Chapter: Bab 76. Jemputan yang Terlalu DiniPonsel di meja berdering. Violetta mengangkatnya sambil tetap menatap tumpukan dokumen keuangan di depannya.“Letta, kamu masih di kantor?” tanya Jefferson dari seberang telepon.“Masih. Kenapa?”“Aku sudah dekat kantor Hirawan Kontraktor.”Violetta melirik jam di sudut layar laptop. Waktu pulang kantor sudah lewat.“Dekat?”“Iya. Bereskan dokumenmu dan langsung turun.”Sambungan terputus.Violetta menatap layar ponselnya beberapa saat. Lalu pandangannya kembali jatuh pada dokumen di tangannya. Namun, sebelum membuka halaman berikutnya, gerakannya terhenti.‘Ini terlalu cepat.’Di kehidupan pertamanya, Jefferson memang mulai sering menjemputnya ketika masalah Zelda Group mulai membesar.Saat itu, kasus perusahaan cangkang yang berkaitan dengan Collins Group di luar negeri baru mulai terungkap ke publik. Namun, kejadian itu seharusnya masih beberapa bulan lagi.‘Kenapa sekarang?’Ia mengalihkan pandangan ke tumpukan berkas di mejanya. Sebenarnya ia berniat lembur malam ini. Pemeriks
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: Bab 75. Detik‑Detik Penutupan Pasar SahamHarga saham Collins Group belum menunjukkan tanda‑tanda pemulihan. Violetta masih menunggu.‘Pembelian besar kemarin ternyata belum mampu menghentikan penurunan Collins Group,’ gumam Violetta.Ponsel Violetta berdering. Nama Andrea muncul di layar.Violetta mengangkatnya.“Letta, jangan bilang kamu masih mau membeli saham itu.”Violetta menatap grafik yang terus bergerak di zona merah.“Masih.”“Kamu serius?”“Serius.”Andrea terdiam beberapa detik.“Kalau begitu, aku cuma punya satu pertanyaan.”“Apa?”“Seberapa yakin kamu dengan keputusan ini?”Violetta tersenyum tipis.“Cukup yakin untuk menunggu sampai pasar hampir tutup.”Andrea mengembuskan napas di seberang telepon.“Letta, perdagangan tinggal sebentar lagi tutup.”“Aku tahu.”“Dari pagi harganya terus ditekan.”“Aku tahu.”“Dan kamu masih mau membeli saham itu sekarang?”“Ya.”Andrea terdiam sesaat.“Setidaknya jangan gunakan seluruh uangmu.”Violetta menatap layar.“Aku sudah memutuskan.”Ucapan itu membuat Andrea memahami b
Last Updated: 2026-09-16
Chapter: Bab 74. Taruhan di Hari Senin“Violetta, apa kamu sudah kehilangan akal?”Pintu ruang kerja Violetta terbuka lebar. Andrea masuk dengan langkah cepat, bahkan tidak sempat mengetuk untuk kedua kalinya. Wajahnya tampak tegang.Violetta yang sedang membaca laporan di layar laptop hanya mengangkat wajah perlahan.“Selamat siang juga, Re.”“Jangan bercanda.”Andrea berjalan mendekati meja dan meletakkan ponselnya di hadapan Violetta.“Lihat grafik Collins Group.”Violetta melirik sekilas layar ponsel itu. Garis grafik masih bergerak turun sejak perdagangan dibuka pagi tadi.“Sudah kulihat.”“Dan kamu masih bisa tenang?”“Apa yang harus kulakukan?”Violetta kembali menatap layar laptopnya.“Setidaknya mengaku kalau keputusanmu untuk membeli saham itu terlalu berisiko.”“Aku tidak pernah bilang risikonya kecil.”Andrea menarik kursi di hadapannya lalu duduk.“Justru itu masalahnya.”Ia menunjuk layar ponselnya.“Kasus penggelapan dana pajak mereka baru saja terbongkar ke publik. Petugas pajak sudah mengonfirmasi. Harga s
Last Updated: 2026-09-16
Chapter: Bab 73. Jejak Gelap Hirawan Kontraktor“Tante masih menyimpan laporan keuangan saat Mama masih ada dan sampai sekarang?”Maya tampak sedikit terkejut.“Sebagian masih.”“Seberapa banyak?”“Laporan lama masih tersimpan di arsip. Saya beberapa kali membantu Ibu Anda menyusun laporan sebelum beliau meninggal. Setelah itu, saya masih menyimpan beberapa salinannya.”Violetta mengangguk.“Bagus.”Maya menatapnya bingung.“Kenapa, Bu?”“Tidak apa-apa.”Violetta mengambil map rapat.“Nanti setelah rapat selesai, aku ingin berbicara dengan Tante sebentar.”Maya mengangguk.“Tentu.”Mereka kemudian masuk ke ruang rapat.Beberapa kepala langsung menoleh.“Selamat pagi.”“Selamat pagi, Bu Violetta.”Violetta duduk di kursi paling depan.“Baik. Kita mulai.”Rapat berlangsung hampir satu jam.Violetta mendengarkan laporan dari bagian akuntansi, kas, dan pembayaran vendor. Sesekali ia mengajukan pertanyaan ketika menemukan angka yang tidak sesuai.“Kenapa biaya operasional bulan ini naik hampir dua belas persen?”Seorang staf membuka ber
