Mag-log inRasa kehilangan anak yang Niken alami langsung terobati saat ia diminta menjadi ibu susu untuk anak seorang pria bernama Dante. Pria super sibuk yang membuat istrinya kabur dan meninggalkan bayi yang baru saja ia lahirkan. Dante yang awalnya menjaga jarak, pada akhirnya tidak ingin Niken pergi. "Tinggal dulu sebentar, sampai aku memutuskannya." Dante menatap Niken penuh harap.
view more“Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.
Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit. “Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yang diberikan oleh salah satu petugasnya. “Ibu Niken Anjani, ada yang bisa saya bantu?” lanjut Riana menatap wanita muda di depannya. Siang ini Niken memberanikan diri pergi ke klinik bidan yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya. “Beberapa minggu ini badan saya sakit semua, Bu Bidan. Asi saya juga keluar terus,” ucap Niken dengan suara lirih. Mendengar apa yang Niken ucapkan Riana mengerutkan kening. Bingung. “Kita cek dulu ya.” Riana tersenyum kecil sambil meminta perawat membantu Niken untuk berbaring ditempat tidur. Memasang stetoskop di telinga, Riana lantas memeriksa keadaan wanita muda itu sejenak. “Bayi Ibu gak mau minum asi?” tanya Riana begitu selesai memeriksa. Spontan wajah Niken berubah murung saat mendengar pertanyaan Riana. Ia turun dari tempat tidur dan kembali duduk di hadapan dokter. “Bayi saya meninggal dua minggu yang lalu, Bu,” sahut Niken dengan suara sendu. “Maaf ya, Bu. Saya turut berduka,” ucap Riana dengan wajah iba. Niken mengangguk kecil. “Sakit yang Bu Niken alami ini karena asi yang seharusnya keluar, tapi tidak bisa Ibu keluarkan. Sebenarnya bisa saja Ibu pompa,” ucap Riana menatap Niken. “Dipompa? Buat apa juga, Bu? Bayi saya sudah gak ada,” ucap Niken pasrah. Setiap kali asinya rembes, ia selalu menangis mengingat bayinya yang malang. “Saya bisa minta obat agar asi saya gak keluar lagi? Biar kering,” lanjut Niken lagi. “Kebetulan obat itu sedang kosong di apotek sini, tapi tenang aja saya bakal tuliskan nama obatnya di kertas. Jadi Bu Niken bisa beli di apotek luar,” ucap Riana yang beberapa saat kemudian memberikan selembar kertas pada Niken. “Makasih ya, Bu Bidan.” Niken bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan Riana. Duduk di kursinya Riana menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Niken. Entah kenapa ia merasa iba dengan wanita muda itu. Usia yang masih muda tapi harus merasakan sakitnya kehilangan anak yang baru saja dilahirkan. Riana baru saja akan meninggalkan klinik untuk melihat keponakannya yang baru lahir dua hari lalu, saat ponselnya berdering. “Kenapa, Mas?” tanya Riana menempelkan ponsel di telinga. “Tolong kamu carikan wanita yang bisa menyusui Evan,” kata Dante di seberang sana dengan nada cemas. “Hah? Maksudnya, Mas? Memangnya Mbak Agatha gak bisa, Mas?” tanya Riana bingung. “Dia pergi. Kabur gak tahu kemana,” sahut Dante emosi kemudian menutup panggilannya. Riana kembali duduk dan mengatur nafasnya yang memburu karena syok mendengar ucapan Dante tadi. Ia tidak habis pikir kenapa dan apa yang menyebabkan kakak iparnya itu bisa kabur setelah melahirkan. Sejauh yang ia lihat kehidupan Dante dan Agatha baik-baik saja. Walau kadang ia bisa mendengar mereka bertengkar. “Orang tadi,” sergah Riana teringat Niken yang pasti bisa memenuhi permintaan Dante. Melirik ke arah jam, Riana yakin Niken masih berada di sekitaran kliniknya. Riana bergegas keluar dan menuju meja kasir untuk menanyakan keberhasilan Niken. “Atas nama Niken tadi sudah pergi?” tanyanya pada petugas kasir. “Dia baru aja keluar, Bu. Soalnya saya baru selesai ngitung uang dia,” ucap kasir itu sambil menunjukan tumpukan uang kecil ke atas meja. “Oke,” sahut