Chapter: Bab 58. Tak DirestuiKeesokan harinya, pagi membawa sinar yang terang. Sinar jingga menyelinap masuk melalui jendela kaca. Sebuah cahaya yang mengawali aktivitas para pekerja yang memiliki kesibukan.Dunia luar yang penuh dengan cahaya itu, sangat kontras dengan perasaan Giselle saat ini.Dia duduk di tepi ranjang, mengusap kedua tangannya berulang kali. Bukan karena kedinginan, akan tetapi karena Giselle sedang mempersiapkan dirinya untuk menguasai diri dalam dunia asing. ‘Semua akan baik-baik saja, Giselle. Ini tidak menakutkan seperti yang ada dalam bayanganmu.’ batin Giselle bertarung pada pikirannya sendiri. Pikiran yang menjadi momok menakutkan bagi dirinya sendiri. Berulang kali pikiran itu berbicara seperti racun, mengatakan jika dia tidak akan bisa berbaur dengan keluarga Leopold. Tetapi Giselle harus bertahan demi Arnon. Diam-diam, Arnon yang telah keluar dari ruang ganti. Menatap Giselle yang saat ini sedang melamun sambil mendesah panjang. Dari raut wajahnya, seakan sudah menggambarkan ji
Last Updated: 2026-01-13
Chapter: Bab 57. Percaya PadakuGiselle serta Arnon langsung kembali ke kamar setelah perdebatan yang membuat suasana tegang di meja makan. Arnon menghempaskan tubuhnya untuk duduk di sofa. Dia mendongakkan kepala dengan raut wajah yang masih tampak mengeras. Dahi pria itu nampak berkerut,Rahangnya mengeras walau wibawanya masih tak berkurang sedikit pun. Sementara Giselle sendiri masih berdiri di depan pintu. Ia diam, pandangannya mengarah pada Arnon dimana mimik wajah Arnon sendiri terlihat kepayahan. Giselle merenung, merasa bersalah dengan kerumitan yang terjadi hari ini. Melihat Arnon saat ini, membuat Giselle sadar sepenuhnya dengan batas diantara mereka. Dunia Arnon jelas berbeda. Pria itu terlalu sempurna bukan hanya dari segi rupa namun, juga dari status sosial. Ia merasa kurang pantas saat ini berdiri di dunia Arnon. Dunia yang penuh dengan kemewahan yang jauh dari kehidupannya dahulu. “Arnon.” panggil Giselle setelah melangkah mendekat, dia berdiri di depan Arnon yang semula memejamkan mata. Mend
Last Updated: 2026-01-12
Chapter: Bab 56. RencanaRuang makan utama keluarga Theodore telah dipersiapkan dengan sempurna. Meja panjang dari kayu gelap membentang di tengah ruangan, permukaannya berkilau di bawah cahaya lampu gantung kristal. Peralatan makan tersusun rapi, simetris, nyaris tanpa cela. Pelayan berdiri berjajar di sisi ruangan, punggung tegak, kepala sedikit tertunduk seolah satu tarikan napas yang salah pun bisa dianggap tidak sopan. Semua orang sudah hadir. Anggota keluarga Theodore memenuhi kursi-kursi mereka, wajah-wajah yang sama dinginnya seperti siang tadi. Di antara mereka, duduk pula keluarga Marquis, termasuk Bella dan Marley. Percakapan pelan sempat terdengar, namun berhenti seketika ketika pintu ruang makan kembali terbuka. Arnon masuk lebih dulu. Dan untuk pertama kalinya dengan sengaja, tanpa keraguan tangannya menggenggam tangan Giselle. Genggaman itu tidak kuat, tidak menekan, namun tegas. Seolah berkata bahwa apa pun yang menanti di ruangan ini, mereka akan menghadapinya bersama. Langkah Gisel
