PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)

PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)

last updateHuling Na-update : 2026-07-18
By:  LystaniaIn-update ngayon lang
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Rating. 1 Rebyu
50Mga Kabanata
1.4Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Rasa kehilangan anak yang Niken alami langsung terobati saat ia diminta menjadi ibu susu untuk anak seorang pria bernama Dante. Pria super sibuk yang membuat istrinya kabur dan meninggalkan bayi yang baru saja ia lahirkan. Dante yang awalnya menjaga jarak, pada akhirnya tidak ingin Niken pergi. "Tinggal dulu sebentar, sampai aku memutuskannya." Dante menatap Niken penuh harap.

view more

Kabanata 1

1. Periksa

“Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.

Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.

“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yang diberikan oleh salah satu petugasnya.

“Ibu Niken Anjani, ada yang bisa saya bantu?” lanjut Riana menatap wanita muda di depannya.

Siang ini Niken memberanikan diri pergi ke klinik bidan yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya.

“Beberapa minggu ini badan saya sakit semua, Bu Bidan. Asi saya juga keluar terus,” ucap Niken dengan suara lirih.

Mendengar apa yang Niken ucapkan Riana mengerutkan kening. Bingung.

“Kita cek dulu ya.” Riana tersenyum kecil sambil meminta perawat membantu Niken untuk berbaring ditempat tidur.

Memasang stetoskop di telinga, Riana lantas memeriksa keadaan wanita muda itu sejenak.

“Bayi Ibu gak mau minum asi?” tanya Riana begitu selesai memeriksa.

Spontan wajah Niken berubah murung saat mendengar pertanyaan Riana. Ia turun dari tempat tidur dan kembali duduk di hadapan dokter.

“Bayi saya meninggal dua minggu yang lalu, Bu,” sahut Niken dengan suara sendu.

“Maaf ya, Bu. Saya turut berduka,” ucap Riana dengan wajah iba.

Niken mengangguk kecil.

“Sakit yang Bu Niken alami ini karena asi yang seharusnya keluar, tapi tidak bisa Ibu keluarkan. Sebenarnya bisa saja Ibu pompa,” ucap Riana menatap Niken.

“Dipompa? Buat apa juga, Bu? Bayi saya sudah gak ada,” ucap Niken pasrah. Setiap kali asinya rembes, ia selalu menangis mengingat bayinya yang malang.

“Saya bisa minta obat agar asi saya gak keluar lagi? Biar kering,” lanjut Niken lagi.

“Kebetulan obat itu sedang kosong di apotek sini, tapi tenang aja saya bakal tuliskan nama obatnya di kertas. Jadi Bu Niken bisa beli di apotek luar,” ucap Riana yang beberapa saat kemudian memberikan selembar kertas pada Niken.

“Makasih ya, Bu Bidan.” Niken bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan Riana.

Duduk di kursinya Riana menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Niken. Entah kenapa ia merasa iba dengan wanita muda itu. Usia yang masih muda tapi harus merasakan sakitnya kehilangan anak yang baru saja dilahirkan.

Riana baru saja akan meninggalkan klinik untuk melihat keponakannya yang baru lahir dua hari lalu, saat ponselnya berdering.

“Kenapa, Mas?” tanya Riana menempelkan ponsel di telinga.

“Tolong kamu carikan wanita yang bisa menyusui Evan,” kata Dante di seberang sana dengan nada cemas.

“Hah? Maksudnya, Mas? Memangnya Mbak Agatha gak bisa, Mas?” tanya Riana bingung.

“Dia pergi. Kabur gak tahu kemana,” sahut Dante emosi kemudian menutup panggilannya.

Riana kembali duduk dan mengatur nafasnya yang memburu karena syok mendengar ucapan Dante tadi. Ia tidak habis pikir kenapa dan apa yang menyebabkan kakak iparnya itu bisa kabur setelah melahirkan. Sejauh yang ia lihat kehidupan Dante dan Agatha baik-baik saja. Walau kadang ia bisa mendengar mereka bertengkar.

“Orang tadi,” sergah Riana teringat Niken yang pasti bisa memenuhi permintaan Dante.

Melirik ke arah jam, Riana yakin Niken masih berada di sekitaran kliniknya.

Riana bergegas keluar dan menuju meja kasir untuk menanyakan keberhasilan Niken.

“Atas nama Niken tadi sudah pergi?” tanyanya pada petugas kasir.

