LOGINDi tengah jerat kemiskinan, Siena tidak punya ruang untuk bernapas. Ibunya sekarat butuh biaya operasi, dua adiknya terancam putus sekolah, dan ayahnya terseret kasus narkoba hingga masuk penjara. Di titik terendah, sebuah kalimat liar terlontar dari bibirnya yang putus asa: "Apa ada pria kaya yang mau beli keperawanan seperti di novel? Aku butuh uang!" Tak disangka, ratapan itu didengar oleh Pak Jeremy—Presiden Direktur berdarah dingin tempatnya bekerja. Pria itu datang menawarkan jalan keluar instan, namun dengan bayaran yang mahal: "Jadi simpanan saya dan saya akan berikan segalanya!"
View More"Kemarilah. Aku tidak mungkin harus mengajarimu step-by-step bahkan hanya untuk keluar dari kamar dan makan, kan?" tegurnya.Mungkin dia melihat kekakuanku yang terus berdiri ragu di dekat pintu. Saat ini aku hanya mengenakan jubah sutra warna cream tanpa sehelai benang pun di baliknya. Hanya pakaian itu yang disediakan di dalam lemari kamar mandi. Sementara di seberang sana, Pak Jeremy sudah duduk santai menggunakan jubah sutra serupa, namun berwarna hitam pekat.Aku melangkah mendekat perlahan. "Maaf, Pak. Saya hanya canggung... dan saya merasa...""Hm... tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada pura-pura sok tahu. Makan yang banyak, karena kamu akan butuh banyak tenaga malam ini," potongnya tenang.Mendengar kalimat ‘butuh banyak tenaga,’ jantungku mendadak berdegup kencang. Maksudnya apa? Aku mengatupkan bibir rapat-rapat, mencoba menetralkan desiran aneh di dadaku sebelum akhirnya duduk di kursi seberangnya.Pak Jeremy menyodorkan sebuah piring padaku—daging steak di atasnya sudah
"Bilang ke sopir untuk mampir sebentar ke supermarket untuk membeli kondom yang kotak emas atau hitam, ambil yang ukuran XL."Pesan singkat dari Pak Jeremy itu masuk persis setelah aku selesai mampir ke rumah, menyerahkan sejumlah uang untuk kebutuhan adik-adikku, serta mencarikan tetangga terpercaya untuk menutupi keberadaanku. Pak Jeremy melarangku membawa baju maupun pakaian dalam dari rumah. Katanya, semua sudah disiapkan di apartemen. Aku hanya bisa menurut.Tapi pesan susulan ini... benar-benar membuat seluruh mukaku panas karena malu. Langkah kakiku terasa sangat berat saat memasuki pintu kaca minimarket yang berdenting halus. Beruntung, lorong minimarket saat itu sedang sepi. Namun, begitu mataku tertuju pada barisan kotak kecil di rak, jantungku berdegup dua kali lebih cepat.“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya salah seorang pramuniaga yang melihatku celingukan seperti orang bingung, aku menggeleng pelan. Kemudian tersenyum.Jari-jariku yang gemetar meraih satu kotak be
Perasaan bersalah dan asing akibat kejadian bersama Pak Jeremy masih terus membuntutiku sampai aku tiba di rumah sakit. Namun, fokusku langsung teralih begitu melihat Dokter William berjalan tergesa menemuiku di depan koridor UGD dengan wajah cerah. "Mbak Siena... apa yang saya bilang? Yakini apa yang kamu imani. Ada orang baik yang mendonasikan dana untuk operasi Ibumu, dan itu membuat pihak rumah sakit bergerak cepat mendapatkan donor ginjal yang cocok," ucap Dokter William dengan senyum lega.Aku berdiri terpaku di tempatku. Rasa tercengang yang luar biasa menahan napas di tenggorokanku sebelum akhirnya air mataku meleleh deras. Dokter William berpikir ini adalah buah dari iman dan keajaiban doa. Namun di dalam hati, aku bertanya-tanya dengan getir... apakah Pak Jeremy adalah jawaban dari sebagian doa-doaku itu? Atau justru jalan dosa yang sengaja kuambil demi bertahan hidup?"Kamu anak baik dan pekerja keras, Siena. Tuhan selalu memberikan jalan untuk anak sebaik kamu," lanjutny
Kumingkan sedikit kepalaku, lalu menjulurkan lidahku dan memasukkannyake dalam mulut pria itu, mencoba meniru setiap gerakan dominan yangditunjukkannya tadi.Dengan keberanian terakhir yang kupunya, aku merengkuh tengkuk PakJeremy dengan kedua tangan yang gemetar. Kumingkan sedikit kepalaku, lalumenjulurkan lidahku dan memasukkannya ke dalam mulut pria itu. Aku mencobameniru setiap gerakan dominan yang baru saja ditunjukkannya.Balasan spontanku rupanya seperti menyulut api di dalam dada pria itu.Pak Jeremy mengerang rendah di dalam tenggorokannya. Gerakannya mendadakberubah brutal. Dia menyambar lidahku, melumatnya lebih dalam dan makinmenuntut. Pagutan panas itu terasa begitu agresif hingga membuat kepalakupening dan seluruh pasokan oksigen di paru-paruku terkuras habis.Bukannya melepaskanku seperti yang dia janjikan, sentuhan Pak Jeremy dibalik dalamanku justru makin berani dan memabukkan. Usapan jarinya di titiksensitifku kini bergerak makin cepat, ritmis, dan menekan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.