LOGINKinanti Puspita merasa kecewa dengan sikap suaminya serta, Ibu mertua yang suka seenaknya bertindak. Dia sudah tidak tahan lagi mendengar cemoohan, hinaan dari Ibu mertua serta, adik Iparnya. Apalagi, Revan tidak pernah mempercayai dirinya dan selalu salah di mata mereka. Mereka suka bertindak seenaknya karena derajatnya jauh lebih tinggi dari kinnan. Kinan pun suka di ejek wanita tidak tau asa usul keturunannya dan suka menyusahkan mereka. Satu kejadian membuat Kinanti merasa sakit hati oleh suaminya karena telah berselingkuh, apalagi dia telah menghamili wanita itu. Revan meminta agar Kinan mau menerima Ica sebagai istri keduanya. #Akankah Kinan mau menerima Ica sebagai istri kedua? Bagaimana jika mereka tau, kalau sebenarnya Kinanti adalah wanita keturunan ningrat yang ternyata selama ini menyembunyikan indentitasnya? Penasarankan? Yuk, baca ceritanya disini.
View MoreThe physician’s face twisted in outrage as he glared at Harley and me. He wasn’t just any doctor—he was someone we trusted, practically our family doctor.
“Mr. Babylon, we need to talk,” he said, forcing a tense smile. “Mrs. Babylon, if you don’t mind, could you excuse us?”
Embarrassed and confused, I stepped out of the office. Our daughter, Harley, is physiologically challenged, but what had he discovered that he couldn't tell me?
Or is he hiding something from me? I'm her mother—I deserve to know everything about her.
From beyond the closed door, I caught only a few hushed words:
“Eight-year-old Harley Babylon is…”
The rest faded into silence. My heart raced like wildfire, pounding loudly in my ears.
A few minutes later, Richard pushed Harley’s wheelchair out of the office.
“Let’s go,” he said coldly. His voice was unfamiliar—detached and void of warmth.
He didn’t open the car door for me like he always did. Instead, he drove silently, passing the restaurant we had planned to visit without a word. His gaze was locked straight ahead, his face darkened by a deep scowl.
When we got home, Harley wheeled herself inside. Even she could feel the change in her father. Richard didn’t speak to her or touch her as he usually would.
Suddenly, he grabbed my wrist roughly and shoved me to the floor. He held an envelope in one hand.
“I don’t even know what’s inside this,” I said, terrified.
He threw the envelope on the bed.
“What’s this, Theresa? So this is who you are? How could you?” His voice was thick with pain and fury.
“What are you talking about?” I stammered, tearing open the envelope. My hands shook as I read the doctor’s report.
“No… this can’t be right. Richard, please—we can fix this. Harley is your child!” I fell to my knees, clutching his leg, pleading.
He bit his lip, trying to hold back emotion.
“Your tears won’t solve anything,” he muttered, sinking into the chair beside the bed.
“I... I don’t understand. I know nothing about this. Maybe we should get a second DNA test—at another hospital,” I begged.
“Leave me, Theresa!” he yelled, slamming his fist against the wall. “She’s a bastard.”
My breath caught. “Something isn’t right. You met me as a virgin—no man has ever touched me. This isn’t just hurting me—it’s traumatizing Harley.”
“I don’t care anymore,” Richard snapped, pointing at our daughter. “You know what, Theresa? Pack your bags—and hers. Get out of my house! I want a divorce!”
I'm
“A divorce?” I cried, gripping his arms. “After eight years of marriage? You really believe this?”
“Did you pity me when you deceived me?” he shouted. “I gave you everything. Is this how you repay me?”
“Richardson, wait—please. We can work through this.”
“No. I’m done. And there’s a good chance your unborn child isn’t even mine.” He ripped his arm away and stormed out.
Harley had been watching everything in silence.
“Mommy, what’s happening?” she asked, tapping my shoulder gently.
I was speechless.
“Everything will be fine soon, Harley,” I whispered, smoothing her bangs and kissing her forehead. “Dad’s just… angry.”
“I heard him say I’m a bastard,” she said, rubbing her eyes. “He used to be the best dad ever. Why did he change?”
“Don’t worry,” I said, stroking her hair. “We’ll be okay.”
