LOGINTak cukup sebagai pengantin tawanan perang, mau tak mau Raras harus ikut dalam peperangan dingin yang terjadi dalam harem istana keputren Kesultanan Amartapura. Intrik istana dalam perebutan kekuasaan dan juga kasih sayang Sultan sebenarnya tak membuat Raras tertarik. Namun, dua selir lainnya seolah tak ingin dia diam dalam ketenangan. Racun, fitnah, bahkan sihir hitam harus dia dapatkan hanya karena memiliki kedekatan lebih dengan sang Sultan yang sesungguhnya bukanlah niatannya. Jika menyingkir dalam pusaran pun dia masih ditarik dalam badai, mengapa harus mengalah? Dalam kekisruhan harem yang menciptakan gonjang ganjing dalam Kesultanan, Raras menunjukkan kecakapannya bahkan saat nyawanya ada di ujung tanduk.
View More"Akui bahwa kadipaten Selamukti telah tunduk di bawah kekuasaan Amartapura, maka akan kutarik semua prajuritku dari medan pertempuran ini."
Cakra Wisesa memberikan perintah dengan tegas dengan keris yang masih terhunus di tangannya. Sementara itu, Adipati Mahasura yang tengah berlutut di tengah kepungan para ksatria Amartapura tak mampu berbuat apapun selain menunduk pasrah. Ia sadar, jika menolak perintah tersebut, maka bukan hanya dirinya yang akan menjadi korban peperangan. Namun juga seluruh kadipaten dan rakyat yang dipimpinnya selama ini.
"Hamba, Adipati Mahasura dari Selamukti mengaku kalah dan tunduk di bawah kekuasaan Kesultanan Amartapura." Ucap sang adipati dengan suara parau, menahan sakitnya kekalahan.
Cakra Wisesa menurunkan senjatanya, lalu turun dari atas kuda bersurai hitam yang menjadi tunggangannya. Senyum miring tercetak di wajahnya yang tegas dan dingin.
"Berdirilah, dan kita buat kesepakatan perdamaian sesuai titah dari Sultan Amartapura." Kata Cakra Wisesa seraya menyarungkan keris yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
Tanpa banyak bicara, sang senopati Kesultanan Amartapura itu membawa iring-iringan pasukan dan tawanannya menuju pusat pemerintahan Kadipaten Selamukti. Adipati Mahasura yang berada dalam iring-iringan tersebut berjalan dengan langkah terseok. Kalah perang, artinya membawa banyak kerugian baik secara materi maupun mental. Mengingat kalimat kesepakatan damai, wajahnya mengeras penuh ketidakrelaan. Namun ketidakberdayaan membuatnya tak mampu mengelak dari kesepakatan yang harus dilakukan secepatnya itu. Sebelum kerugian yang lebih besar menimpa wilayah kekuasaannya.
Sementara itu, kabar kekalahan yang dialami oleh Adipati Mahasura telah menyebar dengan cepat di seluruh penjuru Kadipaten. Baik dari kalangan rakyat maupun kalangan pejabat merasa ketar-ketir dengan nasib negeri mereka. Sehingga dengan kecemasan menanti kesepakatan apa yang bisa dilakukan demi keselamatan semuanya. Karena dari desas desus yang beredar selama ini, Sultan yang memerintah Amartapura adalah sosok bengis yang tidak mengenal kompromi. Jika tak tunduk, maka dibinasakan.
-o-
"Raras ... Bopomu kalah, Nduk."
Nyi Asih Arundati memukuli dadanya yang terasa sesak karena tak sanggup menerima kenyataan yang menimpa suaminya. Yang pasti juga akan berimbas pada seluruh keluarga dan rakyatnya. Air matanya berlinangan. Sementara Raras, sang putri tunggal yang sejak tadi duduk disampingnya tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya jemari lentiknya yang terus mengusap punggung sang ibu, sebagai bentuk dukungan dan usaha untuk menguatkan.
Tidak. Bukan hanya menguatkan sang ibunda yang terpukul akibat berita tersebut. Namun juga usaha dirinya untuk menguatkan dirinya sendiri atas konsekuensi dari perang. Dia tahu, semua wilayah yang ada di bawah kekuasaan kesultanan, baik yang mengakui kedaulatan secara sukarela maupun melalui jalur perang, selalu ada harga yang dibayar atas kedamaian yang didapatkan.
Raras juga sadar, sebentar lagi nasibnya tak akan lagi sama dengan yang telah ia rancang selama ini. Karena kesadaran itu juga yang membuat sang ibunda sejak tadi terus tergugu.
"Kalah menang dalam perang adalah hal biasa, Biyung. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai pemimpin, untuk mengupayakan yang terbaik bagi rakyat."
Raras menimpali keluh kesah sang ibu dengan jawaban yang ia sendiri sebenarnya tak yakin mampu menanggungnya atau tidak. Namun, ia harus menampakkan ketegaran agar sang ibu tak lebih cemas daripada saat ini. Meski ia pun sebenarnya sedang resah menanti hasil dari perundingan perdamaian yang menurutnya hanyalah sebuah tekanan yang terpaksa harus mereka jalani.
