LOGIN(18+ NOT FOR TEENAGER!) Satu malam impulsif mengubah segalanya. Zelda Lynn hanya ingin melupakan pria asing yang pernah bersamanya di kamar hotel usai gemerlap perayaan ulang tahun nya. Tapi dua bulan kemudian, pria yang diketahui bernama Noah Grimm, muncul lagi—sebagai dosen baru di Universitas. Kini, rahasia masa lalu berubah menjadi permainan berbahaya antara rasa bersalah, godaan, dan obsesi.
View MoreMichael masih menunduk, napasnya tersendat halus. “Zara … maafkan aku.”Zara menatapnya lama.Hening.Seolah ia sedang menimbang apakah kata itu pantas didengar.Lalu bibirnya melengkung—bukan senyum. Bukan pula tawa. Melainkan sebuah cekikan kecil, getir, sinis, seperti luka lama yang baru saja disentuh.“Maaf?” ulang Zara pelan.Ia terkekeh ringan, tapi nada suaranya menusuk. “Sebelas tahun, Michael. Sebelas tahun …. Dan baru sekarang kau bicara ‘maaf’?”Michael mengangkat wajah, matanya memohon—tapi Zara sudah melanjutkan, dingin.“Kau ingat, hari ketika aku dipaksa berdiri di tengah ruang rapat St. Andrews?” Zara menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya tajam.“Puluhan anggota dewan menatapku seperti aku kotoran yang kau seret masuk. Dan kau .…” Jari Zara menunjuk dada Michael, pelan tapi tajam.“Kaulah orang yang menginjak martabatku tepat di depan mereka.”Michael memejamkan mata, wajahnya tegang. “Zara … itu bukan— itu bukan sepenuhnya keinginanku.”Zara mencondongkan tubuh,
Zelda menjerit kecil tanoa sadar. Zara pun menutup mulut tak menyangka, wajahnya pucat. Tapi Noah—Wajah Noah membeku. Mata hitamnya meredup, lalu membara seperti api.“Dan setelah pertemuan itu,” suara Noah turun, dalam, penuh amarah terkontrol, “Chloe melarikan diri?”Si asisten mulai menangis, “T-tolong, saya tidak tahu apa-apa, Tuan! Miss Noelle memerintahkan saya untuk tidak mengatakan apa pun—”Klik.Noah memutus telepon.Keheningan menyelimuti ruangan. Zelda merasakan bulu kuduknya meremang.Zara menatap Noah dengan mata tajam. “Jadi Noelle membuka jalan untuk Chloe?”Noah tidak langsung menjawab. Tubuhnya tampak tegang, bahunya naik-turun menahan emosi.“Dia … membantu Chloe melarikan diri.” Suaranya rendah, hampir seperti geraman. “Dan aku yakin … itu bukan tanpa alasan.”Zelda menggigit bibir, tubuhnya gemetar lagi. Noah langsung meraih tangannya, menggenggam erat.“Zelda,” ujar Noah pelan namun tegas, menahan napasnya agar tetap stabil, “aku bersumpah … sampai aku mati pun
Zelda menatap layar ponsel, jantungnya seperti terhenti. Pesan itu terasa seperti pisau dingin yang menikam dadanya. Jari-jarinya gemetar hebat. Apa ini ... dari Chloe? Tidak. Tidak mungkin. Chloe masih ditahan. Dalam penyidikan. Dengan penjagaan ketat. Mana … mungkin …? Tapi nada pesan itu—dingin, penuh dendam, dan begitu … Chloe. Punggung Zelda seperti kehilangan tulang. Ia terduduk tanpa sadar, ponsel hampir terlepas dari genggaman. Tubuhnya bergetar, seperti kembali ke masa-masa saat wanita itu berhasil menyingkirkannya di lingkungan kampus—maupun sekitar Noah. Drrrt. Ponsel berdering keras. Nama Noah muncul di layar. Zelda langsung angkat, suara sudah bergetar. “Noah—” “Zelda, dengarkan aku,” suara Noah di ujung sana dingin, tapi ada getar panik yang nyaris tak terkendali. “Chloe kabur. Dia lolos dari tahanan sejam lalu. Dua petugas terluka parah—kedua-duanya bersenjata api. Salah satunya dalam kondisi kritis.” Zelda membeku. Napasnya terhenti. Dunia seol
Ruang kuliah itu sunyi, hanya lampu papan tulis yang masih menyala dan suara jam dinding yang berdetak pelan. Noah menatap Zelda lama sebelum akhirnya bicara, suaranya rendah, seperti orang yang sedang membuka makam yang sudah lama terkubur. “Zelda .…” Ia menunduk sesaat sebelum menatapnya lagi. “Aku tahu sebagian ceritanya. Tapi, bukan dari Ayah. Melainkan … dari orang-orang yang membenci Zara.” Zelda menegang. Noah melanjutkan, suaranya rendah dan terkendali. “Dulu, Ayah pernah menjadi Ketua Yayasan St. Andrews. Yayasan utama yang menaungi universitas tempat Zara mengajar.” Ia mengusap wajah, frustasi. “Dan Zara waktu itu masih asisten dosen muda. Pintar. Dihormati. Keras kepala dengan cara yang menyebalkan. Dan … mengagumkan.” Zelda tersenyum kecil—pahit. “Itu memang Mom.” Noah menarik napas, kali ini lebih dalam. “Ayah menghargainya. Karena Zara adalah mentor yang membentukku. Aku anak berandalan, pemarah, tidak tahu arah. Tapi Zara … dia melihat sesuatu yang oran






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore