author-banner
Yuristi
Yuristi
Author

Novels by Yuristi

Kembali Pada Sang Pemilik Hati

Kembali Pada Sang Pemilik Hati

​Pergi membawa luka, pulang membawa rindu yang tertahan. Itulah yang dirasakan Vanka saat Sora Kim mengajaknya kembali ke Indonesia. Setelah enam tahun menimba ilmu dan bekerja keras di luar negeri, Vanka merasa sudah cukup kuat untuk menghadapi masa lalunya. ​Namun, pertahanannya runtuh saat ia berhadapan kembali dengan Efra. Pria yang dulu ia tinggalkan dalam kemurungan, kini berdiri di depannya dengan aura yang jauh lebih mempesona dan matang. Meski Vanka mencoba bersikap asing dan mengandalkan penampilannya yang kini berkacamata agar tak dikenali, Efra tidak mudah dikelabui. Bagi Efra, sejauh apa pun Vanka berlari, ia akan selalu mengenali "istri kecilnya" itu. Akankah dinginnya sikap cuek Vanka mencair di hadapan Efra yang ternyata masih mengenalnya dengan sangat baik?
Read
Chapter: Bab 8: Sangkar Tak Kasat Mata
Kaki efra baru saja melewati pintu butik. "Efra, sini! Kenalin, ini Sora. Adik sepupuku yang hubungin temannya semalam buat bantu sistem pabrik kamu." Laras melambai dari sofa beludru merah di sudut butik, di sebelahnya duduk seorang wanita dengan rambut merah menyala sebahu yang matanya tidak lepas dari layar ponselnya. Efra melangkah mendekat. "Terima kasih banyak bantuannya semalam." Sora mengangkat wajah sebentar, mengangguk singkat. " jangan berterimakasih pada ku. Lagian dia memang sudah biasa dengan hal seperti itu." "Orangnya di mana sekarang?" Sora meliriknya sebentar. "Kenapa?" "Saya ingin berterima kasih langsung." Laras yang mendengar percakapan itu tersenyum ke arah Panji di sebelahnya, tapi Panji hanya mengangkat alis sedikit, tidak berkomentar. "Efra." Panji menepuk bahu adiknya. "Coba tuxedo hitam di ruang ganti sebelah dulu. Ukurannya perlu disesuaikan." Efra mengangguk, tapi kakinya tidak langsung bergerak ke sana. Matanya masih ke arah Sora yang k
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Bab 7: Detak yang Tertinggal di Koridor Tua
Reno menepuk pipi Vanka dua kali dengan telapak tangan kecilnya yang masih lengket bekas es krim tadi."Mimih! Itu Paman yang ponselnya jatuh kemarin !"Jari mungil itu menunjuk tepat ke arah pria yang berdiri di depan pintu kelas.Vanka tidak langsung bereaksi. Matanya memproses informasi itu dengan lambat, terlalu lambat, seperti komputer yang tiba-tiba kehabisan memori di waktu yang paling tidak tepat.Lalu semuanya menghantam sekaligus.Rahang yang sama. Mata cokelat muda yang sama. Cara berdiri yang sama, punggung tegak, tangan di sisi tubuh, tidak melakukan apa-apa tapi entah kenapa memenuhi seluruh ruang di depannya.Vanka mengencangkan pegangannya pada Reno."Reno." Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan. "Minta maaf sama Pamannya."Reno tidak perlu diperintah dua kali. Ia mengulurkan tangan mungilnya ke arah Efra dengan serius, wajahnya penuh tanggung jawab seperti orang dewasa yang baru menyadari kesalahannya."Om, Reno minta maaf ya. Kemarin tidak sengaja."Efr
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Bab 6: Rahasia di Balik Cahaya Proyektor
"Yang ini rumusnya salah satu tanda," ucap Vanka tanpa menoleh. "Kalau tidak diperbaiki, datanya tidak akan keluar." Sima berkedip. Tangannya bergerak ke arah keyboard, tapi matanya tidak benar-benar melihat layar di depannya. Ia melihat tangan Vanka yang bergerak di atas laptop. Tangan itu. Jari-jari yang sama yang dulu sering membawakan teh untuk Bapak dengan genggaman yang tidak sepenuhnya stabil. Sekarang jari-jari itu bergerak di atas papan ketik dengan cara yang sama sekali berbeda. Cepat. Tepat. Tidak ragu. "Kamu dengar tidak?" Vanka menoleh. Sima langsung menunduk ke layarnya. "Dengar, Bu. Maaf." Vanka menatapnya sebentar, lalu kembali ke laptopnya. Tidak ada tanda-tanda pengenalan di wajahnya. Tidak ada kedipan mata yang sedikit lebih lama. Tidak ada jeda kecil yang berarti apa-apa. Benar-benar tidak mengenali. Sima menggigit bibir bawahnya. Hari ini ia tidak memakai papan nama, dan rambut Sima yang dulu panjang sebahu kini sudah dipotong pendek. Enam tahun mem
Last Updated: 2026-03-26
Chapter: Bab 5: Benang Merah yang Menarik Paksa
Bayu mengetuk pagar kayu itu untuk ketiga kalinya. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara langkah dari dalam. Tidak ada gorden yang bergerak di balik jendela. Efra duduk di kursi belakang mobilnya, menatap ke arah rumah sederhana itu dari balik kaca. Pagar kayunya sudah agak lapuk di beberapa bagian. Cat temboknya pudar. Tapi halamannya bersih, ada pot-pot kecil berjajar rapi di tepi teras. Rumah yang dirawat dengan telaten oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya. Ia mengenal rumah ini. Ia pernah duduk di teras itu, makan di meja yang ada di balik pintu itu, mendengar suara Bu Isa yang cerewet dari dapur sambil Pak Nadi tertawa pelan di ruang depan. Enam tahun adalah waktu yang lama. Tapi rumah ini tidak banyak berubah. Bayu berjalan kembali ke mobil dengan wajah ragu. "Den, ada ibu-ibu tetangga tadi bilang mereka sudah ke pasar dari pagi. Jualan bakso, katanya baru pulang sore." Efra tidak langsung menjawab. Matanya masih di rumah itu. Lalu ponselnya bergetar. Pesan da
Last Updated: 2026-03-22
Chapter: Bab 4: Hangat yang Tak Lagi Sama
"Vanka, kamu mau nasi tambahannya tidak?" Tidak ada jawaban. Bu Isa menoleh. Putri bungsunya itu duduk dengan garpu menggantung di udara, matanya menatap ke arah meja tapi tidak benar-benar melihat apa pun di sana. "Vanka." "Hm?" Vanka berkedip, mendongak. "Maaf, Mama. Tadi bilang apa?" Bu Isa dan Pak Nadi bertukar pandang sebentar di atas meja. Reno yang duduk di sebelah Vanka justru tidak peduli dengan drama itu. Ia sibuk berkutat dengan paha ayam gorengnya, pipinya belepotan minyak, dan tidak ada satu pun dari semua itu yang mengganggunya. "Nasi tambahannya mau tidak?" ulang Bu Isa. "Oh. Nggak, Ma. Ini juga masih banyak." Hasan meletakkan sendoknya pelan. "Vanka, aku mau tanya sesuatu." "Apa, Kak?" "Kamu ada rencana kerja di sini? Kalau belum ada tujuan, kamu bisa jadi staf ahli IT di kantorku. Posisinya sudah lama kosong dan kamu lebih dari cukup untuk itu." Vanka menatap kakak iparnya sebentar, lalu tersenyum tipis. "Makasih, Kak. Tapi Vanka mau napas dulu.
Last Updated: 2026-03-22
Chapter: Bab 3: Suara dari Masa Lalu
"Data kita jebol, Pah." Efra meletakkan ponselnya di atas meja dengan gerakan yang terlalu tenang untuk situasi yang sedang ia hadapi. Semua mata di ruangan itu berpaling ke arahnya. Pak Brata meletakkan cangkir tehnya, dan bunyi denting itu terasa lebih keras dari yang seharusnya. "Seberapa parah?" tanya Pak Brata. "Terhapus otomatis setiap menit. Tim IT sudah coba dari tadi, enkripsinya tidak bisa dipulihkan dari luar." Efra berdiri. "Saya harus ke pabrik sekarang." "Duduk dulu." Dua kata. Tapi dari mulut Pak Brata, dua kata itu tidak bisa dibantah. Efra duduk kembali. Rahangnya mengeras. "Kamu pikir masalah bisa diselesaikan dengan lari ke sana sendiri?" Pak Brata menatap putranya dengan tenang, justru ketenangan itu yang paling membuat orang tidak berani bergerak. "Panji, kamu punya solusi?" Panji mengerutkan kening. "Tim IT internal kita harusnya bisa handle. Mereka digaji mahal untuk situasi seperti ini." "Sudah dicoba," potong Efra. "Hasilnya nol." Ruangan it
Last Updated: 2026-03-22
You may also like
Secret Service 21+
Secret Service 21+
Romansa · Cherry Blossom
31.6K views
Putri Yang Kau Suruh Gugurkan
Putri Yang Kau Suruh Gugurkan
Romansa · Wahyuni SST
31.6K views
DANGEROUS LOVE
DANGEROUS LOVE
Romansa · KUMARA
31.5K views
Petaka Dua Garis
Petaka Dua Garis
Romansa · Meisya Jasmine
31.5K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status