Last Updated: 2026-09-14
Chapter: Bab 72. Orang yang Tahu Rahasia Lama“...mereka akan mencari kita juga?”Alexander terdiam sejenak.“Belum tentu. Tapi kita harus menganggap kemungkinan terburuk.”Violetta mengangguk pelan.“Kalau begitu, aku harus mempercepat langkahku.”“Langkah apa?”“Aku membutuhkan seseorang.”Alexander mengangkat alis.“Seseorang?”“Seorang asisten pribadi.”“Kamu mau merekrut asisten pribadi sekarang?”“Bukan sekadar asisten.”Violetta bersandar di kursinya.“Aku membutuhkan orang yang bisa dipercaya, pandai, cerdas, dan tegas.”Alexander menatapnya beberapa detik.“Standarmu tinggi.”“Memang.”Violetta mengangkat wajah.“Aku tidak punya banyak pilihan. Orang itu harus bisa membantuku menjaga perusahaan saat aku tidak ada.”Violetta mengambil beberapa berkas di atas meja. Ia tahu, untuk mencapai tujuan yang sudah direncanakannya, ia tidak bisa m
Last Updated: 2026-09-12
Chapter: Bab 71. Bukti yang Tidak Bisa Diabaikan“Letta, ada satu hal yang harus kamu ketahui.”Tangan Violetta terhenti di gagang pintu.“Apa?”Alexander berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ekspresi santainya menghilang.“Aku menemukan sesuatu yang berkaitan dengan Hirawan Kontraktor.”Violetta langsung berbalik.“Apa yang kamu temukan?”Alexander mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya.“Beberapa dokumen transaksi.”Ia menyerahkan map itu kepada Violetta.“Dokumen ini aku dapatkan dari salah satu pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut.”Violetta membukanya. Matanya bergerak cepat membaca angka dan nama perusahaan yang tercantum.Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah.“Perusahaan ini.”“Kamu mengenalnya?”“Pernah melihat namanya di laporan lama Hirawan Kontraktor.”Violetta mengambil salah satu dokumen.“Transaksi dengan perusahaan ini terjadi lebih dari sekali.”“Benar.”“Dan nilainya selalu berbeda.”“Ya.”Violetta membalik halaman berikutnya.“Tapi, caranya sama.”Alexander menatapnya.“Bagaimana menurutmu?”
Last Updated: 2026-09-12
Chapter: Bab 177. Selamanya Sore itu, langit di pinggiran kota Sanvara diselimuti warna jingga yang lembut. Cahaya matahari yang hampir tenggelam mengintip di antara pepohonan. Udara terasa tenang, hanya sesekali terdengar suara tawa anak-anak dari lapangan kecil tidak jauh dari sana. Di teras rumah, Elara duduk sambil melipat pakaian Albert yang baru dijemur. Wajahnya tampak damai. Sementara di sampingnya, Revan duduk dengan sikap yang tidak biasa. Tangan Revan menggenggam sebuah tablet tipis, jemarinya sesekali mengetuk permukaannya seperti sedang menimbang sesuatu yang berat untuk disampaikan. Elara melirik sekilas. “Sejak tadi kamu aneh. Ada yang sedang kamu pikirkan?” Revan menghela napas panjang. Tatapannya lurus ke halaman depan, tapi pikirannya jelas melayang jauh ke masa lalu. “Ada sesuatu yang selama ini kusimpan. Aku menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkannya padamu.” Kerutan halus muncul di dahi Elara. “Apa?” Revan menoleh, menatapnya lekat. Di matanya ada keraguan, sekaligus keyakina
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: Bab 176. Tidak Akan Berpisah Lagi.Pertemuan tidak terduga di sekolah pinggiran kota Sanvara itu jadi titik balik hidup Revan. Sejak hari itu, Revan tidak akan lagi membiarkan Elara hilang dari pandangannya. Meski wanita itu tidak pernah terang-terangan menyambut, tapi dia juga tidak lagi kabur seperti dulu.Elara tetap tenang dan penuh rahasia, persis seperti ingatan Revan. Setiap kali dia datang membawa bantuan atau buku, Elara selalu melayani dengan sopan. Sikap dinginnya justru semakin membuat Revan yakin masih ada perasaan tersimpan di hati Elara. Ada tembok yang dibangun Elara. Namun, Revan memilih sabar meruntuhkannya pelan-pelan dengan cara hadir dan bisa diandalkan, bukan menuntut jawaban.Dua minggu kemudian, Revan membuat keputusan yang mengejutkan: dia menyewa rumah kosong tepat di sebelah kediaman Elara. Rumah itu kecil, catnya sudah pudar, dan atapnya bocor kalau hujan, tapi bagi Revan, ini jauh lebih berharga dari apartemen mewah mana pun.Saat truk barang berhenti, Elara yang sedang menyiram tanaman me
