author-banner
de Banyantree
de Banyantree
Author

Novels by de Banyantree

Dalam Jerat Hangat Pelukan Suami Kakak Tiriku

Dalam Jerat Hangat Pelukan Suami Kakak Tiriku

Aruni, Gadis manis kesayangan papanya. Harus menerima kenyataan, mendapatkan keluarga baru dan tinggal di rumahnya. Nyonya Gina, dan putrinya Jenny yang tengah hamil. Karena kecelakaan, Jenny mati. Tapi Aruni yang harus menanggung kesalahan kecelakaan itu. Merawat bayi Jenny. Saat Nyonya Gina mengadu pada Aster, suami Jenny. Pria tampan, arogan, dan tempramental Semuanya berubah.💞
Read
Chapter: Jaminan
Dua petugas mencengkeram lengan Aster dengan sangat keras, menggiringnya keluar dari apartemen Skyview yang mewah itu. Saat ia diseret melewati lorong, ia masih bisa mendengar isak tangis Jeni yang dibuat-buat, suara yang terdengar seperti melodi kemenangan bagi wanita itu. Begitu pintu lift tertutup, sosok Jeni dan Abam menghilang dari pandangannya, meninggalkan Aster dengan perasaan hampa yang menusuk jantung.​Di dalam mobil polisi yang pengap, Aster duduk tertunduk. Tangannya yang terborgol terasa kaku. Ia mencoba memutar otaknya. Harus ada cara. Pasti ada celah.​"Tenanglah, kawan," ujar salah satu petugas di sampingnya dengan nada sinis. "Di kantor nanti, kamu punya banyak waktu untuk menyusun dongeng. Tapi saya sarankan, simpan saja tenagamu untuk menjelaskan di depan hakim kenapa ada rekaman CCTV yang menunjukkan kamu 'menculik' bayi itu."​Aster hanya diam. Ia tahu, di mata hukum saat ini, ia adalah penjahat kelas kakap.​Tiga hari kemudian, suasana kantor polisi pusat Jakart
Last Updated: 2026-04-28
Chapter: Ditangkap
Suara sirene polisi mulai terdengar dari kejauhan, awalnya hanya dengungan samar yang bersaing dengan desir angin di luar jendela tinggi apartemen Skyview. Namun, dalam hitungan detik, suara itu berubah menjadi raungan memekakkan telinga yang semakin lama semakin dekat, seolah-olah seluruh armada kepolisian kota sedang mengerubungi gedung tersebut.Aster masih terpaku menatap layar televisi di mana wajah Jeni tersenyum puas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya ingin melompat keluar dari dada. Di pelukannya, Abam mulai rewel, merasakan ketegangan yang memancar dari tubuh sang ayah."Tenang, Nak, tenang," bisik Aster, mencoba menenangkan dirinya sendiri sekaligus anaknya, meski keringat dingin sudah membasahi kemejanya. "Ayah di sini. Ayah nggak akan biarin siapa-siapa nyakitin kamu.""Tunggu dulu, Aster," suara Jeni di layar terdengar santai, hampir seperti sedang mengobrol soal cuaca. "Kamu dengar itu? Itu musik favoritku. Suara keadilan yang sedang datang menjemput. Ata
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: Jebakan
Langkah Jeni menghentak lantai marmer Mansion Handi dengan irama yang penuh dendam. Setiap langkahnya adalah sumpah serapah yang ia tujukan pada Aster. Sesampainya di ruang kerja pribadinya yang megah, ia membanting pintu hingga menimbulkan suara dentuman keras yang membuat para pelayan ketakutan dan memilih untuk menjauh.​"Sial! Sial! Sial!" Jeni menyapu bersih isi meja kerjanya. Vas kristal mahal, bingkai foto perak, hingga laptop—semuanya berakhir berantakan di lantai.​Ia mengatur napasnya yang memburu. Di dalam kepalanya, pikiran licik mulai menyusun kepingan-kepingan rencana jahat. Aster pikir dia bisa menjebaknya dengan rekaman CCTV? Aster pikir dia bisa mengandalkan Aruni?​"Kau salah besar, Aster. Kau lupa bahwa aku tidak pernah bermain adil," gumam Jeni dengan senyum sinis yang mengerikan. Ia meraih ponselnya, menekan sebuah nomor cepat. "Halo, bos? Kita punya perubahan jadwal. Batalkan semua rencana elegan. Gunakan rencana cadangan yang paling kotor. Aku tidak peduli berap
