Chapter: 65: Bisa Jadi!“Pokoknya kamu harus jelaskan padaku, Sien! Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu itu! Aku nggak mau tahu!”Pesan singkat dari Nina itu muncul beruntun di layar ponselku. Mobil yang kami tumpangi masih membelah jalanan menuju kantor. Nina memang tipe orang yang pantang menyerah kalau belum mendapatkan kebenaran. Akan tetapi, aku sama sekali tidak marah dengan sikapnya yang terkesan ikut campur, karena bagaimanapun, dialah tempat utamaku menumpahkan segala kegelisahan selama ini.Aku melirik Pak Jeremy di sisiku. Pria itu duduk tenang, bersandar santai di jok mobil seolah-olah di dalam kabin ini hanya ada dirinya seorang.“Dia bukan pacarku,” balasku cepat pada Nina.“Apa? Yang benar saja, dong! Pantes dia marah! Terus kok kamu jawab iya-iya aja pas aku tanya apa dia pacar kamu?” balas Nina lagi. Dari ketikannya saja aku sudah bisa merasakan emosi yang meletup-letup.“Aku nggak pernah bilang iya, lho… Kamu sendiri yang berasumsi.” Aku membalas santai agar tidak makin memancing emosiny
Last Updated: 2026-09-23
Chapter: 64: Bukan Masalah Yudha“Kamu dan Yudha pacaran? Sejak kapan? Kenapa saya nggak tahu masalah ini?” tanya Pak Jeremy begitu pintu mobil sedan mewah itu tertutup rapat, meredam seluruh bising jalanan malam di luar kantor polisi. Pak Supri sudah duduk di balik kemudi depan, melajukan kendaraan membelah jalanan kota yang makin lengang.Suasana di dalam mobil mendadak menjadi drop. Aku mau narik napas pun terasa tersangkut di tenggorokan.Pak Jeremy duduk bersandar di sisiku. Meskipun ada jarak selapis jok di antara kami, aura dominan dan dingin dari pria itu sanggup membuat udara di sekitar kami mendadak terasa makin tipis. Ia merengkuh keheningan itu beberapa saat, sebelum akhirnya memutar tubuhnya sedikit ke arahku.“Tidak ada penjelasan?,” suara Pak Jeremy meluncur rendah, hampir berupa bisikan tipis, namun sarat ancaman yang membuat bulu kudukku berdiri. Ia jelas tahu diri ada Pak Supri di depan, sehingga intonasinya begitu terkontrol.Aku meremas tali tas di pangkuanku, tidak berani mengangkat kepala terlal
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: 63: Jelaskan!“Maksud saya, apakah usia menjadi penentu seseorang cocok atau nggak dalam sebuah hubungan?” jawabku cepat, sengaja memutar arah untuk menutupi kegugupan.“Hubungan?” ulang Pak Jeremy.“Iya, hubungan… seperti yang Bapak bilang tadi. Usia saya dan Chloe tidak terpaut jauh,” jelasku. Padahal, bukan itu maksudku tadinya. Namun, karena dia tidak peka sama sekali, ya sudah… biarkan saja jadi salah paham.“Ooh… itu. Tentu saja masalah. Kesenjangan usia pasti membawa perbedaan mencolok dalam hal pengalaman, cara berpikir, dan yang paling kentara, cara komunikasi,” jawabnya serius.Aku mengangguk kaku lalu tersenyum tipis. “Saya mengerti, Pak.”“Hm…” Ia mengangguk. “Kamu tidak sedang punya fantasi tentang kita, bukan?”Aku terkekeh kaku. “Tentu tidak. Bapak terus-menerus mengingatkan batasannya, jadi saya tahu diri, kok…”Pak Jeremy menaikkan sebelah alisnya. Ia menatapku dengan sorot aneh yang memilih diabaikan saja.Di tengah keheningan canggung itu, ponsel di atas meja bergetar. Pak Jeremy