“Dia baru aja keluar, Bu. Soalnya saya baru selesai ngitung uang dia,” ucap kasir itu sambil menunjukan tumpukan uang kecil ke atas meja.

“Oke,” sahut Riana singkat sembari setengah berlari menuju pintu keluar dan melihat ke sekitar kliniknya. Petugas satpam yang melihat Riana tampak bingung kemungkinan datang mendekat.

“Oh wanita yang itu, Bu. Saya cari dulu ya, Bu. Seharusnya dia masih dekat karena tadi dia jalan kaki aja,” ucap satpam itu saat Riana memberitahu ciri-ciri Niken.

Menunggu di depan klinik sekitar 10 menit, satpam kliniknya akhirnya kembali bersama Niken.

“Makasih, Pak,” ucap Riana pada petugas keamanan kliniknya.

“Ada apa ya, Bu Bidan?” tanya Niken dengan wajah takut, “uang saya tadi kurang?” tanya Niken lagi.

Riana menggelengkan kepala lantas mengajak Niken masuk ke ruangannya lagi.

“Jadi ada apa, Bu?” tanya Niken begitu tiba di ruangan. Salah satunya membenarkan jaket untuk menutupi bagian dadanya yang basah.

“Bu Bidan?” tanya Niken kala Riana tidak kunjung bicara.

“Aku boleh nanya? Mungkin pertanyaan ini sedikit pribadi?”

Niken mengangguk tanpa ragu.

“Kalau boleh tahu, apa penyebab bayi kamu meninggal? Terus bayinya laki-laki atau perempuan?”

“Bayi saya laki-laki dan dia kelainan jantung, Bu. Selama kehamilan saya jarang periksa karena faktor biaya tapi saya selalu berusaha untuk makan yang bergizi, meski cuma menu sederhana.”

“Jadi minum vitamin atau sejenisnya juga gak pernah?”

“Gak, Bu. Saya takut periksa, takut mahal. Uang yang ada cuma cukup untuk kehidupan sehari-hari saya saja,” sahut Niken.

“Kalau suami kamu?” tanya Riana hati-hati. Takut membuat Niken merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya.

“Dia juga sudah meninggal,” sahut Niken menaikkan satu sudut bibirnya, “kalau dia masih ada, berarti saya yang sudah meninggal,” lanjut Niken membuat Riana bingung tapi tidak bertanya lebih lanjut karena merasa hal itu sangat sensitif.

Mendapat pertanyaan seperti itu membuat ingatannya yang sudah tenang kembali terusik. Rasanya baru kemarin ia merasakan bahagianya menikah, tapi semua itu lenyap seketika saat mendiang suaminya berani main tangan. Malam itu Niken berniat untuk memberitahu kehamilannya, namun bukan sambutan hangat yang diterima tapi malah pukulan demi pukulan yang Niken dapatkan. Perubahan sikap mendiang suaminya itu terjadi karena ia kehilangan pekerjaannya setelah ketahuan mengambil uang kas kantor. Bukannya berubah, sikapnya semakin hari semakin kasar hingga puncaknya di usia kehamilan Niken yang memasuki bulan ke tujuh, pertengkaran hebat terjadi antara mereka berdua. Kalau saja Niken tidak berteriak mungkin ia sudah tinggal nama. Takut dengan amukan warga, pria tidak bertanggung jawab itu kabur dan malah tertabrak truk yang sedang melintas. Jujur saja Niken merasa lega melihat orang yang dulu pernah ia cintai kini meninggal secara tragis. Ia yakin kejadian ini adalah jawaban dari doanya setiap malam.

“Tapi kenapa Bu Bidan menanyakan hal ini?” gantian sekarang Niken yang bertanya balik.

“Mungkin ini agak aneh tapi cuma kamu yang bisa bantu aku saat ini,” ucap Riana.

Niken mengerutkan kening tak mengerti maksud perkataan Riana.

“Daripada kamu minum obat, lebih baik kamu donorkan asi kamu buat bayi yang lebih membutuhkan.”

Niken semakin bingung. Siapa bayi yang lebih membutuhkan asi yang dimaksud oleh Riana.

“Bu Bidan punya bayi?”

“Kamu mau atau enggak?” Riana bertanya balik dengan tatapan serius.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rebyu

Lystania
Lystania
bagus ceritanya marii silahkan dibacaa
2026-06-21 00:13:18
0
0
50 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status