Riana singkat sembari setengah berlari menuju pintu keluar dan melihat ke sekitar kliniknya. Petugas satpam yang melihat Riana tampak bingung kemungkinan datang mendekat. “Oh wanita yang itu, Bu. Saya cari dulu ya, Bu. Seharusnya dia masih dekat karena tadi dia jalan kaki aja,” ucap satpam itu saat Riana memberitahu ciri-ciri Niken. Menunggu di depan klinik sekitar 10 menit, satpam kliniknya akhirnya kembali bersama Niken. “Makasih, Pak,” ucap Riana pada petugas keamanan kliniknya. “Ada apa ya, Bu Bidan?” tanya Niken dengan wajah takut, “uang saya tadi kurang?” tanya Niken lagi. Riana menggelengkan kepala lantas mengajak Niken masuk ke ruangannya lagi. “Jadi ada apa, Bu?” tanya Niken begitu tiba di ruangan. Salah satunya membenarkan jaket untuk menutupi bagian dadanya yang basah. “Bu Bidan?” tanya Niken kala Riana tidak kunjung bicara. “Aku boleh nanya? Mungkin pertanyaan ini sedikit pribadi?” Niken mengangguk tanpa ragu. “Kalau boleh tahu, apa penyebab bayi kamu meninggal? Terus bayinya laki-laki atau perempuan?” “Bayi saya laki-laki dan dia kelainan jantung, Bu. Selama kehamilan saya jarang periksa karena faktor biaya tapi saya selalu berusaha untuk makan yang bergizi, meski cuma menu sederhana.” “Jadi minum vitamin atau sejenisnya juga gak pernah?” “Gak, Bu. Saya takut periksa, takut mahal. Uang yang ada cuma cukup untuk kehidupan sehari-hari saya saja,” sahut Niken. “Kalau suami kamu?” tanya Riana hati-hati. Takut membuat Niken merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya. “Dia juga sudah meninggal,” sahut Niken menaikkan satu sudut bibirnya, “kalau dia masih ada, berarti saya yang sudah meninggal,” lanjut Niken membuat Riana bingung tapi tidak bertanya lebih lanjut karena merasa hal itu sangat sensitif. Mendapat pertanyaan seperti itu membuat ingatannya yang sudah tenang kembali terusik. Rasanya baru kemarin ia merasakan bahagianya menikah, tapi semua itu lenyap seketika saat mendiang suaminya berani main tangan. Malam itu Niken berniat untuk memberitahu kehamilannya, namun bukan sambutan hangat yang diterima tapi malah pukulan demi pukulan yang Niken dapatkan. Perubahan sikap mendiang suaminya itu terjadi karena ia kehilangan pekerjaannya setelah ketahuan mengambil uang kas kantor. Bukannya berubah, sikapnya semakin hari semakin kasar hingga puncaknya di usia kehamilan Niken yang memasuki bulan ke tujuh, pertengkaran hebat terjadi antara mereka berdua. Kalau saja Niken tidak berteriak mungkin ia sudah tinggal nama. Takut dengan amukan warga, pria tidak bertanggung jawab itu kabur dan malah tertabrak truk yang sedang melintas. Jujur saja Niken merasa lega melihat orang yang dulu pernah ia cintai kini meninggal secara tragis. Ia yakin kejadian ini adalah jawaban dari doanya setiap malam. “Tapi kenapa Bu Bidan menanyakan hal ini?” gantian sekarang Niken yang bertanya balik. “Mungkin ini agak aneh tapi cuma kamu yang bisa bantu aku saat ini,” ucap Riana. Niken mengerutkan kening tak mengerti maksud perkataan Riana. “Daripada kamu minum obat, lebih baik kamu donorkan asi kamu buat bayi yang lebih membutuhkan.” Niken semakin bingung. Siapa bayi yang lebih membutuhkan asi yang dimaksud oleh Riana. “Bu Bidan punya bayi?” “Kamu mau atau enggak?” Riana bertanya balik dengan tatapan serius.Kamar yang ada di hadapannya ini, benar kamar yang Dante pesankan, tapi kenapa ada Dante di dalamnya.“Ini kamar aku, Niken, sama Evan … kenapa Malah Mas Dante ada di sini? Mereka mana?” tanya Riana menelisik ayahnya Evan itu.Dari dalam, Niken menggendong Evan– berdiri tak jauh dari Dante.Dari celah pintu, Riana bisa melihat mereka. Ekspresi wajah adiknya itu berubah seraya berdecak. Ia mengibas tangannya, meminta Dante untuk mundur agar ia bisa masuk.“Kenapa kamu malah pergi sama temen kamu dan ninggalin mereka?” Dante melipat tangan didepan dada– menatap Riana. Dari intonasi suaranya, terdengar jelas nada menyalahkan. Mendengar hal itu Niken jadi merasa tak enak. Sebenarnya ia tidak masalah, kalau Riana mau pergi sama temannya, tanpa mengajak dirinya. Lagi pula ia tidak kenal dengan teman Riana, takut kalau nanti ia malah mengganggu mereka.“Aku cuma ke cafe aja sama Dea, Mas. Niken juga gapapa,” sahut Riana tak terima, menatap Dante dan Niken bergantian.Niken cepat mengangguk m
