Chapter: Part 27Keadaan di kampus IAIN Curup mulai tidak kondusif bagi kerahasiaan pernikahan Jaya dan Luna. Transformasi Luna yang kini nampak seperti idol Korea—kulit bening, tubuh proporsional, dan aura yang berkelas—membuatnya menjadi magnet perhatian. Namun, masalah sebenarnya muncul bukan dari kecantikan Luna, melainkan dari sebuah kecerobohan kecil.Sore itu, hujan turun deras mengguyur bumi Rejang Lebong. Jaya, yang tidak tega melihat istrinya kedinginan menunggu angkot, memutuskan untuk menjemput Luna di parkiran belakang gedung RKB yang sepi."Masuk cepat," perintah Jaya saat Luna membuka pintu mobil.Di dalam mobil yang kacanya mengembun karena hujan, suasana terasa hangat. Jaya meraih tangan Luna yang dingin, menggosoknya perlahan untuk memberi kehangatan. Tanpa sadar, Jaya mendekatkan wajahnya, mencium pipi Luna yang kini terasa sangat lembut. Luna tertawa kecil dan membalas dengan pelukan singkat di leher suaminya.Mereka tidak sadar, di balik sebuah pilar beton, seorang mahasiswa y
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: Part 26Suasana di dapur Ummi Sri mendadak sesak. Jantung Luna serasa melompat ke tenggorokan saat mendengar suara ketukan pintu dapur yang semakin tidak sabar. Ibu Dekan Tarbiyah, atasan Jaya, sudah berdiri di balik pintu kayu itu. Jika pintu terbuka sekarang, beliau akan melihat Pak Dekan RKB yang terhormat sedang berdiri berdekatan dengan seorang "pelayan" yang sebenarnya adalah istrinya sendiri."Masuk ke dalam ruang cuci! Sekarang!" bisik Jaya dengan nada memerintah yang sangat rendah.Tanpa membantah, Luna mendorong Jaya masuk ke area ruang cuci yang sempit di sudut dapur, lalu ia menutup pintunya rapat-rapat. Luna menarik napas sedalam-dalamnya, merapikan apronnya, dan membuka pintu dapur utama dengan senyum yang dipaksakan."Eh, Ibu Dekan... maaf, tadi saya sedang merapikan piring yang pecah di belakang," ucap Luna dengan suara yang kembali dibuat serak.Ibu Dekan Tarbiyah masuk dengan gaya anggunnya, matanya menyapu sekeliling dapur yang bersih. "Tidak apa-apa, Una. Saya hanya ti
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: Part 25 : Ketahuan dua ?Jantung Luna berdegup kencang seperti genderang perang. Permintaan Bu Warek II untuk menemuinya di ruang tengah arisan adalah sebuah jebakan maut. Ia melirik Jaya yang masih berdiri di lorong gelap."Bang, gimana ini? Kalau adek keluar, itu Bu Dekan Tarbiyah pasti ngenalin adek!" bisik Luna panik.Jaya menatap istrinya tajam, lalu ia menarik kacamata hitam yang tersampir di kerah bajunya dan memakaikannya ke kepala Luna sebagai bando, lalu menarik sedikit poni hijab Luna agar lebih menutupi kening. "Tetap merunduk. Jangan banyak bicara, biar Ummi yang menghandle percakapannya."Luna menarik napas dalam, menguatkan mentalnya, lalu melangkah keluar dengan nampan kosong sebagai alasan."Nah, ini dia orangnya!" seru Ummi Sri menyambut Luna. "Namanya... Una. Dia memang pendiam, Bu."Luna menunduk sedalam mungkin. "I-iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" suaranya sengaja dibuat sedikit serak."Una, sambal kacang siomay ini rahasianya apa? Saya sudah makan di banyak tempat, tapi ini yang
