Partager

Bab 50

Auteur: Yuristi
last update Date de publication: 2026-05-28 22:26:13

Sora mendengus pelan.

Lalu berjalan kembali ke kursinya dengan cara yang sama seperti saat ia datang. Tidak meminta maaf. Tidak menunduk.

Ruangan itu masih sunyi.

Vanka menatap meja di depannya sebentar.

Lalu mendongak. Menatap semua orang di ruangan itu bergantian dengan cara yang tenang.

"Kalau kita bicara soal proporsionalitas." Suaranya keluar dengan nada yang tidak tinggi tapi terdengar di setiap sudut ruangan. "Kita gunakan pembagian keuntungan b
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Kembali Pada Sang Pemilik Hati   Bab 50

    Sora mendengus pelan. Lalu berjalan kembali ke kursinya dengan cara yang sama seperti saat ia datang. Tidak meminta maaf. Tidak menunduk.Ruangan itu masih sunyi.Vanka menatap meja di depannya sebentar.Lalu mendongak. Menatap semua orang di ruangan itu bergantian dengan cara yang tenang."Kalau kita bicara soal proporsionalitas." Suaranya keluar dengan nada yang tidak tinggi tapi terdengar di setiap sudut ruangan. "Kita gunakan pembagian keuntungan berbasis kontribusi, bukan sama rata jumlah. Setiap pihak mendapat persentase sesuai dengan apa yang benar-benar mereka masukkan ke dalam proyek, baik investasi, distribusi, maupun kapasitas pasar."Ia membuka satu halaman di laptopnya. Memutar layar ke arah meja."Model ini sudah saya hitung dengan data dari semua pihak yang hadir hari ini termasuk pembaruan yang Tuan Alexander sampaikan tadi. Hasilnya lebih adil dari draf awal karena berbasis realita bukan asumsi."He

  • Kembali Pada Sang Pemilik Hati   Bab 49

    Rapat dibuka oleh fasilitator yang berbicara dalam tiga bahasa secara bergantian.Agenda pertama, presentasi dari masing-masing pihak tentang kapasitas dan kontribusi yang bisa diberikan. Agenda kedua, negosiasi pembagian distribusi. Agenda ketiga, pembahasan klausul kontrak yang sudah disiapkan tim hukum masing-masing.Vanka presentasi untuk Kim Corporation bersama Sora. Mereka bergantian dengan cara yang sudah sangat terlatih, Vanka yang membuka dengan data dan angka yang padat, Sora yang menyampaikan proyeksi dengan cara yang membuat semua orang di ruangan itu memperhatikan bahkan kalau tidak mau.Efra yang presentasi untuk Brata Corporation menyampaikan kapasitas distribusi dan jaringan yang sudah mereka bangun, Bayu yang menyiapkan slide berganti sesuai instruksi tanpa perlu diberitahu dua kali.Rena mencatat semua poin penting dengan kecepatan yang tidak membuat suara tapi hasilnya lengkap.Yuan presentasi dalam bahasa Inggris dan M

  • Kembali Pada Sang Pemilik Hati   Bab 48

    Ruang rapat lantai dua belas gedung Kim Corporation Jakarta itu lebih besar dari yang biasa Efra hadapi.Bukan soal luasnya saja. Tapi soal apa yang ada di dalamnya. Meja panjang yang bisa menampung dua puluh orang lebih. Layar presentasi di dua sisi dinding. Sistem penerjemah simultan yang terpasang di setiap kursi. Dan nama-nama perusahaan di papan agenda yang membuat Bayu berdiri sedikit lebih tegak dari biasanya saat membacanya tadi pagi.Efra duduk di kursi yang sudah disiapkan untuk pihak Brata Corporation, Bayu dua langkah di belakangnya, Rena di sebelah Bayu dengan map yang lebih tebal dari biasanya.Ini pertama kalinya.Bukan pertama kali rapat bisnis besar, Efra sudah cukup sering berada di ruangan-ruangan seperti ini. Tapi ini pertama kalinya ia berada di rapat dengan skala yang menjangkau lebih dari satu benua, dengan nama-nama yang bukan hanya besar di Indonesia tapi besar di tempat lain juga, dan dengan konsekuensi yang kalau salah l