“Ngapain sih masuk kamar orang sembarangan? Kenapa Mas Dante gak ke kamar Mas sendiri aja?” cecar Riana masih bingung dengan sikap ayahnya Evan itu. “Aku mau ketemu Evan,” sahut Dante datar. “Kan sudah tahu … Niken kan sudah bilang kalau aku sama Evan ada di bawah.” “Aku mau ngecek perlengkapan Evan.” Dante masih santai beralasan. Ucapan yang sama seperti yang Niken katakan tadi. “Kalau gitu, sekarang Mas Dante balik ke kamar aja. Kalau kangen sama Evan. Bawa aja Evan, biar aku sama Niken jalan dulu. Berdua doang.” Riana melipat tangannya di depan dada. Dante tak membantah. Beranjak dari sofa, ia berjalan– mendekap Evan keluar dari kamar itu, tepat saat Niken keluar dari kamar mandi. Ia hanya bisa menatap Evan yang pergi bersama Dante. Ada rasa tak rela, tapi Evan kan anaknya. “Ayuk kita jalan,” ajak Riana. Niken merapikan rambutnya– mengambil dompet dan ponselnya. “Evan biar sama Dante dulu aja,” kata Riana menjawab kala Niken bertanya keberadaan anak susunya itu. Keluar d
Setelah perjalanan hampir satu jam, mereka akhirnya tiba juga di hotel. Jalanan cukup padat, hingga mereka perlu lebih banyak waktu untuk sampai di hotel. Dibantu salah satu petugas hotel, mereka di antarkan ke meja resepsionis. “Atas nama Ibu Riana … silahkan kuncinya,” kata seorang wanita berpakaian warna hitam ramah. Lantas mereka bertiga di antar hingga depan kamar oleh petugas hotel yang tadi menyambut mereka saat datang. “Makasih ya,” kata Riana memberikan tip pada petugas hotel itu. Sebelum masuk ke dalam kamar, Niken mengamati keadaan sekitar. Ia dibuat terpukau begitu netranya melihat isi kamar yang akan mereka tempati beberapa hari ke depan. Luas dengan ranjang besar, serta ada balkon. Tak lupa ada mini kitchen di sana. “Aku capek banget,” kata Riana melepas sweater yang sedari tadi ia kenakan, lantas membaringkan diri di atas kasur. Ia tersenyum memandang Niken yang jelas terlihat kagum. “Turunin aja Evan. Kamu juga pasti capek kan.” Niken mengulum senyum. Melirik k
Setelah Evan tertidur pulas, Riana membantu Niken untuk berkemas. Karena mereka membawa bayi, sudah jelas barang-barangnya lebih banyak dari pada barang Niken dan Riana. Untuk pakaian ganti, popok sekali pakai, tisu basah, mainan, dan yang lain, satu koper ukuran sedang sudah terisi penuh. Sebenernya Niken cukup bersemangat tapi kadang terlintas bagaimana nanti repotnya di sana. “Tenang aja, kan disana ada aku, ada Mas Dante. Kita bakal jaga Evan sama-sama, biar bisa nikmati Bali,” kata Riana menenangkan Niken. Terlihat jelas dari wajahnya. “Iya, Mbak.” Niken tersenyum kecil. Setelah punya Evan beres, Riana mengambil satu koper kecil lain yang ada di atas lemari Dante, dan memberikannya pada Riana. “Gak usah, Mbak. Saya beresin sendiri aja,” sahut Niken melirik ke arah Evan yang telah tertidur di dalam box, saat Riana menawan diri untuk membantu Niken packing. “Oke. Aku tinggal ke atas ya … kalau mau, kamu packing aja sekarang, mumpung Evan tidur. Gak usah bawa baju banyak, nanti
Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama
Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”
Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma
“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu