Share

Peringatan dokter

Penulis: de Banyantree
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 21:26:10

Juno mengusap lembut kepala Vivian, membiarkan jemarinya menyisir rambut istrinya yang sedikit berantakan. Ia bisa merasakan napas Vivian yang mulai dalam dan teratur, pertanda wanita itu kembali terlelap dalam tidur yang lebih berkualitas setelah perjuangan hidup dan mati di meja operasi.

​"Istirahat ya, Vian. Kamu butuh ini," bisik Juno pelan.

​Baru saja Juno hendak menyandarkan punggungnya di kursi, pintu kamar diketuk pelan. Bayu melongokkan kepalanya dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Pa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Akhir yang Sempurna

    Malam pertama di rumah terasa begitu berbeda. Meskipun kamar bayi itu kini lebih mirip laboratorium medis mini, atmosfernya jauh lebih hangat daripada bangsal rumah sakit yang kaku. Cahaya lampu redup berwarna kekuningan memberikan kesan tenang, kontras dengan kerlip lampu indikator pada mesin inkubator yang menjaga suhu tubuh Arka dan Kiara.​Juno masuk ke kamar dengan membawa segelas susu hangat dan sepiring kecil camilan sehat untuk Vivian. Ia mendapati istrinya masih terjaga, duduk di kursi menyusui tepat di antara dua inkubator tersebut.​"Belum mengantuk, Vi? Ini sudah hampir tengah malam," bisik Juno lembut agar tidak mengganggu dua perawat profesional, Suster rini dan Suster Maya, yang sedang sibuk mencatat grafik perkembangan bayi di meja sudut ruangan.​Vivian menoleh, senyumnya tidak lepas dari wajahnya yang masih sedikit pucat. "Bagaimana bisa aku tidur, Jun? Melihat mereka bernapas dengan tenang di sini saja sudah membuatku merasa seperti sedang bermimpi. Terima kasih ya,

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Pulang

    Tiga hari berlalu dengan cepat di rumah sakit. Luka bekas operasi sesar Vivian mulai mengering, dan rasa mulas akibat prosedur laparoskopi tempo hari pun sudah jauh berkurang. Vivian sudah mulai bisa berjalan tegak, meski langkahnya masih pelan dan hati-hati. Pagi itu, Dokter Handoko datang melakukan visit rutin dengan senyum khasnya yang kebapakan.​"Kondisi fisik Ibu Vivian sangat luar biasa. Pemulihannya cepat sekali," puji Dokter Handoko sambil memeriksa grafik medis. "Hari ini Ibu sudah diperbolehkan pulang. Jangan lupa obatnya diminum rutin dan jangan mengangkat beban berat dulu, ya."​Vivian tersenyum lega, namun sedetik kemudian tatapannya beralih pada Juno yang berdiri di samping tempat tidur. Ada kegelisahan yang menggantung di udara.​"Lalu bagaimana dengan bayi kami, Dok?" tanya Juno cepat. Suaranya terdengar cemas. "Apa Arka dan Kiara sudah bisa ikut pulang bersama mamanya?"​Dokter Handoko menghela napas pendek, lalu melipat tangannya di depan dada. "Untuk sementara, bia

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Ruang bayi

    Setelah perawat selesai menyuntikkan obat penenang ringan dan penstabil tensi, kantuk mulai menggelayuti kelopak mata Vivian. Dokter Handoko memberikan instruksi terakhir kepada timnya sebelum kembali menoleh pada Juno.​"Kita akan membawanya ke ruang tindakan sekarang, Pak Juno. Prosedurnya tidak akan selama operasi sesar tadi siang karena ini tindakan laparoskopi minimal. Kami hanya akan menutup akses saluran tuba agar tidak terjadi kehamilan di masa depan," jelas Dokter Handoko dengan nada yang sangat menenangkan.​Juno mengangguk, melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati namun penuh keyakinan. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya titip istri saya."​Roda brankar berderit halus saat perawat mendorong Vivian keluar dari kamar 402. Juno hanya bisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung para medis itu hingga menghilang di balik pintu ganda ruang sterilisasi. Lorong rumah sakit kini terasa lebih sunyi, namun anehnya, perasaan Juno jauh lebih damai. Ia tahu, keputusan ini adalah

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Keputusan

    Juno melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai temaram. Pikirannya masih tertuju pada penjelasan Dokter Handoko. Sterilisasi. Sebuah kata yang terdengar berat, namun terasa seperti satu-satunya jalan logis untuk menjaga agar napas Vivian tetap berembus di sisinya.​Begitu membuka pintu kamar 402, ia mendapati Vivian sudah bersandar pada bantal yang ditumpuk tinggi. Masker oksigennya sudah diganti dengan selang kecil di hidung , membuat wajah cantiknya terlihat lebih jelas.​"Dari mana, Jun?" suara Vivian masih agak serak, tapi sorot matanya sudah jauh lebih fokus.​"Habis dipanggil Dokter Handoko sebentar, Sayang," jawab Juno sambil tersenyum menenangkan. Ia mendekat, mengusap pipi Vivian yang mulai terasa hangat. "Gimana? Masih pusing banget?"​Vivian menggeleng lemah. "Lapar sedikit. Tapi rasanya kayak habis lari maraton, badan remuk semua."​Kebetulan sekali, seorang pramusaji rumah sakit masuk membawakan nampan berisi bubur halus, sup bening, dan segelas air putih ha

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Peringatan dokter

    Juno mengusap lembut kepala Vivian, membiarkan jemarinya menyisir rambut istrinya yang sedikit berantakan. Ia bisa merasakan napas Vivian yang mulai dalam dan teratur, pertanda wanita itu kembali terlelap dalam tidur yang lebih berkualitas setelah perjuangan hidup dan mati di meja operasi.​"Istirahat ya, Vian. Kamu butuh ini," bisik Juno pelan.​Baru saja Juno hendak menyandarkan punggungnya di kursi, pintu kamar diketuk pelan. Bayu melongokkan kepalanya dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Pak, maaf mengganggu. Dokter Handoko baru saja berpesan, kalau Bapak sudah tenang, beliau minta Bapak ke ruangannya sebentar."​Juno mengangguk. Meski hatinya enggan beranjak satu senti pun dari sisi Vivian, ia tahu ada hal medis yang harus ia dengar langsung. Ia memberikan instruksi singkat pada Bayu untuk menjaga di depan pintu dan segera melaporkan jika ada pergerakan sekecil apa pun dari Vivian.​​Juno melangkah masuk ke ruangan yang didominasi aroma antiseptik dan jajaran buku medis itu. Dok

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Lega

    "Dok, saya boleh lihat Vivian sekarang?" tanya Juno dengan nada mendesak, matanya masih memerah namun memancarkan harapan yang begitu besar.​Dokter Handoko tersenyum maklum, ia sudah sangat terbiasa melihat ekspresi seorang suami yang sedang dilanda euforia sekaligus kecemasan pascaoperasi. "Sabar, Juno. Vivian sedang dipindahkan dari ruang pemulihan ke ruang perawatan VVIP. Obat biusnya belum hilang sepenuhnya, jadi dia mungkin belum sadar total. Tapi silakan, kamu bisa menemaninya di sana."​Mendengar izin itu, Juno tidak menunggu dua kali. Ia bergegas mengikuti arahan perawat, mengabaikan rasa pegal di kakinya setelah berjam-jam duduk di kursi keras koridor. Bayu, yang masih setia mengikuti, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bosnya yang biasanya berjalan dengan langkah penuh wibawa, kini hampir berlari kecil seperti remaja yang sedang jatuh cinta.​"Pak, pelan-pelan! Istri Bapak tidak akan lari ke mana-mana," goda Bayu pelan, mencoba mencairkan suasana.​Juno hanya menoleh s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status