I sat on the bed, stunned, replaying the nightmare that just unfolded. Something had gone terribly wrong. That doctor had ushered me out too quickly. And Delilah—Richard’s ex—had always been around, scheming. What if she tampered with the results?
Tears blurred my vision as I hugged Harley tightly. I had to act. I grabbed Richard’s spare car keys and drove straight to another hospital—Annoiting Hospital.
This is not over. I knew Harley was Richard’s daughter. I had to prove it—and expose Delilah if she had a hand in this. I have not been myself, my thinking weren't accurate. His ex— returned like a predator, devil and snake in the grass.
Our conversations and intimacy ended all because of a sheet of paper that doesn't guarantee any success. Countless memories of when we entwined our legs on the bed, thousands of screams while moaning. Many times when he pulled my waist, rolled his tongue with mine, in the shower having fun together.
I summoned courage, wiped my tears and headed to the hospital. Fear filled my heart, my mind thick with intrusive thoughts.
---
At the hospital, a nurse approached.
“Madam, our physiotherapist isn’t in today.”
“I need a DNA test,” I said firmly.
“A DNA test? I’m sorry, our lab technician is off today. You’ll need to come back tomorrow.”
Downcast, I turned away.
What will happen if Richard finds me back in that house?
“Arghh,” I groaned, slapping my forehead.
“What are we going to do, Mommy?” Harley asked softly.
I unlocked my phone and sent a message to Richardson on W******p:
> “Hey sweetie, I’m home—even though I’m not. Just wanted to see your reaction. I promise we’ll fix this.”
He was online, but didn’t respond.
An hour passed. I sat on the couch, holding Harley close. Then, his reply came:
> “I’ll send the divorce papers soon. Sign them ASAP. I don’t want you in my life anymore.”
On his W******p status, I saw a picture of him with Delilah—together in a romantic pose. It wasn’t a new picture.
So he had already reunited with his ex.
He was cheating. That explained everything.
“Oh my God,” I whispered, my body trembling. “I can’t take this anymore.”
I looked at Harley—sweet, innocent Harley.
It was time to stop living in denial.
“Richardson is not a good husband or father,” I said aloud, tears flowing. “I’m sorry, my dear Harley—and to m
y unborn child—but I have to protect you both. I’ll separate you from your father… and start over.”
Kinan yang kini berada di dalam kamar, langsung mengambil sebuah koper. Dia tidak sudi lagi harus tinggal bersama suaminya serta, sang mertua yang toxic itu. Dia memilih untuk pergi. Kinan segera mengambil baju miliknya kemudian, di masukan ke dalam koper tersebut. 'Lebih baik aku pergi dari sini, dari pada terus-terusan orang menyakiti aku dan tidak menghargai aku. Mungkin, ini jalan terbaik harus mengakhiri semuanya,' gumam Kinan. Wanita cantik itu mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi pada dirinya. Mungkin, ini akan jadi pelajaran buat dirinya agar selalu tidak gegabah memilih pasangan. #Revan kini sudah sampai di rumah. Dia terburu-buru ke dalam karena ingin menemui istrinya. Dia menatap wanita paruh baya yang kini sedang duduk di sofa yang berada di ruang tamu. "Bu, apakah Kinan ada disini?" tanya Revan menatap wanita paruh baya itu. "Ada, dia pergi ke kamar, sih," jawab wanita paruh baya itu. "Oke, makasih, Bu." Saat Revan akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba Bu S