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: Part 24 : Ketahuan?Hari Rabu yang dikhawatirkan Luna akhirnya tiba. Kediaman megah Abah Edi dan Ummi Sri sudah tampak ramai sejak pukul sepuluh pagi. Mobil-mobil mewah berderet di halaman, menandakan tamu arisan Ummi Sri bukan orang sembarangan—kebanyakan adalah istri-istri pejabat kampus dan tokoh masyarakat di Curup.Luna datang lebih awal, diantar oleh Jaya melalui pintu samping agar tidak menarik perhatian. Kini, Luna berdiri di dapur luas milik mertuanya, mengenakan gamis sederhana berwarna cokelat susu yang ia padukan dengan apron (celemek) bunga-bunga milik Ummi Sri. Jilbabnya ia lilitkan dengan rapi ke belakang agar tidak mengganggu pergerakannya."Luna, tolong tata dimsum dan siomay-nya di piring saji ya, Nak. Oh iya, saus kacangnya jangan lupa ditaruh di mangkuk kecil," instruksi Ummi Sri dengan lembut sambil sibuk menata gelas-gelas kristal."Siap, Mi!" sahut Luna antusias.Di dapur, Luna merasa seperti penguasa. Rasa gugupnya menghadapi tamu-tamu terpandang itu hilang saat ia mulai memeg
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: Part 23 : KateringHari Rabu yang dikhawatirkan Luna akhirnya tiba. Kediaman megah Abah Edi dan Ummi Sri sudah tampak ramai sejak pukul sepuluh pagi. Mobil-mobil mewah berderet di halaman, menandakan tamu arisan Ummi Sri bukan orang sembarangan—kebanyakan adalah istri-istri pejabat kampus dan tokoh masyarakat di Curup.Luna datang lebih awal, diantar oleh Jaya melalui pintu samping agar tidak menarik perhatian. Kini, Luna berdiri di dapur luas milik mertuanya, mengenakan gamis sederhana berwarna cokelat susu yang ia padukan dengan apron (celemek) bunga-bunga milik Ummi Sri. Jilbabnya ia lilitkan dengan rapi ke belakang agar tidak mengganggu pergerakannya."Luna, tolong tata dimsum dan siomay-nya di piring saji ya, Nak. Oh iya, saus kacangnya jangan lupa ditaruh di mangkuk kecil," instruksi Ummi Sri dengan lembut sambil sibuk menata gelas-gelas kristal."Siap, Mi!" sahut Luna antusias.Di dapur, Luna merasa seperti penguasa. Rasa gugupnya menghadapi tamu-tamu terpandang itu hilang saat ia mulai meme
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: Part 22 : Pagi indahCahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar lama Jaya di rumah utama terasa lebih menyengat dari biasanya. Luna mengerjap, merasakan beban berat di pinggangnya. Lengan kokoh Jaya masih melingkar protektif di sana, seolah takut jika ia melepaskannya sedetik saja, istrinya akan lari kembali ke perpustakaan untuk menggoda pria lain. Luna mencoba bergerak, namun ringisan kecil lolos dari bibirnya. Pantatnya masih terasa panas, dan lehernya terasa kaku. Ingatan tentang kejadian kemarin sore berputar seperti kaset rusak; amarah Jaya yang meledak, seretan di depan Ummi Sri, hingga tangisannya yang pecah di bawah kungkungan suaminya. "Sudah bangun?" Suara bariton Jaya terdengar serak khas orang bangun tidur, tepat di belakang telinga Luna. Luna hanya bergumam pelan, masih enggan menoleh. Ia merasa malu sekaligus masih sedikit kesal. Jaya menghela napas, ia bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Matanya tertuju pada leher Luna yang kini
Last Updated: 2026-01-11

Velvet Bloodline
Di balik kemewahan istana bangsawan Eropa, kekuasaan tidak pernah diwariskan dengan damai.
Thom Percy, pewaris keluarga aristokrat Britania Raya, tumbuh jauh dari tanah kelahirannya. Pengasingan, pengkhianatan, dan rahasia keluarga membentuknya menjadi sosok dingin yang memahami satu hal:
darah biru tidak menjamin keselamatan.
Ketika konflik lama kembali menyeret keluarganya ke pusaran politik internasional, Thom terpaksa kembali ke dunia yang sejak lama ia tinggalkan—dunia para Duke, Marquess, dan elit global yang tersenyum di meja makan, namun saling membidik dalam gelap.