Sementara itu, keadaan di aula kadipaten seolah berbanding terbalik dengan suasana sendu yang terjadi dalam bilik keputren. Aula yang luas itu dipenuhi aura ketegangan yang kental. Pada pemangku jabatan kadipaten dipanggil secara mendadak untuk segera mengadakan rapat untuk membuat sebuah kesepakatan damai. Adipati Mahasura duduk di kursi kebesarannya, memimpin jalannya perundingan di bawah pengawasan Senopati Cakra Wisesa. Berdasarkan syarat yang diajukan sang panglima perang Kesultanan Amartapura itu, hampir semua poin disetujuinya kecuali satu hal. Menyerahkan sang putri sebagai istri Sultan Panji Adiwangsa yang diketahuinya telah memiliki beberapa istri.
"Gusti Senopati, mohon ampun atas kelancangan hamba karena mengajukan perundingan atas satu syarat yang cukup berat untuk dipenuhi." Kata Adipati Mahasura dengan suara bergetar.
Cakra Wisesa tak segera menjawab. Ia justru menatap menyelidik raut wajah pemimpin tertinggi di kadipaten yang terkenal dengan hasil lautnya itu. Pikirannya mulai menerka, perundingan apalagi yang ingin diajukan dari wilayah yang kalah telak dari peperangan.
"Katakan." Jawab Cakra Wisesa singkat, menambah aura dingin yang sejak awal memenuhi ruangan.
"Hamba ... hamba ingin Gusti mempertimbangkan syarat pengangkatan istri atas putri hamba ini bisa digantikan dengan penambahan upeti saja." Cicit Adipati Mahasura, mencoba peruntungan untuk menyelamatkan putri tunggalnya dari pernikahan paksa.
"Sungguh lancang! Apa yang kau inginkan adalah Sultan datang padamu dan membinasakan seluruh kadipaten ini?!" Senopati Candra Wisesa gemetar menahan geram, karena baru kali ini sebuah kadipaten kecil berani mengajukan penawaran yang tak masuk akal. Banyak wilayah yang justru senang bisa menjadi bagian dalam keluarga sang sultan dan mungkin memiliki keturunan sebagai penguat posisi mereka dalam dunia politik. Namun siapa sangka, sosok Adipati dari Selamukti ini justu menolak kesempatan emas tersebut.
"A-ampun Gusti. Bukan niat hamba bersikap seperti itu. Namun, putri kami telah ada dalam pinangan pria lain. I-ini ... ini akan menyalahi aturan untuk menikahkan seseorang yang telah bertunangan." Ucap Adipati Mahasura dengan kepala tertunduk.
"Hmm, itu hanya masalah sepele. Panggil pria itu sekarang juga ke hadapanku. Kita selesaikan masalah ini sekarang juga." Tukas Senopati Candra Wisesa, tak menerima bantahan.
Adipati Mahasura hanya terduduk lesu. Perundingan yang dia anggap setidaknya akan menguntungkan kedua belah pihak, baginya hanya sebuah tekanan atas kekalahan yang ditanggung kadipatennya. Tidak. Bahkan sang putri semata wayangnya pun akan ikut menanggung penderitaan atas kekalahannya. Atas ketidakcakapannya sebagai seorang pemimpin.
Malam itu, dalam pelukan kedua orangtuanya Raras akhirnya tak mampu membendung air mata. Meski sejak awal dia telah bersiap atas segala kemungkinan terburuk, namun pada akhirnya kesedihan itu pun melolosi setiap jengkal hatinya.
Pikirannya melayang, memikirkan kejadian yang mengguncang dunianya dalam semalam. Kalah perang. Membayar kerugian dan upeti tahunan. Lalu, harus bersedia menikah dengan Sultan Amartapura sebagai simbol tunduk. Bukan, lebih pantas disebut sebagai seorang tawanan perang dengan versi terhormat.
Raras mengusap setiap bulir air mata yang menetes di pipinya, lalu tersenyum menatap kedua orangtua yang sejak tadi mendekapnya dalam pelukan. Sebuah tekad melintas dalam matanya yang berkilau, meski ia tak tahu dengan apa yang akan dihadapinya di Amartapura.
"Bopo, Biyung ... tak perlu mencemaskan diriku. Aku datang ke Amartapura sebagai istri resmi, jadi aku akan memiliki kedudukan di sana. Tak akan ada hal buruk yang terjadi. Demi Selakmukti dan para rakyat, aku akan berjuang."
Meski suaranya bergetar, ada setitik ketegasan yang terpancar dalam sorot matanya yang sayu. Tanpa Raras tahu, bahwa keputusannya kali ini harus membuatnya melalui banyak perjuangan panjang yang melelahkan ....
