Chapter: 160: Kamu Nggak Kemana-manaAku menggeleng, kemudian berdiri dan membungkukkan tubuhku sedikit. "Terima kasih untuk hinaan Ibu hari ini," ucapku tenang, lalu berbalik meninggalkan Bu Amanda yang masih duduk di meja sudut kafetaria.“Hey, kamu mau kemana? Siena!” teriak Bu Amanda.Aku menulikan pendengaranku dan berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit sambil berkali-kali menghapus air mata yang terus meleleh di pipi. Aku menangis bukan karena Bu Amanda menyuruhku meninggalkan Pak Jeremy—bukan karena ancaman atau tawaran uang itu—melainkan karena hinaannya. Cara ia memandang asal-usulku, merendahkan keluargaku, dan memperlakukan harga diriku seolah barang obralan benar-benar menohok. Langkahku terhenti di dekat lift koridor lantai perawatan. Di sanalah aku melihatnya. Pak Jeremy berdiri dengan kemeja yang lengannya digulung setengah, tampak sedang mencari-cari seseorang.Begitu melihatku, matanya langsung menyipit tajam. Lelaki itu mempercepat langkah, berdiri tepat di hadapanku dalam hitungan detik."Sien
Terakhir Diperbarui: 2026-11-07
Chapter: 159: Kamu Harus Pergi!“Siena, saya ingin bicara sama kamu. Ikut saya!”Aku langsung memutar tubuhku mendengar suara Bu Amanda, dia sudah berdiri di belakangku dengan tas tangan di lengannya.Aku tidak langsung menjawab. Aku terdiam sejenak, menatap Bu Amanda dengan kening berkerut bingung. Kenapa tiba-tiba wanita paruh baya ini mengajakku bicara empat mata di luar kamar rawat?Pandanganku mengarah ke pintu di kamar di mana Chloe dirawat.“Jangan khawatir, kali ini aku nggak minta kamu ninggalin anak saya,” ucap Bu Amanda seolah bisa membaca keraguan di wajahku.“Lalu?” tanyaku singkat.Keningku semakin berkerut halus. “Saya punya tawaran lain!” lanjutnya, lalu berjalan meninggalkan tempatku berdiri begitu saja.Aku menimbang-nimbang sebentar sebelum akhirnya melangkah mengekor di belakangnya. Bukan karena aku setuju atau merasa gentar, melainkan karena rasa penasaranku jauh lebih besar. Kira-kira penawaran apa lagi yang akan dikeluarkan oleh ibu Pak Jeremy ini?Kami berjalan menuju kafetaria rumah sakit ya
Terakhir Diperbarui: 2026-11-07
Chapter: 158: Membiasakan DiriAku mendongak, menatap Pak Jeremy yang berdiri di depanku. Matanya memperlihatkan sikap yang jelas tidak mau ditawar. Namun bagaimanapun juga, berhadapan dengan anak remaja yang sedang emosi dan terluka bukan hal yang bisa diselesaikan dengan cara memaksa.“Bukan soal dia harus terbiasa, Pak,” kataku pelan. “Chloe baru saja sadar. Dunianya sedang berantakan karena perceraian orang tuanya, ditambah lagi kecelakaan ini. Wajar kalau dia menolak kehadiran saya.”Pak Jeremy menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan satu tangan. Raut wajahnya memperlihatkan kalau ia lelah terjepit di antara situasi ini.“Dia anakku, Siena. Dan kamu pasanganku. Aku nggak mau pura-pura seolah keberadaanmu di sisiku itu salah,” ucapnya pendek dan itu membuatku merasa jauh lebih aman walaupun dia nggak mau menyebutku sebagai calon istri tapi pasanganku.“Saya mengerti,” sahutku sambil merapikan tas kecil di pangkuan. “Tapi memaksanya melihat saya di dalam sana tadi justru membuatnya makin histeris. Bukan
Terakhir Diperbarui: 2026-11-07
Chapter: 157: Penolakan ChloeBau khas cairan antiseptik langsung menyambut begitu kami mendorong pintu kamar rawat. Suasana di dalam ruangan jauh lebih tegang dibanding kemarin.Chloe duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang masih menempel di punggung tangan kanannya. Wajah anak itu tampak pucat, matanya sembab, dan bibirnya terkatup rapat. Di sisinya, Monika berdiri dengan tatapan tajam dan penuh permusuhan, sementara Bu Amanda tampak gelisah di dekat jendela.Begitu melihat kami masuk—terutama saat mendapati tanganku dan Pak Jeremy bergandengan—Monika langsung maju dengan napas memburu.“Jeremy? Kenapa kamu ajak perempuan itu kesini?” sambutnya, kemudian menoleh kearahku “ dan, Kamu!” tunjuk Bu Monika mentah-mentah ke arahku. “Belum puas merusak keluarga kami, sekarang sengaja pamer di depan anak yang baru siuman? Kamu ini benar-benar perempuan tidak tahu malu!”Sebelum aku menjawab, Pak Jeremy menyahut duluan.“Monika, cukup,” potong Pak Jeremy dengan suara rendah namun mutlak, langsung
Terakhir Diperbarui: 2026-11-06
Chapter: 156: Di Dalam Mobil“Kamu terlihat kecewa.”Kalimat itu keluar datar dari mulut Pak Jeremy begitu pintu mobil tertutup. Mesin belum dinyalakan. Lampu basement parkir redup, hanya menyisakan bayangan wajahnya di sisi pengemudi.Aku menelan ludah. “Tidak.” Jawabku berbohong.Ia memiringkan kepala sedikit, menatapku dari dekat. “Bohong. Dari tadi kamu gelisah. Bukan karena aku nggak melakukan apa-apa di restaurant, bukan?.”Pipiku terasa panas. Aku memalingkan wajah, pura-pura mengikat sabuk pengaman.“Siena…kalau kamu mau, ingin…kamu boleh memulai dan mengatakannya…gak papa” imbuhnya dan pipiku semakin panas mendengar hal itu.Pak Jeremy tidak langsung menyalakan mesin. Ia hanya duduk diam, menatapku dengan intensitas yang familiar—yang biasa muncul saat ia sudah memutuskan sesuatu.“Siena.” panggilnya dengan suara pelan, ia menegakkan punggungnya.“Ya, Pak?” jawabku menoleh kearahnya.“Lepas seat belt kamu.”Aku menoleh. “Di sini?”“Lepas.”Suara itu tidak meninggi, tapi tidak memberi ruang. Aku menurut.
