Chapter: 12 - Sebuah Perlindungan atau Penjara"Nnggh... emmh...!"Lenguhan basah dan terputus-putus lolos dari celah bibir Maya saat Julian melumatnya tanpa ampun. Di dalam kabin mobil yang makin panas dan kedap udara, ciuman Julian terasa brutal, dalam, dan menuntut—seolah pria itu ingin menyedot habis seluruh pasokan oksigen di paru-paru Maya.Kepanikan seketika menguasai benak Maya. Sensasi terkunci di atas pangkal paha Julian dan tekanan ketegangan keras di bawah sana membuat insting bertahannya menyala hebat. Maya mulai memberontak. Kedua tangan kecilnya terkepal, memukul-mukul dada bidang Julian yang keras bagaikan dinding batu."T-Tuan... emph... Tuan...!" ringis Maya di sela-sela pagutan bibir Julian yang kian menggebu.Julian melepaskan tautan bibir mereka secara mendadak, namun tidak dengan rengkuhan tangannya. Ia mengunci rahang Maya dengan jemari lebarnya, menatap wanita itu dengan napas berburu kasar dan sepasang iris kelam yang menggelap oleh nafsu kepemilikan."Berhenti memanggilku Tuan," desis Julian rendah, suara
Last Updated: 2026-08-08
Chapter: 11- Calon IstrikuSentuhan dingin namun kuat di pinggang Maya memberikan kehangatan yang instan. Dekapan Julian merengkuh tubuhnya yang sempat gemetar, memisahkan Maya secara tegas dari kejamnya tatapan orang-orang di lorong rumah sakit.Julian berdiri tegap, matanya yang tajam menyapu seisi lorong dengan aura intimidasi yang pekat. Ketegangan merayap di udara, membuat seluruh pengunjung dan staf rumah sakit tertunduk, tak berani menatap langsung sepasang iris kelam milik sang miliarder."Kalian tahu siapa wanita yang baru saja kalian hina ini?" suara Julian bergaung berat, rendah, tetapi sanggup menembus setiap sudut lorong yang mendadak sunyi senyap.Julian merapatkan tubuh Maya ke sisinya, menegaskan kepemilikan mutlak di hadapan publik. "Dia adalah calon istriku. Calon istri Julian Vane."Kalimat singkat itu menghantam seisi lorong bagaikan ledakan bom.Kanya terbelalak, napasnya tertahan di tenggorokan. Ibu mertua Maya seketika mundur setengah langkah dengan wajah pucat pasi seperti mayat. Bisik-
Last Updated: 2026-08-08
Chapter: 10 - Keributan di Rumah Sakit"Ibu, aku akan menyelesaikan utang itu... tapi jangan sekali-kali Ibu dan Kanya menggangguku lagi setelah ini!" ancam Maya, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang membakar dadanya.Langkah kaki Maya tertahan keras di tengah lorong rumah sakit yang dingin. Tatapannya menajam pada wanita paruh baya dan adik iparnya yang berdiri menghadang tanpa rasa bersalah.Ibu mertuanya melipat tangan di dada, lalu terkekeh sinis melihat keberanian Maya. "Mengganggumu? Begini ya caramu bicara sekarang? Kamu itu tidak tahu terima kasih banget, Maya... Kalau bukan karena kami yang membukakan jalan, kamu pikir kamu akan bisa bertemu dengan pria kaya yang sekarang menampungmu itu?"Kalimat tidak tahu diri itu bagaikan sembilu yang menyayat hati Maya. "Kalian menjualku ke klub itu! Jangan kalian pikir aku tidak tahu! Kalian sudah menerima uang dari pihak klub, dan jumlahnya sudah jauh lebih dari cukup untuk pelunasan utang almarhum Mas Dimas!""Oh, begitu?" Kanya—adik almarhum suaminya—maju satu lang
Last Updated: 2026-08-08
Chapter: 09 - Hutang yang Harus Lunas"Tuan Julian, maafkan saya sudah membuat tidur Anda terganggu. Ini malam pertama saya di sini, saya terbiasa memiliki mimpi buruk di tempat baru," ucap Maya pelan dari balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.Malam pertama di penthouse ini terasa begitu panjang dan menyiksa buat Maya. Sensasi basah dan debaran gila akibat mimpi aneh tadi masih membakar permukaan kulitnya.Julian yang berdiri di luar kamar mandi menatapnya datar. "Kalau begitu, apakah bisa kita tidur lagi? Aku ingin mendapatkan tidur lebih lama, karena malam ini aku merasa mendapatkan tidur terbaikku selama beberapa tahun ini."Sebuah ungkapan jujur yang mengalun polos tanpa dosa, tetapi sukses membuat Maya merutuk dirinya sendiri di dalam hati. Pria itu sama sekali tidak tahu bahwa di dalam mimpi Maya, dialah pelakunya.Maya akhirnya mengekor langkah kaki panjang Julian menuju ranjang raksasa itu. Ia berbaring kembali di samping pria jangkung tersebut, memiringkan tubuhnya membelakangi Julian, lalu kembali bersen
Last Updated: 2026-08-07
Chapter: 08 - Siapa Julian?"Ah... Tuan..."Rintih Maya tertahan di dalam keremangan kamar. Julian bilang ini hanya pelukan, tetapi dekapan lengan kekar yang melilit erat pinggangnya terasa seperti sebuah ungkapan kerinduan yang amat sangat mendalam. Maya bisa merasakannya. Kehangatan dada bidang Julian yang menempel tanpa jarak di dadanya seperti menyerap seluruh duka yang ia simpan sendirian.Kenapa pelukan Julian membuatnya luluh? Kenapa rasa takut yang alami hadir akibat sentuhan pria asing mendadak sirna begitu saja saat bersama pria ini? Apakah janji-janji yang diucapkan Julian tadi memberikan kenyamanan murni? Ataukah... ada hal lain yang belum sanggup ia pahami?Tanpa sadar, Maya menarik tubuhnya lebih dalam ke dalam dekapan Julian, membiarkan kehangatan pria itu membungkusnya secara utuh. Bibirnya kembali terbuka, bersenandung lirih dengan nada paling lembut yang ia miliki."Tidurlah, Tuan..." ucap Maya pelan, menyuarakan intonasi menenangkan layaknya membujuk seorang anak kecil.Hembusan napas Julian y
Last Updated: 2026-08-07
Chapter: 07 - Aroma Tubuhmu Menenangkanku"Tu-tuan...ini gak boleh, bukankah Anda tadi bilang....hanya bersenandung." Maya refleks mendorong pelan bahu kekar Julian, memutus kontak mendadak yang baru saja membakar area dadanya. Wajahnya memanas hebat, rona merah merambat cepat hingga ke ujung telinga. Ritme napasnya masih memburu tak beraturan, berjuang keras menata detak jantung yang berdentam gila di balik tulang rusuknya.Julian tidak memaksakan diri. Pria itu justru meloloskan senyum tipis—sebuah kurva samar yang jarang sekali terlihat di wajah dinginnya. Tanpa mengalihkan tatapan kelamnya dari Maya, Julian bergeser, memanjat naik ke atas ranjang king-size raksasa itu, lalu menyibak selimut sutra tebal berwarna abu-abu gelap."Kesinilah," panggil Julian, menepuk pelan porsi kasur di samping tubuhnya.Maya membeku di tepi ranjang. Matanya menatap ragu ke arah tempat yang ditunjuk Julian. Keraguan dan sisa-sisa kewaspadaan menahan tumpuan kakinya.Seolah membaca ketakutan yang tersirat di mata wanita itu, Julian menghembus
Last Updated: 2026-07-25