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: Permintaan
Jeni tertawa renyah, suara tawanya yang nyaring terasa sangat sumbang di tengah heningnya ruang tengah yang mendadak mencekam. Ia melangkah anggun, memutari Aster seperti predator yang sedang mengamati mangsanya yang sudah terpojok.​"Kunci? Pintu yang mengurungku?" Jeni mengulang kata-kata Aster dengan nada mengejek. Ia berhenti tepat di depan Aster, matanya menelusuri wajah pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara nafsu dan ambisi yang sakit. "Aster, sayang, lihatlah dirimu. Kau lelah. Kau kesepian. Aruni itu hanya beban. Dia hanya membawa masalah dan nama buruk bagi reputasi keluarga Handi."​Aster tidak bergeming. Ia masih memeluk Abam yang mulai gelisah mendengar nada suara yang meninggi. Bayi itu merengek kecil, dan dengan naluri kebapakannya, Aster mengusap punggung Abam dengan gerakan menenangkan.​"Kau terlalu banyak bicara, Jeni. Fokus saja pada apa yang kau inginkan. Apa maumu kali ini?" tanya Aster datar.​Jeni menghela napas panjang, pura-pura bersikap
Last Updated: 2026-04-25
Chapter: Berangkat
Langkah Aruni terasa berat saat ia menaiki tangga menuju kamar. Setiap derap langkahnya di anak tangga kayu itu terasa seperti sedang menghitung sisa waktu yang ia miliki sebelum benar-benar harus melepaskan kenyamanan yang selama ini ia bangun bersama Aster. ​Di dalam kamar, ia segera membuka lemari. Tangannya gemetar saat mengambil koper berukuran sedang. Ia tidak memikirkan barang-barang mewah; yang ia masukkan hanyalah beberapa potong pakaian yang nyaman, beberapa dokumen penting, dan satu buku catatan kecil berisi resep rahasia formula kosmetik Aruni Glow. ​"Hanya ini yang harus selamat," gumamnya, suaranya parau. ​Aster mengikuti dari belakang, berdiri di ambang pintu, menatap punggung wanita yang dicintainya itu dengan perasaan hancur. Ia ingin mendekat, ingin memeluknya, namun ia tahu Aruni sedang berpacu dengan waktu. ​"Apa kau yakin tidak mau membawa lebih banyak baju?" tanya Aster, berusaha memecah keheningan dengan suara yang dipaksakan normal. ​Aruni menoleh, men
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: Jangan bicara
Aster menatap ke luar jendela besar ruang makan. Mobil-mobil media yang berkerumun di gerbang depan tampak seperti sekumpulan burung gagak yang menanti bangkai. Ia bisa melihat lampu kilat kamera menembus celah pagar, mencari celah untuk menangkap gambar mereka. "Mereka sudah mulai, Aster," bisik Aruni. Suaranya serak. Ia baru saja memeriksa notifikasi ponselnya lagi. Bukan hanya I*******m atau TikTok, akun bisnis Aruni Glow miliknya kini dibanjiri komentar jahat. ​Aruni membuka layar ponselnya ke arah Aster. Di sana, sebuah akun gosip besar mengunggah foto Aruni sedang menenteng tas belanja mewah—yang sebenarnya dibelikan Aster sebagai hadiah ulang tahun—dengan narasi yang sangat keji: 'Rahasia di balik kilau Aruni Glow: Apakah modalnya berasal dari uang saku rahasia Aster ?' ​"Astaga, mereka bahkan mencari tahu kapan aku mendaftarkan izin usaha ini," gumam Aruni, mencoba tertawa getir meski matanya kembali memanas. "Mereka bilang, aku mencuci uang. Mereka bilang, kesuksesanku memb
Last Updated: 2026-04-23
Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati

Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati

Bagaimana bisa Juno putra tiri Vivian, seorang pria yang sudah dianggap sebagai putranya sendiri mencintai dirinya. Sementara perselingkuhan sang suami semakin membakar habis hati dan perasaannya yang suci. Selama ini hidupnya benar-benar didedikasikan untuk suaminya. Antara memilih pergi atau terperangkap dalam cinta sang putra tiri. Yang tiba-tiba muncul menawarkan sesuatu sensasi yang telah lama hilang dalam diri Vivian. Bagaimana Vivian memilih jalan hidupnya, setelah dia benar-benar hancur dan terpuruk? Pilihan apa yang harus dia buat, demi untuk tetap menjaga image nya
Read
Chapter: Akhir yang Sempurna
Malam pertama di rumah terasa begitu berbeda. Meskipun kamar bayi itu kini lebih mirip laboratorium medis mini, atmosfernya jauh lebih hangat daripada bangsal rumah sakit yang kaku. Cahaya lampu redup berwarna kekuningan memberikan kesan tenang, kontras dengan kerlip lampu indikator pada mesin inkubator yang menjaga suhu tubuh Arka dan Kiara.​Juno masuk ke kamar dengan membawa segelas susu hangat dan sepiring kecil camilan sehat untuk Vivian. Ia mendapati istrinya masih terjaga, duduk di kursi menyusui tepat di antara dua inkubator tersebut.​"Belum mengantuk, Vi? Ini sudah hampir tengah malam," bisik Juno lembut agar tidak mengganggu dua perawat profesional, Suster rini dan Suster Maya, yang sedang sibuk mencatat grafik perkembangan bayi di meja sudut ruangan.​Vivian menoleh, senyumnya tidak lepas dari wajahnya yang masih sedikit pucat. "Bagaimana bisa aku tidur, Jun? Melihat mereka bernapas dengan tenang di sini saja sudah membuatku merasa seperti sedang bermimpi. Terima kasih ya,
Last Updated: 2026-02-05
Chapter: Pulang
Tiga hari berlalu dengan cepat di rumah sakit. Luka bekas operasi sesar Vivian mulai mengering, dan rasa mulas akibat prosedur laparoskopi tempo hari pun sudah jauh berkurang. Vivian sudah mulai bisa berjalan tegak, meski langkahnya masih pelan dan hati-hati. Pagi itu, Dokter Handoko datang melakukan visit rutin dengan senyum khasnya yang kebapakan.​"Kondisi fisik Ibu Vivian sangat luar biasa. Pemulihannya cepat sekali," puji Dokter Handoko sambil memeriksa grafik medis. "Hari ini Ibu sudah diperbolehkan pulang. Jangan lupa obatnya diminum rutin dan jangan mengangkat beban berat dulu, ya."​Vivian tersenyum lega, namun sedetik kemudian tatapannya beralih pada Juno yang berdiri di samping tempat tidur. Ada kegelisahan yang menggantung di udara.​"Lalu bagaimana dengan bayi kami, Dok?" tanya Juno cepat. Suaranya terdengar cemas. "Apa Arka dan Kiara sudah bisa ikut pulang bersama mamanya?"​Dokter Handoko menghela napas pendek, lalu melipat tangannya di depan dada. "Untuk sementara, bia
Last Updated: 2026-02-04
Chapter: Ruang bayi
Setelah perawat selesai menyuntikkan obat penenang ringan dan penstabil tensi, kantuk mulai menggelayuti kelopak mata Vivian. Dokter Handoko memberikan instruksi terakhir kepada timnya sebelum kembali menoleh pada Juno.​"Kita akan membawanya ke ruang tindakan sekarang, Pak Juno. Prosedurnya tidak akan selama operasi sesar tadi siang karena ini tindakan laparoskopi minimal. Kami hanya akan menutup akses saluran tuba agar tidak terjadi kehamilan di masa depan," jelas Dokter Handoko dengan nada yang sangat menenangkan.​Juno mengangguk, melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati namun penuh keyakinan. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya titip istri saya."​Roda brankar berderit halus saat perawat mendorong Vivian keluar dari kamar 402. Juno hanya bisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung para medis itu hingga menghilang di balik pintu ganda ruang sterilisasi. Lorong rumah sakit kini terasa lebih sunyi, namun anehnya, perasaan Juno jauh lebih damai. Ia tahu, keputusan ini adalah
