author-banner
Rayden Arsha
Rayden Arsha
Author

Novels by Rayden Arsha

Terjebak Cinta Bos Sadis

Terjebak Cinta Bos Sadis

Rania Prameswari tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah drastis hanya karena diterima bekerja di perusahaan ternama milik Arsen Dirgantara — seorang CEO muda yang terkenal dingin, perfeksionis, dan tanpa belas kasihan. Di mata semua orang, Arsen adalah mimpi buruk dalam balutan jas mahal. Tatapannya tajam, tutur katanya menusuk, dan setiap perintahnya adalah hukum. Namun, di balik sikap kejamnya, tersimpan luka masa lalu yang tak pernah disembuhkan siapa pun. Rania hanya ingin bekerja dengan tenang dan membuktikan kemampuannya. Tapi sejak hari pertama, ia justru menjadi sasaran amarah sang bos. Setiap kesalahan kecil berujung pada teguran, setiap tatapan pria itu membuatnya gugup—dan anehnya, hatinya mulai bergetar tanpa alasan. Hubungan mereka semakin rumit saat Arsen mulai menunjukkan sisi lain dari dirinya: perhatian yang terselubung di balik kemarahan, dan tatapan yang seolah ingin melindunginya, bukan menyakitinya. Ketika rahasia besar masa lalu Arsen terungkap, Rania harus memilih—melarikan diri dari cinta yang menyakitkan, atau tetap tinggal dan mencoba menyembuhkan hati seorang pria yang bahkan tak percaya pada cinta. Dalam dunia di mana kekuasaan dan perasaan saling bertabrakan, mampukah cinta mereka bertahan? Atau justru hancur di tangan sang bos yang tak pernah mengenal kata “maaf”?
Read
Chapter: Bab 157 — Satu Langkah yang Tidak Bisa Ditarik Kembali
Suara mereka mulai menjauh. Padahal mereka masih di sana. Aku masih bisa melihat Adrian—rahangnya mengeras, matanya tajam penuh peringatan. Nara masih menggenggam tanganku, jari-jarinya gemetar, seolah kalau dia melepas sedikit saja… aku akan benar-benar hilang. Tapi yang aneh— semuanya terasa seperti dilihat dari jauh. Seperti aku berdiri di balik kaca. Tipis. Rapuh. Dan perlahan… retak. Pintu Itu Sudah Terbuka Pintu terbuka Sinkronisasi akhir tersedia Pilihan diperlukan Aku menelan ludah. Tanganku terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti bukan lagi milikku. Aku menatap pria di depan—yang pernah keluar dan kembali. Dia tidak bicara. Tidak mendesak. Hanya… menunggu. Seolah tahu— ini bukan sesuatu yang bisa dipengaruhi. Dua Dunia yang Mulai Terpisah
Last Updated: 2026-05-01
Chapter: Bab 156 — Keluar dari Permainan, atau Hilang Selamanya
Angin malam di tempat itu terasa… aneh. Tidak dingin. Tidak hangat. Seperti tidak punya suhu. Seperti tidak benar-benar ada. Aku berdiri diam, menatap pria di depan kami—orang yang katanya pernah melanggar aturan… dan masih ada sampai sekarang. Satu-satunya yang sistem tidak bisa baca. Satu-satunya yang tidak terdaftar. Dan mungkin— satu-satunya jalan keluar. Kalimat yang Tidak Bisa Dianggap Remeh “…lo hampir keluar.” Kata-katanya masih terngiang. Tidak keras. Tidak mengancam. Tapi— lebih berat dari semuanya. “Keluar dari apa?” tanya Adrian. Nada suaranya datar. Tapi aku tahu— dia juga tegang. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat ke sekitar. Tanah retak. Udara kosong. Langit yang terasa terlalu jauh. “…dari semua
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: Bab 155 — Retakan di Aturan yang Terlihat Sempurna