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: Bab 55. Aku KhawatirRuang kerja keluarga Theodore tertutup rapat begitu Arnon melangkah masuk. Aroma kayu tua dan kulit memenuhi ruangan itu bau khas kekuasaan dan keputusan besar. Rak buku tinggi menjulang di dinding, meja kerja besar berada di tengah dengan kursi kulit hitam menghadap jendela lebar yang mengarah ke taman belakang. Waktu sudah turun, tapi lampu meja menyala terang, membuat bayangan mereka jatuh tajam di lantai. Arthur Theodore berdiri membelakangi mereka, kedua tangannya bertumpu di sandaran kursi. Celine menyusul masuk dan menutup pintu perlahan, lalu berdiri di sisi ruangan, melipat tangan di depan dada. Arnon sendiri tetap berdiri, tegap, tenang namun tidak dengan rahangnya yang mengeras. Arthur berbalik. Tatapan ayahnya lurus menembus Arnon, tanpa basa-basi. “Menikah,” ucap Arthur pelan namun berat, “Tanpa satu pun pemberitahuan pada kami.” Arnon tidak langsung menjawab. Ia berdiri dengan kedua tangan di saku celana, posturnya santai, terlalu santai untuk situasi seperti i
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: Bab 54. Mengunjungi Keluarga TheodorePagi datang tanpa kompromi. Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai vila, menyapu lantai kayu dengan warna keemasan yang dingin. Suara ombak masih terdengar, namun kali ini tidak lagi menenangkan, hanya pengingat bahwa waktu mereka telah habis. Giselle terbangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, menatap koper yang terbuka di lantai. Gaun-gaun ringan yang kemarin terasa indah kini tampak asing, seperti pakaian dari hidup lain yang sebentar lagi harus ia tinggalkan. Arnon masih tertidur di belakangnya, napasnya teratur, wajahnya tenang. Untuk sesaat, Giselle hanya memandangi pria itu, mencoba mengingat detail kecil yang mungkin tak akan lagi ia temui dalam suasana sesantai ini. Ia bangkit perlahan, mulai melipat pakaian dengan gerakan pelan. Setiap helai yang masuk ke dalam koper terasa seperti hitungan mundur. Arnon terjaga tak lama kemudian. “Kita harus berangkat sebelum siang,” katanya, suaranya masih serak oleh sisa tidur. Giselle mengangguk. “Aku tahu.” Tidak banyak
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: Bab 53. AmbisiMarley tiba di kantor tepat waktu, rapi seperti biasa dengan setelan jas gelap, kemeja putih, dasi terikat sempurna. Dari luar, tidak ada yang tampak berbeda. Namun begitu ia melangkah masuk ke ruang kerjanya, pintu tertutup, dan dunia kembali sunyi, kepalanya justru semakin gaduh. Ia menjatuhkan map ke atas meja. “Brengsek…” gumamnya lirih. Kursi berputar sedikit saat Marley duduk. Ia menyalakan laptop membiarkan layar menyala, email terbuka dan laporan, grafik, revisi kontrak yang sekretaris sebutkan pagi tadi, Semua ada di sana. Semua penting, dan pekerjaan yang berat itu seharusnya cukup untuk menyibukkan pikirannya. Nyatanya, tidak satu pun masuk ke kepala Marley. Marley menatap layar tanpa benar-benar membaca. Kursor berkedip di dokumen kontrak, seolah mengejeknya karena diam terlalu lama. Fokus, Marley. Fokus! Ia mengusap wajahnya secara kasar, lalu meraih pulpen. Baru beberapa detik pulpen itu jatuh begitu saja dari jemarinya. “Kenapa selalu harus dia,” gumamnya
Last Updated: 2025-12-30
OBSESI KAKAK TIRI
Dulu, Nayara begitu mencintai Caiden, siswa populer yang membuatnya bahkan rela menjadi bahan bully di sekolah. Namun, sejak perceraian orang tuanya dan kebangkrutan keluarga, hidup Nayara berubah dalam semalam. Putri manja yang ceria tumbuh menjadi wanita bijak yang berusaha bertahan hidup.