Last Updated: 2026-02-04
Chapter: Keputusan
Juno melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai temaram. Pikirannya masih tertuju pada penjelasan Dokter Handoko. Sterilisasi. Sebuah kata yang terdengar berat, namun terasa seperti satu-satunya jalan logis untuk menjaga agar napas Vivian tetap berembus di sisinya.​Begitu membuka pintu kamar 402, ia mendapati Vivian sudah bersandar pada bantal yang ditumpuk tinggi. Masker oksigennya sudah diganti dengan selang kecil di hidung , membuat wajah cantiknya terlihat lebih jelas.​"Dari mana, Jun?" suara Vivian masih agak serak, tapi sorot matanya sudah jauh lebih fokus.​"Habis dipanggil Dokter Handoko sebentar, Sayang," jawab Juno sambil tersenyum menenangkan. Ia mendekat, mengusap pipi Vivian yang mulai terasa hangat. "Gimana? Masih pusing banget?"​Vivian menggeleng lemah. "Lapar sedikit. Tapi rasanya kayak habis lari maraton, badan remuk semua."​Kebetulan sekali, seorang pramusaji rumah sakit masuk membawakan nampan berisi bubur halus, sup bening, dan segelas air putih ha
Last Updated: 2026-02-03
Chapter: Peringatan dokter
Juno mengusap lembut kepala Vivian, membiarkan jemarinya menyisir rambut istrinya yang sedikit berantakan. Ia bisa merasakan napas Vivian yang mulai dalam dan teratur, pertanda wanita itu kembali terlelap dalam tidur yang lebih berkualitas setelah perjuangan hidup dan mati di meja operasi.​"Istirahat ya, Vian. Kamu butuh ini," bisik Juno pelan.​Baru saja Juno hendak menyandarkan punggungnya di kursi, pintu kamar diketuk pelan. Bayu melongokkan kepalanya dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Pak, maaf mengganggu. Dokter Handoko baru saja berpesan, kalau Bapak sudah tenang, beliau minta Bapak ke ruangannya sebentar."​Juno mengangguk. Meski hatinya enggan beranjak satu senti pun dari sisi Vivian, ia tahu ada hal medis yang harus ia dengar langsung. Ia memberikan instruksi singkat pada Bayu untuk menjaga di depan pintu dan segera melaporkan jika ada pergerakan sekecil apa pun dari Vivian.​​Juno melangkah masuk ke ruangan yang didominasi aroma antiseptik dan jajaran buku medis itu. Dok
Last Updated: 2026-02-03
Chapter: Lega
"Dok, saya boleh lihat Vivian sekarang?" tanya Juno dengan nada mendesak, matanya masih memerah namun memancarkan harapan yang begitu besar.​Dokter Handoko tersenyum maklum, ia sudah sangat terbiasa melihat ekspresi seorang suami yang sedang dilanda euforia sekaligus kecemasan pascaoperasi. "Sabar, Juno. Vivian sedang dipindahkan dari ruang pemulihan ke ruang perawatan VVIP. Obat biusnya belum hilang sepenuhnya, jadi dia mungkin belum sadar total. Tapi silakan, kamu bisa menemaninya di sana."​Mendengar izin itu, Juno tidak menunggu dua kali. Ia bergegas mengikuti arahan perawat, mengabaikan rasa pegal di kakinya setelah berjam-jam duduk di kursi keras koridor. Bayu, yang masih setia mengikuti, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bosnya yang biasanya berjalan dengan langkah penuh wibawa, kini hampir berlari kecil seperti remaja yang sedang jatuh cinta.​"Pak, pelan-pelan! Istri Bapak tidak akan lari ke mana-mana," goda Bayu pelan, mencoba mencairkan suasana.​Juno hanya menoleh s
Last Updated: 2026-02-02
You may also like
Menikah Dengan Pria Gila
Menikah Dengan Pria Gila
Romansa · Nychinta
12.0K views
Modern maid
Modern maid
Romansa · Ade Tiwi
12.0K views
Skandal Pengawal Dan Nona Muda
Skandal Pengawal Dan Nona Muda
Romansa · Ucing Ucay
12.0K views
The Hot chef and me
The Hot chef and me
Romansa · Rianievy
11.9K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status