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: 62: Batas Yang Berubah“Kalau Pak Jeremy bersikap kadang hangat, kadang dingin, itu artinya dia sudah mulai nyaman sama kamu,” cetus Yudha santai sebelum melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.Aku mengelus dada. Oh, aku baru tahu ternyata indikator 'rasa nyaman' seorang bos besar ditunjukkan lewat sikap yang plin-plan.Aku menghembuskan napas berat, mengamati bayanganku di pantulan kaca pintu. Kebetulan tadi pagi aku berdandan seadanya karena panik mencari keberadaan Chloe. Baru sekarang aku sadar—ada beberapa bercak kemerahan yang tercetak samar di area leherku.Gawat!Pantas saja tadi Yudha menatapku sambil tersenyum-senyum ga jelas, ternyata dia melihat ini.Dengan sigap aku menarik helaian rambut panjangku ke depan, berusaha menutupi bekas gigitan dan gigitan kecil yang tertinggal di sana.Belum sempat aku menarik kursi untuk duduk, suara denting lift khusus direksi di ujung lorong berbunyi. Pintu logam itu terbuka, menampilkan sosok Pak Jeremy yang baru saja tiba.Kemejanya tidak serapi tadi pagi. Le
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: 61: Imajinasi Liar“Chloe?” bisik Pak Jeremy. Suaranya serak.Aku menyentuh lengan Pak Jeremy perlahan. “Biar saya yang turun dan bicara padanya. Bapak tunggu di sini.”Pak Jeremy tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Dia mematikan mesin mobil, sementara aku melangkah keluar dan berjalan mendekat. Namun, makin rapat jarak kami, langkahku makin melambat.Chloe duduk diam, menatap lurus ke depan dengan air mata yang mengalir deras tanpa suara. Dia cuma menangis dalam hening, tenggelam dalam pikirannya sendiri—bahkan tidak sadar aku sudah berdiri di dekatnya.Aku berdiri membeku menatapnya. Kenapa melihat Chloe menangis rasanya persis seperti melihat diriku sendiri? Terasing di tengah hiruk-pikuk dunia, seolah tidak punya tempat untuk berbagi.“Chloe…” panggilku pelan.Aku melangkah mendekat, merapikan rokku, lalu duduk di sampingnya. Chloe menoleh dengan mata sembab yang memerah.“Kak Sien…” cicitnya lirih.Aku mengangguk, lalu merangkul bahunya dan menariknya ke dalam pelukan. Meskipun pelukan tidak bi
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: 60: HilangPagi itu aku bangun lebih dulu.Cahaya matahari menyelinap tipis dari sela tirai. Pak Jeremy masih terlelap di sebelahku, wajahnya menghadap ke arah lain dengan napas teratur. Aku sedang berdiri di tepi ranjang, melihat punggung Pak Jeremy yang masih tidur, waktu HP di atas nakas mendadak bergetar. Aku buru-buru memutar badan terus nyambar HP itu sebelum suaranya membuat Pak Jeremy bangun.Nomor asing tanpa nama.Sambil menahan napas, aku keluar kamar berjingkat, menutup pintu serapat mungkin lalu menggeser ikon hijau.“Halo?” bisikku pelan.“Selamat pagi, betul ini dengan Bu Siena?” Suara wanita di seberang sana terdengar formal. ‘Bu Siena?’ kau mengulang dari dalam hati.Aku mengerutkan kening. “Iya, benar. Saya Siena. Ini dengan siapa?”“Saya dari bagian kesiswaan SMA International Green Valley, Mbak. Mohon maaf mengganggu pagi-pagi. Kami menghubungi nomor ini karena tercatat sebagai salah satu kontak darurat atas nama Chloe Ayudya Putri Wiratama.”Ujung jemariku yang memegang pon
Last Updated: 2026-09-20
Janda Kembang Penghibur Tuan
“Maya kehilangan suami, rumah, dan perlindungan. Saat keluarganya menjualnya ke klub malam untuk melunasi utang, ia diselamatkan oleh Julian Vane—miliarder dingin yang tidak hanya menawarkan uang, tetapi juga namanya.