Udara malam terasa lebih dingin saat kami keluar dari kafe. Bukan karena angin. Tapi karena satu hal yang baru saja kami sadari— kami bukan lagi sekadar bagian dari masalah. Kami sudah masuk terlalu dalam. Dan tidak ada jalan keluar yang sederhana. Langkah yang Terasa Berat Kami berjalan tanpa bicara. Trotoar basah oleh sisa hujan sore. Lampu jalan memantul di genangan kecil. Semua terlihat normal. Tapi di dalam kepala— semuanya berisik. Aku masih memikirkan satu kalimat itu. “Gue yang bikin aturan.” Kalimat sederhana. Tapi efeknya— menghancurkan semua asumsi yang kupunya. Kalau Dia di Atas… Lalu Siapa di Atasnya? “Lo percaya dia?” tanya Adrian tiba-tiba. Aku tidak langsung menjawab. Karena itu bukan pertanyaan sederhana. “Gue percaya dia punya kontrol,” kataku akhir
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: Bab 154 — Orang yang Tidak Pernah Turun ke Medan
Kafe itu tetap ramai. Sendok beradu dengan cangkir. Mesin kopi mendesis. Pintu terbuka-tutup, mengantar masuk orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Di tengah semua itu, kami berdiri—tegang, diam, dan terlalu sadar bahwa sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi tepat di depan mata kami. Pria itu duduk santai, jari-jarinya mengetuk ringan sisi cangkir, seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk berbicara. Bukan menunggu kami. Bukan menunggu kesempatan. Tapi menunggu… momen. “…gue yang bikin aturan.” Kalimat itu masih menggantung. Tidak keras. Tidak dramatis. Tapi efeknya… menekan. Seperti sesuatu yang tidak perlu dibuktikan—karena memang benar. Tidak Ada Aura Ancaman… Tapi Lebih Berbahaya Aku menatapnya. Mencoba membaca. Mencoba memahami. Tapi yang kudapat— tidak ada apa-apa. Bukan kosong seperti yang sebelumnya.
Last Updated: 2026-04-29
Chapter: Bab 153 — Ketika Perang Tidak Memberi Pilihan
Tidak ada suara tembakan. Tidak ada ledakan. Tidak ada sirine. Tapi untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai— aku tahu. Perang sudah dimulai. Bukan perang yang bisa dilihat semua orang. Bukan perang yang akan muncul di berita. Tapi perang yang terjadi… di balik semua itu. Di antara sesuatu yang bahkan dunia ini belum siap untuk mengerti. Kota yang Sama, Tapi Tidak Lagi Aman Kami berjalan tanpa tujuan pasti. Menyusuri jalan yang sama seperti biasa. Lampu kota masih menyala. Motor masih lewat. Orang-orang masih tertawa di pinggir jalan. Semua terlihat normal. Terlalu normal. Dan itu justru yang membuatku tidak nyaman. “…mereka nggak tahu,” gumam Nara pelan. Aku menggeleng. “Dan mungkin… nggak akan pernah tahu.” Adrian menyelipkan tangan ke saku jaketnya.
Last Updated: 2026-04-29
Chapter: Bab 152 — Saat Sisa Itu Hampir Habis
Dunia… retak. Bukan secara harfiah. Tapi rasanya seperti itu. Udara di sekitarku bergetar, bukan karena angin, tapi karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Seperti realitas sendiri sedang dipelintir dari dalam. Suara menghilang lebih dulu—digantikan oleh dengungan tipis yang menusuk kepala. Lalu— warna. Semuanya memudar. Menjadi abu-abu. Pudar. Seolah seseorang menarik saturasi dunia ini… sedikit demi sedikit. Dan di tengah semua itu— aku berdiri. Tidak bergerak. Tidak bisa bergerak. Legacy Mode Mulai Hancur PERINGATAN KRITIS INTEGRITAS SISTEM: 9% KERUSAKAN MENYEBAR “Nggak…” bisikku. Bukan karena takut mati. Tapi karena— aku tahu ini bukan sekadar serangan. Ini… pembongkaran. Dia tidak menyerangku. Dia… membongkar aku. Dia y
Last Updated: 2026-04-28
You may also like
Biarkan Aku Pergi!
Biarkan Aku Pergi!
Romansa · Selatan Dangkal
6.1M views
Saat Matanya Terbuka
Saat Matanya Terbuka
Romansa · Kesunyian Sederhana
4.8M views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status