Di tengah permainan kekuasaan itu, muncul seorang perempuan asing.
Seorang penerjemah lisan yang selalu hadir di tempat yang salah—atau mungkin, terlalu tepat waktu.
Ia tidak mencari sorotan.
Tidak mengejar kekuasaan.
Namun setiap langkahnya selalu beririsan dengan peristiwa besar: konferensi politik rahasia, skandal elit global, hingga insiden penembakan yang mengguncang istana bersejarah.
Tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.
Tidak ada yang berani bertanya terlalu jauh.
Sementara itu, Thom harus memilih:
melanjutkan hidup sebagai bayangan yang aman,
atau kembali ke pusat permainan—menghadapi masa lalu, mempertaruhkan orang-orang yang ia lindungi, dan menantang kekuatan yang jauh lebih besar dari satu keluarga bangsawan.
Dalam dunia tempat hukum bisa dibeli, loyalitas dipertukarkan, dan kebenaran dikaburkan oleh kekuasaan—
siapa yang benar-benar memegang kendali?
Read
Chapter: Part 72 : SeahousesDiskusi itu pun berubah menjadi sesi interogasi privat. Selama hampir satu jam, mereka terjebak dalam perdebatan strategi. Bryer menggali informasi tentang koneksi lama Ivan Li yang mungkin masih aktif, sementara Bara dengan bangganya membeberkan setiap "bisikan" yang ia dengar dari kakatua-kakatua senior di Kremlin tentang siapa saja pengkhianat yang masih setia pada panji keluarga Li. "Ada seorang pria... sering terlihat di dermaga dengan tato naga yang terpotong di lengan bawahnya. Itu tanda kesetiaan pada keluarga Li tingkat bawah," celetuk Bara. Waktu terus bergulir. Bryer terlalu fokus memetakan pergerakan antek Li hingga ia melupakan satu variabel penting Waktu. Begitu diskusi selesai, Bryer segera memerintahkan pengawalnya untuk melesat ke dermaga selatan. Mobil SUV hitam itu membelah jalanan pesisir dengan kecepatan gila. Bara terbang di atas, memandu arah dengan pekikan nyaring. Namun, sesampainya di dermaga nomor 12, jantung Bryer seolah merosot ke perut. Der
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Part 71 : Aku MendengarnyaBryer meremas tangannya kuat-kuat. Kedatangannya ke Hawaii yang niatnya untuk menenangkan diri, kini berubah menjadi misi perburuan kembali. Ia melirik Emilia, merasa bersalah karena liburan mereka akan terganggu lagi. "Naiklah ke helikopter dulu, Bryer," ujar Emilia tenang, meskipun hatinya ikut bergejolak. "Kita bicarakan ini di resort. Hawaii memang panas, tapi sepertinya bara api yang kau bawa dari Rusia akan membuat tempat ini meledak." "Tepat sekali! Dan aku akan menjadi komentator utamanya!" teriak Bara saat mereka semua masuk ke dalam helikopter. Di dalam helikopter yang melaju membelah langit Honolulu, Bryer hanya bisa duduk bersandar, memijat keningnya sementara Bara mulai menagih "pajak gosip" tentang rahasia-rahasia di Gedung Putih. Di bawah langit Hawaii yang indah, Bryer menyadari bahwa ketenangan adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia miliki selama ia masih terlibat dengan keluarga Vladimir dan burung kakatua hitam yang jauh lebih pintar daripada agen CIA
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Part 70 : Departemen Gosip PusatNamun, sifat aslinya kembali dalam sekejap. Burung itu kembali berteriak, "Sekarang, beri aku lebih banyak macadamia! Gosip tadi sangat menguras tenaga! Dan jangan lupa, nanti sore kita harus ke dermaga. Aku ingin melihat ekspresi wajah Bryer saat aku menagih bayaran atas informasi ini. Aku ingin apel Honeycrisp dari Washington, bukan apel lokal yang rasanya seperti air tawar ini!" Emilia hanya bisa terduduk diam, menatap cakrawala di mana ia tahu, sebuah badai besar sedang bergerak menuju pesisir Hawaii yang tenang. Badai yang dibawa oleh seorang pria pemarah bernama Bryer, dan rahasia yang disimpan rapat oleh seorang jurnalis bernama Nona Berry. Sambil mendengarkan ocehan Bara yang kini mulai beralih menggosip tentang pengawal Emilia yang katanya punya pacar rahasia di Rusia, Emilia menyadari satu hal Liburannya di Hawaii sudah berakhir, bahkan sebelum benar-benar dimulai. Di bawah langit Hawaii yang biru cerah, aspal di landasan pacu Bandara Internasional Honolulu tampak be
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Part 69 : Aku melihatnyaMatahari musim panas di Hawaii membasuh pesisir Waikiki dengan cahaya emas yang menyilaukan, sangat kontras dengan kemuraman abu-abu yang biasanya menyelimuti dinding-dinding batu Kremlin. Di balkon sebuah penthouse mewah yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik, Emilia duduk terdiam. Di tangannya, segelas Mai Tai dingin dengan hiasan payung kecil tampak berkeringat, namun pikirannya masih membeku pada kejadian sebulan lalu. Kejadian di mana Kesia menelan racun tanpa mengedipkan mata. Namun, lamunan melankolis Emilia tidak pernah bisa bertahan lama. Keheningan adalah kemewahan yang mustahil didapatkan selama burung kakatua hitam Papua bernama Bara ada di radius satu kilometer darinya. Hari itu dimulai dengan keributan. Belum juga jam menunjukkan pukul delapan pagi, kepakan sayap legam Bara sudah menghantam teralis balkon dengan bar-bar. "Emilia! Bangun, Tuan Putri Malas! Kau melewatkan pertunjukan komedi terbaik di kolam renang bawah!" teriak Bara, suaranya melengking
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Part 68 : Dekadensi MoralDi sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi oleh pendaran cahaya biru dari belasan monitor pengawas, Viktor Sergeyevich Morozov duduk bersandar dengan kaki menyilang di atas meja mahoni. Asap cerutu Kuba miliknya menari-nari di udara, menciptakan selubung tipis yang menambah kesan dingin di wajahnya yang kaku. Matanya yang tajam terkunci pada satu layar spesifik kamera tersembunyi dengan sudut pandang high-definition yang menangkap setiap inci gerak-gerik di paviliun VVIP rumah sakit. Viktor menyipitkan mata saat melihat adegan di layar. Di sana, di atas brankar mewah, ia menyaksikan pemandangan yang menurutnya sangat menggelikan. Artem Donilov, pria berusia 45 tahun yang dikenal sebagai pemangsa tak kenal ampun di Moskow, sedang menepuk-nepuk pantat Nayla dengan ritme yang menghina akal sehat seolah Nayla adalah balita yang butuh ditenangkan dari mimpi buruk. Dan yang membuat Viktor mengeluarkan tawa kering penuh ejekan adalah reaksi Nayla. Gadis itu tidak lagi meronta. I
Last Updated: 2026-04-05
Chapter: Part 67 : Sup Ikan SturgeonTengah malam di paviliun VVIP itu hanya disisakan oleh suara detak jam dinding yang mekanis dan dengung halus mesin penyaring udara. Nayla Wilson terbangun dengan tenggorokan yang terasa seperti padang pasir yang terbakar. Efek samping dari obat bius dosis tinggi dan suplemen ginseng yang dipaksakan Artem siang tadi membuatnya merasa dehidrasi hebat. Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya masih terkunci dalam dekapan posesif Artem Donilov. Lengan pria itu yang berat melintang di perutnya, memberikan rasa aman sekaligus mencekik. "Air..." bisik Nayla parau, suaranya hampir tidak keluar. Tanpa disangka, pria yang tadinya terlihat terlelap itu langsung membuka matanya. Artem tidak benar-benar tidur ia selalu waspada seperti predator yang menjaga mangsanya. Tanpa suara, ia melepaskan pelukannya dan meraih gelas kristal di atas nakas. "Haus, Sayang?" suara Artem serak khas pria yang baru bangun tidur, namun tangannya sangat stabil saat mengangkat kepala Nayla dengan satu tangan, s
Last Updated: 2026-04-05