Kemudian, ibunya datang kembali membawa kabar pernikahan dengan seorang tuan konglomerat yang memiliki seorang putra pewaris. Dan lelaki yang akan menjadi kakak tirinya itu adalah ... Caiden, pria idamannya di masa lalu! Nayara berjanji ia tidak akan mengganggunya lagi, tapi setiap kali menghindar darinya, sorot mata tajam Caiden berubah posesif.
"Dulu kamu sendiri yang mengejar-ngejarku. Sekarang, status kita berubah jadi saudara tiri, kamu pikir kamu bisa bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa di antara kita?"
Read
Chapter: Bab 14Hari ini berakhir sangat melelahkan, pekerjaan yang melelahkan sekaligus hati yang terus terpusat pada sesuatu yang seharusnya tak Nayara pikirkan. Beruntungnya hari buruk tersebut berhasil dilewati oleh Nayara dengan susah payah. Kini, malam telah datang akan tetapi naasnya , rasa kantuk tidak kunjung menyerangnya. Dia merasa gelisah, padahal tubuhnya sudah amat lelah. Ia duduk di tepi ranjang dengan handuk masih melilit rambutnya yang basah. Tangan kanannya ia rendam di dalam baskom berisi air hangat yang ia minta dari dapur. Kulit di sela-sela jarinya merekah, memerah, dan perih karena tersiram oleh air panas. Ia menatap tangannya sendiri dengan tatapan kosong. Seharusnya rasa perih itu menyakitkan. Namun entah mengapa, rasa perih di hatinya jauh lebih menyiksa malam ini. Pikiran tentang air jahe yang dibuang beberapa hari yang lalu kembali datang. Tentang bagaimana dulu di masa sekolah Caiden juga selalu membuang bekal buatan Nayara ke tempat sampah di depan matanya
Last Updated: 2026-10-11
Chapter: Bab 13Tiba di mansion Ashford. Nayara cepat melepaskan seat belt menyusul Caiden yang sudah lebih dulu keluar dari mobil tanpa mengucapkan satu kata pun. Cepat saja Nayara berjalan di belakang tubuh Caiden. Meski langkah Caiden amat lebar, langkah kecil Nayara tetap berusaha menyeimbangi meski harus sambil setengah berlari. “Masuk kamarmu, lalu bersihkan tubuhmu!” perintah Caiden tanpa nada setelah mereka sudah masuk ke dalam mansion. Setelah sekian lama, Nayara kembali merasakan kehangatan, merasakan bagaimana ada seseorang yang memperdulikannya.Ya, walau Nayara tahu jika apa yang dilakukan Caiden saat ini masih dalam bentuk tanggung jawab atas pesan yang dikatakan oleh Arthur. Tak mengapa.Ini lebih dari cukup bagi Nayara. “Ada apa? Kau tidak mendengar apa yang ku katakan barusan?” tegur Caiden dengan nada rendah. Saat dia melihat Naraya yang masih berdiri di belakangnya tanpa beranjak sedikit saja. Nayara mengangkat wajah, memperlihatkan rambut basah yang terlihat acak bak seekor
Last Updated: 2026-10-04
Chapter: Bab 12 : Kehangatan Dari Sentuhan Tangan“Bodoh!” tekan Caiden memaki lewat suara rendahnya, “Apa kau berniat tidur di sini?”Pelupuk mata Nayara berkedip-kedip saat menatap Caiden yang berdiri menjulang tinggi di depannya.“K-kamu … kenapa bisa ada disini?” tanya Nayara kebingungan, bibirnya menggigil sebab terlalu lama berada di luar ruangan dimana hujan terus mengguyur deras. Pertanyaan yang terdengar bodoh untuk diucapkan. “Menurutmu?” Caiden menaikkan satu alisnya intimidatif. Lihatlah! Betapa dingin serta datar sorot mata Caiden seolah ingin menelan mentah-mentah dirinya. Pasti pria itu merasa sangat direpotkan karena ia tidak kunjung kembali ke kediaman Ashford. Menyadarinya, Nayara segera beranjak dari duduk. Naasnya tubuhnya tak seimbang sebab terlalu lama duduk di bawah berselimut udara dingin. Ia segera jatuh jika saja Caiden tidak segera menangkap pinggangnya. Mereka berdua saling bersitatap sepersekian detik. Membiarkan wajah tampan serta rahang Caiden yang mengetat keras karena marah terlihat jelas di pupi