~o~
Sekian lama dalam keheningan, akhirnya Sultan Panji memasuki ruangan seorang diri. Pandangannya menyapu seisi ruangan sebentar, kemudian kembali duduk di kursinya."Raden Ayu Raras sedang tidak enak badan, jadi tidak bisa ikut mengantar kepulangan Ibunda. Mohon dimaafkan." Ucap Sultan Panji seraya menatap sang Ibu yang mengaduk-aduk makanannya tanpa minat."Mengapa tiba-tiba?" Ujar Gusti Ayu Retno Halimah sinis, penuh dengan sindiran."Kangmas, apa tadi Raden Raras memuntahkan makanannya?" Potong Arga Adiwangsa yang seketika membuat Gusti Ayu Retno Halimah mempelototkan matanya."Arga Adiwangsa! Ucapanmu sangat tidak sopan dikatakan dalam jamuan makan semacam ini." Tegur Gusti Ayu Retno Halimah dengan suara yang cukup menggelegar.Bagaimana tidak, mengatakan hal semacam itu ditengah suasana bersantap memang tidak menunjukkan unggah ungguh atau adab kesopanan. Bisa jadi membuat orang lain merasa jijik dan tak berselera menyantap hidangan yang ada."M-maaf, Ibunda ... tapi putra ini men
Gusti Ayu Retno Halimah mengurung diri beberapa hari dalam biliknya tanpa mau keluar sama sekali. Bahkan Arga Adiwangsa yang datang berkunjung pun ditolaknya mentah-mentah. Lalu Sultan Panji? Ia tetap sibuk dengan pekerjaannya yang mengurusi berbagai macam masalah Kesultanan. Tak luput untuk sibuk mengusili Raras tentunya. "Kangmas .... Cobalah berbicara pada Ibunda. Beliau pasti merajuk atas kalimat yang Kangmas katakan tempo hari."Arga Adiwangsa tak tahan lagi untuk tidak berbicara pada kakaknya atas kejadian tempo hari. Maka siang ini ia pun memberanikan diri berkunjung ke Bangsal Kencono untuk mencoba membujuk Sultan Panji agar bersedia menemui sang Ibunda. Ia berpikir, jika Sultan Panji mau datang dan minta maaf maka keadaan akan kembali seperti semula."Aku harus bicara apalagi? Aku tidak pandai dalam membujuk seseorang." Jawab Sultan Panji datar."Oh ayolah, Kangmas pandai dalam berstrategi, tentu akan mudah untuk membuat Ibunda berhenti murung lagi." Arga Adiwangsa mulai sed
Kinarsih tak berani menatap lebih lama, lalu segera berbalik sebelum keberadaannya diketahui Sultan Panji dan adiknya. Melanjutkan perjalanan menuju alun-alun sudah tak mungkin dilakukan, jika ia tak mau kena masalah.Sultan Panji sebenarnya menangkap keberadaan Kinarsih, namun memilih pura-pura tak tahu dan melanjutkan 'hukuman' untuk sang adik. Satu jam kemudian, Arga Adiwangsa telah kembali masuk Astana Keputran."Arrghh! Dasar Kangmas tidak punya hati. Selalu saja memberiku hukuman sesuka hatinya." Keluh Arga Adiwangsa setelah sukses melemparkan tubuhnya ke atas ranjang berlapis tilam lembut di biliknya.Ia tidur telentang, dengan nafas yang masih menderu akibat 'olahraga' ringan mengelilingi taman utama Kedaton. Pandangannya menerawang, terbayang kejadian saat dirinya menyodorkan sebuah gulali untuk sang kakak ipar.Diakuinya, memang ia sengaja mendekati Raras untuk memastikan sesuatu. Karena bagaimana pun juga, rumor bahwa Sultan Panji Adiwangsa sengaja merebut calon istri Aji W
Sementara Raras masih disibukkan dengan Sultan Panji yang otoriter, Arga Adiwangsa yang mencoba mendekat, dan juga Nila Hastuti ... Mayang Guritno justru sedang harap-harap cemas menanti hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Mardian. Pagi-pagi sekali, Kinarsih menemui Mardian sesuai dengan kesepakatan mereka minggu lalu. Kinarsih duduk tenang dalam sebuah kedai non-permanen yang letaknya ada di sudut alun-alun. Dengan santai ia mengigit kue cucur yang masih hangat. Meski begitu, matanya tak lepas dari lalu lalang yang ada di depannya. Sementara Mardian duduk di seberangnya sembari menyeruput kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis. "Bagaimana? Apa informasi yang diminta tuanku sudah kau dapatkan?" Tanya Kinarsih tanpa menatap mata Mardian. Ia jsutru sibuk melihat di kejauhan, pada sosok yang tampak familiar. "Tentu saja. Lengkap." Kata Mardian seraya menyodorkan sebuah kotak kayu kecil yang diikat dengan tali rami sebagai penguatnya. Kinarsih menatap kotak kayu kecil yang dis


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews