Chapter: Balada Mangga MudaSekian lama dalam keheningan, akhirnya Sultan Panji memasuki ruangan seorang diri. Pandangannya menyapu seisi ruangan sebentar, kemudian kembali duduk di kursinya."Raden Ayu Raras sedang tidak enak badan, jadi tidak bisa ikut mengantar kepulangan Ibunda. Mohon dimaafkan." Ucap Sultan Panji seraya menatap sang Ibu yang mengaduk-aduk makanannya tanpa minat."Mengapa tiba-tiba?" Ujar Gusti Ayu Retno Halimah sinis, penuh dengan sindiran."Kangmas, apa tadi Raden Raras memuntahkan makanannya?" Potong Arga Adiwangsa yang seketika membuat Gusti Ayu Retno Halimah mempelototkan matanya."Arga Adiwangsa! Ucapanmu sangat tidak sopan dikatakan dalam jamuan makan semacam ini." Tegur Gusti Ayu Retno Halimah dengan suara yang cukup menggelegar.Bagaimana tidak, mengatakan hal semacam itu ditengah suasana bersantap memang tidak menunjukkan unggah ungguh atau adab kesopanan. Bisa jadi membuat orang lain merasa jijik dan tak berselera menyantap hidangan yang ada."M-maaf, Ibunda ... tapi putra ini men
Last Updated: 2026-08-16
Chapter: Hamil?Gusti Ayu Retno Halimah mengurung diri beberapa hari dalam biliknya tanpa mau keluar sama sekali. Bahkan Arga Adiwangsa yang datang berkunjung pun ditolaknya mentah-mentah. Lalu Sultan Panji? Ia tetap sibuk dengan pekerjaannya yang mengurusi berbagai macam masalah Kesultanan. Tak luput untuk sibuk mengusili Raras tentunya. "Kangmas .... Cobalah berbicara pada Ibunda. Beliau pasti merajuk atas kalimat yang Kangmas katakan tempo hari."Arga Adiwangsa tak tahan lagi untuk tidak berbicara pada kakaknya atas kejadian tempo hari. Maka siang ini ia pun memberanikan diri berkunjung ke Bangsal Kencono untuk mencoba membujuk Sultan Panji agar bersedia menemui sang Ibunda. Ia berpikir, jika Sultan Panji mau datang dan minta maaf maka keadaan akan kembali seperti semula."Aku harus bicara apalagi? Aku tidak pandai dalam membujuk seseorang." Jawab Sultan Panji datar."Oh ayolah, Kangmas pandai dalam berstrategi, tentu akan mudah untuk membuat Ibunda berhenti murung lagi." Arga Adiwangsa mulai sed
Last Updated: 2026-08-15
Chapter: Sang PewarisKinarsih tak berani menatap lebih lama, lalu segera berbalik sebelum keberadaannya diketahui Sultan Panji dan adiknya. Melanjutkan perjalanan menuju alun-alun sudah tak mungkin dilakukan, jika ia tak mau kena masalah.Sultan Panji sebenarnya menangkap keberadaan Kinarsih, namun memilih pura-pura tak tahu dan melanjutkan 'hukuman' untuk sang adik. Satu jam kemudian, Arga Adiwangsa telah kembali masuk Astana Keputran."Arrghh! Dasar Kangmas tidak punya hati. Selalu saja memberiku hukuman sesuka hatinya." Keluh Arga Adiwangsa setelah sukses melemparkan tubuhnya ke atas ranjang berlapis tilam lembut di biliknya.Ia tidur telentang, dengan nafas yang masih menderu akibat 'olahraga' ringan mengelilingi taman utama Kedaton. Pandangannya menerawang, terbayang kejadian saat dirinya menyodorkan sebuah gulali untuk sang kakak ipar.Diakuinya, memang ia sengaja mendekati Raras untuk memastikan sesuatu. Karena bagaimana pun juga, rumor bahwa Sultan Panji Adiwangsa sengaja merebut calon istri Aji W
Last Updated: 2026-08-13
Chapter: Menyusun RencanaSementara Raras masih disibukkan dengan Sultan Panji yang otoriter, Arga Adiwangsa yang mencoba mendekat, dan juga Nila Hastuti ... Mayang Guritno justru sedang harap-harap cemas menanti hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Mardian. Pagi-pagi sekali, Kinarsih menemui Mardian sesuai dengan kesepakatan mereka minggu lalu. Kinarsih duduk tenang dalam sebuah kedai non-permanen yang letaknya ada di sudut alun-alun. Dengan santai ia mengigit kue cucur yang masih hangat. Meski begitu, matanya tak lepas dari lalu lalang yang ada di depannya. Sementara Mardian duduk di seberangnya sembari menyeruput kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis. "Bagaimana? Apa informasi yang diminta tuanku sudah kau dapatkan?" Tanya Kinarsih tanpa menatap mata Mardian. Ia jsutru sibuk melihat di kejauhan, pada sosok yang tampak familiar. "Tentu saja. Lengkap." Kata Mardian seraya menyodorkan sebuah kotak kayu kecil yang diikat dengan tali rami sebagai penguatnya. Kinarsih menatap kotak kayu kecil yang dis
Last Updated: 2026-08-12
Chapter: Gulali yang Tak ManisRaras menoleh ke arah sumber suara. Alisnya sedikit mengernyit, ada rasa tak nyaman yang tiba-tiba membanjiri perasaannya. Namun mau tak mau ia berusaha menekan rasa itu. Raras tersenyum kecil dan membalas sapaan itu dengan sopan. "Raden Bagus Arga, senang bertemu di sini. Anda juga ingin berbelanja?" Sapa Raras sembari sedikit membungkukkan badan, memberi salam penghormatan untuk adik dari Sultan Panji itu. "Ah, ya ... hanya sekadar melihat-lihat. Siapa tahu ada yang menarik untuk dibeli." Arga Adiwangsa tersenyum lebar, dengan tatapan yang tak lepas pada sosok berkerudung hitam di depannya itu. "Oh, begitu rupanya. Silakan lanjutkan jika begitu, Raden. Saya permisi." Kata Raras singkat, lalu beranjak dari lapak yang berjualan aksesoris rambut itu. "Ayo, Mbok ... kita lihat-lihat lapak yang lain." Ucap Raras seraya menggandeng tangan dayangnya itu untuk melihat lapak-lapak lain yang masih banyak berjejer di depan sana. Arga Adiwangsa bengong di tempat, saat dia ditinggalkan
Last Updated: 2026-08-12
Chapter: Izin dari Suami"Gusti Sinuhun .... Bukankah seharusnya ini giliran Raden Ayu Nila Hastuti untuk bermalam di sini?" Raras bertanya dengan hati-hati, khawatir membuat sang Sultan semakin kesal.Raras tahu, sikap Sultan Panji kali ini tak lepas dari sikap manis yang ditunjukkan sang adik padanya. Padahal bagi Raras, itu masihlah sopan dilakukan. Bukan perbuatan kurang ajar yang tak pantas."Gilirannya baru minggu depan." Jawab Sultan Panji singkat, seraya meletakkan Raras di atas ranjangnya.Raras tidak tahu harus berkata apa. Ingin rasanya ia lari dan menyembunyikan diri dari pandangan Sultan Panji. Seingat Raras, bahkan sejak malam pernikahan, hanya seminggu sang sultan tak megganggunya karena saat itu sibuk menangani kerusuhan di Pasirian. Lalu, hari-harinya diisi dengan mengisi malam-malam melelahkan bersama Sultan Panji. "Saya belum shalat Isya." Celetuk Raras pelan, saat Sultan Panji mulai mendekat.Pria itu menatap lekat manik mata bening yang tampak polos dan tak berdaya di bawah kungkungannya
Last Updated: 2026-08-11