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 11 | Hujan |Langit jingga redup gelap. Gerimis datang melanda kota membasahi jalanan kota yang dilalui kendaraan empat. Nayara yang baru pulang kerja, berlari menerobos air hujan menuju halte bus.Hari ini Nayara pulang lebih terlambat dari hari sebelumnya. Senior yang tidak suka terhadapnya sejak awal dia datang, selalu memiliki cara untuk mempersulitnya.“Hari ini, kau tidak boleh pulang lebih awal.”Nayara menatap wanita itu tak mengerti, “Alasannya apa?”“Kau berani membantah!”“Sesuai dengan prosedur kerja. Kamu tidak bisa memberikan jam tambahan kepada saya tanpa alasan yang jelas,” papar Nayara, memberikan protes lewat suara yang masih terdengar lembut. Nayara mendengar satu fakta di tempatnya bekerja. Bahwa wanita yang selalu bersikap semena-mena padanya memiliki hubungan tak biasa dengan pihak manager. Karena itu, wajar saja jika wanita tersebut memiliki sikap yang pongah. Wanita itu mendengus semakin tidak suka, “Lihatlah tumpukan piring di atas wastafel. Kau harus membersihkannya le
Last Updated: 2026-09-30
Chapter: Bab 10 : Sesuatu Yang Terasa AnehMenjelang sore hari, Nayara keluar dari Resto Amoure setelah mengganti pakaian kerja berganti pakaian casual. Ikatan rambut yang sudah tidak rapi itu menampar pelan wajahnya saat tertiup oleh angin. Pandangan Nayara mengarah pada ponsel yang berada di genggaman tangannya. Louise bilang, dia akan menjemputnya. Akan tetapi saat Nayara keluar, Louise tidak kunjung datang. Ia memutuskan berjalan menuju halte. Menunggu Louise menyusul kesana sembari mengirim pesan. Namun baru beberapa langkah saja. “Nayara,” Suara Louise yang memanggil sambil melambaikan tangan menghentikan pergerakan Nayara. Gadis itu mengukir senyum, “Ku pikir kamu tidak jadi menjemputku.”“Mana mungkin,” balasnya sambil mendekat, “Aku sudah bilang akan menjemputmu pulang di hari pertama kali kamu bekerja. Aku tidak mungkin ingkar janji.”Nayara hanya menatap Louise dalam senyum tipis. “Ini!” Louise menyodorkan paper bag berisi makanan kepada Nayara. Dari logo yang tertempel di bungkusnya, Nayara yakin jika itu ada
Last Updated: 2026-09-30
Chapter: Bab 9Roti panggang, telur, roti, serta aroma kopi menguar memenuhi udara sejak Nayara menginjakkan kaki di meja makan. Dengan sengaja ia menarik kursi sedikit jauh dari Caiden hanya karena tidak ingin mengganggu pandangan pria itu. Sarapan pagi berlangsung dalam keheningan. Tidak banyak yang Nayara lakukan. Selain fokus dengan sepotong roti dan telur diatas piringnya. Dia bahkan tidak mengangkat wajah, tidak melirik juga ke arah Caiden. Seolah acuh tak acuh padahal sebenarnya jantungnya sudah berdetak dengan hebat. ‘Tenang-lah … kau harus menahan sedikit lagi demi aturan Ashford,’ batin Nayara memberi semangat pada dirinya sendiri saat memotong roti lalu menyuap ke mulutnya. Sedangkan Caiden sendiri, pria itu sedang memutar garpu pelan dalam genggaman tangannya. Garis di dahinya terlihat mengkerut saat mengamati Nayara dalam diam. Kedua alis mata yang hitam tebal nyaris menyatu. Caiden mengenal bagaimana Nayara dulu mengejarnya tanpa kenal situasi. Gadis itu dulunya selalu memanfa
Last Updated: 2026-09-28