.
Dengan satu pengumuman, Maya menjadi calon istri pria paling berkuasa di kota itu.
.
Namun, perlindungan Julian memiliki harga. Maya harus tinggal di penthouse-nya, menenangkan insomnia pria itu, dan mematuhi setiap aturannya. Semakin Julian menjaganya, semakin Maya sadar bahwa ia tidak sedang tinggal di rumah mewah.
.
Ia sedang hidup di dalam sangkar emas milik pria yang tidak akan pernah membiarkannya pergi.
Read
Chapter: 96 - Janji Palsu"Jangan membuatku harus naik ke kamar ini dua kali untuk menyeretmu, Maya."Suara Julian yang berat dan tajam itu bergeming di ambang pintu kamar, menghentikan langkah ragu Maya yang baru saja menyentuh kain hitam legam gaun pengantin tersebut.Maya menarik napas dalam-dalam, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya, lalu dengan tangan bergetar meraih gaun itu dari manekin. Tidak ada lagi jalan untuk mengelak. Desakan mual yang masih samar-samar berdenyut di perutnya iaabaikan sekuat tenaga, memaksa dirinya bergerak cepat sebelum Julian kehilangan sisa kesabarannya yang tipis.Beberapa menit kemudian, Maya melangkah keluar dari kamar ganti. Gaun pengantin hitam bergaya minimalist-chic itu membalut tubuhnya dengan sempurna, mempertegas garis pinggang dan kontur tubuhnya yang jenjang, namun sekaligus memberikan aura kelam bagaikan gaun pemaksaan menuju algojo. Wajahnya dipoles tipis, menyamarkan pucat pasinya, meski sorot mata kecut dan ketakutan di balik manik matanya tidak bi
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: 95 - Gaun Hitam Sang PengantinAncaman itu masih menggantung, berpadu dengan kepanikan yang bergemuruh di dada Maya. Namun, Julian tidak memberinya waktu barang sedetik pun untuk memproses ketakutan tersebut. Pria itu berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Maya yang masih mencengkram tepi wastafel dengan napas memburu.Belum genap sepuluh menit ia berusaha menenangkan gejolak mual di lambungnya, pintu kamar utama diketuk dua kali sebelum dibuka dari luar. Sean masuk bersama dua pelayan wanita berwajah kaku, membawa sebuah manekin berbalut kain hitam yang berdiri tegak di atas roda dorong."Gaun ini bukan pilihan, Nona Maya. Ini adalah seragam untuk status baru Anda," suara Sean terdengar datar namun mutlak, memecah keheningan yang menyesakkan.Di atas manekin itu, sebuah gaun pengantin bergaya minimalist-chic berwarna hitam legam tergantung tanpa cela. Tidak ada renda putih, tidak ada kesan suci atau romantis; yang ada hanyalah siluet tegas yang memancarkan aura kematian dan kepemilikan mutl
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: 94 - Tidak Mungkin Hamil"Tidak... aku tidak mungkin hamil!"Suara serak itu tertahan di dalam tenggorokan, bergetar bersamaan dengan deru air pancuran yang masih menyala di balik pintu kamar mandi kaca. Maya mencengkeram tepi wastafel marmer dengan buku-buku jari yang memutih, sementara isi perutnya teraduk hebat hingga memaksa cairan asam naik ke kerongkongan.Setelah gelombang mual itu mereda, ia menatap pantulan dirinya sendiri pada cermin besar; wajahnya pucat pasi, matanya menyisakan jejak lelah yang teramat dalam, dan napasnya memburu tidak teratur.Kejadian pagi ini datang beruntun tanpa memberinya ruang untuk sekadar bernapas. Belum selesai kepalanya dipusingkan oleh bayangan pernikahan paksa yang dijadwalkan hari ini, tubuhnya justru mengirimkan sinyal-sinyal asing yang langsung memicu paranoid akut di dalam dadanya.Trauma masa lalu menghantam benaknya seketika. Maya pernah mengalami kehilangan hal serupa di masa lalu, sebuah pengalaman kelam yang meninggalkan luka batin mendalam dan membuat gagasa
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: 93 - Mati Itu Mudah"Jangan pernah berpikir kamu bisa bernapas lega di tempat ini, Maya."Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telibga Maya, berpadu dengan dinginnya sinar matahari pagi yang merangsek masuk melalui celah tirai otomatis yang belum sempat tertutup sempurna, menyoroti lantai marmer kamar utama dengan garis-garis cahaya yang tajam. Udara di dalam ruangan masih menyisakan aroma khas malam sebelumnya—campuran parfum maskulin yang pekat, keringat, dan sisa ketegangan yang menguap lambat.Maya membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat, sementara sekujur tubuhnya linu seolah habis dihantam truk beban berat. Ia mendengus pelan saat mencoba menggerakkan lengan, menyadari ada beban hangat di pinggangnya. Julian sedang berbaring di sampingnya, sebelah tangannya melingkar erat di perut Maya, mengunci wanita itu dalam dekapan posesif yang tidak memberi ruang untuk beranjak.Julian sudah bangun. Manik matanya yang tajam menatap lurus ke arah langit-langit kamar, seolah sedang merencanakan sesu
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: 92 - Hasrat GelapSuara dentuman pintu besi ruang bawah tanah yang menutup kembali meninggalkan gema berat di rongga dada, memantul di dinding semen dingin sebelum perlahan mati. Udara lembab bercampur sisa ketegangan masih melekat di kulit, namun atmosfer di antara mereka berdua bergeser dengan cepat menjadi sesuatu yang jauh lebih menekan dan menyesakkan. Di luar sana, malam merayap semakin pekat, membawa serta kebisuan yang mematikan di sekeliling menara pengawas penthouse.Julian tidak langsung melepaskan cengkraman tangannya dari rahang Maya. Julian menatap lurus ke dalam manik mata Maya yang ada di hadapannya, membaca sisa-sisa kepatuhan yang mulai runtuh secara perlahan akibat pemandangan barusan. Clara telah disingkirkan dengan dingin tanpa perlawanan berarti, dan kini tidak ada lagi celah pelarian, tidak ada lagi kartu akses rahasia, serta tidak ada lagi harapan palsu yang tersisa untuk Maya."Pelajaran yang bagus, bukan?" bisik Julian rendah, suaranya menguliti pertahanan mental Maya yang
Last Updated: 2026-09-17
Chapter: 91 - Sebuah HukumanBau lembap dan logam berkarat menyergap indra penciuman begitu pintu besi ruang bawah tanah terbuka. Udara di ruangan itu terasa dingin, jauh lebih dingin daripada suhu di lantai atas penthouse, seolah sengaja dibiarkan membeku untuk mematikan nyali siapa pun yang menginjakan kaki di sana.Maya berjalan di belakang Julian, langkah kakinya terasa berat dan gamang di atas lantai semen kasar. Bayangan tentang kebodohannya sendiri masih berputar di kepala. Selama ini ia mengira Clara adalah sekutu yang memberinya jalan keluar, pelita di tengah kegelapan sangkar besi Julian. Namun kenyataan terbukti jauh lebih kotor; Clara hanya menggunakan kepolosannya sebagai umpan untuk memancing amarah Julian dan merusak sistem dari dalam.Di ujung ruangan, di bawah sorot satu-satunya lampu gantung kuning yang berkedip lemah, Clara terikat di sebuah kursi kayu tua. Rambut pendek wanita itu tampak berantakan, dan sudut bibirnya sedikit membiru. Tidak ada lagi sisa-sisa kesan elegan dari seorang wanita
Last Updated: 2026-09-17