Mag-log inMalam itu suasana gym sudah jauh lebih lengang dibanding beberapa jam sebelumnya. Deretan treadmill di sisi kanan ruangan satu per satu mulai dimatikan. Musik yang tadinya menggelegar kini hanya terdengar pelan sebagai backsound samar yang menemani para staf membereskan alat olahraga.Lampu bagian depan bahkan sudah diredupkan sebagian, menyisakan cahaya hangat kekuningan yang memantul di lantai gym yang mengilap.Beberapa pegawai pamit pulang sambil melambaikan tangan ke arah Bima.“Duluan, Mas!”“Iya, hati-hati!”Bima membalas santai, namun setelah itu matanya kembali bergerak ke arah yang sama sedari tadi.Ke arah Sonya.Perempuan itu masih duduk di area rehat gym, jemarinya bergerak cepat di layar handphone nya. Sesekali ia mengusap matanya pelan seperti sedang menahan lelah.Rambutnya malam ini diikat asal menggunakan claw clip hitam kecil. Beberapa helai rambut jatuh berantakan di dekat pipinya.Kemeja kerja yang ia gunakan kembali untuk ganti baju, sudah tampak kusut. Namun ane
Suasana kantor pusat tidak pernah benar-benar tenang sejak telepon dari Om Wijaya malam itu Semua divisi bergerak seperti dikejar waktu.Tim audit bolak-balik masuk ruang server. Divisi keuangan hampir lembur setiap hari. Sedangkan Arlan, pria itu seperti kehilangan waktu istirahatnya sendiri.Bahkan pagi ini saat Sevi masuk ke ruang kerja Arlan membawa kopi hangat, pria itu masih tertidur di sofa ruangannya dengan laptop yang belum tertutup.Terlihat kemejanya kusut, rambutnya berantakan. Dan di bawah matanya mulai muncul lingkar gelap yang jelas terlihat.Sevi menghela napas pelan. Ia berjalan mendekat lalu mematikan layar laptop yang masih menyala penuh data audit.“Kamu tidur jam berapa sih…” gumamnya lirih.Arlan bergerak kecil, lalu perlahan membuka mata. Begitu melihat Sevi, wajah tegangnya sedikit melunak.“Sayang…”“Kopi dulu ini.”Sevi membantu Arlan duduk sebelum menyodorkan gelas hangat itu ke tangannya. Arlan menerimanya sambil mengusap wajah kasar.“Aku kayak habis peran
“Siapa aja?”Suara Arlan terdengar pelan dan mengintimidasi, membuat suasana ruang meeting terasa jauh lebih menegangkan.Pak Reno menunduk dalam. Keringat di dahinya terus mengalir sampai membasahi kerah kemejanya yang mulai kusut.“Saya dipaksa, Pak…”“Itu nggak menjawab pertanyaan saya.”Arlan berjalan mendekat perlahan hingga berdiri tepat di depan meja. Langkah sepatunya menggema pelan di lantai ruangan yang sunyi. Tatapan matanya dingin, tajam, dan penuh tekanan sampai membuat beberapa staf audit ikut menahan napas.Ia mengulang pertanyaan yang sama, lebih lambat dan lebih menekan.“Siapa orangnya?”Pak Reno menggenggam celananya kuat-kuat seperti sedang mencari keberanian untuk bicara. Bibirnya bergetar kecil.Lalu…“Pak Damar…”Deg.Ruangan langsung hening total.Bahkan suara pendingin ruangan terasa begitu jelas di telinga semua orang.Sevi mengernyit pelan. Sedangkan Sonya yang berdiri dekat pintu langsung membelalak tidak percaya.Pak Damar, Nama itu bukan nama asing. Ia ad
Malam sudah lewat pukul sembilan, namun lampu di lantai utama kantor pusat masih menyala terang.Sebagian besar karyawan sudah pulang sejak dua jam lalu, menyisakan beberapa staf audit, tim IT, dan Arlan yang masih duduk di ruang meeting dengan wajah penuh tekanan.Map-map laporan memenuhi meja panjang di depannya. Kopi hitam ketiga malam itu bahkan sudah dingin sejak setengah jam lalu.Sedangkan Sevi masih setia duduk di samping Arlan sambil sesekali membantu memeriksa data pengeluaran yang terlihat semakin tidak masuk akal.“Ini juga dobel…” gumam Sevi pelan sambil menunjuk layar laptop.Arlan langsung mendekat. Benar saja, invoice pengiriman jalur Malang–Surabaya tercatat dua kali dengan nominal berbeda.Padahal nomor armada yang digunakan sama persis.“Bangsat…” desis Arlan pelan. Tangannya otomatis mengepal.Ia mulai sadar kalau ini bukan sekadar kesalahan administrasi biasa. Seseorang benar-benar sengaja memainkan sistem distribusi perusahaan.Dan pelakunya jelas cukup pintar. K
Brak!Kursi kulit di ruang meeting terdorong keras hingga nyaris terbalik.“Siapa yang punya akses server?”Suara Arlan menggema memenuhi ruangan.Tidak ada lagi nada dingin seperti tadi. Kali ini emosinya benar-benar meledak tanpa sisa. Rahangnya mengeras, urat di lehernya terlihat jelas, sementara tatapan matanya membuat beberapa staf bahkan tidak berani mengangkat kepala.Staf IT yang membawa laptop tadi langsung gugup setengah mati.“Pak… akses administrator cuma ada tiga. Saya, Pak Reno bagian keuangan, sama...”“Siapa lagi?”“…mantan supervisor distribusi lama sebelum merger.”Ruangan langsung hening. Arlan tertawa pendek penuh emosi.“Mantan?” ulangnya pelan. “Orang yang udah resign masih punya akses server perusahaan?”“Karena proses perpindahan sistem belum selesai total, Pak…”“Hebat.” Arlan mengangguk kecil sambil tersenyum sinis. “Luar biasa.”Sevi yang berdiri di samping meja mulai khawatir melihat kondisi Arlan. Tangannya sudah mengepal kuat sedari tadi, napasnya juga mu
Suasana kantor pusat pagi itu jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada suara candaan ringan antar staf, tidak ada aroma kopi yang biasa memenuhi pantry utama sejak jam delapan pagi. Semua orang berjalan cepat sambil membawa map dan laptop masing-masing, wajah mereka tegang seperti sedang menunggu badai besar datang menghantam.Dan memang benar, badai itu baru saja dimulai.Pintu lift utama terbuka cukup keras hingga beberapa karyawan spontan menoleh. Arlan keluar dengan langkah cepat ditemani dua orang tim audit internal dari pusat holding Om Wijaya.Kemeja hitam yang ia pakai tergulung hingga siku, rahangnya mengeras, sementara matanya tajam menyapu seluruh ruangan kantor.“Pak Arlan…”Beberapa staf langsung berdiri gugup. Namun Arlan tidak membalas sapaan siapa pun.Ia berjalan lurus menuju ruang meeting utama dengan map merah tebal di tangannya. Sonya yang sejak tadi mengikuti dari belakang bahkan sampai harus mempercepat langkah agar tidak tertinggal.Pintu ruang meeting dibuka kasa
Malam itu, setelah Arlan pulang dari rumah orang tuanya, udara di sekitar kontrakan Sevi terasa tenang dan hangat. Lampu di dapur menyala redup, menerangi meja kecil yang kini dipenuhi beberapa bahan masakan sederhana, bawang merah, cabai, daun bawang, dan satu ikat sawi segar. Sevi duduk di kursi,
Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga
Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men
Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s







