Satu Kali Lagi, Boss!

Satu Kali Lagi, Boss!

last updateLast Updated : 2026-10-18
By:  BlackDiamondUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
117Chapters
15.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di tengah jerat kemiskinan, Siena tidak punya ruang untuk bernapas. Ibunya sekarat butuh biaya operasi, dua adiknya terancam putus sekolah, dan ayahnya terseret kasus narkoba hingga masuk penjara. Di titik terendah, sebuah kalimat liar terlontar dari bibirnya yang putus asa: "Apa ada pria kaya yang mau beli keperawanan seperti di novel? Aku butuh uang!" Tak disangka, ratapan itu didengar oleh Pak Jeremy—Presiden Direktur berdarah dingin tempatnya bekerja. Pria itu datang menawarkan jalan keluar instan, namun dengan bayaran yang mahal: "Jadi simpanan saya dan saya akan berikan segalanya!"

View More

Chapter 1

01: Putus Asa

"Tolong siapkan mental dan dana, jika kondisi mendesak, Ibu harus segera menjalani operasi penanganan darurat. Kita tidak bisa menundanya lagi."

Pesan singkat dari Dokter William—dokter spesialis yang merawat Ibu—terasa seperti eksekusi mati bagiku.

Aku, Siena, gadis berusia dua puluh tiga tahun yang baru saja lulus dengan predikat summa cum laude, kini hanyalah seorang karyawan kontrak di perusahaan teknologi besar. 

Gajiku terus dipotong bulan ini karena terlalu sering izin mendampingi Ibu cuci darah. Sejak sekolah, aku sudah terbiasa banting tulang karena hanya tinggal bersama Ibu dan dua adikku yang masih butuh biaya—satu di SMA dan satunya lagi masih SMP. Sementara Ayahku? Beliau hanyalah kuli bangunan yang hobinya menghabiskan uang untuk berjudi lalu menghilang tanpa tanggung jawab.

Selama ini kami bertahan dari jualan pecel pincuk Ibu dan berbagai pekerjaan sampinganku. Namun, gagal ginjal kronis yang diidap Ibu dalam satu tahun terakhir benar-benar menguras segalanya. BPJS memang menanggung biaya cuci darah harian, tetapi ongkos transportasi, obat luar, dan kini biaya operasi penanganan darurat... dari mana aku harus mendapatkan uang sebesar itu?

Malam makin larut. Tepat saat aku memandangi tumpukan berkas kantor yang kubawa pulang untuk dikerjakan, bayangan Ibu muncul di ambang pintu kamar.

“Kok belum tidur, Nduk? Istirahat yang cukup. Tubuh kamu itu kalau bukan buatan Tuhan pasti sudah rusak!”

Teguran lembut Ibu membuat jemariku berhenti bergerak di atas keyboard. Aku bangkit dari kursi dan langsung merengkuh tubuhnya erat-erat. Tubuh yang makin hari makin kurus dan ringkih. Aku tahu, setiap malam Ibu menahan sakit luar biasa, tetapi demi menjaga perasaan anak-anaknya, beliau selalu berpura-pura baik-baik saja.

Memeluknya begini, dadaku makin teriris mengingat pesan dokter tadi. "Maafin Siena, Bu… Siena belum bisa bahagiain Ibu..."

“Anak bodoh! Sudah, tidur sana!” ucap Ibu seraya mengusap kepalaku pelan, lalu berbalik meninggalkan kamar untuk mengecek kamar adik-adikku seperti biasanya.

Namun, baru saja aku kembali duduk dan hendak melanjutkan pekerjaan, teriakan histeris Tiara memecah kesunyian malam.

“Mbak… Ibu, Mbak! Cepat, Mbak!”

Jantungku serasa berhenti berdetak. Tanpa sempat memakai sandal, aku berlari kencang menuju kamar belakang. Di sana, Ibu sudah terbaring tak sadarkan diri di pangkuan Tiara yang menangis tersedu-sedu.

Dulu sewaktu kuliah, aku melakoni pekerjaan apa saja: buruh cuci, tukang setrika keliling, hingga membuka jasa ketik tugas demi satu harapan besar, yakni setelah lulus, aku bisa mengangkat derajat keluarga. Siapa sangka, di saat aku berhasil menembus perusahaan besar, kesehatan Ibu justru hancur berantakan.

Dada ini makin sesak tiap kali melirik Tiara. Di usianya yang masih sangat muda, dia terpaksa ikut banting tulang membantu tetangga demi mengumpulkan uang jajan sendiri. Kami miskin bukan karena kami malas, melainkan karena takdir terus menyudutkan kami tanpa memberi napas untuk bangkit.

Aku langsung panik, berlari ke luar rumah menerobos kegelapan malam, menggedor pintu rumah Pak RT dengan napas memburu. Beruntung, tetangga sekitar bergerak cepat membantu membopong tubuh kaku Ibu ke atas mobil bak terbuka milik warga. Selama perjalanan menerobos dinginnya angin malam, aku memangku kepala Ibu yang kian mendingin, terus merapalkan doa di antara rasa takut, sementara Tiara memeluk erat jemari Ibu yang tak berdaya.

Sesampainya di UGD, petugas medis langsung sigap mendorong brankar Ibu menerobos lorong rumah sakit yang riuh dan berbau antiseptik tajam. Begitu pintu ruang penanganan kritis tertutup rapat, dunia seolah mendadak hening.

Di luar ruangan yang serba dingin itu, benakku mendadak terlempar kembali pada pesan singkat Dokter William tadi, t

entang kemungkinan operasi dan kesiapan dana.

Aku menyandarkan kepala ke dinding rumah sakit yang dingin, merengkuh adikku dalam pelukan yang sama-sama rapuh.

"Tia… Mbak harus cari uang ke mana lagi?" rintihku pasrah, merengkuh tubuh adikku yang gemetar dalam pelukan yang sama-sama hancur.

Pikiranku benar-benar kacau, melayang ke batas antara hidup dan mati.

Apa aku biarkan saja Ibu pergi? Apa aku tega melihat beliau meninggal perlahan sambil menahan sakit luar biasa setiap hari? Tapi kalau Ibu harus dioperasi malam ini... aku harus cari ratusan juta ke mana?!

Setelah menenangkan Tiara dan memintanya menunggu di depan pintu UGD, aku berjalan linglung menuju lorong luar rumah sakit yang sepi.

Angin malam menerpa wajahku, tapi rasa dingin itu kalah dibanding kepala dan dadaku yang rasanya mau meledak. Tangan gemetarku meraih ponsel, lalu menekan nama Nina—satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara saat ini.

"Menurutmu di dunia ini ada yang seperti di dunia novel gak, Nin? Pria kaya yang mau membeli keperawanan dengan harga ratusan juta, atau bahkan satu miliar?" cerocosku melintasi saluran telepon, menyuarakan pikiran liar yang mendadak melintas di kepalaku.

Air mata yang sejak tadi menumpuk di pelupuk mata akhirnya meleleh, menetes perlahan menembus riasan tipis di pipiku.

“Ya ampun Sien, ada apa? Ibumu drop lagi? Kamu butuh uang berapa?” tanya Nina di seberang.

“Aku tidak tahu, Nin. Aku tidak tahu bisa jadi ratusan juta atau bahkan satu miliar…” jawabku dengan tangis meledak, air mataku sudah membasahi handphone yang ada di tanganku. Nina mendengarkanku dengan sabar.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
117 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status