Makannya pelan-pelan aja.” Liana langsung tersenyum puas.
Begitu Leyan berlari mendekat, suasana taman yang tadi terasa agak murung langsung berubah ramai lagi. “AYAHHH.” Anak itu langsung memeluk pinggang Lintang tanpa rem. Sedangkan Liana menyusul beberapa detik kemudian dengan wajah yang masih terlihat sedikit kesal. “Ayah kok lama sekali…” Nada suaranya terdengar seperti protes tulus anak kecil yang benar-benar menunggu. Lintang langsung jongkok pelan di depan mereka. Tatapannya bergantian melihat dua wajah kecil itu. Lagi-lagi dadanya terasa penuh melihat mereka menyambutnya seperti ini. “Iya…” Lintang tersenyum kecil samar. “Ayah tadi meeting.” "Meetingnya lama banget.” Leyan langsung ikut nimbrung cepat. “Iya.” “Ayah biasanya kan cepet.” protes Leyan lagi. Lintang mengangguk kecil. “Iya… tapi kali ini memang gak bisa ditinggal, maaf ya.” Kalimat itu keluar begitu pelan dan tulus sampai Liana yang tadi masih manyun perlahan mulai luluh lagi. Jujur saja anak perempuan itu memang sedari tadi terus melihat ke arah jalan menunggu
Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan
Kevin tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan rumah Hazel, tepat di samping mobilnya. Pagar rumah itu sudah tertutup. Hazel tadi sempat menoleh sekali sebelum masuk, lalu perlahan menghilang di balik pintu. Kevin tetap diam di tempat menunggu. Beberapa detik kemudian lampu ruang tamu meny
Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d
Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.