Terakhir Diperbarui: 2026-11-06
Chapter: 155: Makan Malam“Jangan pakai bra.”Kalimat itu keluar datar dari mulut Pak Jeremy saat aku baru saja keluar dari kamar mandi, masih mengeringkan rambut dengan handuk. Aku menoleh, mengira salah dengar.Ia sedang berdiri di depan lemari, memilih kemeja. Tidak menatapku.“Maksud Bapak?”“Nanti malam. Jangan pakai bra.” Ia menutup lemari, lalu menoleh. Matanya tenang, tapi ada sesuatu yang gelap di baliknya. “Pilih dress yang longgar. Yang mudah kutarik ke atas.”Aku terdiam. Pipi terasa panas. Bukan karena terkejut—lebih karena cara ia mengatakannya, seolah itu perintah paling biasa di dunia. Dan aku nggak pernah melakukan hal yang seliar dan seaneh ini, tapi dari awal Pak Jeremy sudah mendeskripsikan dirinya seseorang yang memiliki gairah berlebih.“Baik,” jawabku pelan. Ya, aku akhirnya setuju walaupun aku takut tapi aku juga penasaran.Satu jam kemudian kami sudah duduk di meja sudut sebuah restoran Jepang yang sangat privat. Lampu redup, sekat kayu tinggi, dan jarak antar meja yang cukup jauh mem
Terakhir Diperbarui: 2026-11-06
Chapter: 100: HamilSuara deburan ombak yang menghantam dinding dermaga terdengar sayup-sayup dari balik jendela kayu. Di dalam kamar tidur yang sederhana itu, Maya membungkuk di atas ember kecil di sisi tempat tidur, mencengkeram erat pinggirannya sementara tubuhnya bergetar hebat. Rasa mual yang luar biasa kembali menyerang lambungnya tanpa ampun, menguras sisa-sisa tenaga setelah perjalanan panjang yang melelahkan.Miranda bergegas masuk dengan membawa segelas air hangat dan handuk kecil di tangannya. Wanita itu langsung berlutut di lantai, menepuk-nepuk punggung adiknya dengan lembut lalu membantu Maya menegakkan tubuhnya."Minumlah perlahan, Maya," bisik Miranda cemas, menyodorkan gelas tersebut ke bibir adiknya.Maya menerima gelas itu dengan tangan gemetar, meneguk sedikit air hangat untuk meredakan rasa pahit di kerongkongannya. Napasnya masih memburu, peluh dingin membasahi pelipisnya.Miranda menatap wajah pucat Maya lekat-lekat, mengamati setiap perubahan ekspresi yang terukir di sana. Sebua
Terakhir Diperbarui: 2026-09-25
Chapter: 99: Kabur Untuk Selamanya"Jangan pernah coba-coba menguji batas kesabaranku, Maya."Kalimat peringatan itu masih aterngiang di kepala Maya saat ia membuka mata di tengah gelapnya kamar utama. Malam telah merayap jauh, meninggalkan keheningan total di dalam penthouse mewah tersebut. Julian tertidur lelap di sisi ranjang, sebelah tangannya masih melingkar protektif di pinggang Maya dengan cengkeraman bawah sadar yang kuat.Maya menahan napas. Ini adalah celah terkecil yang ia miliki, dan mungkin kesempatan terakhir sebelum pengawasan Julian semakin diperketat pasca pernikahan mereka.Dengan gerakan sangat perlahan, Maya mengangkat tangan Julian dari pinggangnya, menggantinya dengan guling agar pria itu tidak menyadari kehilangannya. Jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuk. Maya turun dari ranjang tanpa alas kaki, bergerak dalam remang-remang cahaya lampu kota yang menembus tirai kaca. Ia tidak membawa tas mewah, tidak membawa ponsel yang tertanam pelacak GPS, dan tidak mengambil satu pun perhiasan
Terakhir Diperbarui: 2026-09-24
Chapter: 98 - Malam Pertama"Jangan coba-coba membuang muka dariku, Maya."Bisikan rendah itu meluncur tepat di samping telinga Maya, mengunci wanita tersebut dalam kungkungan berat tubuh Julian di atas ranjang. Kain gaun pengantin hitam legam yang dikenakannya terasa semakin menyesakkan dada, berpadu dengan kepenatan fisik dan mental yang telah mencapai batas maksimal setelah prosesi pemberkatan paksa tadi.Maya mengepalkan kedua tangannya di atas seprai, berusaha menepis gelombang pusing yang mendadak kembali menyerang kepalanya. Rasa mual di lambungnya terasa semakin nyata, sebuah reaksi penolakan biologis yang tidak bisa ia kendalikan meski otaknya terus memerintahkan tubuhnya untuk tetap kuat.Julian tidak memberikan waktu bagi Maya untuk bernapas atau memulihkan diri. Pria itu menangkup rahang Maya dengan satu tangan, memaksa wajah pucat wanita tersebut untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam manik matanya yang gelap gulita. Tidak ada kelembutan di sana, yang ada hanya kilau dominasi mutlak seorang p
Terakhir Diperbarui: 2026-09-23
Chapter: 97 - Sah Menjadi Nyonya Vane"Tanda tangani, Maya."Perintah itu meluncur tanpa ampan dari bibir Julian Vane, memecah keheningan kaku di ruang pemberkatan privat lantai dasar penthouse. Di atas meja altar berlapis kayu mahoni gelap, dokumen tebal dengan stempel resmi terbuka lebar. Ujung pena bermata emas terulur tepat di antara jemari Maya yang gemetar hebat.Maya menatap ujung pena tersebut seolah benda itu adalah bilah pisau yang siap menorehkan luka permanen. Kepalanya masih terasa pening, sisa-sisa gelombang mual tadi pagi berputar pelan di dalam lambung, memperburuk ketegangan mental yang sudah berada di ambang batas. Sekeliling ruangan terasa menyempit. Sean berdiri tegak tanpa ekspresi di sisi kiri altar, sementara sang pendeta sipil menunduk patuh menunggu detik-detik pengesahan ikatan tersebut.Tidak ada jalan mundur. Julian berdiri terlalu dekat, mengawasi setiap gerak-gerik wanita di sampingnya dengan sorot mata predator yang tidak memberi celah sedikit pun untuk melarikan diri.Dengan napas tertahan,
Terakhir Diperbarui: 2026-09-23
Chapter: 96 - Janji Palsu"Jangan membuatku harus naik ke kamar ini dua kali untuk menyeretmu, Maya."Suara Julian yang berat dan tajam itu bergeming di ambang pintu kamar, menghentikan langkah ragu Maya yang baru saja menyentuh kain hitam legam gaun pengantin tersebut.Maya menarik napas dalam-dalam, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya, lalu dengan tangan bergetar meraih gaun itu dari manekin. Tidak ada lagi jalan untuk mengelak. Desakan mual yang masih samar-samar berdenyut di perutnya iaabaikan sekuat tenaga, memaksa dirinya bergerak cepat sebelum Julian kehilangan sisa kesabarannya yang tipis.Beberapa menit kemudian, Maya melangkah keluar dari kamar ganti. Gaun pengantin hitam bergaya minimalist-chic itu membalut tubuhnya dengan sempurna, mempertegas garis pinggang dan kontur tubuhnya yang jenjang, namun sekaligus memberikan aura kelam bagaikan gaun pemaksaan menuju algojo. Wajahnya dipoles tipis, menyamarkan pucat pasinya, meski sorot mata kecut dan ketakutan di balik manik matanya tidak bi
Terakhir Diperbarui: 2026-09-21
Chapter: 95 - Gaun Hitam Sang PengantinAncaman itu masih menggantung, berpadu dengan kepanikan yang bergemuruh di dada Maya. Namun, Julian tidak memberinya waktu barang sedetik pun untuk memproses ketakutan tersebut. Pria itu berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Maya yang masih mencengkram tepi wastafel dengan napas memburu.Belum genap sepuluh menit ia berusaha menenangkan gejolak mual di lambungnya, pintu kamar utama diketuk dua kali sebelum dibuka dari luar. Sean masuk bersama dua pelayan wanita berwajah kaku, membawa sebuah manekin berbalut kain hitam yang berdiri tegak di atas roda dorong."Gaun ini bukan pilihan, Nona Maya. Ini adalah seragam untuk status baru Anda," suara Sean terdengar datar namun mutlak, memecah keheningan yang menyesakkan.Di atas manekin itu, sebuah gaun pengantin bergaya minimalist-chic berwarna hitam legam tergantung tanpa cela. Tidak ada renda putih, tidak ada kesan suci atau romantis; yang ada hanyalah siluet tegas yang memancarkan aura kematian dan kepemilikan mutl
Terakhir Diperbarui: 2026-09-20