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: Bab 175. Rahasia Empat Tahun Revan masih diam terpaku di tempat, matanya tidak lepas dari pagar bambu yang baru saja tertutup rapat itu. Hujan turun semakin deras, suaranya berisik menghantam atap dan kaca mobil, tapi pandangan pria itu tetap terkunci pada rumah kecil di depannya. Elara punya anak. Pikiran itu terus menghantam kepalanya berulang kali tanpa ampun, membuat dadanya terasa sesak. “Anak yang manis, ya?” seru Pak Haris dengan nada gemas. Suara itu membuat Revan tersentak pelan dari lamunan kelamnya. Dia menoleh perlahan ke samping. Tenggorokannya terasa kering kerontang, seolah seharian tidak minum air. “Dia… anak Bu Elara?” tanya Revan, suaranya keluar serak dan berat. “Iya, dong,” jawab Pak Haris sambil terkekeh kecil. “Albert itu pintar sekali, Pak. Aktif juga, lho. Kelakuannya persis banget sama ibunya.” Albert. Nama itu terasa asing, tapi sekaligus menusuk tajam ke dada Revan. Matanya kembali beralih
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: Bab 174. Menemukanmu Lagi “Empat tahun… dan kamu bener-bener hilang tanpa kabar, Elara,” gumam Revan pelan. Empat tahun bukan waktu sebentar. Buat orang lain, mungkin itu cukup untuk melupakan masa lalu dan memulai hidup baru. Namun, untuk Revan, empat tahun rasanya seperti jalan panjang yang gak ada ujungnya. Dia hidup bagai mesin. Bangun, kerja, rapat, ambil keputusan, terus mengulangi hal yang sama setiap hari. Di mata orang lain, hidupnya sempurna. Pendiri yayasan sosial terbesar di Velora. Pengusaha muda sukses. Pria tenang yang kelihatan kuat. Padahal di dalam hatinya, ada bagian kosong yang tidak bisa diisi siapa pun. Sejak Elara pergi empat tahun lalu, hidup Revan seperti hilang arah. Wanita itu pergi begitu aja. Tanpa ada alasan. Tanpa pamit. Hanya meninggalkan surat pendek berisi permintaan maaf dan satu kalimat yang sampai sekarang masih terngiang di kepala Revan, “Jangan cari aku lagi.” Namun, Revan justru melakukan hal yang sebaliknya. Dia menc
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: Bab 173. Langkah Pergi “Kalau kamu pergi sekarang… apa kamu yakin bisa berhenti mencintainya?” tanya Mira pelan. Matanya menatap tajam tapi lembut, seolah bisa membaca isi hati sahabatnya. Pertanyaan itu langsung menusuk ulu hati Elara. Elara terdiam kaku di balkon, membiarkan angin sore Velora mengacak-acak rambut panjangnya. Langit jingga kemerahan di atas terlihat indah, tapi rasanya justru seperti pertanda perpisahan yang menyakitkan. Semua urusan dengan keluarga Huang sudah selesai. Semua kebohongan terbongkar. Pintu masa lalu yang bertahun-tahun mengurungnya akhirnya tertutup rapat. Namun, di dalam hati Elara, pintu lain justru terbuka. Pilihan pada pintu menuju perpisahan. Elara menerima cangkir teh hangat dari tangan Mira. Jari-jarinya terasa dingin, meski memegang keramik yang hangat. “Aku tidak tahu,” jawab Elara lirih, suaranya bergetar menahan sesak, matanya menatap kosong
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: Bab 172. Kebohongan Terakhir“Semua yang Tante pertahankan mati-matian, ternyata cuma ilusi. Gimana rasanya saat semuanya runtuh tepat di depan mata?” tanya Nayla pelan, wajahnya mengarah pas ke suara Shinta meski matanya masih buram kosong.Ruang kunjungan penjara terasa pengap dan panas. Shinta duduk tegak, berusaha tampil bermartabat meski hatinya hancur. Beberapa jam lalu, pengadilan sudah menjatuhkan hukuman berat padanya.Nama besarnya hancur, hartanya dibekukan, tapi di tengah semua itu, Shinta masih berpegang pada satu harapan.Warisan Adrian.Selama Nayla hamil anak Adrian, berarti masih ada penerus darah keluarga Huang. Selama itu ada, Shinta yakin dia masih punya peluang untuk berkuasa lagi. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan sampai sekarang.Saat penjaga mengatakan ada tamu datang, jantung Shinta berdegup kencang. Dia mengira pengacaranya, atau orang yang masih kasihan padanya. Namun, saat pintu terbuka, tubuhnya langsung kaku.Nayla.Perempuan itu masuk pelan sambil memegang tongkat kecil di t
Last Updated: 2026-05-27