  • Kembali Pada Sang Pemilik Hati   Bab 47

    Vanka menatap pria di sampingnya."Resepsi." Suara Efra keluar dengan cara yang sudah ia siapkan tapi tetap terasa seperti perlu keberanian untuk diucapkan. "Dulu tidak ada. Dulu kamu menangis di hari pernikahan kita bukan karena bahagia." Matanya ke Vanka langsung. "Aku mau kamu punya hari yang berbeda dari itu."Vanka menatapnya.Mama Sohe di sudut ruangan mengeluarkan suara pelan yang bukan kata-kata tapi menyampaikan persetujuan yang sangat jelas."Tidak perlu." Vanka menggeleng. "Resepsi itu repot. Banyak orang, banyak persiapan, banyak yang harus diurus. Kita tidak perlu itu.""Vanka.""Efra.""Aku tahu kamu tidak nyaman yang ramai." Suaranya tetap pelan. "Tapi bukan untuk itu. Aku mau orang-orang yang selama ini hanya melihat kita dari sisi yang tidak utuh, melihat kita berdiri di tempat yang benar."Vanka menatapnya cukup lama.Ruang tamu itu hening sebentar. Semua orang menunggu.Vanka memejamkan matanya satu detik."Keluarga saja." Suaranya keluar akhirnya. "Tidak ada relasi

  • Kembali Pada Sang Pemilik Hati   Bab 46

    Motor itu berhenti di depan gang rumah keluarga pak Nadi jam delapan malam.Vanka turun sebelum mesin benar-benar mati, kebiasaan lama yang tidak pernah hilang. Ia melepas helmnya, menyerahkan ke Efra, dan berdiri di tepi gang dengan cara seseorang yang baru saja melewati hari yang terlalu penuh untuk diproses sekaligus.Efra mengambil helmnya. Menggantungnya di setang.Mereka berdiri di depan gang itu sebentar. Lampu jalan di atas kepala mereka berkedip satu kali lalu stabil lagi. Dari dalam rumah, suara televisi Pak Nadi terdengar sayup-sayup."Masuk?" tanya Vanka.Efra menggeleng. "Sudah malam. Besok."Vanka mengangguk. Berbalik ke arah gang."Vanka."Ia menoleh.Efra menatapnya dari atas motor dengan cara yang tidak ia sembunyikan dan tidak ia beri label. Hanya menatap dengan cara itu satu detik dua detik tiga detik."Tidur yang cukup."Vanka menatapnya."Kamu juga."Motor itu menyala. Bergerak. Menghilang di tikungan jalan besar.Vanka berdiri di depan gang sampai suara mesinnya

  • Kembali Pada Sang Pemilik Hati   BAB 45 : Pulang ke Tempat yang Selalu Ada

    Orang tua yang terakhir pergi adalah Pak Nadi.Bukan karena ia yang paling lama. Tapi karena saat semua orang sudah berdiri dan mengambil tas dan berpamitan satu per satu, Pak Nadi masih duduk sebentar dengan cangkir kopinya yang sudah kosong. Menatap ke meja. Ke piring-piring yang sudah hampir bersih. Ke dua orang yang masih duduk di ujung meja.Lalu ia berdiri. Berjalan ke arah Efra dan meletakkan tangannya di bahu pria itu satu kali, tepukan yang tidak keras tapi terasa di tulang dengan cara yang hanya bisa dilakukan tangan yang sudah banyak mengangkat hal-hal berat.Efra mendongak.Pak Nadi tidak berkata apa-apa.Tidak perlu.Ia berjalan ke pintu, Bu Isa sudah menunggu di luar dengan cara yang menyiratkan ia sudah bilang pamit ke semua orang dua kali dan tidak mau tiga kali.Pintu ruangan privat itu menutup.Hening.Meja panjang yang tadi penuh dengan enam orang tua dan suara percakapan yang tidak b

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status