"Kinan, semangat!" ucap Rangga mencoba menyemangati wanita cantik yang baru saja turun dari mobil. Kinan langsung menatap atasannya itu. Lalu, dia tersenyum, "makasih," ucap Kinan. Kinanti pun berpamitan kepada atasannya itu. Dia berterima kasih kepada pria yang telah mengantarkan dirinya pulang. "Aku pamit duluan ya, Pak," ujar Kinan menatap Rangga. "Iya, silahkan," ucap Rangga. Kinanti segera pergi meninggalkan Rangga.Dia segera berjalan masuk ke dalam rumah. Rangga yang melihat punggung Kinanti merasa sangat kasihan. Benar-benar sangat disayangkan, wanita cantik serta sopan menurutnya, sampai di selingkuhi. 'Semoga suatu saat nanti, kamu mendapatkan pendamping hidup yang jauh lebih baik, serta menyayangimu, Kinan,' gumam Rangga. Saat Kinanti sudah masuk ke dalam rumah, Rangga pun segera pergi dari halaman rumah itu. Ketika Kinanti melangkahkan kakinya berjalan menuju ruang tamu, tiba-tiba seorang wanita paruh baya berjalan menghampirinya. "Tumben jam segini baru pul
Kinanti yang kini berada di dalam mobil, terus menangis. Dia merasa sangat tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Sakit, sungguh sakit hatinya melihat seseorang yang sangat dia cintai, kini telah mengkhianatinya. 'Aku benci kamu, Mas! Kamu enggak tau berapa besar pengorbananku agar bisa menikah denganmu? Aku rela pergi dari rumah serta, bertengkar dengan orangtua aku demi kamu. Demi bisa hidup selamanya dengan kamu. Nyatanya, ini balasanmu kepadaku? Sungguh, kau pria brengsek!' gumam Kinanti benar-benar sangat kecewa. Pipinya terus di banjiri oleh air mata. Dia tidak kuasa menahan sakitnya hati yang telah tergores luka yang begitu dalam. Seseorang masuk ke dalam mobil. Dia merasa sangat khawatir kepada Kinanti. "Kamu baik-baik ajakan, Kinan?" tanya Rangga. Pria itu kini langsung duduk di dalam mobil di samping Kinan. "Lihatlah, aku sedang tidak baik-baik saja," ujar Kinanti menatap kesal Rangga. Wanita itu sambil menghapus air matanya yang membasahi pipi. "Maa
"Jangan, Pak. Biarkan ini urusan aku dengan suamiku. maaf, telah membuat Bapak ikut campur dengan kejadian ini," ujar Kinanti. Kinanti merasa tidak enak hati kepada atasannya itu. Mungkin, dia tidak akan memaafkan dirinya karena sesuatu telah terjadi yang membuat bibir atasannya terluka. "Hey, wanita sial! Dengan kehadiranmu membuat semuanya jadi kacau!" sentak Ica menatap tajam Ica. Kinanti tidak menghiraukan perkataan Ica. Dia langsung berjalan menghampiri suaminya. Dia mencoba untuk membantu Revan untuk berdiri. Akan tetapi, Revan langsung menghempaskan tangan istrinya itu. Kinanti hanya menatap sinis suamianya saat melihat dia tidak menolak bantuan Ica untuk berdiri. "Mas, aku ingin bicara denganmu," ucap Kinan. "Mau bicara apa, hah?" ketus Revan. apa hem?" "Aku cuma ingin bilang sama kamu, izinkan lah aku pergi dari hidupmu, jika tidak ada lagi surga untukku! Percuma aku bertahan, jika hatiku selalu kau sakiti. Aku ini manusia punya hati, juga perasaan! Sekali lagi
Kinanti menggaruk lehernya yang tidak gatal. Dia mengigit bibir bawahnya merasa sangat malu karena telah mengebrak meja di depan atasannya. Rangga yang melihat tingkah bawahannya itu hanya menggelengkan kepalanya. "Apa yang terjadi denganmu, Kinan?" tanya Revan. "Anu ... enggak ada apa-apa, kok
"Bagaimana dengan Kinan? Apakah dia mau menerima aku sebagai istrimu?" tanya Ica. Wanita itu jadi patah semangat saat mengingat istri pertamanya Revan. Dia merasa jadi khawatir, Kinan malah berhasil membuat Revan untuk meninggalkan dirinya. Pria yang kini ada di samping Ica langsung memegang tang
"Aku bisa menjelaskannya, Mas," ucap Kinan menatap suaminya."Menjelaskan apalagi? Aku percaya kalau ucapan Ibu itu benar. Jadi katakanlah yang jujur, kalo memang selingkuh 'kan?" tanya Revan."Enggak, Mas, aku enggak selingkuh!" jawab Kinanti.Revan merasa sangat kesal karena Kinanti tidak mau juj
"Hebat, benar-benar, hebat!" sentak Bu Gina sambil melangkahkan kakinya berjalan menghampiri Kinanti.Kinanti merasa terkejut, sekaligus merasa heran karena tiba-tiba mertuanya berkata seperti itu. Kinanti mencoba untuk tetap tenang. Dia tersenyum kepada Ibu Gina, akan tetapi mertuanya malah menata






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews