LOGINAndrea was given a task to protect Alpha Jax, he was committed, ruthless, dangerous but his power was at its peak to summon the Moon Goddess for help to keep him in power and fight his enemies with him. Andrea's duty was to protect the Alpha who already have a mate but not yet married - for one year before coming back. Will there be any spark in that year? What could possible happen to Andrea these years?
View More"Menikah dengan dia?" Arandita menunjuk ke arah Bastian yang tengah fokus bicara dengan Pramoedya dengan tangan kanan yang gemetar sedangkan salah satu tangan memegangi ujung belakang gaunnya. Wajah gadis itu sudah tampak basah dengan air mata.
30 menit yang lalu saat pengantin pria hendak mengucapkan kalimat qabul, seorang wanita dengan bayi merah dalam pangkuan menghentikan acara tersebut dan mengaku bahwa ayah biologis dari putrinya adalah pengantin pria."Iya Aran, semoga saja dia tidak keberatan," ujar sang ibu sambil mengelus pundak putrinya."Iya Bas, adikmu bermasalah hingga tidak mungkin meneruskan pernikahan ini, sementara para tamu penting sudah mulai berdatangan. Sepertinya ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan reputasi keluarga kita, Papa harap kamu setuju. Dengan begini, kamu juga bisa membuktikan pada semua orang bahwa kabar yang beredar itu tidak benar," ucap Pramoedya dan Bastian menghembuskan nafas berat lalu mengusap gusar wajahnya.Bastian melirik ke segala arah dimana orang-orang menatap Arandita dengan iba. Dari belakang dirinya berdiri, beberapa wartawan sudah mulai berdatangan. Sepertinya keluarga mereka harus bersyukur atas keterlambatan awak media."Baiklah, Pa."Persetujuan Bastian membuat keluarga Pramoedya dan Furqan seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Rasa panik yang sedari tadi melanda sedikit demi sedikit mulai berkurang."Baiklah, kalau begitu kita mulai," ujar Pramoedya mengajak putranya ke meja ijab karena tidak ingin semua tamu menunggu lebih lama lagi.Pria dewasa dengan celana kain berwarna merah maroon, dan jas berwarna senada dengan ujung jas berwarna kehitaman, disertai kemeja hitam tersembul dari balik dasi yang juga berwarna hitam berjalan tegap ke arah meja ijab. Wajah tampan dengan hidung bangir serta mata hazel dan rahang yang tegas itu langsung mengalihkan pandangan semua orang."Ingat namanya Arandita Al Furqan binti Furqan Ubaidillah," bisik Pramoedya di telinga putranya dan Bastian hanya menjawab dengan anggukan."Sudah tahu kan, mas kawinnya apa?""Tahu, Pa."Di sisi lain Arandita pun menurut saat dituntun oleh sang ibu dan disuruh duduk kembali di tempatnya semula.Semua orang yang berada di sekitar meja ijab terlihat tegang. Arandita sendiri diam bagai patung dengan posisi wajah yang masih menunduk. Angin bertiup, dingin membelai pipi, membuat ia terlarut dalam kesunyian yang diciptakan sendiri meskipun dalam keadaan sekitar yang ramai. Saat ini, Arandita merasa berada di tempat lain, bukan lagi di acara pernikahan dirinya.Sampai Bastian selesai mengucapkan kalimat qabul dan kata sah terdengar dari setiap sudut ruangan, gadis itu masih setia menunduk, tidak sadar bahwa dirinya sudah resmi menjadi seorang istri.Devina menyenggol bahu Arandita sehingga gadis itu kaget dan mendongak."Iya, Bu?""Salami tangan suamimu!" perintah sang ibu dengan suara lembut.Arandita mengangguk lalu menatap sekilas wajah Bastian yang ekspresinya begitu datar. Dengan gugup ia meraih tangan pria yang baru saja menjadi suaminya itu dan mencium.Suasana canggung langsung terasa, ternyata tidak hanya Arandita yang khawatir, hampir semua orang yang hadir pun khawatir dengan rumah tangga mereka ke depannya. Akankah rumah tangga sakinah mawadah dan warahmah mewarnai kehidupan sepasang suami istri yang sama-sama menerima pernikahan dengan keterpaksaan itu?Bastian menatap wajah Arandita sekilas, lalu dengan lembut dia mengecup kening gadis tersebut."Maaf, saya harus melakukan ini, demi terlihat ini seperti pernikahan normal," bisiknya.Arandita mengangguk, ia cukup tahu diri dan tidak pernah berharap banyak pada pernikahannya dengan Bastian.Setelah menyalami semua anggota keluarga kedua mempelai dituntun ke dalam kamar dan pakaiannya diganti dengan warna yang senada , barulah mereka berdiri di depan pelaminan untuk menyambut para tamu undangan yang akan memberikan ucapan selamat.Acara terus berlangsung dan para tamu undangan disuguhkan dengan hiburan musik. Tentu saja langsung membuat suasana menjadi heboh setelah drama pernikahan sedari pagi. Keduanya menyambut para tamu dengan senyum yang dipaksakan.Malam menjelang dan tamu undangan sudah pergi, menyisakan hanya keluarga dan beberapa kerabat dekat saja. Bastian memutuskan untuk pergi ke kamar dan Arandita mau tidak mau juga membuntuti sang suami masuk ke dalam kamar hotel yang kini menjadi kamar pengantin mereka.Sunyi, tak ada suara dari kedua pasangan suami istri baru yang ternyata memilih menghabiskan waktu dengan duduk termenung di pinggir ranjang. Hingga akhirnya Arandita memutuskan untuk mandi terlebih dahulu kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang.Kelopak bunga mawar berjatuhan ke lantai, aromanya membuat sesak di dada Arandita karena langsung teringat pada Bobby, pria yang seharusnya menjadi teman sekamarnya sekarang.Tak jauh berbeda, Bastian mengikuti jejak Arandita. Membersihkan diri lalu ikut merebahkan tubuh. Mereka berdua tidur dengan punggung yang berlawanan arah. Melewati malam pertama dengan mengarungi mimpi masing-masingEsok hari mereka pamit untuk tinggal di rumah Bastian. Kedua orang tua Arandita bahagia melihat anak dan menantunya terlihat akur meskipun tidak banyak bicara, bahkan rambut keduanya terlihat sama-sama basah."Ini kamarku, tapi mulai hari ini akan menjadi kamarmu. Semoga kau betah." Bastian berjalan masuk ke dalam kamar. Sengaja tidak memberikan kamar yang lain agar Pramoedya tidak lagi menganggapnya lelaki yang tidak normal.Arandita tersenyum sebab Bastian sudah mulai bicara banyak padanya."Dan tenang saja nanti aku tidur di ruang kerja." Pria itu membuka ruang kerja yang berada di dalam kamar itu juga. Walaupun hanya ruang kerja, tetapi cukup luas dan nyaman jika ditempati untuk tidur, bahkan di ruangan itu juga ada kasur, tempat Bastian bermalas-malasan setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Bisa dikatakan kamar Bastian memiliki ruangan kamar yang double.Arandita langsung terdiam karena ternyata pikirannya salah."Oh ya, karena pernikahan ini sama-sama tidak kita inginkan, aku membuat surat ini. Aku pikir ini akan menguntungkan untuk kita berdua."Arandita meraih map yang disodorkan Bastian."Kontrak perjanjian?" tanya Arandita dengan bibir bergetar. Ia masih tidak percaya manusia seserius Bastian bisa mempermainkan pernikahan.,Days turned into weeks, and weeks turned into months. Jax and I grew closer with each passing day, and I knew that I had found my home in his pack.One evening, as we sat by the fire, Jax turned to me and took my hand in his."Andrea, there's something I need to ask you," he said, his eyes filled with love.I felt my heart skip a beat. Was he going to propose?"Will you be my mate?" he asked, his voice filled with sincerity.Tears filled my eyes as I realized that this was what I had been waiting for all along."Yes," I whispered. "I will be your mate."Jax's face broke into a wide grin, and he pulled me into a passionate kiss.As we broke apart, Jax reached into his pocket and pulled out a small box."Andrea, there's one more thing," he said He opened the box, revealing a beautiful silver necklace with a moon-shaped pendant."This was my mother's necklace," he said, placing it around my neck. "I want you to have it as a symbol of our love and commitment to each other."I felt tears
As I helped Jax to his feet, he winced in pain. "Thanks, Andrea," he muttered, his eyes locked on the ground.I nodded in response, feeling a mix of emotions. On one hand, I was relieved that he was going to be okay. But on the other hand, I couldn't help but feel angry at him for putting himself in this situation.Days turned into weeks, and Jax's condition slowly began to improve. He was still weak and vulnerable, but he was no longer in danger of dying. As I tended to him, I couldn't help but notice how different he was from the Jax I had known before. He was no longer the arrogant and selfish alpha I had once known. Instead, he was humble and grateful for my help.One day, as I was tending to Jax's wounds, he opened his eyes and looked directly at me. For a moment, we just stared at each other in silence. Then, he spoke softly."Thank you for saving my life," he said. "I know that I haven't always been the easiest person to get along with, but I want you to know that I appreciate
"Andrea," Jax said, his voice barely above a whisper.I didn't respond, still staring off into the distance."I know that I hurt you, and I'm sorry. I never meant for any of this to happen." Jax said.I scoffed, feeling the anger and pain rising up inside me. "You never meant for any of this to happen? You let me believe that I had a chance with you, that maybe you felt the same way. But all along, you had already chosen someone else."Jax took a step closer to me, and I could feel his heat radiating off his body. "Andrea, please, just listen to me. I never intended to hurt you. I was confused, and I made a mistake."I finally turned to face him, my eyes red and swollen from crying. "A mistake? Do you even realize how much this hurts me? I'm supposed to be your protector, but who's protecting me?"Jax reached out to touch me, but I pulled away, not wanting to feel his touch. "I can't do this, Jax. I can't be around you anymore. Not after what you did to me."I stood up from the fallen
I heard she fainted the other day and she was getting better now but I somehow wished that she would lay on that sick bed forever, never standing up. Or she would just die or return to wherever she came from and let all of us be. I had to move on with my next plan as soon as I could. I wanted to see my brother and tell him that we had taken our plan to the next level and get her chased out of the pack. A dark smile hovered on my face as I walked slowly toward his room with a dark smile hanging on my face.When I got to the room, I shot a stare at him. "Good morning sister." He greeted me quickly but I didn't return the courtesy. We haven't been that close since I remembered. He was always stuffed with state issues while I started up trouble at home and bullied the servants."Come with me, we need to talk." I blotted out to him and he nodded his head following me closely from behind but halfway through our journey, Andrea passed by and my face twisted with hate and anger. I didn'
They dragged me along with them and this time, I didn't struggle with them, not even a single bit. "It's all my fault, I shouldn't have liked him at first. I should have known that we were a thousand worlds apart. He was just a mere Werewolf and I was the descendant of the moon goddess." I thought i
I stared into his eyes with so much passion and said it slowly so that it was going to feel every single word of what I was about to say and absorb it into his head gradually. I could hear his heart beating hard against his chest as though it was running a race already waiting for me to spill out th
I loved the way things were going. I had occupied all of Alpha Jax's life so that he was not going to look any further than me and I have also filled his head with a lot of terrible things about Andrea and I am sure he will never get closer to me again. As I continued to smile evilly to myself, a de
I stared into his eyes waiting to hear the stupid reason that he had come to my room to pester me just like his sister always did. But he didn't spit out a word from his mouth, he only stood there still smiling and I could feel my anger rising so bad that I had to clutch my hands to control my risin












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.