INICIAR SESIÓNHazel Chiara Parameswari adalah gadis cerdas dan ceria yang hidupnya berubah sejak kehilangan kedua orang tuanya di usia muda. Kehidupan sebagai yatim piatu mengajarkannya mandiri, tangguh, dan pantang menyerah, namun tetap menyisakan ruang untuk kelembutan dan kasih sayang. Suatu hari, pertemuan singkat dengan Lintang Aksara Narendra, kakak tingkat tampan, kaya, dan terkenal di kampus, menorehkan titik balik yang tak terduga. Dari salah paham kecil, lahirlah serangkaian keputusan dan peristiwa yang perlahan mengubah hidup Hazel, membuatnya harus menghadapi kesulitan dan rahasia yang berat seorang diri. Lintang, dengan karisma dan kekuasaannya, tetap menjalani hidupnya seperti biasa, namun pertemuan itu meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi, namun tidak ada yang sama seperti dulu. Hazel telah melewati jalannya sendiri, menghadapi dunia yang keras, dan meninggalkan masa lalunya tetapi bayangan masa lalu mereka masih menuntut kehadiran satu sama lain. Di antara penyesalan, rahasia, dan perasaan yang belum selesai, apakah mereka mampu menemukan jalan menuju pengertian, kepercayaan, dan mungkin… cinta yang sejati? Atau apakah luka lama akan tetap membayangi langkah mereka selamanya?
Ver másSetelah semua siap, akhirnya mereka benar-benar keluar dari rumah. Lintang memastikan lampu lantai atas sudah mati lalu mengunci pintu rumah Hazel pelan menggunakan kunci cadangan. Sedangkan di sampingnya, Leyan sudah sibuk loncat-loncat kecil sambil menggandeng tangan Liana. “Cepet ayah… Aku lapar.” Lintang langsung melirik datar ke arah bocah itu. “Kamu habis mandi apa habis lari maraton?” Leyan langsung nyengir lebar tanpa rasa bersalah. Sedangkan Levian yang berjalan di belakang mereka cuma bisa menggeleng kecil sambil memasukkan tangan ke saku celana. Sampai sekarang dia masih belum benar-benar percaya melihat pemandangan ini. Adiknya yang dulu bahkan malas meladeni anak kecil milik saudara mereka saat kumpul keluarga, sekarang justru berjalan paling depan sambil menggandeng dua bocah kecil dan yang lebih aneh wajah dingin Lintang sama sekali tidak muncul di depan anak-anak itu. Begitu sampai di parkiran, Liana langsung berseru semangat. “Ayah… Kita makan ikan ya?” “Iyaa…
Suasana ruang tengah rumah itu masih dipenuhi keheningan berat. Dari lantai dua suara anak-anak mulai terdengar lebih pelan sekarang. Mungkin mereka sudah selesai mandi dan sedang sibuk memakai pakaian. Namun di bawah sini, percakapan dua bersaudara itu justru makin dalam. Levian duduk sambil menatap adiknya lama. Sedangkan Lintang masih bersandar di sofa dengan wajah lelah. Tatapan matanya kosong dan setelah cukup lama diam akhirnya Levian kembali bicara. “Kapan rencana lo mau ngasih tau dia?” Pertanyaan itu langsung membuat rahang Lintang sedikit menegang. Tatapannya turun lagi. “Gue…” Kalimatnya menggantung cukup lama. “Belum tau.” Jawaban itu membuat Levian langsung mengembuskan napas berat, sebenarnya dia sudah menduga. Lintang terlalu takut untuk sampai ke tahap itu. Takut kehilangan semuanya sekaligus. Namun kali ini Levian tidak membiarkan adiknya terus menghindar. “Dia berhak tau.” Nada suaranya tegas sekarang. Lintang diam. Sedangkan Levian melanjutkan sambil mencond
Suasana ruang tengah rumah itu terasa semakin berat. Lampu ruang tamu menyala redup kekuningan. Sedangkan dari lantai dua, masih terdengar samar suara anak-anak berceloteh kecil sambil mandi dan berganti pakaian. Suara-suara kecil itu membuat pengakuan Lintang terasa jauh lebih menyakitkan. Anak-anak yang tertawa di atas sana, lahir dari malam yang menghancurkan hidup seseorang. Levian masih duduk diam memandang adiknya. Sedangkan Lintang sendiri terlihat sangat lelah sekarang. Bukan lelah fisik, melainkan lelah karena terlalu lama memendam semuanya sendirian. Setelah cukup lama diam akhirnya laki-laki itu kembali bicara. “Gue gak tau… Gue bingung harus bereaksi gimana.” Tatapannya kosong lurus ke depan. “Pas tau mereka anak gue… gue seneng.” Kalimat itu keluar lirih. “Sumpah gue seneng.” Itu adalah kejujuran paling polos yang keluar dari dirinya sejak tadi. Selama bertahun-tahun, Lintang hidup dengan keyakinan bahwa dirinya mungkin tidak akan pernah punya keturunan. Divonis s
Suasana ruang tengah rumah itu berubah sangat sunyi. Bahkan suara anak-anak dari lantai dua terasa samar sekarang. Levian masih berdiri di depan sofa sambil menatap adiknya lekat. Sedangkan Lintang duduk diam beberapa detik dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuhnya. Tatapannya lurus ke lantai. Setelah cukup lama hening, akhirnya laki-laki itu bicara. “Memang darah daging gue.” Kalimat itu keluar begitu saja dengan tenang. Namun langsung membuat tubuh Levian membeku. Tatapan matanya langsung berubah tajam. “Apa?” Lintang mengangkat wajah pelan. Matanya terlihat lelah sekarang. “Anak-anak itu, anak gue.” Tidak ada penyangkalan, tidak ada usaha menghindar dan justru itu yang membuat dada Levian terasa makin berat. Karena berarti semua firasatnya sejak tadi benar. Ruangan kembali hening beberapa detik. Lalu akhirnya Lintang kembali bicara pelan. “Dulu... Gue sempat benci Hazel.” Nama itu membuat Levian langsung mengernyit. Sedangkan Lintang terus melanjutkan tanpa memand
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul dua siang saat suara pagar dibuka terdengar dari luar. Hazel yang sejak tadi hanya diam di sofa perlahan menoleh. Ia masih memakai pakaian yang sama sejak pagi, hoodie abu-abunya kini terlipat di samping, rambutnya masih dicepol asal, dan wajahnya terliha
Ruangan itu masih di sinari cahaya remang-remang dari lampu tidur. Bayu melirik ke yang lain, lalu menyeringai tipis. “Jangan pada diem aja. Dari tadi juga udah jelas mau ngapain.” Raka mengangkat alis. “Ya terus? Lu mau jadi yang paling depan?” “Kenapa? Takut?” Bayu menantang. Raka tertaw
Suasana meja itu tidak lagi santai. Kalimat terakhir Lintang masih menggantung di udara, membuat semua orang diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bayu menyandarkan tubuhnya, matanya berpindah dari satu orang ke orang lain, lalu berhenti pada Lintang. “Berarti… kita sepemikiran ya”, katany
Siang itu, matahari bersinar cerah di halaman kampus, namun kelas tetap terasa hangat. Lintang menyesuaikan masker di wajahnya, langkahnya mantap saat memasuki gedung fakultas. Ia menatap pintu kelas tempat Melisa biasanya mengikuti perkuliahan, lalu menarik napas dalam.“Kalau chat dan telepon tid












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.